You are on page 1of 60

REFLEKSI KASUS

APPENDISITIS AKUT

Franciscus Buwana / 42150052
DOSEN PEMBIMBING
dr. Jaka Marjono Sp.B
Kepaniteraan Klinik Bedah
Rumah Sakit Betesda Yogyakarta
2016
Identitas Pasien

Nama : Ny W
Tanggal Lahir: 31 Desember 1945
Usia : 69 Tahun
Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SMP
Alamat : Karangtengah, Dadapayu,
Semanu, Gunungkidul
No RM : 02-03-84-00
Tanggal masuk : 27 April 2016
ANAMNESIS
Keluhan
Utama
Nyeri perut kanan bawah

Keluhan
Penyerta
 Pasien mengeluhkan nyeri perut kanan bawah sejak 2
hari ini.
 Nyeri dirasakan diulu hati kemudian berpindah diperut
kanan bawah.
 Demam dirasakan sejak 2 hari lalu dan terus
menerus. Pasien mengeluhkan BAB tidak lancar dan
akhir akhir ini tidak bisa kentut.
 Mual dan nafsu makan menurun
 BAK tidak ada keluhan.
 Hipertensi : (-)
 Diabetes Mellitus : (-)
RIWAYAT PENYAKIT  Jantung : (-)
DAHULU  Tumor/kanker : (-)
 ISK : (-)

 Hipertensi : (-)
 Diabetes Mellitus : (-)
RIWAYAT PENYAKIT
KELUARGA  Jantung : (-)
 Tumor/kanker : (-)

 Alergi makanan dan obat :(-)
Riwayat alergi dan
pengobatan  Riwayat pengobatan: (-)
Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : Compos mentis
 Status Gizi : Cukup
 Tanda Vital
Tekanan Darah: 110/70 mmHg
Nadi : 88x/menit
Respirasi : 22x/menit
Suhu : 38 ºC
Kepala dan
Leher
Ukuran Kepala : Normocepali
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : Dalam batas normal
Mulut : Sianosis (-), kering (-), stomatitis aftosa (-), karies
dentis (-).
Telinga : Dalam batas normal
Leher : KGB tidak teraba dan tidak ada nyeri tekan

Thorax

Paru paru
Inspeksi : Deformitas (-), nyeri tekan (-), jejas (-), massa (-),
penggunaan otot bantu nafas (-)
Palpasi : Tidak ada ketinggalan gerak dada, fremitus normal
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler, wheezing (-), ronki (-)
Jantung
Inspeksi : Iktus Cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus Cordis terletak di SIC 5 midklavikula sinistra.
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi: Tidak ada bising jantung
Abdomen

Inspeksi : Tidak ada jejas
Auskulasi : Peristaltik usus dalam batas normal
Perkusi : Timpani pada semua regio abdomen, Nyeri ketok abdomen
pada regio inguinal dextra (+)
Palpasi : Nyeri tekan pada regio inguina dextra (McBurney) (+)

Ekstremitas
Status Lokal

Akral hangat
Capillary refill <2 detik Abdomen regio inguinal dextra :
Nadi teraba kuat
Sianosis (-) Nyeri tekan McBurney (+)
Edema (-) Nyeri lepas (+)
Defans muskuler (-)
Rovsing sign (+)
Blumberg sign (+)
Psoas sign (+)
Obturator sign (+)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Hasil Satuan Parameter
Hemoglobin 11,8 g/dl 11,7 – 15,5
Eritrosit 3,97 10e6/uL 3,9-5,2
PDL
Leukosit 19,12 Ribu/mmk 4,5 – 11,5
Hitung Jenis
Eosinofil 0,1 % 2-4
Basofil 0,3 % 0-1
Segmen Neutrofil 85,3 % 50-70
Limfosit 6,5 % 18-42
Monosit 7,8 % 2-8
Hematokrit 34,8 % 35-49
Eritrosit 3,97 Juta/mmk 4,2-5,4
MCV 87,7 Fl 80-94
MCH 29,7 Pg 26-32
MCHC 33,9 g/dL 32-36
Trombosit 209 ribu/mmk 150-400
GDS 101 mg/dL 70-140
Natrium 132,6 mmo 1/L 136-146
Kalium 3,54 mm01/L 3,5-5,1
Ureum 22,9 mg/dL 20-43
Creatin 0,89 mg/dL 0,55-1,02
Pemeriksaan
X ray Thorax
Pemeriksaan
X ray Abd 2
posisi
Pemeriksaan
USG
Terapi

Terapi Awal
 Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gram
 Inj. Ketorolac 2 x 30 mg
 Inj. Ondansentron 2 x 4 mg
 Inj. Ranitidin 2 x 50mg

Terapi lanjut
 Appendektomi
Asesmen Medis (28 April
2016)
S : Nyeri perut kanan bawah skala 5, mual (-), demam
(+)
0 : KU sedang, CM, TD : 110/70mm/Hg, Nadi:
88x/menit, suhu : 37,8°C, Abdomen . Distensi (+),
suara peristaltik usus dalam batas normal, suara
timpani pada seluruh regio, nyeri ketok abdomen (+)
pada regio inguinal dextra .Nyeri tekan (+) pada regio
inguinal dextra (McBurney point). Status abdomen
regio inguinal dextra : nyeri tekan (+) McBurney, nyeri
lepas (+), defans muskuler (+), rovsing sign (-),
blumberg sign (-), psoas sign (+), obturator sign (+)
A : Apendisitis Akut
P : Pemeriksaan USG dan terapi lanjutan
29 April 2016 / H Op
S : Nyeri perut kanan bawah skala 5, mual (-),
demam (+)
0 : KU sedang, CM, TD : ...... mm/Hg, nadi :88x/menit,
suhu : 38°C,nafas: 22x/menit. CA (-/-), Vesikuler,
Abdomen: distensi (+), bising usus (+), suara timpani
pada seluruh regio, nyeri ketok abdomen (+) pada
regio inguinal dextra, nyeri tekan (+) pada regio
inguinal dextra (McBurney point).Status abdomen
regio inguinal dextra : nyeri tekan (+) McBurney, nyeri
lepas (+), defans muskuler (+), rovsing sign
(+),obturator sign (+).
A : Diagnosis Pre Operasi: Apedisitis akut. Diagnosis
post operasi: Apendisitis dengan peritonitis.
P : Laparatomi Apendik
30 April 2016 / H+1 Op
S : nyeri luka post appendektomi skala 3, mual (-),
muntah (-), flatus(+)
0 : KU sedang, CM, TD :...., nadi :80x/menit, suhu :
37°C,nafas: 20x/menit CA (-/-), Vesikuler, abdomen:
distensi (-), luka post appendektomi tertutup
perban, ,peristaltik usus dalam batas normal,
timpani, nyeri ketok luka post appendektomi
A : Post Lap App H 2
P : Inj. Ketorolac, inj ceftriaxon, observasi luka post
op
1 Mei 2016 / H+2 OP
S : nyeri luka post appendektomi skala 3, mual (-),
muntah (-), flatus(+)
0 : KU sedang, CM, TD :...., nadi :80x/menit, suhu :
37°C,nafas: 20x/menit CA (-/-), Vesikuler, abdomen:
distensi (-), luka post appendektomi tertutup
perban, ,peristaltik usus dalam batas normal,
timpani, nyeri ketok luka post appendektomi
A : Post Lap App H 2
P : Inj. Ketorolac, inj ceftriaxon, observasi luka post
OP
2 Mei 2016 / H+3 OP

S : nyeri luka post appendektomi skala 3, mual(-),
muntah (-)
0 : KU sedang, CM, TD : ....., nadi :
84x/menit,suhu:36,6, nafas: 20x/menit, CA (-/-),
Vesikuler, abdomen: distensi (-), luka post
appendektomi tertutup perban, ,peristaltik usus
dalam batas normal, timpani, nyeri ketok luka post
appendektomi
A : Post Lap App H 3
P : Inj. Ketorolac, inj ceftriaxon, observasi luka post
OP
3 Mei 2016 / H +4 OP
S : Nyeri perut berkurang, mual (-), demam (-)
0 : KU sedang, CM, TD : 110/70mm/Hg, Nadi:
84x/menit, suhu : 36,5°C, CA (-/-), vesikuler,
abdomen: peristaltik usus dalam batas normal,
timpani
A : Post Lap App H 4
P : Inj. Ketorolac, inj ceftriaxon, observasi luka
post OP
4 Mei 2016 / H +5 OP
S : Nyeri perut kanan berkurang
0 : KU baik, CM, TD: 120/80 mmHg, nadi :
80x/menit, suhu : 36,4°C,nafas: 20x/menit CA
(-/-), vesikuler, abdomen: peristaltik usus dalam
batas normal, timpani.
A : Post Lap App H 5
P : AFF infus dan pasien pulang
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Apendik
Organ berbentuk
tabung, panjang +/-
10cm, berpangkal di
sekum, lumennya
sempit dibagian
proksimal dan
melebar dibagian
distal
INERVASI

Persarafan parasimpatis
berasal dari cabang VASKULARISASI
nervus vagus yang
mengikuti arteri Pendarahan apendiks
mesenterika superior berasal dari arteri
dan arteri apendikularis yang
apendikularis, merupakan arteri tanpa
sedangkan persarafan kolateral. Jika arteri ini
simpatis berasal dari tersumbat, misalnya
nervus torakalis X. Oleh karena thrombosis pada
karena itu, nyeri viseral infeksi, apendiks akan
pada apendisitis mengalami gangrene
bermula di sekitar
umbilikus
Letak Appendik

Pelvis Retrosekal Pre-Ileal Retro-ileal
Fisiologi
 Menghasilkan 1-2 ml lendir/hari  dicurahkan
ke lumen  selanjutnya mengalir ke sekum.
 Hambatan aliran lendir  menyebabkan
appendisitis
 Immunoglobulin skreator (IgA)  dihasilkan oleh
GALT dan didapatkan di semua sistem
pencernaan termasuk di apendik
 Fungsi IgA  pelindunga terhadap infeksi,
pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi
sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe
di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan
jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh
DEFINISI

Apendisitis merupakan peradangan
pada seluruh dinding apendiks yang
menjadi salah satu penyebab nyeri
abdomen akut yang paling sering
terjadi.
Etiologi

 Apendisitis umumnya disebabkan oleh infeksi
bakteri dengan faktor pencetus seperti
obstruksi/sumbatan yang terjadi pada lumen
apendiks akibat timbunan tinja yang keras
(fekalit), hiperplasia jaringan limfe, cacing,
neoplasma, maupun benda asing dalam tubuh

 Penyebab lain yang diduga menyebabkan
apendisitis yaitu erosi mukosa apendiks akibat
parasit, seperti E.histolityca
Klasifikasi
Patofsiologi

 Obstruksi dari lumen yang disebabkan oleh
feses yang terlibat atau fekalit.
 Stadium awal : terjadi inflamasi mukosa
berlanjut ke submukosa dan melibatkan lapisan
muskular dan serosa (peritoneal).
 Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk pada
permukaan serosa dan berlanjut ke beberapa
permukaan peritoneal yang bersebelahan,
seperti usus atau dinding abdomen,
menyebabkan peritonitis lokal.
Dalam stadium ini mukosa glandular yang
nekrosis terkelupas ke dalam lumen, yang
menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri
yang menyuplai apendiks menjadi bertrombosit
dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi
nekrosis atau gangren. Perforasi akan segera
terjadi dan menyebar ke rongga peritoneal. Jika
perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum,
abses lokal akan terjadi

 Penyebab dari appendicitis adalah obstruksi
lumen appendik dan onset berikutnya akan
menyebabkan infeksi bakteri.
 Obstruksi lumen  retensi lendir
 Bakteri akan berkembang  tekanan intraluminal
akan meningkat  masuk ke aliran linfatik  dan
akan mengakibatkan edem appendik
 Pada proses tersebut, terjadi appendicitis akut jika
didapat karakteristik  distensi apendik dan
vascular kongestion  catarrhal appendicitis.
Tanda,Gejala dan Diagnosis
Anamnesis :

• Nyeri perut  hiperperistaltik
untuk mengatasi obstruksi
• Mual/muntah (rangsangan
visceral)  aktivasi nervus vagus
• Demam  infeksi
Pemeriksaan Fisik :
Inspeksi :
• penderita jalan membungkuk
dengan memegangi perutnya
• penonjolan perut bagian kanan
bawah terlihat pada apendikuler
abses

Palpasi :
• Nyeri tekan mc burney
• Nyeri lepas
• Defens muskuler
• Rovsign sign
• Obturator
• Psoas sign
PSOAS
adanya rangsangan
muskulus psoas oleh
peradangan yang terjadi
pada apendiks

OBTURAT
OR
Nyeri timbul jika apendik
yang meradang
bersenuhan dengan oto
obturator interna
 Perkusi :
 Nyeri ketok mc burney

Auskultasi :
Auskultasi akan terdapat peristaltik
normal, peristaltik tidak ada pada
illeus paralitik karena peritonitis
generalisata akibat apendisitis
perforata
Pemeriksaan Penunjang

O White blood cell (WBC) & CRP
O WBC  > 10.000/mm³
O beberapa kasus disosiasikan dengan diffuse
peritonitis.
Abdominal Ultrasonography

 Pemeriksaan dengan USG mudah
dilakukan, praktis dan dapat dilakukan
berulang kali.
 Normal appendik tidak akan nampak pada
pemeriksaan USG, namun jika terdapat
perbesaran atau inflamasi makan appendik
akan tervisualisasi oleh USG.
Diagnosa appendicitis pada USG akan tampak :
1.hipertrofi dinding apendik
2.gangguan pada struktur normal layer
3.destruction pada dinding, dan adanya cairan
purulent atau
fecaliths pada lumen appendik.

Gambaran USG apendisitis.
Tampak dilatasi sedang dari
apendiks (panah hitam). Blind-
ended apendiks (panah putih)
Potongan tranversal USG pada Potongan longitudinal USG
regio kanan bawah abdomen , terlihat inflamasi dinding
terlihat penebalan dinding, apensiks dengan kumpulan
inflamasi apendiks dengan infiltrat periappendikular.
bayangan appendicolith (panah).
Apendicogram
 Appendicogram merupakan pemeriksaan berupa
foto barium usus buntu yang dapat membantu
melihat terjadinya sumbatan atau adanya
kotoran (skibala) di dalam lumen usus buntu
 Appendicogram dengan non-filling apendiks
(negatif appendicogram) merupakan apendisitis
akut. Appendicogram dengan partial filling
(parsial appendicogram) diduga sebagai
apendisitis dan appendicogram dengan kontras
yang mengisi apendiks secara total (positif
appendicogram) merupakan apendiks yang
normal
Gambar
Appendicogram.
Apendiks normal
dengan barium enema
yang mengisi apendiks
secara total
CT Scan Abdomen
 Diagnosa appendicitis dengan menggunakan CT
dapat ditunjukan dengan gambaranHipertrofi
dinding appendik, perbesaran apendik,
periappendiceal abses, tampak fecalith, kenaikan
densitas periapendik jaringan adiposa atau
tampak ascites pada puch of doughlas
Diagnosis Banding

 Gastroenteritis
 Infeksi Panggul
 KET
 Urolitiasis pielum
 Penyakit pencernaan yang lain
Tatalaksana
 Pengobatan anti nyeri dan antibiotik ditunda
selama fase awal evaluasi pasien yang dicurigai
menderita apendisitis.
 Medical Therapy
 Antibiotik untuk meredakan inflamasi
 Antinyeri
 Anti emetik
Tatalakana Bedah
 Laparotomy/open appendictomy  pemotongan
apendik dengan single insisi pada regio kanan
bawah abdomen.
 Laparoscopy

 Menggunakan 3 insisi kecil dan alat khusus untuk
memotong apendik.
 Pada proses ini akan memudahkan operator untuk
menemukan appendik.
 Laparoscope dimasukan melalui insisi lain, hal itu
akan tampak seperti teleskop dengan lampu dan
camera sehingga operator dapat melihat dalam
abdomen.
 Instrumen pemotong akan dimasukan melalui
insisi lain untuk memotong apendik.
 Setelah selesai daerah insisi di jahit kembali.
Komplikasi

 Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun
perforasi pada apendiks yang telah mengalami
perdindingan sehingga berupa massa yang
terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan
letak usus halus .
 Infeksi luka, perlengketan, obstruksi usus, abses
abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat
menimbulkan kematian.
Prognosa

 Kebanyakan pasien setelah operasi
apendektomi sembuh spontan tanpa penyulit,
namun komplikasi dapat terjadi apabila
pengobatan tertunda atau telah terjadi
peritonitis/peradangan di dalam rongga perut.
 Cepat dan lambatnya penyembuhan setelah
operasi usus buntu tergantung dari usia
pasien, kondisi, keadaan umum pasien,
penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus,
komplikasi dan keadaan lainya yang biasanya
sembuh antara 10 sampai 28 hari.
PEMBAHASAN
Pembahasan
 Pasien dengan keluhan utama nyeri perut kanan
bawah.
 Pada pemeriksaan fisik pasien pertama kali status
generalis didapatkan keadaan cukup lemas,dengan
keadaan VS : TD: 110/70, nadi:88, nafas:22x/menit
dan suhu 38 C
 Pada pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri
ketok dan nyeri tekan regio inguinal dextra
 Status lokalis regio abdomen didapatkan nyeri
tekan McBurney (+), nyeri lepas (+), rovsing sign
(+),Obturator sign (+), tampak adanya defans
muskular
 Skor alvarado menunjukkan nilai 9
 Skor alvarado 9 hampir definitiv mengalami
apendisitis akut dan memerlukan tindakan
pembedahan.
 Adanya demam,muntah dan defans muskular
disertai dengan AL 17 ribu menunjukkan adanya
peritonitis
 Penyebab Apendisitis pada pasien adalah adanya
obstruksi karna fekalith. Hal ini ditemukan pada
saat dilakukan operasi.
 Terapi obat yang diberikan antara lain: Ceftriaxon,
parasetamol, ketorolac, ranitin, metronodazol,
pantoprazole.
 Tindakan pembedahan yakni laparatomi appendik
KESIMPULAN
Kesimpulan
 Apendisitis merupakan infeksi pada apendiks
yang disebabkan sumbatan lumen apendiks,
hyperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor
apendiks, dan cacing askariasis dan E. histolytica.
 Diagnosis apendisitis dapat ditegakan dari hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik (nyeri tekan (+)
Mc. Burney. nyeri lepas (+) karena rangsangan
peritoneum, rebound tenderness (nyeri lepas
tekan), defens muskuler (+), rovsing sign (+),
psoas sign (+), obturator sign), pemeriksaan
penunjang.
 Score Alvarado dapat membantu menegakan
diagnosis apendisitis. Score 7-8 dapat ditegakan
diagnosis apendisitis dan score 9-10 merupakan
indikasi dilakukan apediktomi.
 Apendisitis harus segera ditangani agar tidak
terjadi komplikasi perlengketan, obstruksi usus,
abses abdomen/pelvis, dan perforasi (peritonitis)
yang dapat menyebabkan kematian.
Daftar Pustaka
 Berger, David H., Jaffe, Bernard M. (2009) Schwartz’s Principles
Of Surgery Ninth Edition. Brunicardi, F. Charles, MD, FACS.,
Hunter, John G, MD, FACS., Billiar, Timothy R, MD, FACS.,
Metthews, Jeffrey B, MD, FACS., Dunn, David L, MD, PhD, FACS.,
Pollock, Raphael E, MD, PhD, FACS. United States of America :
The McGraw-Hill Companies, Inc, pp.1074-1087
 Craig, Sandy. (2012) Appendicitis. Brenner, Barry E. Available
from: http://www.medscape.com [Accessed 20 November 2014]
 Isselbacher, Kurt J., Braunwald, Eugene., Wilson, Jean D.,
Martin, Joseph B., Fauci, Anthony S., Kasper, Dennis L. (2014)
Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam (Harrison’s
Principles of Internal Medicine) Volume 4 Edisi 13. Asdie,Ahmad
H, Prof. Dr. Sp. PD-KE. Jakarta : EGC, hal.1610-1612
 Schwartz, Spencer, S., Fisher, D. G,. 1999. Principles of Surgery
7th. McGraw-Hill Compaanies. Enigma Electronic Publication.
 Shenoy, K Rajgopal., Nileshwar, Anitha (2014) Buku Ajar
Ilmu Bedah Ilustrasi Berwarna Edisi Ketiga Jilid Dua.
Sampepajung, Daniel., Widjaja, Anthony R., Hadani,
William., Harahap, Wirsma Arif., Jasa, Zafrullah Khany.,
Hendry, Marta., Luthfi, Achmad., Supardjo, Tjhang.
Jakarta : KHARISMA Publishing Group
 Soybel, D., appendix. In: Norton JA, Barie PS, Bollinger RR,
et al. 2008. Surgery Basic Science and Clinical Evidence
2th Ed. New York: Springer.
 Smeltzer, Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Brunner & Sudart. Edisi 8 Volume 2. EGC : Jakarta.
 Velanovich, V. (2000) Laparoscopic vs Open Surgery. Surg
Endosc 14 : 16-21. Available from :
http://link.springer.com/article/10.1007/s004649900003#p
age-2 [Accessed 22 November 2014]
 Williams BA, Schizas AMP. Management of Complex
Appendicitis. Elsevier. 2010. surgery 28:11