You are on page 1of 20

Pertusis pada Anak-Anak

CORRYANA THERESIA 102009258
APRIANUS M DOPONG 102011156
FEBBY FARIHINDARTO 102011246
SELVI GUNAWAN 102013052
OKTAVIANA LINDA FERMINA 102013133
PUTU PRAYOGA TANTRA 102013278
EVIALY HADY 102013287
KEZIA MARCELLA 102013384
HARIZ IKHWAN BIN ABD RAHMAN 102013505
MUKTI WISENDHA 102013546

Kasus

Seorang anak perempuan berusia 4 tahun
dibawa ibunya ke puskesmas karena batuk sejak 2
minggu yang lalu. Saat batuk anak menjadi
kesulitan bernafas karena batuk terus-menerus yang
tidak kunjung berhenti, wajah menjadi merah-
kebiruan, kadang disertai bunyi saat anak berusaha
menarik nafas. Di antara episode batuk, anak
tampak baik-baik saja. Selain itu anak juga
mengalami demam naik-turun tapi tidak terlalu
tinggi.

wajah menjadi merah-kebiruan. kadang disertai bunyi saat anak berusaha menarik nafas. Hipotesis Anak perempuan tersebut menderita pertusis. kesulitan bernafas. Rumusan Masalah Anak perempuan berusia 4 tahun dengan keluhan batuk terus-menerus. .

. Riwayat Penyakit Sekarang Apakah sedang mengalami suatu penyakit tertentu atau tidak Riwayat Penyakit Dahulu Sebaiknya. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah di keluarganya pernah ada yang mengalami hal yang sama. ditanyakan apakah dulu pernah mengalami hal yang sama seperti sekarang. Anamnesa Anamnesa Umum Nama. Saat batuk pasien menjadi kesulitan bernafas akibat batuk terus menerus sehingga wajah menjadi memerah kebiruan. umur. Pelengkap: demam tidak terlalu tinggi dan naik turun. alamat. Keluhan Utama Batuk sejak 2 minggu yang lalu. pekerjaan (bisa secara alloanamnesis).

ada beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan terkait dengan batuk si anak:2 Batuknya sudah berapa lama? Batuknya. atau sudah mendapat pengobatan apa dan apakah keadaan membaik atau tidak.Riwayat Pengobatan Sudah mengkonsumsi obat apa saja. jarang. Apakah anak tersebut pernah kontak dengan penderita lainnya Selain itu. sering? Apakah batuknya produktif atau tidak? Jika produktif apa warna cairan/sputum? Apakah purulen? Adakah alergi obat atau antigen lingkungan? Apakah pasien sebelumnya punya riwayat alergi? Bagaimana riwayat imunisasi pasien? . keras.

kesadaran  Inspeksi  Palpasi  Perkusi  Auskultasi . Pemeriksaan Fisik  Keadaan umum pasien  TTV.

Pem. Diperiksa di lab mirkobiologi untuk mengetahui bakteri penyebab pertussis. kental dan berwarna kuning-kehijauan. Cepat memberi hasil tentang ukuran massa dalam jalan napas MRI : mengenali keadaan patologis dlm trakea dan jala napas besar. Memvisualisasikan hub pemb. Sputum : sputum yang baik biasa didapat pada pagi hari. darah besar dan jalan napas. . Pemeriksaan Penunjang CT Scan : untuk evaluasi lesi pada mediastinum atau hilus.

Diagnosis tergantung pada isolasi Bordetella pertussis pada fase awal penyakit dengan biakan swab nasofaring .Pertusis Penyakit infeksi saluran nafas yang biasanya sering menyerang anak-anak.

peroral. bb turundan tanda infeksi saluran napas Etiologi : M.bovis Udara. Diagnosa Banding TUBERKULOSIS PARU Tes Mantoux (+) Demam. batuk. kontak langsung Eksudasi bisa menyebar sampai KGB .tuberculosis. anoreksia. M.

jarang. iritabilitas.  Tipe 1 dan 2 biasanya musiman. ronki basah dan mengi/wheezing.3.o CROUP Infeksi virus yang mengenai laring dan trakea.  Tipe 3 sifat endemik dpt tjd pada bayi usia 6 bulan. anoreksia. .  Tipe 4. Klinis : batuk. Tipe virus1-4 3 tahun : 1. suara parau. pd musim panas.2.

Epidemiologi •Salah satu penyakit yang paling menular •Pra vaksin  penyebab utama kematian dari penyakit menular pada anak di bawah usia 14 •Semua orang. inhalasi droplet . terutama anak dibawah 1-5 tahun •Laki-laki = perempuan •Penularan  kontak dengan penderita.

B. B. bronchiseptica. pertussis mengeluarkan toksin pertusis (TP)  sub-unit A & B  Juga menghasilkan  hemaglutinin filamentosa (HAF) dan pertaktin (PRN) . tidak bergerak  Swab kemudian tanam pada agar Bordet Gengou. Etiology  Bordetella pertusis  cocobacillus gram (-).  B. parapertussis. pertussis.  Bordetella yaitu B.

Patofisiologi .

lakrimasi. lidah terjulur  Stadium Konvalesen (4-6minggu)  Masa penyembuhan  Batuk mulai berkurang  Bisa paroksimal berulang  infeksi sekunder . Gejala Klinis  Stadium Kataral (1-2minggu)  Menyerupai flu ringan (batuk & demam ringan. wajah merah. anoreksia)  Stadium Paroksimal (2-4minggu)  Batuk keras terus-menerus (khas)  Disertai whoop  muntah  Sianosis.

Penatalaksanaan Rawat inap jika pasien mendapat serangan paroksimal yang berat. . Suportif  terutama menghindarkan faktor-faktor yang menimbulkan serangan batuk. Antimikroba  Eritromisin 40-50 mg/kgBB/hari selama 14 hari Alternatif  Trimethropin-sulfamethoxazole 6- 8mg/kgBB?/hari oral. mengatur hidrasi dan nutrisi.

kejang . bradikardi. Komplikasi Saluran Napas Otitismedia (bayi). pneumoniae  kematian Susunan Saraf Akibat hipoksemia  apnea.

dengan selang waktu 6 – 8 minggu (usia 2.4. Pencegahan Vaksin Pertusis  Kombinasi DPT  Pada usia 2 bulan. IM  Diberikan 3x.6 bulan)  diulang 2x. usia 18-24 bulan & 5 tahun. .

Prognosis Prognosis baik dengan penatalaksanaan yang tepat dan cepat Pneumoniae / komplikasi paru lain  fatal (kematian) .

Kesimpulan Pasien datang dengan keluhan batuk terus menerus hingga sulit bernapas merupakan diagnosis pertusis yang disebabkan oleh Bordetella pertussis. . Tatalaksana yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik dan tindakan suportif beserta pencegahan dengan kombinasi vaksin DPT. Penyakit ini mudah menular terurama pada anak dengan imunitas dan riwayat vaksinasi yang tidak lengkap.