You are on page 1of 21

Diagnosis dan Penanganan

Pneumonia pada Anak
Corryana theresia 102009258
Aprianus M Dopong 102011156
Febby farihindarto 102011246
Selvi gunawan 102013052
Oktaviana Linda Fermina 102013133
Putu Prayoga Tantra 102013278
Evialy Hady 102013287
Kezia Marcella 102013384
Hariz Ikhwan Bin Abd Rahman 102013505
Mukti wisendha 102013546

Rumusan Masalah
Seorang anak perempuan berusia 2 tahun
dibawa ibunya ke puskesmas karena sesak
nafas sejak 2 hari yang lalu.

.Hipotesis Anak perempuan berusia 2 tahun menderita pneumonia .

produktif/kering. warna) Riwayat penyakit dahulu  didahului ISPA Riwayat persalinan dan imunisasi Riwayat sosial  Lingkungan tempat tinggal padat? Bersih/kotor? Pola makan? nafsu makan? . terus menerus/sesekali. Anamnesis allo-anamnesis Identitas pasien Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang:  Sesak napas (onset)  Demam (brp lama? naik-turun?)  Batuk (kapan.

lebih pernapasan tambahan • 12 bulan (cuping – 5 tahun : 40x/hidung) Palpasi:menit gerakan dada saat bernapas / lebih (seimbang ka-ki). fremitus vokal normal Perkusi: konfluens  redup Auskultasi: bunyi napas melemah. • 2-12 bulan: 50x/menit / intercostal). wheezing (adanya penyempitan saluran napas) . ronkhi basah (adanya produksi sekret yang berlebihan). gerakan pernapasan (simetris).Pemeriksaan Fisik TTV Dianggap napas cepat bila: • < 2 bulan : 60x/menit / lebih Inspeksi: bentuk dada (retraksi sternum.

neutrofil segmen. Pneumonia bakterial: peningkatan (>20. limfosit predominan. eosinofil. monosit . limfosit. neutrofil batang.000/mm3) predominan netrofil * basofil.Pemeriksaan Penunjang Biakan sputum: pewarnaan gram Deteksi antigen bakteri pada darah  identifikasi penyebab Pemeriksaan Laboratorium Hitung jenis leukosit* pada pneumonia viral: normal /sedikit meningkat.

mikoplasma.Working Diagnosis (Pneumonia) Proses peradangan yang mengenai parenkim paru  cairan masuk dan alveoli dipenuhi oleh eksudat (dsb konsolidasi) gangguan pertukaran gas Mikroorganisme bakteri. aspirasi benda asing . virus.

batuk kronis (≥ 3 minggu). Infeksi saluran nafas berupa batuk paroksismal. . malaise. Differential Diagnosis Diagnosis Gejala klinis yang ditemukan Bronkiolitis . batuk produktif + darah Bronkhitis akut . episode pertama wheezing pada anak umur < 2 tahun . keringat malam. perandangan bronkiolus : kerusakan mukosa dan obstruksi jalur napas . bronchogenic spread: demam tinggi malam hari. demam tinggi tidak ditemukan . mulai 2-3 hari setelah rhinitis. demam yang naik turun selama 1-2 minggu tanpa sebab yang jelas . tidak produktif dan timbulnya relatif bertahap. masa inkubasi kurang lebih 3 bulan . ekspirasi memanjang . bersin Tuberculosis (TB) . batuk sering. uji tuberculin positif (≥10 mm) . pilek encer. riwayat kontak positif dengan pasien TB dewasa . takipneu . takikardi. BB turun.

Staphylococcus aureus. .Etiologi  2 tipe penyebab . benda asing. parainfluenzae. reaksi hipersensitivitas)  Pneumonia virus oleh virus sinsitial pernapasan (respiratory syncytial virus.infeksi mikroorganisme (virus & bakteri) .non-infeksi (aspirasi makanan dan asam lambung. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydophila pneumonia (>5 tahun). RSV). influenza. adenovirus.  Pneumonia bakteri paling sering adalah Streptococcus pneumonia (2-3 tahun). Haemophilus Influenzae.

000 anak dibawah umur 5 tahun di tahun 2013. malaria serta AIDS. UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita. Berdasarkan data WHO. diperkirakan pneumonia telah menewaskan 935. . pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan TBC. melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak.Epidemiologi Di Indonesia. dari 15% seluruh kematian anak dibawah umur 5 tahun.

kontak langsung  bakteri berkoloni pada trakea  menginvasi jaringan parenkim paru  di alveoli membentuk proses peradangan Stadium I Stadium II hiperemia (4 – 12 jam pertama) hepatisasi merah (48 jam)  pelepasan mediator-mediator peradangan  alveolus terisi oleh sel darah merah. eksudat dari sel-sel mast dan fibrin sebagai reaksi peradangan  peningkatan permeabilitas kapiler  lobus yang terkena menjadi padat oleh  terjadi edema antar kapiler dan alveolus karena penumpukan leukosit. eritrosit dan  penurunan reaksi oksigen dengan cairan hemoglobin .Patofisiologi  inhalasi udara: droplet.

Patofisiologi Stadium III Stadium IV hepatisasi kelabu (3-8 hari) resolusi (7-11 hari)  sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah  respon imun dan peradangan mereda paru yang terinfeksi  sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan  endapan fibrin terakumulasi di daerah diabsorsi oleh makrofag infeksi  jaringan kembali ke strukturnya semula  eritrosit di alveoli mulai diresorbsi  lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit .

Manifestasi Klinis Klasifikasi Anak usia < 2 bulan Anak usia 2 bulan – 5 tahun Pneumonia sangat  Hipo/hipernatremi  Kesadaran turun berat  Kesadaran turun  Tidak mau minum  Kurang mau minum  Tarikan dinding dada dalam  Kejang  Kejang  Wheezing  Stridor  Stridor  Sianosis  Gizi buruk Pneumonia berat  Tarikan dinding dada dalam yang  Batuk dan sesak napas tampak jelas  Takipnea  Takipnea  Tarikan dinding dada dalam  Dapat minum  Sianosis (-) Pneumonia  Takipnue  Tarikan dinding dada dalam (-) Bukan pneumonia Tarikan dinding dada dalam (-). takipnea (-) .

Selama 10 hari . selama 5 hari berikutnya Antibiotik lini kedua: seftriakson 80-100 mg/kgBB IM atau IV satu kali sehari (Maksimal: 2 g/hari).diberikan dosis tinggi 80-90 mg/kgBB/hari secara oral atau iv tiap 8 jam (dipantau selama 72 jam) .Penatalaksanaan Amoksisilin.diteruskan selama 5 hari dilanjutkan dengan dosis 15 mg/kgBB/kali 3 hari sekali. sebagai lini pertama .

dilanjutkan lagi 5 mg/kg 1 kali sehari selama 5 hari berikutnya .Penatalaksanaan Eritromisin (30-50 mg/kg/hari) selama 2-3 minggu Klaritomisin oral 7.5 mg/kg setiap 12 jam selama 10 hari Azithromisin oral 10 mg/kg dosis tunggal pada hari pertama.

Komplikasi Tidak menunjukkan respon yang baik terhadap terapi menunjukkan kemungkinan komplikasi cairan Efusi pleura inflamasi Empiyema terkumpul di Perikarditis ruang pleura  menyebar sistemik .

Pencegahan .

6. Pada anak >2 tahun PCV cukup1 kali atau diberikan vaksin 23-valent polysaccharide vaccine (PPVSV). . 12-15 bulan.Pencegahan Vaksin untuk anak <1 tahun: 13-valent pneumococcal conjugate vaccine (PCV13) diberikan usia 2.4.

Prognosis Tanpa komplikasi : baik .

Hipotesis diterima .Kesimpulan Penyakit yang diderita pasien pada kasus adalah pneumonia bakterial. penurunan suara pernapasan. batuk dengan sputum kuning. karena itu pasien mengalami demam tinggi. sesak napas. terdapat retraksi sela iga. dan pada auskultasi juga terdengar ronkhi basah halus. cuping hidung positif.