Skenario 3

Tujuan Pembelajaran

 Definisi & Faktor Risiko Imobilisasi
 Dampak Imobilisasi
1. Neurosensoris
2. Sistem Kardiovaskular
3. Sistem Respirasi
4. Sistem Urinarius
5. Sistem Gastrointestinal
6. Sistem Integumen
7. Sistem Muskuloskeletal
 Jenis Imobilisasi
 Tatalaksana

DEFINISI & FAKTOR
RISIKO IMOBILISASI

Definisi  • Ketidakmampuan transfer atau berpindah posisi atau tirah baring selama 3 hari atau lebih. dengan gerak anatomik tubuh menghilang akibat perubahan fungsi fisiologi Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM .

Definisi  • Keterbatasan fisik atau ketidakmampuan seseorang untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari yang disebabkan adanya gangguan fisik. penurunan fungsi fisik yang dikarenakan suatu proses penyakit atau sebagai proses terapi pasien .

  Penelitian di ruang rawat inap geriatri RSUPN Dr.5% .6% dan pada tahun 2001 sebesar 31. Cipto Mangunkusumo Jakarta didapatkan prevalensi imobilisasi sebesar 33.

2005) :  Fisiologis Cedera/Trauma/Penyakit Fisik Gangguan Fungsi Kognitif .Faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya pergerakan atau immobilisasi adalah sebagai berikut (Perry dan Potter.

integument dan sistem eliminasi . respiratori. dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Fisiologis   Perubahan tergantung usia. serta tingkat imobilisasi yang dialami  Faktor fisiologis mempengaruhi perubahan setiap sistem tubuh yaitu perubahan pada sistem metabolik. musculoskeletal. kardiovaskuler.

angka insiden patah tulang paha atas tercatat sekitar 200/100.000 kasus pada wanita dan pria diatas usia 40 tahun diakibatkan Osteoporosis. WHO menunjukkan bahwa 50% patah tulang paha atas ini akan menimbulkan kecacatan seumur hidup dan menyebabkan angka kematian mencapai 30% pada tahun pertama akibat komplikasi Imobilisasi . Cedera/Trauma/Penyakit fisik  Salah satu  masalah kebutuhan dasar yang ditimbulkan dari fraktur adalah terjadi hambatan mobilitas fisik  Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2010.

Tulang Sendi Otot • • Osteoporosis Osteomalasia  • Osteoartritis • Artritis reumatoid • Polimalgia • Pseudoclaudication • Paget’s disease • Gout • Metastase kanker tulang • Trauma Gangguan yang sering tjd pdi ekstremitas yg sering mnybbkan imobilisasi .

  Efek samping beberapa obat misalnya obat hipnotik dan sedatif dapat pula menyebabkan gangguan mobilisasi. .

. Gangguan Fungsi Kognitif   Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi tentu sangat sering menyebabkan terjadinya imobilisasi.

DAMPAK IMOBILISASI  .

1. Neurosensoris  .

Penurunan Sensibilitas Daya Imobilisas Inaktivita hantar i s motorik saraf menurun .

Dehidrasi ggn Imobilisasi dan kognitif. malnutrisi ggn persepsi . Delirium Penurunan kesadaran.

Imobilisas i cemas. depresi. emosional tinggi. Perubahan perilaku Rasa bingung. iritabel . disorientasi.

2. Sistem Kardiovaskular  .

Perubahan sistem Kardiovaskuler akibat imobilisasi antara lain :  Hipotensi Ortostatik Meningkatnya kerja jantung Terjadinya pembentukan trombus .

Sistem Respirasi  .3.

 Orang tua lebih rentan oleh karena :  Sistem imunitas melemah  Penyakit kronik yang lain  Tanda-tanda pneumonia tidak jelas / khas khusus gangguan memori. dementia komunikasi sukar → th/ terlambat .

.

.

.

.

The humoral and cell-mediated immune response to influenza virus infection. .

.

Patogenesis terkait perubahan2 pada lansia:   Perubahan anatomi-fisiologik  Perubahan daya tahan tubuh  Perubahan degenerative  Riwayat merokok atau kekurangan gizi .

Sistem Renal dan Urinari . 4.

penurunan sensasi haus. Sistem Renal   Massa ginjal berkurang penurunan aliran darah ginjal menyebabkan filtrasi jadi kurang efisien  Penurunan jumlah nefron. Implikasi dari hal ini adalah filtrasi menjadi kurang efisien. mulai usia 25 tahun. penurunan kemampuan untuk memekatkan urine.  Penurunan massa otot yang tidak berlemak. Implikasi dari hal ini adalah penurunan total cairan tubuh dan risiko dehidrasi . penurunan terjadi 5-7% setiap dekade)  Penebalan membran basalis glomelurus. peningkatan total lemak tubuh. (berkurang 1 juta nefron dan memiliki banyak ketidaknormalan. penurunan cairan intra sel. sehingga secara fisiologis glomerulus yang mampu menyaring 20% darah dengan kecepatan 125 mL/menit (pada lansia menurun hingga 97 mL/menit atau kurang) dan menyaring protein dan eritrosit menjadi terganggu.

 .

Orang normal 350-400ml. akibat peningkatan kontraksi kandung kemih  Peningkatan volume residu  Peningkatan kontraksi kandung kemih (secara tidak sadar) Inkontinensia  Atrofi otot kandung kemih Inkontinensia . pada orang tua menurun. Sistem Urinaria   Penurunan kapasitas kandung kemih.

 Inkontinensia dikelompokkan menjadi 2 :  Inkontinensia urin akut (terjadi secara mendadak. melemahnya otot dasar panggul. Inkontinensia   Inkontinensia urin adalah keluarnya urin yang tidak terkendali sehingga menimbulkan masalah higienis dan sosial. delirium  Inkontinensia urin kronik. kurang dari 6 bulan terjadi akibat kondisi sakit akut misalnya infeksi. Gejala: kencing waktu batuk) . Lebih dari 6 bulan  Stress (akibat peningkatan tekanan di dalam perut.

yang mana otot ini bereaksi secara berlebihan. pada keadaan ini urin mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu banyak di dalam kandung kemih. terjadi akibat penurunan yang berat dari fungsi fisik dan kognitif sehingga pasien tidak dapat mencapai toilet pada saat yang tepat. gangguan mobilitas . Biasanya hal ini dijumpai pada gangguan saraf akibat penyakit diabetes  Fungsiona. umumnya akibat otot detrusor kandung kemih yang lemah. Hal ini terjadi pada demensia berat. Inkontinensia urin ini ditandai dengan ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi berkemih muncul  Overflor.   Urge. timbul pada keadaan otot detrusorkandung kemih yang tidak stabil.

 .

. Akibat imobilisasi   Struktur dalam sistem perkemihan dirancang untuk posisi tegak lurus sehingga bila terjadi perubahan posisi kontraksi peristaltik ureter akan memberikan tahanan terhadap kandung kemih → urine menjadi statis → merangsang pembentukan batu → batu dalam saluran kemih.  Batu dalam saluran kemih → urine statis → media untuk pertumbuhan mikro organisme → infeksi saluran kemih.

5. Sistem Gastrointestinal  .

2003. Vol 236. Confusion. Impaksi feses Penurunan aktivitas konstipasi gastrointestin al sekresi motilitas Berkurangny a mobilitas Pelepasan Peningkatan kalsium level kalsium tulang dalam serum fraktu meningkat (hiperkalsemi r a) Jarang lethargi bergerak Penurunan tonus otot Menopaus anorexia e pada konstipasi wanita Nausea vomiting 1. Stewart T. Lippincott Williams & Wilkins keadaan parah dapat . 1989.P. Handbook of Geriatric Nursing Care. USA. dlm 2. The Physiological Aspect of Immobilization and The Benefical Effects of Passive Standing .

Sistem Integumen  .6.

 Peningkatan Tekanan yang tekanan arteri Terhambatnya terlokalisir kapiler pada aliran darah kulit Nekrosis Iskemik jaringan .

 .

 .

 .

 Jaringan lemak Lansia subkutan men ↓ Jaringan Turgor kulit kolagen dan ↓ elastin men ↓ .

Sistem Muskuloskeletal  . 7.

Metabo Peruba lisme Resorp Tulang Osteop han Kalsiu si kurang orosis Skelet m dan tulang padat kelaina n sendi . Pengaruh Pada Sistem  Muskuloskeletal Otot Penurunan kehilangan Atrofi otot stabilitas daya tahan Ggn.

JENIS IMOBILISASI  .

Pendahuluan

 Imobilitas adalah ketidakmampuan
untuk bergerak secara bebas.
Pembatasan gerakan dapat
dilakukan untuk alasan
fisik,emosional,intelektual atau
sosial [keperawatan ortopedik &
trauma ; 120]


Imobilisasi fisik. merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada pasien dengan
hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan didaerah paralisis sehingga tidak
dapat mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan

Imobilisasi intelektual. merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan
daya pikir, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit

Imobilisasi emosional. merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan
secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
Contohnya keadaan stres berat dapat disebabkan karena bedah amputasi ketika seseorang
mengalami kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang paling dicintai

Imobilisasi sosial. merupakan keadaan individu yang mengalami hambatan dalam
melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya sehingga dapat mempengaruhi
perannya dalam kehidupan sosial.

TATALAKSANA  .

Fraktur femur  Imobilisasi Pneumoni Ulser a .

Penatalaksanaan Ulser  .

DEFINISI  kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan dari bawah kulit bahkan menembus otot sampai mengenai tulang. akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus – menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah. .

Penjelasan untuk pasien dan keluarga  Perawatan Menjaga luka kebersihan dekubitus kulit Penatalaksana an Ulser Mengurangi tekanan dengan cara Mencegah mengubah gesekan posisi selama 5 menit setiap 2 jam. .

diberi lotion derajat I  Dekubitus • daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus udara hangat bergantian u/ merangsang sirkulasi.Dekubitus • Kulit yg kemerahan dibersihkan hati- hati dengan air hangat dan sabun. derajat II Dekubitus • Usahakan luka selalu bersih dan eksudat dapat mengalir keluar derajat III Dekubitus • Penatalaksanaan dari stadium I-III tetap dilaksanakan dan jaringan nekrotik harus dibersihkan derajat IV • Oksigenisasi pada daerah luka .

Penatalaksanaan Pneumonia  .

Pneumonia   Terapi pada etiologi yang belum pasti  antibiotik spektrum luas erythromyci • 500mg Diberikan n • Oral selama 10 hari • Setiap 6 jam clarithromycin • 500mg Diberikan • Oral selama 10 hari Makrolid • 2x sehari azithromycin • 500mg. oral. 1x sehari Selama 4 hari • Setelah itu diberikan 250mg 1x sehari .

Antibiotik Sesuai Etiologi  Chlamydophill Staphylococcu a pneuomonia s aureus Pneumonia S.pneumonia aspirasi Pneumonia .

pneumonia  Bakteri masih Bakteri sensitif resisten terhadap penisilin Antibiotik golongan flouroquinolon e Penisilin G Amoxicillin Levofloxacin Moxifloxacin Gatifloxacin 750mg 400mg 400mg Ceftriaxone 1x/hari 1x/hari 1x/hari . S.

adalah 300 mg tiap 6 jam selama 3 hari nafcillin atau selama 10 hari oxacillin IV 1g • Amoxicillin.Chlamydophilla Staphylococcus Pseudomonas pneuomonia aureus aspirasi • Tetrasiklin 250. • Golongan • Klindamisin 150- 500mg 4x/hari methicilin. 1x/hari metronidazol • Untuk pneumonia MRSA menggunakan vancomycin .

Penumpukan mukus Gangguan inhalasi Diberikan mukolitik dan bronkodilato r .