You are on page 1of 18

PERAN KELUARGA

DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PENDERITA GANGGUAN JIWA
DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI

Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya

PRE-TEST DAN POST-TEST  1. persepsi klien terhadap lingkungan tanpa rangsangan yang nyata artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa rangsangan dari luar b. Apa itu halusinasi? a. Persepsi klien terhadap mimpi atau impian yang selama ini diinginkan tetapi tidak tercapai sehingga membuat klien selalu berfantasi dalam pikirannya .

 2. Ada berapa penyebab halusinasi? a. 6 . 5 b.

menghirup. Mengatakan mendengar suara. Mengatakan bahwa sering bermimpi tetapi klien kemudian sadar dan tidak membicarakan hal tersebut lagi . 3. mengecap dan merasa sesuatu yang tidak nyata  b. melihat. Bagaimana tanda dan gejala halusinasi?  a.

 Ada berapa tipe halusinasi? a. penglihatan. penciuman. sentuhan. penglihatan. pengecapan) . 6 (perasaan. 5 (pendengaran. penciuman. pengecapan) b. sentuhan. pendengaran.

condemning. 6 (conforting. condemning. conquering) b. controlling. conquering. Ada berapa fase halusinasi? a. 4 (conforting. consisting) . controlling. confusing.

Apa itu Halusinasi???  Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa rangsangan yang nyata artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa rangsangan dari luar .

Psikologis  Sikap dan keadaan keluarga juga lingkungan  Penolakan dan kekerasan dalam kehidupan  Pola asuh pada usia anak-anak 3. bicara. daya ingat.yaitu:  Faktor predisposisi 1. konflik social budaya  Kebudayaan yang terisolir disertai stress yang menumpuk . Biologis  Gangguan perkembangan dan factor otak  Gejala yang mungkin timbul : hambatan dalam belajar. Sosial budaya  Kemiskinan. Penyebabnya?? Ada 6. mungkin perilaku kekerasan 2.

Respon koping yang maladaptif 6. Komunikasi keluarga yang kurang/kemampuan financial keluarga . Faktor prepitasi 4. Kurang sumberdaya/dukungan sosial yang dimiliki 5.

ekspresi wajah tegang. menghirup. sulit membuat keputusan.  Mengatakan mendengar suara. banyak keringat . sikat gigi. Bagaimana Tanda dan Gejalanya??  Berbicara. senyum dan tertawa sendirian. menarik diri.  Merusak diri sendiri. serta tidak mampu mandiri seperti mandi. pembicaraan kacau dan tidak masuk akal. melihat. mengecap dan merasa sesuatu yang tidak nyata. jengkel. berganti pakaian dan berhias yang rapi. mudah marah.  Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata. ketakutan.  Sikap curiga. orang lain dan lingkungan. bermusuhan. mudah tersinggung.

Halusinasi ini paling sering dialami klien dibandingkan dengan halusinasi yang lain.  Halusinasi Penglihatan Melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada. suara-suara tersebut biasanya familiar. Apa Saja Jenisnya?? Ada 5 yaitu:  Halusinasi Pendengaran Mendengar suara-suara. perasaan adanya rasa makanan dan berbagai zat lainnya yang dirasakan oleh indra pengecapan klien (Cancro & Lehman. sering mendengar suara-suara orang berbicara atau membicarakannya. nikmat atau tidak nyaman padahal stimulus itu tidak ada. seperti cahaya atau seseorang yang telah mati.  Halusinasi Pengecapan Termasuk rasa yang tidak hilang pada mulut. 2000).  Halusinasi Sentuhan Perasaan nyeri. Tipe ini sering ditemukan pada klien dengan dimensia seizure atau mengalami gangguan cerebrovaskuler.  Halusinasi Penciuman Mencium bau-bau padahal di tempat tersebut tidak ada bau. .

perasaan. cara ini hanya menolong sementara. cemas. perpisahan.  Perilaku klien : menggerakan bibir tanpa suara. dan tidak dapat diselesaikan. respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya. cepat. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.  Karakteristik :  Klien mengalami stress. diam dan asyik sendiri. . pergerakan mata yang. Fase atau Tahapan?? Ada 4 yaitu:  Fase pertama/conforting (ansietas sedang) Fase comforting yaitu fase menyenangkan. kesepian yang memuncak.  Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan. rasa bersalah.

berfikir sendiri  Mulai diresahkan oleh bisikan yang tidak jelas  Klien tidak ingin orang lain tahu. . Fase kedua/comdemning (ansietas berat)  Fase condemming atau ansietas berat merupakan fase pengalaman sensori yang menjijikkan dan menakutkan. Fase ini bersifat psikotik ringan. melamun. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang diekspresikan.  Karakteristik :  Kecemasan meningkat. dan tekanan darah. pernafasan. klien masih bisa mengontrol  Perilaku klien : meningkatkan tanda-tanda system saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan denyut jantung.

isi halusinasi makin menonjol dan mengontrol klien  Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasi  Perilaku klien : kemauan yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti. Fase ketiga/controling (ansietas sangat berat)  Fase controlling merupakan ansietas sangat berat dimana pengalaman sensorik pada klien menjadi berkuasa. kesukaran berhubungan dengan orang lain. .  Karakteristik :  Bisikan suara. Klien berhenti menghentikan perlawanan kesepian jika sensori halusinasi berhenti. Fase ini bersifat psikotik. rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit.

 Karakteristik :  Halusinasi berubah menjadi mengancam. menarik diri . perilaku  kekerasan. Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi.  Perilaku klien : perilaku teror akibat panik. tidak berdaya. potensi bunuh diri. Fase keempat/conguering (panik)  Disebut juga fase conquering. memerintah dan memarahi klien  Klien menjadi takut. Klien mengalami panik dan umumnya menjadi melebur dalam halusinasi. tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan. hilang kontrol.

 Alasan penderita gangguan jiwa harus minum obat secara teratur:  Untuk memacu atau mengahambat fungsi mental yang terganggu  Memperbaiki kondisi penderita  Bantu penderita untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan  Beri kegiatan yang positif untuk mengisi waktu penderita dirumah.  Jangan biarkan penderita menyendiri. Memberikan perhatian dan rasa kasih sayang dan penghargaan social kepada penderita  Mengawasi kepatuhan penderita dalam minum obat. libatkan dalam kegiatan sehari-hari.  Memberikan pujian jika penderita melakukan hal yang positif.  Menjauhkan penderita dari pengalaman atau keadaan yang menyebabkan penderita merasa tidak berdaya dan tidak berarti  Membawa penderita untuk control rutin kepelayanan kesehatan. .  Jangan mengkritik penderita jika penderita melakukan kesalahan.

serta akibat jika lupa atau menolak minum obat › Modifikasi pemberian obat. › Berikan pujian langsung pada penderita saat mempunyai keinginan sendiri untuk minum obat . Kiat pada pasien yang menolak minum obat: › Buat kesepakatan dengan penderita (membuat jadwal minum obat) › Menjelaskan manfaat pengobatan bagi penderita. bersama sama saat makan buah atau dicampur dengan makanan.

TERIMAKASIH .