You are on page 1of 32

Oleh: dr. Khairul Ihsan S.

Pembimbing: dr. Hj. Asmawati

 Tuberkulosis merupakan suatu penyakit
paru kronik yang paling sering terdapat
pada negara yang sedang berkembang
atau negara ketiga khususnya.
 Pada tahun 2015, ada sekitar 10,4 juta
kasus baru di seluruh dunia, yang mana
5,9 juta (56%) laki-laki, 3,5 juta (34%)
perempuan dan 1 juta (10%) diantaranya
anak-anak. Masyarakat yang terkena TB
dan hidup dengan HIV sekitar 1,2 juta
(11%) dari semua kasus TB. Dan
berdasarkan data terdapat peningkatan

 Indonesia menduduki peringkat kedua
diatas China yang berpenduduk lebih
besar di antara 21 negara di dunia yang
memiliki beban penyakit TB tertinggi.
 Prevalensi TB mencapai 647 per
100.000 kasus dan insidensi kasus TB
dengan hapusan dahak baru yang
positif adalah 399 kasus per 100.000
populasi pada tahun yang sama

. MDGs 2015 SDG2030 menurunkan angka kematian hingga 90% dan menurunkan prevalensi insiden 80% hingga 2030.

telah tercapai di Puskesmas Arut Selatan. Sejauh mana tujuan dan target penemuan kasus tuberkulosis (TB) yang telah ditetapkan.  Apakah faktor-faktor yang menghambat dan faktor yang mendukung program penemuan kasus TB di Puskesmas Arut Selatan? .

 Tujuan Umum Untuk menganalisis masalah dan target yang harus dicapai dalam melaksanakan program penemuan dan penanganan TB di Puskesmas Arut Selatan. .  Tujuan Khusus Untuk menidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan yang mendukung program penemuan kasus TB di Puskesmas Arut Selatan.

 Bagi Puskesmas diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi perumusan kebijakan program kesehatan di Puskesmas Arut Selatan. Bagi Penulis mampu menganalisis masalah yang didapatkan serta pemecahan masalah pada pelaksanaan penemuan kasus tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan. .

 Bagi Masyarakat hasil penganalisisan dan hambatan yang telah dipecahkan diharapkan masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan informasi tentang tuberkulosis .

. dinding selnya mengandung kompleks lipid sulit tembus zat kimia. penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Batang. yang sebagian besar (80%) menyerang paru-paru.  Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin.  Mycobacterium tuberculosis : G(+). Etiologi dan patogenesis Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

pengobatan dengan immunosupresan dan lain sebagainya . pemukiman padat & kumuh dan internal (dari tubuh pasien sendiri) : kurang gizi. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak. Infeksi pasca primer>>>peradangan meluas hingga terbentuk kavitas  Resiko terkena TB . makin menular penderita tersebut. infeksi HIV/AIDS.  Infeksi primer>>>>4-5 minggu. Faktor eksternal (lingkungan sekitar): rumah tak sehat. terjadi peradangan di alveoli.

tulang. .  Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). persendian. ginjal dan sebagainya. Kompikasi yang sering ditemukan:  Hemoptisis berat  Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial  Bronkietaksis dan fibrosis  Pneumotorak  Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak.

• Tuberkulosis paru negatif  Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. . tidak termasuk pleura (selaput paru). • Tuberkulosis paru positif  Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif  1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan parenchym paru.

dan kelenjar adrenal.  TB Ekstra Paru Berat Misalnya: meningitis. perikarditis. peritonitis. TB saluran kencing dan alat kelamin. tulang (kecuali tulang belakang). pleuritis eksudativa duplex. Tuberkulosis Ekstra Paru  TB Ekstra Paru Ringan Misalnya: TB kelenjar limphe. TB usus. millier. sendi. TB tulang belakang. pleuritis eksudativa unilateral. .

 Gejala Utama: 1. sesak nafas dan nyeri dada 2. badan lemah. batuk darah atau pernah batuk darah  Gejala Tambahan 1. nafsu makan dan berat badan menurun 3. walaupun tanpa kegiatan. rasa kurang enak badan (malaise) 4. berkeringat malam. batuk dan berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih 2. demam meriang lebih dari sebulan .

.

 Lalai (Pengobatan setelah default/drop-out) adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan. kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif. dan berhenti 2 bulan atau lebih. kemudian datang kembali berobat. Kasus Baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian)  Kambuh (Relaps) adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh. Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif .

 Kronis adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2. Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih. . atau penderita dengan hasil BTA negatif Rontgen positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke 2 pengobatan.

ofloksasin. dapat . etionamid. lama berhenti minum obat dan keadaan klinis.Kambuh -RHZES / 1RHZE / sesuai Bila streptomisin alergi. sikloserin / 15-18 ofloksasin. lesi luas 2 RHZE / 6 HE *2RHZE / 4R3H3 II .. 2 RHZE / 4 RH atau BTA . bakteriologi dan radiologi saat ini (lihat uraiannya) atau *2RHZES / 1RHZE / 5R3H3E3 III -TB paru BTA neg.TB paru BTA +.TB paru putus berobat Sesuai lama pengobatan sebelumnya. sikloserin atau 2RHZES / 1RHZE / 5RHE II .Kategori Kasus Paduan obat yang diajurkan Keterangan I .Gagal pengobatan hasil uji resistensi atau diganti kanamisin 2RHZES / 1RHZE / 5 RHE -3-6 kanamisin. lesi 2 RHZE / 4 RH atau minimal 6 RHE atau *2RHZE /4 R3H3 IV . etionamid.Kronik RHZES / sesuai hasil uji resistensi (minimal OAT yang sensitif) + obat lini 2 (pengobatan minimal 18 bulan) .

termasuk Rifampisin Hentikan rifampisin . mual.Efek samping Kemungkinan Penyebab Tatalaksana Minor OAT diteruskan Tidak nafsu makan. tidak perlu diberi apa-apa Mayor Hentikan obat Gatal dan kemerahan pada Semua jenis OAT Beri antihistamin dan kulit dievaluasi ketat Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan Gangguan keseimbangan Streptomisin Streptomisin dihentikan (vertigo dan nistagmus) Ikterik / Hepatitis Imbas Obat Sebagian besar OAT Hentikan semua OAT sampai (penyebab lain disingkirkan) ikterik menghilang dan boleh diberikan hepatoprotektor Muntah dan confusion Sebagian besar OAT Hentikan semua OAT dan (suspected drug-induced pre. sakit perut Rifampisin Obat diminum malam sebelum tidur Nyeri sendi Pyrazinamid Beri aspirin /allopurinol Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki INH Beri vitamin B6 (piridoksin) 1 x 100 mg perhari Warna kemerahan pada air seni Rifampisin Beri penjelasan. lakukan uji fungsi hati icteric hepatitis) Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan etambutol Kelainan sistemik.

05)  Kartu pengobatan pasien TB (TB.06)  Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB.01)  Kartu identitas pasien TB (TB.04). Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS (TB.10)  Register laboratorium (TB. .03 UPK)  Formulir rujukan/pindah pasien (TB.09)  Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan (TB.02)  Register TB UPK (TB.

 Deskripsi Kegiatan Kegiatan ini berdasarkan Program P2M TB dimana untuk melihat tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB paru melalui pembagian kuesioner kepada masyarakat. Masyarakat diberikan kuesioner tentang penyakit Tuberkulosis Paru kemudian dievaluasi hasilnya dan dilakukan pengambilan data jumlah kunjungan di poli P2M Puskesmas Arut Selatan. . survei kunjungan pasien poli P2M dan evaluasi. Kabupaten Kotawaringin Barat yang merupakan wilayah Kerja Arut selatan.  Sasaran Kegiatan Sasaran dari penelitian ini adalah masyarakat di kelurahan raja seberang.

serta dilakukan pengambilan data kunjungan di poli P2M Puskesmas Arut Selatan dalam kurun waktu Oktober-Desember 2016.  Pengambilan Data Kunjungan Pengambilan data kunjungan pasien TB Poli P2M di Puskesmas Arut Selatan pada bulan Januari- Desember 2016 . Waktu dan Tempat pengambilan Survei kuesioner dilaksanakan mulai tanggal 16 Desember 2016-6 januari 2017.

Karakteristik Jumlah % Perempuan 9 27% Jenis Kelamin Laki-laki 23 73% < 30 tahun 7 21% Usia 30-50 tahun 17 53% ≥ 50 tahun 8 26% SD 10 28 SMP 7 24 Pendidikan SMA 12 44 Perguruan Tinggi 3 0 .

Menurut saudara apa penyebab dari TB 68% 31% paru? 2. Kalau tahu melalui apa yang saudara 50% 50% ketahui ? 1. Melalui apa yang saudara ketahui cara 21% 79% penularannya adalah: 1. Pertanyaan Baik Buruk 1.5% pada gejala TBC adalah : 1. Apakah saudara tahu kalau penyakit 77. Menurut saudara yang dimaksud dengan 92. Gejala tambahan yang sering dijumpai 12. Menurut saudara tempat pembuangan 81.7% dahak terakhir adalah: 1.5% Tuberkulosis sangat menular ? 1. Gejala utama pada tuberkulosis yang 75% 25% saudara ketahui adalah: 1.8% 78. Menurut saudara kuman TB paru dapat 50% 50% berada pada? 3. Berapa tahap ada pengobatan TBC yang 72% 28% saudara ketahui ? .2% ketahui adalah : 1.5% 12.3% 18.25% perilaku membuang dahak si sembarang tempat adalah: 1.75% 6. Apakah saudara tahu riwayat terjadinya 69% 31% TBC? 1. Tujuan pengobatan TBC yang saudara 21.5% 77.

2% 14 Baik 43.Pengetahuan Jumlah Persentase 18 Buruk 56.8% .

 Dari 32 responden yang diteliti. Berdasarkan usia. . sebagian besar responden berada di bawah 30 tahun sebanyak 7 responden (21%). 10 responden (31%) menempuh pendidikan terakhir di bangku SD 10 responden (31%). Dan 8 responden (26%) yang berusia di atas 50 tahun. 9 responden (27%) adalah perempuan dan 23 responden adalah laki-laki (73%). 7 responden (21%) menempuh pendidikan terakhir di bangku SMP.  Berdasarkan tabel di atas. yaitu sebanyak 17 responden (53%). responden usia 30-50 tahun. menempuh pendidikan terakhir di Perguruan tinggi sebanyak 3 responden (11%). 12 responden (37%) menempuh pendidikan terakhir di bangku SMA.

8% responden memiliki tingkat pengetahuan ‘baik’ mengenai seputar penyakit tuberkulosis paru. .2% responden memiliki tingkat pengetahuan ‘buruk’ dan sebanyak 43. Dari tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa 56.

Raja Seberang masih buruk/rendah berdasarkan hasil dari kueisoner yang telah diberikan berupa pengetahuan penyebaran dan tujuan pengobatan yang dilakukan pada penyakit tuberkulosis paru.  Tingkat pengetahuan dari masyarakat berkaitan dengan kurangnya informasi dan juga tingkat pendidikan dari masyarakat setempat yang masih banyak lulusan SMP dan SD juga berkaitan dengan buruknya tingkat/kepedulian masyarakat tentang TB ini karena tingkat pendidikan selaras dengan tingkat sosial ekonomi masyarakat yang juga masih rendah. . Pengetahuan masyarakat di kawasan kerja Puskesmas Arut Selatan yaitu Kel.

Usia tersebut merupakan usia yang paling matang dan memiliki tanggung jawab sebagai panutan di dalam masyarakat. Berdasarkan dengan usia diketahui bahwa yang paling banyak mengikuti kueisoner adalah usia >30 tahun dan yang paling rendah partisipasinya adalah <30 tahun.17%) dari target yang telah ditentukan dari januari 2016. .  Kunjungan di poli P2M masih rendah (52.

Pelatihan dapat berupa peningkatan pemahaman masyarakat tentang bahayanya penyakit TB yang dapat menular hingga dapat menimbulkan kematian bagi penderita aktif TB.  Pembuatan poster ataupun stiker2 tetang TB untuk menyadarkan masyarakat bila memiliki batuk berdahak> 3 minggu. Melakukan pelatihan terhadap kader-kader di berbagai wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan secara berkelanjutan mengingat wilayah kerja yang cukup luas. .

.  Meningkatkan SDM per kawasan yang dicurigai suspek TB dengan menggandeng masyarakat yang masih sehat untuk mengawasi pengobatan ataupun menemukan masyarakat yang telah batuk lama namun tidak berobat. melakukan kemitraan dengan pemerintah maupun dengan pihak swasta untuk meningkatkan penyebarluasan pelayanan dan meningkatkan income dari para kader maupun dari pihak pelayan puskesmas sendiri agar lebih bersemangant dalam memberantas penyakit TB.

 Pembuatan Video tentang klaim masyarakat yang telah sembuh dari penyakit TB dan pengalamannya ketika sebelum atau setelah menjalani pengobatan. Hal ini tujuannya agar masyarakat percaya bahwa sakit TB dapat disembuhkan dan bukan penyakit yang harus ditakuti karena sudah ada obatnya .