You are on page 1of 14

KEGAWATDARURATAN PADA SALURAN CERNA

ATAS

ERNA NELZZA 04021181320001
WILLA ELISA SEMBIRING 04021181320020
ROSA PERMATA SUKMA 04021181320028
REGA AUDIA NYAYU 04021181320029
FENI TIARA DIAH 04021181320033
AULIA HERIKA PUTRI 04021181320049
RIZKY CAHYA MORGA 04021281320017
POVI OLIVIA 04021281320021
MUTIA DWI SAGITA 04021281320027
KELOMPOK 7

Perdarahan saluran cerna bagian atas merupakan salah satu indikasi perawatan di rumah sakit dan banyak menimbulkan kematian bila tidak ditangani dengan baik.Kegawatdaruratan pada SCBA Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) merupakan salah satu kegawat daruratan yang banyak ditemukan di rumah sakit seluruh dunia. .

. Kelainan Esofagus  Varises esfagus  Karsinoma esofagus 2. Kelainan di lambung  Gastritis erosive hemoragika Sindrom Mallory.  Tukak lambung   Karsinoma lambung weiss 3.Penyebab Dari Kegawatdaruratan SCBA 1. Kelainan di duodenum  Tukak duedeni  Esofagitis dan tukak   Karsinoma Papila Vaterii esofagus .

Dianjurkan pemasangan CVP c. harus dipasang kateter urine e.Memonitor tekanan darah.Melakukan bilas lambung agar memudahkan dalam melakukan tindakan endoskopi. . nadi. b. 2.Penatalaksanaan Dan Obat Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas 1.Oksigen sungkup/kanula.Pemasangan IV line paling sedikit 2 b. a. saturasi oksigen dan keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada. 3. Identifikasi dan antisipasi terhadap terjadinya gangguan hemodinamik harus dilakukan secara prima di lini terdepan karena keberhasilannya akan mempengaruhi prognosis pada pasien. Pemasangan NGT (nasogatric tube) a.Transfusi untuk mempertahankan hematokrit >25%.Mencatat intake output. Langkah awal untuk menstabilkan kondisi hemodinamik. Bila ada gangguan A-B perlu dipasang ETT d.

pasien dapat segera dirawat untuk terapi lanjutan atau persiapan endoskopi. 6. 5. Pemeriksaan laboratorium segera dibutuhkan pada kasus-kasus yang membutuhkan transfusi lebih dari 3 unit PRC.4. Penatalaksanaan sesuai dengan penyebab perdarahan 7. .1mg/2 jam. Konsultasi ke dokter spesialis terkait dengan penyebab dari perdarahan. Pemberian diberikan sampai perdarahan berhenti atau bila mampu diteruskan 3 hari setelah ligasi varises. Tirah baring 8. Puasa/Diet hati/lambung  Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton (PPI)  Sitoprotektor: sukralfat 3-4x1 gram  Antasida sirup atau tablet  Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati kronis  Terhadap pasien yang diduga kuat karena ruptura varises gastroesofageal dapat diberikan: somatostatin bolus 250 ug + drip 250 mikrogram/jam atau oktreotid bo 0. Pasien yang stabil setelah pemeriksaan dianggap cukup stabil.

Penderita perdarahan saluran cerna bagian atas ditatalaksana secara nonmedikamentosa dan medikamentosa . tetapi pada 20% dapat berlanjut. 10.  Laktulosa 4x1 sendok makan  Neomisin 4x500 mg 9. Walaupun sudah dilakukan terapi endoskopi pasien dapat mengalami perdarahan ulang. Oleh karena itu perlu dilakukan assessmen yang lebih akurat untuk memprediksi perdarahan ulang dan mortalitas. Prosedur bedah dilakukan sebagai tindakan emergensi atau elektif. Propanolol. dimulai dosis 2x10 mg dapat ditingkatkan sampai tekanan diastolik turun 20 mmHg atau denyut nadi turun 20%. Sebagian besar pasien dengan perdarahan SCBA dapat berhenti sendiri.

Muntah Darah . Nyeri Dada 4. Tremor pada badan 2. Pusing 5. Pucat dan Lemah 3. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Terjadi Pada Kegawatdaruratan Saluran Cerna Atas 1.

dalam hal ini yang diutamakan adalah penanganan A -B –C ( Airway – Breathing –Circulation ) terlebih dahulu.Cara Penanganan Pertama Dan Lanjutan Pada Kegawatdaruratan Saluran Cerna Atas 1. Penanganan pertama pada saluran cerna atas Dalam menghadapi pasien pasien gawat darurat lainnya dimana dalam melaksanakan prosedur diagnosis tidak harus selalu melakukan anamnesis yang sangat cermatdan pemeriksaan fisik yang sangat detil. Bila pasien dalam keadaan tidak stabil yang didahulukan adalah resusitasi ABC. Penanganan Lanjutan pada saluran cerna atas Setelah keadaan pasien cukup stabil maka dapat dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lebih seksama . Setelah keadaan pasien cukup stabil maka dapat dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lebih seksama 2.

.Glipressin (Terlipressin) . Tindakan Umum Tindakan umum terhadap pasien diutamakan untuk ABC. Terapi medikamentosa dengan obat vasoaktif. Perdarahan akut SCBA meliputi tindakan umum dan tindakan khusus: 1. 2.Terhadap pasien yang stabil setelah pemeriksaan dianggap memadai .Somatostatin .Otreotid .pasien dapat segera dirawat untuk terapi lanjutan atau persiapan endoskopi. Tindakan Khusus Varises gastroesofageal .

 Terapi pembedahan Shunting Transeksi esofagus + devaskularisasi + splenektomi Devaskularisasi + splenektomi.  Terapi mekanik dengan balon Sengstaken Blackmore atau Minesota Terapi endoskopi Skleroterapi Ligasi  Terapi secara radiologik dengan pemasangan TIPS( Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunting) dan Perkutaneus obliterasi spleno – porta. .

. suhu37 OC. Frekuensi nadi 86 x menit. Dibawa ke RS. S mempunyai riwayat penyakit maag sudah 5 tahun. Pasien mengatakannya nyeri dada dan pusing. Mengeluh badannya tremor dan pusing serta muntah darah. Dari hasil pengkajian dengan anggotakeluarganya mengatakan bahwa 1 jam yang lalu sebelum dibawa ke rumah sakit Tn S. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim medis didapatkan diagnosa perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA). Dari hasil pemeriksaan didpatkan hasil bahwa klien terlihat pucat dan lemah. frekuensi napas 20 x permenit. Mulia Bakti oleh keluarganya. Keluarga pasien mengatakan Tn.Contoh Kasus Tn S. TD 100/80 mmHg.

 Analisis Data Do : Klien terlihat pucat dan lemah TD 100/80). keluarga Tn S mengatakan mempunyai riwayat penyakit maag sudah 5 thn. . suhu 37 C Frek. Klien mengatakan nyeri dada dan pusing. Nadi 86 x/menit. Ds : Tn S mengeluh badannya tremor dan pusing serta muntah darah. Frekuensi Napas 20 x /menit.

Ansietas b/d ancaman kematian . Ditandai dengan adanya nyeridada c. Defisit volume cairan b/d dehidrasi. Nyeri Akut b/d syok kardiogenik. syok hipovolemik. Hipertermi b/d peningkatan suhu tubuh. Ditandai dengan suhu 37 C f. b. Pola napas tidak efektif b/d penurunan curah jantung akibat dari kehilangan darah secara tiba-tiba. e. d. dan perdarahan berlebihan. Diagnosa Keperawatan a. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi tidak adekuat ditandai dengan badan tremor dan pusing serta muntah darah.

THANK YOU .