You are on page 1of 20

KESALAHAN DAN PENGOLAHAN

DATA ANALISIS

Prof. Dr. Achmad Mursyidi, M.Sc., Apt


Abdul Rohman, M.Si., Apt
KESALAHAN DALAM ANALISIS

Pada dasarnya setiap pengukuran dalam analisis kimia


selalu mengandung kesalahan. Semakin banyak langkah
dalam melakukan tahapan analisis, maka kesalahan yang
terjadi semakin besar.

Kesalahan Gamlang (Gross error)


Acak (Randam error)
atau Error Sistematik (Sistematic error)
KESALAHAN GAMBLANG

Kesalahan yang sudah jelas karena melibatkan kesalahan yang


besar akibatnya.
Kita harus memutuskan untuk mengabaikan percobaan yang
telah kita lakukan dan memulainya dari awal lagi secara
menyeluruh.

Contoh kesalahan gamblang adalah sampel tumpah; pereaksi


yang akan digunakan tercemar; larutan yang dipersiapkan salah;
dan alat yang digunakan rusak.
KESALAHAN ACAK (1)

Kesalahan yang nilainya tidak dapat diramalkan dan


tidak ada aturan yang mengaturnya serta nilanya
berfluktuasi

Berpengaruh terhadap presisi


KESALAHAN ACAK (2)

Kesalahan acak merupakan jenis kesalahan yang selalu terjadi


dalam analisis.
Kesalahan acak dapat digambarkan sebagai kurva normal
(Gaussian curve)

Penyimpangan dari rata-rata


KESALAHAN SISTEMATIK (1)

Kesalahan yang mempunyai nilai definitif. Hasil


analisis yang mengandung kesalahan ini dapat
mengarah ke arah yang lebih kecil atau ke arah yang
lebih besar dari rata-rata.

Berpengaruh terhadap Akurasi


KESALAHAN SISTEMATIK (2)

Personil
KESALAHAN
Alat
SISTEMATIK
Pereaksi
Metode
MEMPERKECIL KESALAHAN SISTEMATIK

Kalibrasi (peneraan) alat yang dipakai

Dilakukan penetapan blanko


Rata-rata

Mahasiswa 1:
Tepat dan Teliti
Rata-rata
Mahasiswa 2:
Tepat dan Tidak Teliti
Rata-rata
Mahasiswa3:
Tidak Tepat dan Tidak Teliti
Rata-rata
Mahasiswa4:
Tidak Tepat dan Teliti

90 95 100 105
Kandungan parasetamol (%)

Mahasiswa 1 : 99,5 %; 99,9 %; 100,2 %; 99,4 %; 100,5 %.


Mahasiswa 2 : 95,6 %; 96,1 %; 95,2 %; 95,1 %; 96,1 %.
Mahasiswa 3 : 93,5 %; 98,3 %; 92,5 %; 102,5 %; 97,6 %.
Mahasiswa 4 : 94,4 %; 100,2 %; 104,5 %; 97,4 %; 102,1 %.
Cara Menyatakan Kesalahan

Kesalahan absolut (d) = X

Kesalahan Relatif (e) = X



Presisi dan Akurasi

Kisaran
Deviasi rata-rata
Standar Deviasi
Koefisien Variasi

Nilai Perolehan Kembali


(Recovery)
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan ketidaktepatan
dan ketidaktelitian dalam pengukuran
Penimbangan yang tidak benar, demikian juga pemindahan analit dan baku
yang tidak ssuai.

Ekstraksi analit dari suatu matriks (misal tablet) yang tidak efisien.

Penggunaan buret, pipet, dan labu takar yang tidak benar.

Pengukuran menggunakan alat yang tidak terkalibrasi.

Kegagalan dalam melakukan analisis blanko.

Pemilihan kondisi pengukuran yang menyebabkan kerusakan analit.

Kegagalan untuk menghilangkan gangguan oleh bahan tambahan dalam


pengukuran analit.
Untuk mengecek apakah nilai individual dari suatu serangkaian
data menyimpang dari rata-ratanya

Untuk membandingkan ketepatan (presisi) dua atau lebih


serangkaian data

Untuk membandingkan rata-rata dua atau lebih serangkaian data


dengan data lain yang sudah diketahui akurasinya.
Uji Penolakan hasil
Uji Deviasi normal

Uji t

Uji t berpasangan
Uji Varian
dsb
Uji Penolakan Hasil
(Rejection of Measurement)

Deviasi rata-rata
Standar Deviasi
Uji Q (Q-test)
Contoh Soal

Pada penetapan kadar NaCl secara argentometri, diperoleh hasil


sebagai berikut yaitu: 95,72 %; 95,81 %; 95,83 %; 95,92 % dan
96,18 %. Selidiki apakah ada hasil yang ditolak.

Pada penetapan kadar natrium karbonat (Na2CO3) dalam soda


perdagangan diperoleh hasil: 25,40 %; 25,80 %; 25,90 %; 26,10
% dan 26,20 %. Apakah ada hasil yang ditolak?
Juga dikenal dengan Dixons Q-test
Nilai yang dicurigai Nilai yang terdekat
Q hitung =
(Nilai tertinggi Nilai terendah )

nilai Q hitung ini dibandingkan dengan nilai Q-kritis.


Jika nilai Q-hitung lebih kecil dari nilai Q-kritis, maka
hipotesis nul (null hypothesis) diterima berarti tidak ada
perbedaan antara nilai yang dicurigai dengan nilai-nilai
yang lain.
Nilai Q-kritis pada taraf kepercayaan 95 % (P = 0,05)

Banyaknya data Q-tabel (Nilai Q-kritis)

4 0,831
5 0,717
6 0,621
7 0,570
8 0,524
Contoh Soal (1)

Pada penetapan cemaran pestisida dalam sayuran


didapat kadar 0,403; 0,410; 0,401; 0,380 g/g. Apakah
nilai 0,380 adalah suatu pencilan?
0,380 0,401 0,021
Q-hitung = 0,70
(0,410 0,380) 0,03

Nilai Q-kritis untuk 4 data pada taraf kepercayaan 95 % (P = 0,05)


adalah = 0,83. Karena harga Q-hitung lebih kecil dari Q-kritis berarti
nilai 0,380 bukanlah suatu pencilan sehingga nilai 0,380 harus
dipertahankan.
Contoh Soal (2)

Perhatikan jika pada contoh di atas ditambah


dengan 3 nilai yaitu 0,400; 0,413; dan 0,411 g/l.
Apakah nilai 0,380 adalah suatu pencilan?
0,380 0,400 0,020
Q-hitung = 0,61
(0,413 0,380) 0,033

Harga Q-kritis untuk 7 data pada taraf kepercayaan 95 % (P =


0,05) adalah sebesar 0,57 sehingga harga Q-hitung lebih besar
dari Q-kritis berarti nilai nilai 0,380 adalah suatu pencilan sehingga
nilai 0,380 harus ditolak.