You are on page 1of 80

SELULITIS + ULKUS PIOGENIK

Nama : Fadil Ramadhan, S.Ked
Pembimbing : dr. Lucille Anisa Suardin A, Sp.KK

BAB I

LATAR BELAKANG
 Penyakit kulit yang disebabkan oleh
Staphylococcus, Streptococcus, atau
oleh keduanya disebut pioderma.
Penyebab utamanya ialah
Staphylococcusaureus dan
Streptococcus B hemolyticus

 Bisa terjadi pada semua usia.
 Lokasi selulitis pada orang dewasa
paling sering di ekstremitas karena
berhubungan dengan riwayat seringnya
trauma di ekstremitas.

BAB II .

. DEFINISI  Selulitis merupakan infeksi bakterial akut pada kulit. Infeksi yang terjadi menyebar ke dalam hingga ke lapisan dermis dan sub kutis.

Streptokokus beta hemolitikus grup A.ETIOLOGI ETIOLOGI  Penyebab selulitis paling sering pada orang dewasa adalah Staphylococcus aureus dan Streptokokus beta hemolitikus grup A  sedangkan penyebab selulitis pada anak adalah Haemophilus influenza tipe b (Hib). dan Staphylococcus aureus. .

EPIDEMIOLOGI EPIDEMIOLOGI  Selulitis dapat terjadi di semua usia  Tidak ada hubungan dengan jenis kelamin. .

. alkoholisme. malnutrisi. dan keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh terutama bila diseratai higiene yang jelek. FAKTOR FAKTOR PREDISPOSISI PREDISPOSISI  Diabetes melitus.

GEJALA KLINIS GEJALA DAN SELULITIS TANDA Gejala prodormal Demam. badan dan genitalia Makula Eritema cerah eritematous Tepi Batas tidak tegas Penonjolan Tidak terlalu menonjol Vesikel atau bula Biasanya disertai dengan vesikel atau bula Edema Edema Hangat Tidak terlalu hangat Fluktuasi Fluktuasi . nyeri sendi dan menggigil Daerah predileksi Ekstremitas atas dan bawah. malaise. wajah.

PATOGENESIS .

stapilokokus aureus) Menyerang kulit dan jaringan subkutan Meluas ke jaringan yang lebih dalam Menyebar secara sistemik Terjadi peradangan akut Eritema lokal pada kulit Edema kemerahan Lesi Nyeri tekan Kerusakan integritas Gangguan rasa kulit nyaman dan nyeri . streptokokus grup A. Bakteri patogen (streptokokus piogenes.

Influenza diberikan Ampicilin 150-300 mg dosis dewasa. Pada selulitis karena H. selama 10-14 hari. TATALAKSANA  Selulitis karena streptokokus diberi penisilin prokain G 600. .000.000-2.000 IU IM selama 6 hari atau dengan pengobatan secara oral dengan penisilin V 500 mg setiap 6 jam.

. sebagai alternatif digunakan eritromisin (dewasa: 250-500 gram peroral. Pada yang alergi terhadap penisilin. anak- anak: 30-50 mg/kgbb/hari) tiap 6 jam selama 10 hari. Pada selulitis yang ternyata penyebabnya bukan staphylococcus aureus penghasil penisilinase (non SAPP) dapat diberi penisilin.

penyulit pada selulitis dapat berupa gangren. abses dan sepsis yang berat. . metastasis. KOMPLIKASI  Pada orang dewasa yang immunocompromised.

BAB III .

S  Usia : 66 Tahun  Jenis Kelamin: Laki-Laki  Bangsa : Indonesia  Pekerjaan : Narik Becak  Alamat : Jl. Ki Kemas Rindo RT 029/005 Palembang  Pendidikan Terakhir : SD  Agama : Islam  Tanggal Pemeriksaan : 20 Maret 2017 . LAPORAN KASUS Identitas Pasien  Nama : Tn.

ANAMNESIS Keluhan Utama  Timbul bengkak kemerahan sekitar luka diatas tumit kaki kanan sejak ± 10 hari yang lalu .

.Keluhan Tambahan  Nyeri dirasakan saat berjalan dan juga disertai demam.

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT 10 hari yang lalu .

6 hari yang lalu .

± Saat ini di Poliklinik Kulit pasien kontrol ulang dengan kaki semakin membengkak dan merah. .

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU  Riwayat pernah menderita penyakit kulit yang sama disangkal  Riwayat kencing manis disangkal  Riwayat alergi obat dan makanan disangkal  Riwayat pemakaian obat-obatan dalam jangka waktu lama disangkal .

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA  Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan bengkak kemerahan yang sama. .

daerah kelainan kulit tidak dibersihkan pada saat mandi. Pekerjaan pasien menarik becak setiap hari.RIWAYAT SOSIAL EKONOMI  Pasien mengaku mandi 1 Kali sehari. .

regular. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum  Keadaan Umum : Baik  Kesadaran : Compos Mentis  Tekanan darah : Tidak diperiksa  Nadi : 84 x/menit.  Suhu : Tidak diperiksa  Pernapasan : 22 x/menit .

Keadaan Spesifik  Kepala : Tidak ada kelainan  Leher : Tidak ada kelainan  Thoraks : Tidak ada kelainan  Abdomen : Tidak ada kelainan  Genitalia : Tidak ada kelainan  Ekstremitas : Lihat status dermatologikus. .

bentuk irregular  Efloresensi Sekunder : Tampak ulkuss sirkumkripta. malleolus dextra  Efloresensi Primer : Patch Eritema.STATUS DERMATOLOGIKUS Pada regio pedis et cruris ½ distal dextra. difus. soliter. dan tampak skuama lamelar difus. . 1x1 cm dengan infiltrat.

PEMERIKSAAN PENUNJANG  Kultur darah  Uji resistensi antibiotik. .

DIAGNOSIS BANDING  Selulitis + Ulkus Piogenik  Erisepelas + Ulkus Piogenik  Flegmon .

DIAGNOSIS KERJA Selulitis + Ulkus Piogenik .

  . TATALAKSANA Non-medikamentosa  Menjelaskan kepada pasien mengenai Penyakit Selulitis bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri dimana pasien diharapkan tidak banyak digerakkan didaerah yang terkena untuk mencegah terjadinya pembengkakan semakin parah.

 Mengurangi aktivitas-aktivitas berat dan istirahat total.  Menjelaskan kepada pasien bahwa kebersihan luka kakinya sangat dijaga dikarenakan dapat menambah lama fase penyembuhan. .

4 gram 2 kali sehari selama 2 minggu .Medikamentosa  Antibiotik Topikal :  Mupirosin 2 % 8.

9 %  Kompres kassa tersebut ditempat luka dan sekitarnya  lakukan berulang kalau kassa nya sudah kering. .9 %  Cara pemberian  Rendam kassa dengan larutan Nacl 0. Ulangi langkah awal.Kompres Terbuka : Nacl 0. ganti kembali.

.Sistemik  Klindamisin 4 x 450 mg secara oral selama 10 hari.

BAB IV .

 Insidensi selulitis ekstremitas masih menduduki peringkat pertama.  Insidensi pada laki-laki lebih besar daripada perempuan dalam beberapa studi epidemiologi. . PEMBAHASAN  Selulitis dapat terjadi di semua usia.

tetapi tidak ada hubungan dengan jenis kelamin. .  Pada kasus ini laki-laki berusia 66 tahun kebangsaan indonesia. Terjadi peningkatan resiko selulitis seiring meningkatnya usia.

biasanya didahului oleh gejala sistemik seperti demam. menggigil. Selulitis di akibatkan Staphylococcus aureus dan Streptokokus beta hemolitikus grup A. dan malaise. color (hangat). . dolor (nyeri) dan tumor (pembengkakan).  Daerah yang terkena terdapat 4 kardinal peradangan yaitu rubor (eritema).

pustul. . Lesi tampak merah gelap. tidak berbatas tegas pada tepi lesi tidak dapat diraba atau tidak meninggi. atau jaringan neurotik. bula. Pada infeksi yang berat dapat ditemukan pula vesikel.

mula. Pada kasus didapatkan dengan keluhan Timbul bengkak kemerahan sekitar luka diatas tumit kaki kanan sejak ± 10 hari yang lalu.mula terdapat luka di tumit atasnya sekitaran lukanya membengkak semakin lama semakin membesar ketika pasien memberikan asam jawa disekitan luka. .

. BARI dan diberikan pengobatan. 8 hari yang lalu kaki bertambah bengkak kemerahan.  6 hari yang lalu pasien datang ke Poliklinik Kulit RSUD. Pasien mengatakan pada sekitar lukanya diberikan asam jawa. nyeri dan disertai demam. tetapi bengkak tidak berkurang.

 3 hari kemudian kontrol kembali dengan benjolan yang tak lama kemudian pecah mengelurakan cairan jernih tidak kuning atau putih seperti nanah. . Nyeri dirasakan berkurang dan obat tetap diteruskan oleh pasien.

bentuk irregular. dan tampak skuama lamelar difus. difus. sedangkan Efloresensi Sekundernya tampak ulkus. 1x1 cm. . Pada Pemeriksaan fisik didapatkan efloresensi primer tampak patch eritma. sirkumkripta. soliter.

nyeri kalau kakinya diinjakan dan juga terdapat demam. terdapat gelembung yang tak lama kemudian pecah. . Bila ditinjau dari gejala klinis dapat kita pikirkan bahwa dari keluhan yang pertama yaitu keluhan bengkak kemerahan difus semakin lama semakin membesar.

. Sehingga. untuk aspek gejala klinis flegmon dan erisepelas dapat disingkirkan.

Kultur Tidak Tidak Tidak Penunjang darah : dilakukan dilakukan dilakukan untuk mengetahu i jenis bakteri yang menyerang .Uji . TEORI SELULITIS ERISIPELAS FLEGMON Epidemiologi Semua Umur Semua Semua Umur Semua Umur Umur Warna Eritema Eritema Eritema Eritema Batas Difus Difus Sirkumkripta Sirkumkripta Bakteri Streptococcus Belum Strepococcus Streptococus / / diketahui staphylococcu Staphylococcu s s Onset Akut Akut Akut Kronik Gejala Demam Demam Demam Demam konstitusi Masuknya Port the Port the Port the Port the entry Bakteri entry / entry entry sistemik Pemeiksaan .

. Pada tabel diatas didapatkan bahwa pasien ini lebih mengarah ke selulitis dikarenakan sesuai dengan teori bahwa gejala klinis selulitis tersebut seperti eritema difus terdapat edema.

 Jadi pada kasus ini diagnosa kerjanya selulitis + ulkus piogenik .Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh kuman negative-Gram. Ulkus piogenik merupakan berbentuk ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas disertai pus diatasnya.

. Pernah mengalami vesikel yang berubah menjadi pustul lalu menjadi bula dan pecah menjadi erosi jika tidak ditatalaksana dengan benar bisa menjadi ulkus piogenik.

 Pada pasien sudah menjadi ulkus
piogenik dikarenakan keterlambatan
pengobatan, higiene yang kurang dan
masih dibawa untuk menarik becak.

 Pemeriksaan penunjang pada kasus ini
seharusnya dilakukan kultur darah dan
uji resistensi

CARA PEMERIKSAAN KULTUR DARAH

 Kulit harus dicuci dengan sabun dan
dibilas dengan air steril yang diikuti
pemberian cairan yodium berbasis solusi.
 Kemudian dicuci dengan larutan alkohol
70% dan dikeringkan sekitar 30 detik.
 Sterilisasi kulit harus dilakukan dengan
hati-hati karena penting untuk mencegah
kontaminasi dari darah yang sedang
ditarik.

 Setelah kultur darah yang diambil, harus
diberi label dan dikirim ke laboratorium
tanpa penundaan.
 Kultur dasar diinkubasi selama 14 hari
dan blind culture dilakukan setelah 3, 7 dan
14 hari atau segera setelah ada tanda-
tanda pertumbuhan
 Jika dideteksi adanya pertumbuhan, wadah
dilakukan subkultur dan stain Gram.

 Dari sini. . sensitivitas yang relevan dapat ditentukan.  Dalam beberapa kasus organisme dapat diidentifikasi dalam hitungan jam untuk mendeteksi hasil yang positif dengan menggunakan tes pewarnaan Gram dan tes lebih lanjut.

.UJI RESISTENSI  Metoda yang dipakai dalam praktikum uji resistensi bakteri terhadap antibiotik adalah ambil sampel kelainan kulit dan kemudian letakkan dicawan petri.

Ambil kertas whattman dan celupkan kedalam beaker gelas yang telah berisi antibiotik. Lalu letakkan kertas whattman ke dalam cawan petri. . Ratakan menggunakan spatula. Amati pada suhu 37o C selama 24 jam.

000.000-2. Influenza diberikan Ampicilin .PENATALAKSANAAN  Selulitis ini sendiri diakibatkan streptokokus atau stapilokokus diberi penisilin prokain G 600.000 IU IM  Pada selulitis karena H.

Kalau alergi dpat diberikan alternatifnya. Pada selulitis yang ternyata penyebabnya bukan staphylococcus aureus penghasil penisilinase (non SAPP) dapat diberi penisilin. .

 Sebagai alternatif digunakan eritromisin (dewasa: 250-500 gram peroral. . anak-anak: 30-50 mg/kgbb/hari) tiap 6 jam selama 10 hari.

Pada yang penyebabnya SAPP selain eritromisin dan klindamisin . anak- anak 16-20 mg/kgbb/hari). Dapat juga digunakan klindamisin (dewasa 300-450 mg/hari PO.

OBAT EFEKTIFITAS Penisilin Pengobatan Lini pertama pada selulitis. Tetapi sering terjadi resisten dan ketersediaan obatnya jarang ada.Aureus. . Untuk S. untuk penyebab H. Ampicilin Pada selulitis yang ternyata penyebabnya bukan staphylococcus aureus penghasil penisilinase (non SAPP). Aureus hanya sebagian yang peka. Sefalosporin Lini terakhir pada pioderma yang berat atau tidak memberi respons dengan obat-obat yang lain. Klindamisin Klindamisin bersifat bakterisid yang cocok untuk membunuh kuman/bakteri S. Influenza Eritromicin Efektivitas kurang dibandingkan dengan linkomisin/klindamisin pada obat golongan penisilin resistant-penilinase. Linkomisin Penggunaan linkomisin pada dewasa ini telah ditinggalkan karena daya antibakterinya yang lemah dan absorpsinya yang kurang baik dibanding klindamisin.

.  Dimana indikator mengapa kemungkinan bakteri sudah meluar dari tanda ulkus pada lesi pasien. dikarenakan bakteri yang kemungkinan sudah meluas dan juga sifat klindamisin bakterisid yang langsung membunuh kuman. Pada kasus ini digunakan Klindamisin 4 x 450mg. Kalau diperiksa leukositnya juga pasti sudah leukositosis dengan keadaan kaki seperti itu.

 Waktu paruh untuk klindamisin ini sendiri 2.5 jam jadi diberikan dalam pemberian dosis 450 mg sebanyak 4 kali sehari selama 10 hari karena untuk membunuh kuman atau bakteri tersebut. . Diberikan selama 10 hari agar kumannya mati total dan agar tidak membuat efek obat resisten.

 Selain untuk membersihkan dan untuk antiseptik juga. jadi dibutuhkan cairan kompres untuk mengeringkan lesi tersebut. rivanol dan Nacl . Pada kasus dikarenakan ada lesi ulkus yang basah. Efektifitas masing- masing cairan antara yodium povidon.

5% Rivanol 1% zat kimia (etakridinlaktat) yang mempunyai sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan kuman). Sifatnya tidak terlalu menimbulkan iritasi dibandingkan dengan povidon iodin (yodium).CAIRAN EFEKTIFITAS KOMPRES Yodium Ada sebagian kecil mengalami sensitisasi karena yodium.9% NaCl memiliki komposisi dan konsentrasi cairannya yang hampir sama dengan cairan tubuh sehingga tidak mengiritasi pada jaringan. NaCl 0. Povidon 7. Biasanya lebih efektif pada kuman gram positif daripada gram negatif. Namun pada prinsipnya semua penggunaan topikal terapi tersebut adalah untuk memberikan proses penyembuhan pada luka yang efektif .

.  Tidak meninggalkan iritasi dan efektif membersihkan. Pada kasus lebih efektif menggunakan Nacl dikarenakan cairan fisiologis dan mudah didapat.

 Sedangkan pada yodium povidon mempunyai kekurangan berupa mengotori sprei dan kadang menimbulkan iritasi.  Rivanol memiliki kelebihan sebagai deodoran tetapi dapat mewarnai pakaian atau seprai .

tatalaksana harus diberikan obat antibiotik yang topikal agar cepat mengalami penyembuhan dimana terdapat jenis obat antibiotik topikal tersebut berupa basitrasin. natrium fusidat. dan mupirosin . Polimiksin B. Pada kasus selulitis seperti luka pasien sudah mengalami krusta dan ulkus.

termasuk methicilin- resistant S. Aeruginosa. Natrium Suatu antibiotik steroidal dengan efek Fusidat bakteriostatik terutama terhadap kuman gram- positif. . Aureus. Polimiksin B Bakteri gram-negatif. Pyogenes. Aureus dan S.Jenis Obat Indikasi Basitrasin Antibiotik bersifat bakterisid terhadap kuman gram-positif. Mupirosin kuman aerobik gram-positif. khususnya p. infeksi kulit yang disebabkan oelh S.

Aureus. . jamur. Pada kasus diberikan Mupirocin karena efektif terhadap kuman aerobik gram- positif. dan flora normal kulit. termasuk methicilin-resistant S.  Obat ini tidak mempunyai efek yang berarti terhadap klamidia.

. Pyogenes. Obat ini tersedia dalam bentuk salep 2%. Pada kasus ini bisa diberikan mupirocin dikarena sifatnya gram-positif dan bakterisid yang langsung membunuh bakteri. Obat topikal diindikasikan untuk berbagai infeksi kulit yang disebabkan oelh S. Aureus dan S.

PEMBERIAN OBAT SALEP  Untuk menghitung jumlah kebutuhan pasien setiap kali mengoles obat. Satu FTU pada laki-laki setara dengan 0.5 gram setara dengan 312 cm2. . sebaiknya menggunakan ukuran “fingertip unit”(FTU) yang dibuat oleh Long dan Finley.4 gram setara dengan 257 cm2. pada perempuan setara dengan 0.

3 FTU  karena dosis pemberian 2 kali sehari maka diberikan 0.6 FTU. . maka 1 cm2 dibagi 312cm2 = 0.5 gram setara 312 cm2.  karena 1(satu) FTU 0. Perhitungan ini didapatkan dari total seluruh lesi ( p x l = 1 cm x 1 cm ) = 1 cm2.

Pasien diberikan mupicosin 8.4 gram.4 gram 2 kali sehari selama 2 minggu.  Jadi total salep yang dibutuhkan adalah 8. .6 gram). Lama pemberian mupirosin salep selama 2 minggu (14 hari x 0.

. Salep memiki penetrasi kuat dibandingkan dengan bahan dasar yang lain. Dikarenakan itu pada pasien ini diberikan salep. Untuk 2 minggu dikarenakan agar bakterinya mati total.

 Prognosis umumnya baik. sebab dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda komplikasi. bergantung pada kecepatan penanganan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. .  Pada pasien ini prognosis Quo ad vitam adalah bonam karena penyakit ini tidak mengancam jiwa.

 Prognosis Quo ad functionam adalah bonam karena fungsi bagian tubuh yang terkena tidak terganggu. .  Prognosis Quo ad sanationam adalah bonam karena dengan perawatan yang teliti dan memperhatikan higiene memberi prognosis yang baik.

TERIMA KASIH .