You are on page 1of 62

Infeksi saluran kemih

pada anak

PEMBIMBING : DR. WORO TRIAKSIWI W. MSC. SP. A

FAHRIZAL KUSUMA WIJAYA
20110310007

IDENTITAS

Nama: An. A
Tanggal lahir : 27 Juli 2016
Jenis kelamin : Perempuan
Nama Ibu : Ny. S
Umur: 25 tahun
Pekerjaan : Pekerja Swasta
Agama : Islam
Pendidikan terakhir : SMA
Suami : Tn. M
Umur: 27 tahun
Pekerjaan : Pekerja Swasta
Agama : Islam
Pendidikan terakhir : SMA
Alamat : Salaman
Masuk RS : 2 Maret 2017

ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu pasien
Keluhan utama : demam
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan demam yang dirasakan ± 5
hari SMRS (sabtu sore : 25/2/2017), demam dirasa tiba-tiba tinggi
dan naik turun, demam turun selama ± 2 hari setelah berobat di
dokter (senin-selasa), namun demam naik lagi sampai suhu 39 C
saat sore hari (rabu) dan dibawa ke dokter dengan suhu >40 C
yang dirasa naik turun sampai MRS. Demam tidak disertai
dengan mual (-), muntah (-), bintik-bintik merah (-), gusi berdarah
(-), mimisan (-), batuk (-), sesak (-), kejang (-). BAB (+) 2 kali
sehari normal, BAK (+) terkadang jarang, saat mondok BAK
dirasa lebih sering, nafsu makan anak dirasa menurun

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Keluhan serupa (-) Riwayat Asma (-) Riwayat Alergi (-) Riwayat Kejang (-) Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Keluhan serupa (-) Riwayat Asma (-) Riwayat Alergi (-) Riwayat Kejang (-) .

Antenatal Pasien lahir dari ibu G1P0A0 dengan usia kehamilan cukup bulan. Sejak umur 3 hari mengkonsumsi susu formula. infeksi. Post Natal Bayi dalam keadaan sehat. Ibu rutin melakukan ANC di bidan. perdarahan. Riwayat bayi asfiksia. Kondisi ibu dan bayi sehat setelah melahirkan. 2. bengkak anggota gerak. trauma. dan minum obat-obatan selama kehamilan disangkal. Natal Pasien lahir spontan di BKIA. langsung menangis saat dilahirkan. kuning. . 3. kehamilan cukup bulan dengan berat lahir 3000 gram. ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.Riwayat Kehamilan dan Persalinan 1. dan trauma lahir disangkal. Riwayat muntah diawal kehamilan. sakit selama kehamilan. Rutin ke puskesmas setiap bulan untuk menimbang badan dan mendapat imunisasi.

bergantian kiri dan kanan Usia 6-8 bulan : bubur susu diselingi dengan ASI.Riwayat Makan Minum Usia 0-6 bulan : ASI eksklusif dan susu formula saat umur 3 hari. frekuensi minum asi tiap kali ibu berangkat kerja. Buah seperti pisang . menangis dan tampak kehausan.

5 bulan Berkata (tidak spesifik) : 8 bulan Motorik halus Memegang benda : 3.5 bulan Personal sosial Tersenyum : 2 bulan Mulai makan : 6 bulan Kesan : pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia .Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Motorik Kasar Mengangkat kepala : 3 bulan Tengkurap kepala tegak : 4 bulan Duduk sendiri : 6 bulan Bahasa Bersuara “aah/ooh” : 2.

4 bulan Campak : belum dilakukan (bulan april) . 3.Riwayat Imunisasi Ibu pasien rajin membawa pasien ke posyandu untuk imunisasi BCG : pada umur 1 bulan Hep B : 3x pada usia 1 minggu. 3. 4 bulan Polio : 4x pada usia 2 hari. 2. 2 dan 3 bulan DPT : 3x pada usia 2.

ibu pasien juga bekerja sebagai pekerja swasta di perusahaan tekstil. .Riwayat Sosial. Penghasilan dari kedua orang tua untuk memenuhi kebutuhan mereka dirasa cukup. Ekonomi. Ayah pasien bekerja sebagai pekerja swasta di perusahaan otomotif. dan Lingkungan Pasien adalah anak pertama.

luka (-). mual (-). mimisan (-) Sistem gastrointestinal : perdarahan gusi (-). batuk (-). muntah (-). gangguan neurologis (-) Sistem kardiovaskuler : berdebar-debar (-). demam (+). nyeri dada (-) Sistem respiratorius : sesak nafas (-). nyeri sendi (-). ptekie (-). BAB (+) normal Sistem urogenital : BAK (+) normal. pilek (-). nafas cepat (-). purpura (-) Sistem mukuloskeletal : gerakan bebas kekuatan dan sensibilitas normal.Anamnesis Sistem Sistem serebrospinal: pasien sadar. nyeri saat BAK (-) Sistem integumentum : turgor kulit baik. sakit kepala (-). bengkak pada sendi (-) .

8/61 = 0SD s/d 2SD ( Normal ) O TB/U: 61/8 = 0SD s/d 2SD ( Tinggi ) O BB/U: 6. tipe thorakoabdominal O Suhu : 39. teratur. kuat angkat.O Keadaan Umum : Sedang O Kesadaran : Compos mentis O Vital Sign O Nadi :120 kpm.8 kg O TB = 61 cm O Usia = 8 bulan Berdasarkan WHO growth chart standart.20 C Status Gizi : O BB = 6. isi dan tegangan cukup O Pernafasan : 30 kpm.8/8 = 0SD s/d 2SD ( Gizi Lebih ) . status gizi pasien : O BB/TB: 6.

BB/TB : 6.8/61= 0SD s/d 2SD (Normal) .

TB/U : 61/8 bulan= 0SD s/d 2SD (Tinggi) .

BB/U : 6.8/8 = 0SD s/d 2SD ( gizi lebih ) .

No Indeks yang Batas Sebutan dipakai Pengelompo Status Gizi kan 1. BB/U <-3 SD Gizi buruk -3 s/d <-2 SD Gizi kurang -2 s/d +2 SD Gizi baik >+2 SD Gizi lebih 2. TB/U <-3 SD Sangat Pendek -3 s/d <-2 SD Pendek -2 s/d +2 SD Normal >+2 SD Tinggi 3. BB/TB <-3 SD Sangat Kurus -3 s/d <-2 SD Kurus -2 s/d +2 SD Normal >+2 SD Gemuk .

tidak terdapat bising jantung . retraksi dinding dada intercosta (-) Palpasi  Vokal fremitus seimbang antara paru-paru kanan dan kiri. tunggal. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Leher Tak tampak adanya pembesaran limfonodi Pemeriksaan Thoraks Paru – paru : Inspeksi  Simetris kanan kiri. ronkhi basah halus (-/-). tidak ada deformitas. tidak ada ketinggalan gerak. suara tambahan ada (-). Perkusi  Lapang paru sonor Auskultasi  Suara dasar paru vesikuler. tidak ada pembesaran limfonodi axilaries. wheezing (-/-) Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tak terlihat Palpasi : Ictus cordis tak teraba Perkusi : Batas Jantung Kanan atas : SIC II Linea Para Sternalis dextra Kanan bawah: SIC IV LPS dextra Kiri atas: SIC II Linea Mid Clavicula sinistra Kiri bawah : SIC IV LMC sinistra Auskultasi SI-SII reguler.

gerak aktif . deformitas (-). tanda-tanda radang (-) Auskultasi : peristaltik (+) Normal Perkusi : timpani (+) Palpasi : supel. dinding dada // dinding perut. massa (-). sianosis (-). akral hangat. nyeri tekan (-). turgor kulit baik Pemeriksaan Ekstremitas Simetris.Pemeriksaan Abdomen Inspeksi : datar. sikatrik (-).

glositis (-). sklera ikterik (-/-) Hidung : nafas cuping hidung (-). sianosis (-). sekret (-). stomatitis angularis (-).Pemeriksaan Kepala Bentuk mesochephal. rambut hitam. atrofi lidah (-). faring hiperemis (-). epistaksis (-) Mulut : bibir pucat (-). lidah kotor (-). nyeri telan (-). tonsil T1-T1 . distribusi merata Mata : konjungtiva anemis (-/-).

Trisep : +/+ .Kernig Sign : (-) •Tonus : (-) eutoni / eutoni .Brudzinski 1 : (-) •Trofi : eutrofi .Babinski : (-) .Achiles : +/+ .Brudzinski 2 : (-) / eutrofi .Kaku Kuduk : (-) •Gerakan : baik •Kekuatan :baik .Bisep : +/+ .Patella : +/+ .Oppenheim: . Pemeriksaan Neurologis Refleks Refleks Rangsang Motorik fisiologis patologis Meningeal .

3 fL Low P-LCR 13.4 % RDW-SD 34.000-450.200-4800 /uL Hematokrit 29.000/uL High Eosinofil 0 1-6 % Low Basofil 0 0-1 % Netrofil segmen 56 40-75 % Limfosit 38 20-45 % Monosit 6 2-10 % RDW-CV 12.3 23-31 pg MCHC 33.5 g/dL Low Angka Leukosit 20.5 11.5-13. Laboratorium Pemeriksaan Nilai Nilai Rujukan Keterangan Hemoglobin 10.0 3.4 30-35 g/dL .1 6.9 9.1 36.0 10.9 % MCV 75.000-18.000 /uL High Angka Eritrosit 4.9 36-44 % Low Angka Trombosit 546 150.4-46.3-27.5 70-86 fL MCH 25.7-14.

010-1.0 6.0-7. Pemeriksaan Nilai Nilai Rujukan Keterangan Warna Kuning Kuning muda Kekeruhan Agak keruh Jernih U Berat Jenis 1.0 i Glukosa urine Negatif Negatif n Protein urine 1+ Negatif Bilirubin urine Negatif Negatif Urobilinogen Normal Normal R Keton Negatif Negatif u Nitrit Negatif Negatif t Lekosit urine Blood urine 100 /uL 25 /uL Negatif Negatif High High i Lekosit 8-10 2-4 /lbp n Eritrosit 0-3 0-1 /lbp Epitel 3-5 1-3 /lbp Kristal AMORF (+) .025 r pH/Keasaman 7.015 1.

DIAGNOSIS KERJA

INFEKSI SALURAN KEMIH

PLANNING

 Diagnostik
Cek Urin Rutin
 Medikamentosa :
Inf KaEn 3A
10 kg I : 100 cc /kgBB/ hari
980cc / 24 jam = 41 cc / jam = 13 tpm makro
Inj Paracetamol 70 mg iv k/p
Paracetamol drop 4xcth ¾
Inj Cefotaxime 3x250mg iv
50-100 mg/kgBB/hari = 340 – 680 mg/hari= 113 – 230 mg sekali minum
 Monitoring
Pemantauan keadaan umum
Pemantauan nutrisi dan cairan

Follow Up
N 3/3/2017 4/3/2017 5/3/2017 6/3/2017
o
S Demam (+),mual(-), Demam (+),mual(-), Demam (-),mual(-), Demam (-),mual(-),
muntah(-), batuk(-), muntah(-), batuk(-), muntah(-), batuk(+), muntah(-), batuk(-),
pilek(-),BAK(+),BAB(+)1x pilek(-),BAK(+),BAB(+)nor pilek(-),BAK(+),BAB(+)nor pilek(-),BAK(+),BAB(
mal mal +)1x
O S/N : 38/106 S/N : 36/120 S/N : 36/110 S/N : 36/110
Ku:Sedang Ku:Sedang Ku:Baik Ku:Baik
Kesadaran:CM Kesadaran:CM Kesadaran:CM Kesadaran:CM
Thorax:SDV+/+,ST-/-, Thorax:SDV+/+,ST-/-, Thorax:SDV+/+,ST-/-, Thorax:SDV+/
retraksi-/- retraksi-/- retraksi-/- +,ST-/-, retraksi-/-
Abdomen:BU(+)N, supel, Abdomen:BU(+)N, supel, Abdomen:BU(+)N, supel, Abdomen:BU(+)N,
tympani tympani tympani supel, tympani
Eksr:Akral hangat +/+ Eksr:Akral hangat +/+ Eksr:Akral hangat +/+ Eksr:Akral hangat +/
Kepala:Ca-/-, Si -/- Kepala:Ca-/-, Si -/- Kepala:Ca-/-, Si -/- +
Kepala:Ca-/-, Si -/-

A Febris H-5 Febris H-5 ISK ISK
Dd DF, DHF, ISK Dd DF, DHF, ISK

P -Inf KaEn 3A -Inf KaEn 3A -Inf KaEn 3A -Inf KaEn 3A
-Inj Paracetamol 70 mg iv -Inj Paracetamol 70 mg iv -Inj Paracetamol 70 mg iv -Inj Paracetamol 70
-PCT drop 4xcth ¾ -PCT drop 4xcth ¾ -PCT drop 4xcth ¾ mg iv
-Inj Cefotaxime 3x350mg iv -Inj Cefotaxime 3x350mg iv -Inj Cefotaxime 3x350mg iv -PCT drop 4xcth ¾
-Cek urin rutin -Inj Cefotaxime
3x359mg iv
-BLPL
-Cefixime 2x1 cc

meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria yang bermakna. . Definisi Infeksi saluran kemih adalah adanya infeksi (ada pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri) dalam saluran kemih.

Kejadian ISK pada bayi baru lahir dengan berat lahir rendah mencapai 10-100 kali lebih besar : bayi dengan berat lahir normal (0. pada anak ♂ yang disunat.2- 0. Epidemiologi  penyebab ke-2 morbiditas penyakit infeksi pada anak sesudah infeksi saluran nafas.1-1%). risikonya  hingga 0. Boy (3.7%) girl (2%) > usia 1 tahun >> anak perempuan. . < usia 1 tahun >> anak ♂. Prevalensi pada anak perempuan berkisar 3-5% dan pada anak ♂ ± 1%.4% dari anak ♂ yang tidak disunat.

•• Staphylococcus.. Enterococcus. Staphylococcus. •• Klebsiella. •• Streptococcus Streptococcus . Klebsiella. •• Pseudomonas Pseudomonas . Etiologi Bakteri Bakteri Virus Virus •• Escherichia •• Adenovirus Adenovirus Escherichia coli coli •• Proteus Proteus mirabilis mirabilis •• Enterococcus.

KELAINAN FUNGSI ATAU ANATOMI GANGGUAN PENGGUNA PENGOSONGAN ANTIBIOTIK KANDUNG KEMIH FAKTO R RESIKO OPERASI KONSTIPASI SALURAN KEMIH RIWAYAT ISK SEBELUMNYA .

KLASIFIKASI Klasifikasi berdasarkan tempat • Cystitis ( lower urinary tract ) • Pyelonefritis ( upper urinary tract ) Klasifikasi berdasarkan faktor komplikasi • Uncomplicated UTI • Complicated UTI .

atau dari uretra.E → buli-buli → ginjal. vesika urinaria. Patogenesis •Umumnya terjadi infeksi secara asendens yaitu dari daerah perineum → O. pyelum. ureter. •Jalur hematogen terjadi hanya pada usia neonatus.U. •Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari flora normal usus. kulit perineum. dan di sekitar anus. . Dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina. prepusium penis. •Timbulnya suatu infeksi saluran kemih tergantung dari faktor predisposisi dan faktor pertahanan tubuh penderita yang masih belum diketahui dengan pasti. •Bakteri dalam urin bisa berasal dari ginjal.

Patogenesis .

Flora Usus Patogenesis Munculnya Tipe Uropatogenik ISK Kolonisasi di perineal dan uretra anterior Barier Pertahanan Mukosa FAKTOR PEJAMU Normal (HOST): 1. Refluks vesiko Sistitis Bakteri ureter 3. Tersumbatnya saluran kemih Pielonefritis Akut 5. Refluks intrarenal 4. Memperkuat perlekatan ke sel uroepitel Virulensi 2. Benda asing (kateter urin) Parut Ginjal Uropsepsis .

Infeksi Vesika ISK Urinaria Bawah Iritasi Mukosa Vesika Edem dan Meradang Spasme Otot Polos Vesika Urinaria Hematuria Urgency Polakisuria Disuria .

Sistitis Perubahan Inkompetensia ISK Katup Vesiko Ureter Berulang Dinding Vesika Atas Urin Naik Lagi ke Ureter Terutama Saat Berkemih REFLUK S Urina Naik Ke Ginjal PARUT GINJAL Zat Sel Mediator PYELONEFRITIS Rusak Toksik Kronik .

Diagnosis .

yaitu:  Suhu tidak stabil dan sering tidak mau menyusu  Mudah terangsang (iritabilitas)  Muntah dan perut kembung  Nafas sering tidak teratur dan sering disertai ikterus yang memanjang (prolonged jaundice)  Sering ditemukan sepsis . Manifestasi Klinik Makin ↓ usia anak → manifestasi klinik makin tidak khas Demam bisa menjadi satu-satunya gejala ISK Pada neonatus gejala ISK tidak spesifik.

Manifestasi klinik Manifestasi klinik pada usia antara 1 bulan . gejala juga tidak khas:  Demam  Irritable  nafsu makan kurang  Muntah  Diare  Ikterus .< 1 tahun.

 Suprapubic pain  ISK atas  Demam  Sakit pinggang  Sakit pada daerah costovertebra .Manifestasi Klinik  Pada masa prasekolah dan sekolah baru timbul gejala spesifik.  Meskipun bisa ditemukan pada anak diatas 2 tahun setelah anak bisa bicara jelas dan dapat mengontrol miksinya tetapi umumnya baru khas pada umur 5-6 tahun yaitu:  ISK bawah  Disuria  Stranguria  Haematuria  Polakisuria  Urgency.

 Frekuensi berkemih meningkat  kadang tidak dapat menahan sehingga terjadi enuresis.Manifestasi klinik Pada ISK bagian bawah :  Demam  adanya rasa terbakar atau tersengat pada saat berkemih.  Pada malam hari dapat terbangun berkali-kali untuk berkemih (nokturia).  nyeri pada abdomen bagian bawah dimana terletak vesica urinaria.  Urine mengalami perubahan:  berbau tidak enak.  perubahan pada warna  urine mengandung darah  Enuresis diurnal atau nocturnal .

 vomiting  anak tampak sakit berat .  demam dengan menggigil.  nyeri pada daerah pinggang (dibawah iga).  fatique berat.Manifestasi klinik  Pada ISK atas:  sebagian besar gejala pada infeksi traktus urinarius bagian bawah ditemukan pula disini.

Pemeriksaan Fisik Inspeksi genitalia eksterna  pada anak ♂ . a. perhatikan ada tidaknya kelainan kongenital.l:  Hipospadia  fimosis  sudah disirkumsisi / ≠ ? Palpasi  pembesaran ginjal unilateral dan bilateral → pikirkan hidronefrosis Perkusi  Nyeri ketok sudut kostovertebra → infeksi pada ginjal .

Pemeriksaan Laboratorium  Urinalisis  Biakan urin.  Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah (untuk melihat fungsi ginjal) .

.

 Pemeriksaan uji nitrit  pemeriksaan ini berdasarkan kemampuan bakteri patogen untuk mengubah nitrat → nitrit tetapi hasilnya banyak (+) palsu. .  Diagnosa pasti → kultur urin. Pemeriksaan Laboratorium  Pemeriksaan jumlah leukosit urin  Leukosituria atau piuria → jumlah leukosit ≥ 5-6/LPB.  dilakukan pada urin segar  sebaiknya yang sudah ≥ 4 jam di kandung kemih atau pada urin residu  Pemeriksaan bakteri dengan pewarnaan gram pada urin yang tidak disentrifus juga dapat dipakai untuk diagnosis awal ISK.

Pyelografi Intravena (PIV)  Jarang dilakukan (kecuali bila tidak tersedia alat pencitraan korteks DMSA)  Dosis radiasi PIV > DMSA  DMSA tidak menggunakan zat kontras → me (-) i kemungkinan bahaya alergi  Untuk melihat parut ginjal DMSA lebih sensitif daripada PIV .  Batu saluran kemih Foto Polos Abdomen  Foto polos abdomen saat ini jarang dilakukan kecuali pada anak dengan persangkaan kuat ke arah batu saluran kemih dan sebagai persiapan pyelografi intravena (PIV). ureter dan anomali vesika urinaria. Pemeriksaan Pencitraan USG  Dengan USG dapat dilihat:  Struktur anatomis saluran kemih. meskipun fungsinya nol  Besar/ukuran ginjal  Dilatasi darl pelviokalises.

Miksisio Uretrografi (MSU)  Sebaiknya dilakukan pada anak < 2 tahun dengan ISK + gejala panas  Karena kemungkinan RVU besar pada umur tersebut  Pemeriksaan ini invasif dengan menggunakan kateter  Tujuan pemeriksaan ini untuk melihat:  1. .  Pada MSU pertama sebaiknya dilakukan dengan zat kontras tetapi pada pemeriksaan ulang dipakai isotop DTPA (sistografi isotop) karena dosis radiasinya lebih rendah. Refluks vesikoureter  2. Valvula uretra posterior  Dianjurkan untuk memberi antibiotik 48 jam sebelum pemeriksaan dan bila ditemukan refluks maka segera dilanjutkan dengan antibiotik profilaksis bila belum diberikan sebelumnya.

pada pyelonefritis akut → terlihat gambaran “filIing defect"  Sedangkan pada sistltis → ginjal terlihat normal  Dapat dipakai untuk membedakan antara ISK atas dan bawah.Skan DMSA (Dimercapto Succinic Acid)  Untuk melihat parut ginjal  Pada saat infeksi akut berlangsung.  Defek pada fase akut tersebut bisa menghilang atau menetap  Bila 6 bulan kemudian masih terlihat gambaran defek → berarti terjadi parut ginjal yang permanent DMSA: menunjukkan defek uptake pada pole atas dan bawah ginjal kiri dan reduksi ringan pada pole bawah ginjal kanan .

.

Diagnosa Klinik ISK Alur Pencitraan Pasien Anak dengan ISK USG Saluran Kemih 0-2 tahun 2-5 tahun > 5 tahun •MSU USG USG •DMSA MSU Normal Abnormal Normal Abnormal Pantau MSU Pantau DMSA Normal Abnormal Pantau MSU .

Merencanakan pengobatan selanjutnya 6. Diagnosa dini ISK 2. Pencegahan infeksi berulang 4. Mencari faktor predisposisi 5. Pemberian antibiotika segera 3.Penatalaksanaan Prinsip umum: 1. Tindak lanjut sampai gejala hilang dan risiko kerusakan ginjal tidak ada lagi serta dilanjutkan dengan pemantauan berkala .

jangan tahan ** untuk melihat apakah ada RVU kencing.V Oral Biakan Urin 48 jam (sesuaikan A.) USG + MSU (2-4 minggu sesudah terapi) Normal Abnormal Tindak Lanjut Untuk Pertimbangkan PIV atau Mencegah Infeksi* Skan ** * Banyak minum. ISK Pertama (Biakan Urin) Neonatus Anak Bayi Gejala Saluran Kemih Gejala Sistemik Bawah Rawat Inap Rawat Jalan Antibiotika Antibiotika I.B. kencing habiskan sebelum atau NR tidur .

.  Sebelumnya dilakukan pengumpulan urin dengan cara kateterisasi atau SPP.V.b parenteral selama 2-3 hari parenteral sampai panas turun  kemudian dilanjutkan secara oral sampai 14 hari  Pada neonatus dengan PNA  pemberian a. Pasien dengan panas tinggi dan dicurigai adanya pyelonefritis akut perlu  Segera beri a.b parenteral → dirawat.  Pada pasien dengan gejala penyakit ringan → cukup diberikan antibiotik selama 7 hari  Tetapi pada anak dengan gejala penyakit yang berat (sepsis)  A.  Bila memungkinkan.b parenteral selama 14 hari secara I.  Bila telah terjadi urosepsis atau disertai muntah-muntah  → pasien harus dirawat untuk pemberian antibiotika parenteral. jangan diberi obat yang nefrotoksik (misal aminoglikosida) kecuali bila bakterinya sensitif terhadap obat-obat tersebut.

.

.

Antibiotika Parenteral pada ISK Jenis Antibiotik Dosis Perhari Seftriakson 75 mg/kgBB/hari Sefotaksim 150 mg/kgBB/hari dibagi setiap 6 jam Septazidim 150 mg/kgBB/hari dibagi setiap 6 jam Sefazolin 50 mg/kgBB/hari dibagi setiap 8 jam Gentamisin 7.5 mg/kgBB/hari dibagi setiap 6 jam Tobamisin 5 mg/kgBBlhari dibagi setiap 8 jam Tikarsilin 300 mg/kgBB/hari dibagi setiap 6 jam Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi setiap 6 jam .

120-150 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis Sefalosporln .Sefaleksin –50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis . Kombinasi Trimetoprim .Sefprozil –30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis .6-12 mg TMP dan 30-60 mg SMX/kgBB/hari (TMP) Sulfametoksazol (SMX) dibagi dalam 2 dosis .Sefpodiksim –10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis .Sefiksim –8 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis . Sulfisoksazol .Lorakarbef –15-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis . Antibiotika Oral pada ISK Jenis Antibiotik Dosis perhari Amoksisilin 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis Sulfonamida .

25 mg SMX/kgBB/malam hari dua kali seminggu Nitrofurantoin 1-2 mg/kgBB/hari dosis tunggal malam hari SuIfisoksazoI 10-20 mg/kgBB/hari dibagi tiap 12 jam Asam Nalidiksat 30 mg/kgBB/hari dibagi tiap 12 jam Metenamin mandelat 75 mg/kgBB/hari dibagi tiap 12 jam . Antibiotika Profilaksis pada ISK Jenis Antibiotik Dosis Perhari Kombinasi Trimetoprim (TMP) 2 mg TMP. 10 mg SMX/kgBB/hari dosis tunggal pada Sulfametoksazol (SMX) malam hari atau 5 mg TMP.

.

Pencegahan  Banyak minum air  Jangan menahan BAK  Hindari pemakaian obat dengan spektrum luas untuk menghindari super infeksi.  Mencegah konstipasi jika ada disfungsi yang berhubungan dengan dilatasi kronk rektum dengan feses didalamnya.  Circumsisi pada bayi laki-laki .  BAB yang teratur dapat mencegah ISK.

Komplikasi jangka panjang meliputi:  renal parenchyma scarring (parut ginjal)  hipertensi  penurunan fungsi ginjal. dan  kegagalan ginjal . Komplikasi Resiko reaksi alergi karena terapi dengan antibiotik Anak dengan PNA dapat berkembang menjadi inflamasi ginjal lobaris atau abses ginjal.

tanpa gejala sisa lebih lanjut. Prognosis  Kebanyakan kasus ISK tanpa komplikasi akan segera memberikan respons terhadap perawatan antibiotik rawat jalan. akan mencegah gejala sisa jangka panjang pada pasien dengan kasus-kasus yang lebih parah atau infeksi kronis.  Perawatan. dan tindak lanjut yang tepat.  Low-grade VUR biasanya sembuh tanpa kerusakan permanen. .  High-grade VUR dapat membutuhkan koreksi bedah. pencitraan.

Terima kasih .