You are on page 1of 23

HIPEREMESIS

Kelompok 4
10.12.14

• ADZANEA AL HAFIZ 125070218113054
• ANASTASIA M 125070218113008
• DHEVI MEILIANAWATI
125070218113004
• FITRI DYAH ANGGRAINI
125070218113050
• ILMIATIN RIZQIMAH 125070218113048
• TRIREZIKA DIANINGRUM
125070218113026

Anggota Kelompok

. Definisi . 2003). C.Suatu keadaan dimana penderita mengalami mual-muntah yang berlebihan hingga mengganggu aktifitas dan kesehatan penderita (Achadiat M.

10/91.44.0% dari seluruh kehamilan.3%-2. p605) • Hiperemesis gravidarum adalah masalah yang terjadi sebanyak 89% selama 16 minggu pertama kehamilan. p1419) Epidemiologi .• Hiperemesis gravidarum terjadi pada 0. biasanya terjadi pada trimester pertama. V. Dan gejalanya bisa bertambah berat. kehamilan ganda dan adanya riwayat hiperemesis sebelumnya (Journal of Reproductive Medicine.39. 8/94. V. Hingga membutuhkan ibat-obatan (American Family Physician. Study epidemiologi ini dikaitkan dengan beberapa faktor penting yaitu riwayat kehamilan sebelumnya.

V. p1) . Ditandai dengan mual dan muntah yang berat. (European Journal of Obstetrics and Gynecology and Reproductive Biology. dan setidaknya 50% mengalami mual dan muntah selama 12 sampai 16 minggu pertama kehamilan. 1998. penurunan berat badan serta dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit terjadi kurang lebih 1 % pada wanita hamil.• Di Eropa diperkirakan ada lebih dari 18 juta anita hamil setiap tahun.76.

hamil ganda dan hidroamnion. menerima • Terjadi peningkatan yang mencolok atau belum beradaptasi dengan kenaikan human kehamilannya.Semakin meningkat pada molahidatidosa.Primigravida lebih sering daripada diinginkan atau multigravida. . bergantung pada : Fisik • Terdapat kemngkinan masuknya villi • Apakah di ibu khorealis ke dalam sirkulasi daraah ibu. tidak. .Psikologis. chrionic gonadothropi. Etiologi • Faktor gizi/anemia meningkatkan terjadinya hiperemesis gravidarum. • Apakah • Faktor konsentrasi human chrionic gonadothropin yang tinggi : kehamilannya .

dan overdistensi rahim pada hamil ganda dan hamil mola hidatidosa. Faktor Resiko .• Faktor adaptasi dan hormonal Dapat dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia. dimana diduga terjadi invasi jaringan villi korialis yang masuk ke dalam peredaran darah ibu. wanita primigravida. • Faktor alergi Pada kehamilan. sedangkan pada hamil ganda dan mola hidatidosa jumlah hormon yang dikeluarkan terlalutinggi dan menyebabkan terjadi hiperemesis gravidarum. Sebagian kecil primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan koreonik gonadotropin. maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis gravidarum.

takut kehilangan pekerjaan.• Faktor psikologis Besar kemungkinan bahwa wanita menolak hamil. diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum. . keretakan hubungan suami istri dan sebagainya.

• Manifestasi maternal korioamnionitis : .serta sepsis neonatal Manifestasi Klinis . jernih.Pemantauan janin sesuai dengan hipoksia. . kuning atau kecoklatan dari vagina. .rabas vagina berbau busuk.serta kontraksi uterus • Manifestasi janin : . Cairan tersebut dapat mengalir atau bocor dari vagina tanpa adanya infeksi. .demam/menggigil maternal .Takikardia janin. .• Keluarnya cairan amnion yang memancar berwarna putih keruh.nyeri tekan dan nyeri uterus.

.

hipokloremia. dan kadar hCG tinggi. hipokalemia. • Pemeriksaan elektrolit serum dapat mendeteksi hiponatremia. Pylori • Tes fungsi hati dapat menunjukkan penyakit hepar. • USG : deteksi molahidatidosa atau kehamilan ganda Px Diagnostik . serum antibodi spesifik untuk H.• Pemeriksaan darah lengkap dengan apusan darah : Nilai Hb dan hematokrit yang meningkat menunjukkan hemokonsentrasi berkaitan dengan Anemia mungkin merupakan konsekuensi dari malnutrisi • Urinalisis : Urin biasanya hanya sedikit dan mempunyai konsentrasi tinggi sebagai akibat dehidrasi. serum amilase. Aseton menunjukkan asidosis starvasi.

• Komplikasi Maternal Muntah yang berlebihan atau hiperemesis gravidarum yang sangat parah dapat membuat ibu hamil mengalami dehidrasi. pneumotoraks dan neuropati perifer berhubungan dengan kekurangan vitamin B6 dan B12. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa wanita dengan hiperemesis memiliki berat badan kurang dari 7 kg selama kehamilan dibandingkan dengan wanita yang memiliki berat badan lebih dari 7 kg selama kehamilan. bayi kemungkinan dapat lahir secara prematur atau menjadi kecil untuk umur gestational. Kondisi yang lebih serius termasuk esophagelatear. Selain itu. • Komplikasi Fetal Hiperemesis gravidarum yang tak terkontrol dapat mengakibatkan retardasi perkembangan fetal atau janin dan kematian janin. Komplikasi . Penelitian lain menunjukkan bahwa ibu dengan hiperemesis yang parah (kehilangan berat badan >5% dari berat badan kehamilan) ditemukan bahwa memiliki bayi baru lahir yang lebih kecil. Hiperemesis memiliki efek yang dapat menganggu berat badan dari bayi baru lahir. ketidakseimbangan elektrolit dan ketosis.

• Malnutrisi & Defisiensi/kekurangan • Hematemesis vitamin • Hipotermia • Wernicke Encephalopathy • Retardasi pertumbuhan intrauterus. jika penurunan berat badan • Hiponatraemia dan Central Pontine berlebihan Myelinolysis (Mielinolisis Pontin • Ikterus dan gagal hati Sentral). berhubungan dengan • Laserasi esofagus • Depresi dan masalah psikologi • Plineuritis dan gangguan neurologi • Trombosis lain • Koagulopati • Gagal ginjal • Kematian ibu & janin • tirotoksis .

Tatalaksana alergi Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa hiperemesis gravidarum dapat Penatalaksanaan diatasi dengan anti histamin (diphenhydramine) ataupun kortikosteroid (metyl prednisolone) Medis . Serotonin Antagonis: Ondansetron b. Gastridin. Agen prokinetik: Metoclopramide (Primperan) d. Beberapa golongan anti emetik ialah sebagai berikut: a. Phenothiazines (Agen antidopaminergik): c. Zantac). Famotidine (Interfam).1. Farmakologi Anti emetik ialah yang paling umum dan efektif untuk hiperemesis gravidarum. Lansoprazole (Gastrolan) 2. Agen anti refluks: Ranitidine (Rantin.

namun kurang efektif untuk muntah yang ringan atau sedikit. Pyridoxine menurut penelitian ditemukan efektif untuk mengurangi muntah yang berat. American College of Obstetrics and Gynecology merekomendasikan pyridoxine (vitamin B-6) sebagai terapi lini pertama.3. Vitamin B6.Terapi nutrisi • Bila tidak digantikan. . seorang wanita akan berisiko untuk mendapat komplikasi yang berat dan lamanya proses kesembuhan. Vitamin K serta vitamin B kompleks. Vitamin C. Nutrisi penting yang dibutuhkan ialah vitamin B1.

• · Hindari makanan tinggi lemak.Diet • · Makan dalam jumlah kecil. • · Hindari makanan pedas. namun sering. • · Hindari pil mengandung zat besi • · Makan makanan ringan yang tinggi protein • · Konsumsi vitamin prenatal sebelum pre konsepsi dapat mengurangi mual dan muntah pada kehamilan .4. • · Tingkatkan intake . • · Hindari makanan atau bau-bauan yang membuat muntah.

singkong bakar atau rebus.Ada 3 macam diet pada hiperemesis gravidarum. Karena pada diet ini zat gizi yang terkandung di dalamnya kurang. maka tidak diberikan dalam waktu lama. dan buah- buahan. Makanan hanya terdiri dari roti kering. 2008) yaitu : • 1) Diet Hiperemesis I • Diet hiperemesis I diberikan kepada pasien dengan hiperemesis gravidarum berat.( Prawiroharjo. . ubi bakar atau rebus. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya.

Minuman tidak diberikan bersamaan dengan makanan. Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi. Diet diberikan secara berangsur dan dimulai dengan memberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi.2) Diet Hiperemesis II • Diet ini diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang. .

II. dan bahan penyedap) juga tidak dianjurkan. teh dan kopi encer. dan yang mengadung zat tambahan (pengawet. pewarna.Roti panggang. . crackers . II. Bahan makanan yang mengandung alkohol. Makan bila lapar. sirop. biskuit.Buah segar dan sari buah . Makanan pada diet ini mencukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi. • Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I. • Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hiperemesis I. walaupun melebihi frekuensi biasa makan sehari.Minuman botol ringan (coca cola. Diet diberikan sesuai kesanggupan pasien. dan minuman boleh diberikan bersama makanan. kopi. dan III adalah : .3) Diet Hiperemesis III • Diet hiperemesis III diberikan kepada pasien hiperemesis gravidarum ringan. limun). fanta. III adalah makanan yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam. kaldu tak berlemak.

namun pada keadaaan di mana wanita hiperemesis gravidarum tidak tertangani maka ia akan sangat terganggu metabolismenya sehingga aborsi dipilih untuk menyelamatkan sang ibu. Aborsi terapeutik • Hal ini sangat dihindari. bila gejala ini tidak ada maka tidak diperlukan psikoterapi pada pasien hiperemesis gravidarum. . 6. Psikoterapi • Terapi ini sangat efektif bagi pasien yang mengalami depresi dan anxietas.5.

Cairan D5% digunakan untuk mengurangi pemecahan lemak. karena muntah akan berulang. Rehidrasi • Rehidrasi secara hati-hati dengan cairan dan vitamin. B12. koreksi defisiensi elektrolit sampai batas marginal. • Cairan yang digunakan ialah Normal saline (NaCl 0. • Tambahkan glukosa. • Cairan intra vena dihangatkan terlebih dulu sebelum dialirkan demi kenyamanan pasien dan guna mencegah hilangnya kalori.• 7. karena bila terjadi sepsis akan mengancam ibu dan janin.9%) atau RL atau Dextrose 5% (D5%). • Pertimbangkan untuk menambahkan antioksidan seperti glutathione. . C dan K). Menurut penelitian HG berhubungan dengan stress oksidatif. termasuk pasien dalam Total Parenteral Nutrition ataupun Total Periheral Parenteral Nutrition. Hidrasi dilanjutkan sampai pasien dapat menoleransi makanan peroral. • Bila pasien dehidrasi. Gunakan teknik aseptik. serta ditemukan keton urin menurun atau tidak ada sama sekali. vitamin (terutama B6. magnesium.

• Fisioterapi – bila pasien dalam kedaan bed rest baik karena memang tidak dapat beranjak dari tempat tidur ataupun merupakan suatu penatalaksanaan. Gizi • Jika pasien mengalami penurunan berat badan sampai lebih dari 10% pada trimester pertama dan tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Konsultasi dimulai saat masuk atau setelah sebulan dalam keadaan mobilitas terbatas. • Edukasi untuk melakukan latihan progresif untuk meminimalkan atrofi. 2. maka pasien memiliki risiko komplikasi dan lamanya penyembuhan. Terapi diteruskan sampai akhir kehamilan bila gejala berlanjut (lemah dan ambang nyeri berkurang) agar tidak menganggu proses penyembuhan dan penderita nantinya mampu merawat bayinya. maka intervensi dengan kolaborasi dari ahli gizi Penatalaksanaan sangatlah penting.1. Keperawatan . Konsultasi multidisipliner bila dibutuhkan. Bila tidak didukung.

Pertimbangkan terapi tambahan atau alternatif seperti pemijatan. dll. • Penjelasan mengenai risiko dan hasil dari penatalaksanaan • Pengisian lembar penilaian terhadap kemajuan keaadaan pasien • Memberi edukasi kepada keluarga untuk selalu memberi dukungan ke pasien . Memberikan edukasi ke pasien dan keluarga mengenai : • Menerangkan kondisi dan penatalaksanaanyang diberikan • Mengajarkan pasien tanda-tanda dehidrasi dan cara untuk menggunakan ketostix di rumah. acupressure. 4.3.