By Eslon Sinaga

Pengantar
• Istilah Sirosis hati diberikan oleh Laence
tahun 1819, yang berasal dari kata
Khirros yang berarti kuning orange
(orange yellow), karena perubahan warna
pada nodul - nodul yang terbentuk.
• Di negara maju, sirosis hati (sirosis
hepatis) merupakan penyebab kematian
terbesar ketiga pada pasien yang berusia
45 – 46 tahun (setelah penyakit
-kardiovaskuler dan kanker).

Pengantar
• Diseluruh dunia sirosis
menempati urutan ke tujuh
penyebab kematian.

• Sekitar 25.000 orang meninggal
setiap tahun akibat penyakit
sirosis hepatis

Pengantar
• Sebagian besar kasus sirosis hepatis
ditujukan untuk mengatasi berbagai
penyakit yang ditimbulkan seperti
perdarahan saluran cerna bagian atas,
koma peptikum, hepatorenal sindrom, dan
asites, Spontaneous bacterial peritonitis
serta Hepatosellular carsinoma.

kasus Sirosis hati yang datang berobat ke dokter hanya kira-kira 30% dari seluruh populasi penyakit ini. mulai dari tanpa gejala sampai dengan gejala yang sangat jelas. dan lebih kurang 30% lainnya ditemukan secara kebetulan ketika berobat untuk penyakit lain. • Di negara maju. sisanya ditemukan saat atopsi. Pengantar • Gejala klinis dari sirosis hati sangat bervariasi. .

protein serum menurun. nekrosis sel hati. ensefalopati hepatis. edema. serta kemunduran mental. defisiensi vitamin dan anemia. Pengantar • Manifestasi klinik yang sering terjadi pada pasien dengan sirosis hepatis yaitu pembesaran hati. kadar amoniak darah meningkat. obstruksi portal dan asites . perlemakan hati. . varises gastrointestinal.

perubahan status nutrisi. risiko tinggi terhadap perubahan integritas kulit. perubahan volume cairan. Pengantar • Masalah keperawatan yang sering muncul pada kasus ini diantarnya intoleransi aktivitas. risiko untuk cidera . . dan risiko tinggi terhadap ketidakefektifan koping individu.

melahirkan kembali. parenchyma hati hancur. Karena hati melakukan begitu banyak fungsi. . Pengertian • Sirosis hepatis adalah sejenis penyakit hati kronis yang mengakibatkan kerusakan hepatoseluler ekstensif. dan akhirnya menjadi terluka dan fibrotic sampai tidak lagi dapat berfungsi. sirosis dan multi matehepatik kegagalan adalah menghancurkan sistemik dan sering menyebabkan kematian (Lemone. 2000).

Pengertian • Sirosis hati merupkan penyakit hati kronis yang ditandai dengan kerusakan sel-sel hati oleh jaringan-jaringan ikat. .di ikuti jaringan parut serta sering di iringi pembentukan ratusan nodelus ( benjolan). Penyakit ini mengubah struktur hati dari jaringan hati normal menjadi benjolan-benjolan keras yang abnormal dan mengubah pembuluh darah.

Virus hepatitis (B. Kelainan metabolic :  Hemakhomatosis (kelebihan beban besi)  Penyakit Wilson (kelebihan beban tembaga)  Defisiensi Alphal-antitripsin  Glikonosis type-IV  Galaktosemia  Tirosinemia . Alkohol 3. Etiologi 1.dan D) 2.C.

Kolestasis Saluran empedu membawa empedu yang dihasilkan oleh hati ke usus. Pada penyakit ini empedumemenuhi hati karena saluran empedu tidak berfungsi atau rusak . Etiologi 4. Pada bayi penyebab sirosis terbanyak adalah akibat tersumbatnya saluran empedu yang disebut Biliary atresia. dimana empedu membantu mencerna lemak.

Etiologi 5.Indian Childhood Cirrhosis . Operasi pintas usus pada obesitas 9. dan lain- lain) 8. Sumbatan saluran vena hepatica . Kriptogenik 10. Toksin dan obat-obatan (misalnya : metotetrexat. amiodaron. Gangguan Imunitas (Hepatitis Lupoid) 7.Payah jantung 6.INH.Sindroma Budd-Chiari .Malnutrisi 11.

Faktor resiko 1. Virus hepatitis adalah faktor risiko utama untuk post necrotic sirosis. Konsumsi alkohol. . terutama dalam ketiadaan nutrisi yang tepat. Setiap klien dengan riwayat keluarga yang kecanduan alkohol harus menghindari alkohol karena meningkatkan risiko. yang membuat pencegahan melalui vaksinasi hepatitis dan kebersihan yang paling penting kegiatan promosi kesehatan.

infiltrative penyakit (seperti amyloidisis. Faktor resiko 2. constrictive perikarditis. penggunaan obat-obatan (seperti asetaminofen. penyakit katup. atau sionazed). Sirosis bilier dengan intra hepatik. metotreksat. alpha-antitrypsin defisiensi. cholestasis sumbatan saluran empedu. atau hemochromatosis) . hepatik parah kemacetan dari sisi kanan gagal jantung. penyimpanan glucogen penyakit.

Hepatitis virus yang kronis adalah suatu kondisi dimana hepatitis B atau hepatitis C virus menginfeksi hati bertahun-tahun. 5. . Kelainan-kelainan genetik yang diturunkan / diwariskan berakibat pada akumulasi unsur-unsur beracun dalam hati yang menjurus pada kerusakkan jaringan dan sirosis. Faktor resiko 4.

Primary sclerosing cholangitis (PSC) adalah suatu penyakit yang tidak umum yang seringkali ditemukan pada pasien-pasien dengan radang borok usus besar. Faktor resiko 6. Pada PSC. pembuluh-pembuluh empedu yang besar diluar hati menjadi meradang. dan terhalangi . menyempit.

Faktor resiko 7. . Aktivitas imun yang abnromal pada hepatitis autoimun menyebabkan peradangan dan penghancuran sel-sel hati (hepatocytes) yang progresif. menjurus akhirnya pada sirosis. Hepatitis Autoimun adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh suatu kelainan sistim imun yang ditemukan lebih umum pada wanita- wanita.

Bayi-bayi dapat dilahirkan tanpa pembuluh-pembuluh empedu (biliary atresia) dan akhirnya mengembangkan sirosis. Faktor resiko 8. Bayi-bayi lain dilahirkan dengan kekurangan enzim-enzim vital untuk mengontrol gula-gula yang menjurus pada akumulasi gula-gula dan sirosis. ketidakhadiran dari suatu enzim spesifik dapat menyebabkan sirosis dan luka parut pada paru (kekurangan alpha 1 antitrypsin). . Pada kejadian-kejadian yang jarang.

hepatik ensefalopati. • Masalah yang disebabkan dari metabolisme hati yang rusak dan untuk mengubah aliran darah termasuk asciies. dan hormon. dan bakteri peritonitis. tetapi manifestations klinis biasanya tanpa sebab. Varises esophageal. splenomegali. alkohol. Manifestasi dari sirosis merupakan akibat langsung dari ketidakmampuan hati untuk detoksifikasi zat-zat. untuk menghasilkan proteins penting. seperti faktor-faktor pembekuan dan albumin untuk mengatur metabolisme glukosa dan bilirubin: dan untuk menjalankan sebagai pengatur volume darah. Patofisiologi • Ada beberapa penyebab sirosis. . seperti obat-obatan .

.

Makronodular 3.Mikronodular 2. yaitu : 1.Campuran (yang memperlihatkan gambaran mikro-dan makronodular) . Klasifikasi • Berdasarkan morfologi Sherlock membagi Sirosis hati atas 3 jenis.

. edema dan ikterus. Biasanya stadium ini ditemukan pada saat pemeriksaan screening. ascites. Pada stadium kompensata ini belum terlihat gejala-gejala yang nyata. 2. Klasifikasi • Secara Fungsional Sirosis terbagi atas : 1.Sirosis hati Dekompensata Dikenal dengan Active Sirosis hati.Sirosis hati kompensata : Sering disebut dengan Laten Sirosis hati. misalnya . dan stadium ini biasanya gejala-gejala sudah jelas.

Hipertensi portal 3. Ensefalophati hepatitis . Asites 4. Kegagalan Prekim hati 2. GEJALA KLINIS 1.

GEJALA KLINIS • Keluhan dari sirosis hati dapat berupa : 1.Mata berwarna kuning dan buang air kecil berwarna gelap 4.Nausea.Pembesaran perut dan kaki bengkak 5.Enchephalopathy 8.Perasaan gatal yang hebat .Perdarahan saluran cerna bagian atas 6.Pada keadaan lanjut dapat dijumpai pasien tidak sadarkan diri (Hepatic 7. nafsu makan menurun dan diikuti dengan penurunan berat badan 3.Merasa kemampuan jasmani menurun 2.

Kegagalan kerusakan sirosis hati hati koma asites spider nevi rambut pubis rontok alopesia eritema palmaris pectoralis atropi testis kelainan darah (anemia.• pada hati terjadi gangguan arsitektur hati yang mengakibatkan kegagalan sirkulasi dan kegagalan perenkym hati yang masing-masing memperlihatkan gejala klinis berupa : Edema ginekomastia ikterus 1.hematon/mudah .

kelainan sel sum tulang darah tepi Caput meduse (anemia.2. Hipertensi porta Varises Asites oesophagus spleenomegali collateral veinhemorrhoid perubahan sum. leukopeni dan trombositopeni .

8 .0 2-<3 > 3.< 3.< 70 < 40 time (Quick % Asites o Minimal – Banyak ++ sedang +) (+) – (++) .8 %) Prothrombin > 70 40 . 5 2.5 <2.Klasifikasi Sirosis hati menurut criteria Child-pugh : Skor / 1 2 3 parameter Bilirubin <2.0 (mg%) Albumin (gr >3.

Kenaikan enzim transaminase / SGOT. Anemia bisa. SGPT dan bilirubin 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium: 1.Darah Hb rendah (anemia). akibat hipersplenisme dengan leukopenia dan trombositopenia. Penurunan kadar albumin dan peningkatan kadar globulin merupakan tanda kurangnya daya hati dalam menghadapi stress .Albumin. 2.

Pemeriksaan penunjang 4. Pemeriksaan CHE. . kadar CHE akan turun. K parenteral dapat memperbaiki masa protrombin. Pemanjangan masa protombin merupakan petunjuk adanya penurunan fungsi hati. 5. Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan pembatasan garam dalam diet. Pemberian vit. Bila terjadi kerusakan sel hati. 6.

HBV DNA. HbeAg/ HbeAb. 8. ERCP. USG. Angiograf . Peninggian kadar gula darah pada sirosis hati fase lanjut disebabkan kurangnya kemampuan sel hati membentuk glikogen. Pemeriksaan marker serologi pertanda virus seperti HBS Ag/ HBS Ab. HCV RNA. Pemeriksaan penunjang 7. CT-Scan. Pemeriksaan penunjang lainnya. • Esofagoskopi.

Ulkus Peptikum . Perdarahan gastrointestinal 2. Komplikasi 1. dimana suatu saat akan pecah 3. 4. 5. Hipertensi portal menimbulkan varises oesopagus. sehingga timbul perdarahan yang masih. Koma Hepatikum.

endokarditis. Karsinoma hepatosellura Kemungkinan timbul karena adanya hiperfasia noduler yang akan berubah menjadi adenomata multiple dan akhirnya menjadi karsinoma yang multiple. srisipelas. peritonitis. sistitis. tbc paru. septikema Penyebab kematian . 7. Komplikasi 6. pielonephritis. bronchopneumonia. glomerulonephritis kronis. Infeksi Misalnya : peritonisis. pnemonia.

chek clubbing fingger 2. Mulut ( melihat membran mukosa mulut .Wajah: Sklera pada mata ( normal = putih ). kuning = terjadi gangguan di hepar ). adanya stomatitis ) • Abdomen : Memeriksa hernia dengan disuruh batuk ( jika ada benjolan maka indikasi ada hernia ). Kuku ( normal = putih .Area Tangan Turgor kulit : Telapak Tangan ( Halus/kasar ( jika kasar indikasi gangguan hepar ). Lihat bentuk perut (simetris/asimetris) . Pemeriksaan fisik • INSPEKSI: 1.

Pemeriksaan fisik • AUSKULTASI Bising usus ke 4 kuadran dalam semenit terdapat 5-20 suara bising usus • PERKUSI Untuk mengetahui isi dalam rongga perut terdapat bunyi dullnes terdengar dibagian lien bunyi paru resonan di midklavikula ics 1-5 . normal jarak 6- 12 cm padaorang dewasa .

sambil melihat ekspresi wajah klien . Pemeriksaan fisik • Ada 2 ringan dan lepas • Palpasi ringan kedalaman 1 cm .

stirahat yang cukup b. Spontaneous bacterial peritonitis c. Penatalaksanaan 1. Pengobatan secara simtomatis 2. Hepatorenal syndrome d. Pengobatan yang spesifik dari sirosis hati akan diberikan jika telah terjadi komplikasi seperti a. Pengobatan secara supportif seperti: a. Astises b. Pengobatan berdasarkan etiologi 3. Ensefalophaty hepatic . Pengaturan makanan yang cukup dan seimba c.

penyakit hepatitis dan pola makan yang tidak teratur . transfusi darah. rontok rambut. mudah terjadi luka memar. terutama di daerah ketiak dan pubis • Riwayat kesehatan masa lalu apakah ada riwayat minum alkohol. tidak nafsu makan (anoreksia). Asuhan keperewatan PENGKAJIAN • Riwayat kesehatan sekarang penurunan berat badan. nyeri pada kuadran kanan atas.

. bentuk tubuh b.Pada sklera mata diperoleh sklera mata yang ikterus sampai dengan kehijauan. kadang- kadang pada konjungtiva di peroleh kesan anemia.Pada infeksi daerah dada di temukan adanya spider nevi atau adanya terlihat suatu usaha dalam bernafas karena tekanan abdomen terhadap diafragma ditemukan bulu ketiak yang rontok dan gynecomatik pada laki-laki.Keadaan pasien.Pemeriksaan fisik • Pemeriksaan fisik pada penderita sirosis hepatis harus di lakukan secara menyeluruh: a. c.

Perkusi : adanya asites sehingga terdengar pekak Palpasi : nyeri pada kuadran kanan atas. hepar membesar dan padat teraba benjol- benjol Lingkar perut : bertambah besa . hernia umbilikus.Pemeriksaan fisik • Pemeriksaan abdomen Infeksi : perut yang membesar karena asites. adanya bayangan vena.

Daignnosa .

Jika klien lelah batasi kunjungan keluarga atau teman d. Diagnosa keperawatan 1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan merawat diri dan pemenuhan kebutuhan nutrisi b. Berikan istirahat baring selama klien akut b. dll . Berikan aktifitas ringan selama bed rest c.d kelelahan dan adanya ascites intervensi: a.

Awasi glukosa darah e.d anoreksia intervensi: a. Diagnosa keperawatan 2. Observasi tanda-tanda vital b. Awasi pemasukan diet atau jumlah kalori dan ber ikan sedikit dalam frekuensi sering dan tindak makan pagi paling besar c. Perubahan pola nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b. Berikan perawatan mulut sebelum makan d. dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai dengan kebutuhan klien dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi . Konsultasi dengan ahli diet.

Catat kehilangan mulai usus. albmin. Awasi nilai laboratorium. turgor kulit dan membran mukaosa c. Periksa ascites atau pembentukan edema ukuran abdomen sesuai dengan indikasi d. perifer. Awasi masukan dan pengeluaran serta bandingkan dengan berat badan harian. dsn waktu pembekuan . hematokrit. pengisian kapiler. nadi. Kaji tanda-tanda vital. contoh : muntah. Diagnosa keperawatan 3. contoh : hemoglobin.d peningkatan tekanan intra kranial abdomen dan penurunan tekanan osmotik Intervensi: a. diare b. Ketidakseimbangan volume cairan tubuh berlebihan b.

Diagnosa keperawatan 4. Potensial terjadi kerusakan integeritas kulit b.d bed rest. ascites dan edema Intervensi: a. Berikan masase pada waktu tidur . Gunting kuku jari hingga pendek dan berikan sarung tangan bila diinginkan d. Pertahankan sprei kering dan bebas lipatan c. Tinggikan ekstremitas bawah b.

menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan prosedur teknis yang telah dilakukan . Implementasi • Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan.

dilakukan secara periodik. sistematis terencanan . Evaluasi • Evaluasi hasil menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada tahap perencanaan keperawatan.