You are on page 1of 25

Strategi Mengatasi Anak yang Berperilaku Sulit

Anggota kelompok:
1. Arum Yuni Astuti 141414048
2. Maria Helena Nonot 141414050
3. Widhia Tri Nuragni 141414060
4. Pascalis Pandu S. 151414037
Anak Berperilaku Sulit
Pengertian
Dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan
yang dilakukan oleh makhluk hidup (Soekidjo Notoatmodjo, 1987:1).
Sedangkan perilaku sulit merupakan perilaku yang menyebabkan siswa
merasa terganggu baik dirinya sendiri maupun siswa lain yang
berdampak pada konsentrasi belajar siswa.
Bentuk-Bentuk Perilaku Sulit Siswa
Bentuk-bentuk gangguan perilaku dapat ditinjau dari berbagai segi.
Menurut Prayitno dan Amti (2009:46-48), bentuk-bentuk gangguan
perilaku tersebut digolongkan ke dalam tiga dimensi kemanusiaan, yaitu:
dimensi sosialitas, seperti bentrok dengan guru, dimensi moralitas, seperti
melanggar tata tertib sekolah, membolos, kasar, dan dimensi
religius, seperti tidak melakukan salat atau perbuatan-perbuatan lain yang
menyimpang dari agama yang dianutnya.
Dapat disimpulkan bahwa perilaku sulit siswa adalah
penyimpangan perilaku siswa di sekolah dan masyarakat
sebagai berikut:
Perilaku kurang disiplin

Kurang hormat pada guru perilaku ini tampak dalam

hubungan siswa dengan guru dimana siswa sering acuh tak


acuh terhadap keberadaan guru di sekokah, seperti acuh
tarhadap guru.
Berkelahi dengan teman di kelas perilaku yang ditunjukan

oleh siswa yang sering terjadi antar siswa di kelas seperti:


perkelahian antar siswa dan mengganggu teman.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Sulit
1. Faktor Internal
a. Krisis Identitas
Yaitu perubahan sosiologi pada diri anak yang memungkinankan
terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan
konsistensi dalam hidupnya. Kedua, tercapainya identitas peran.
b. Kontrol diri yang lemah
Anak yang tidak bisa mempelajari dan membedakan
tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat
diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi
mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku
tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontol diri
untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya dan
peraturan yang ada.
2. Faktor Eksternal
a. Orang Tua
Keluarga merupakan tempat dimana seorang anak bisa
tumbuh dan berkembang dengan sempurna baik jasmani
maupun rohani. Anak bisa mendapatkan perhatian, kasih
sayang, juga dukungan moral dari orang tua.
Menurut Kartini (2005: 17) mengemukakan bahwa
kondisi lingkungan keluarga sangat menentukan
keberhasilan masa perkembangan seseorang diantaranya
adalah adanya hubungan yang harmonis di antara sesama
anggota keluarga, tempat terjadinya peralatan belajar dalam
pergaulan. Adanya perhatian besar dari orang tua terhadap
perkembangan proses belajar dan pendidikan anak-anaknya.
b. Lingkungan
Lingkungan atau tempat tinggal adalah salah satu penyebab
terbentuknya sebuah karakter pada diri anak. Lingkungan turut
membantu kelancaran proses dengan perbuatan yang patut
dicontoh dan ditiru, maka lingkungan tersebut tidak akan
menimbulkan permasalahan. Sebaliknya seringkali terlihat
lingkungan sosial yang berpengaruh negatif terhadap anak,
bersifat menghambat dan merugikan proses-proses
perkembangan sehingga menimbulkan kesulitan bagi para
orang tua dan pendidik.
c. Teman Sebaya
Teman sebaya juga sangat berpengaruh penting terhadap
perilaku siswa, karena teman merupakan pemberian sumber
informasi dunia diluar selain orang tua atau keluarga. Selain
itu, teman merupakan orang terdekat dengan anak, karena
sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama teman.
Kesimpulan Dari Kelompok Kami
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa orang tua sebagai
pendidik utama, yang setiap hari bergaul dengan siswa perlu mengetahui
sifat dan karakter siswa. Maka orang tua sangat berperan penting dalam
pembentukan perilaku baik. Disamping itu lingkungan dan teman juga
berperan penting dalam membentuk karakter dan tingkah laku siswa,
maka ketiga faktor ini saling membutuhkan dan melengkapi dalam
mendidik siswa untuk berperilaku lebih baik.
Strategi Dalam Menangani Perilaku Sulit siswa

Hasibuan (1994) mengemukakan sejumlah sikap dan


tindakan guru dalam masing-masing teknik diatas, yaitu :
1. Teknik Preventif
Teknik preventif adalah teknik untuk mencegah timbulnya
tingkah laku yang dapat mengganggu kegiatan pembelajaran.
Teknik preventif yang dilakukan guru dengan maksud
tersedianya suatu kondisi yang nyaman dan aman bagi anak
untuk beraktivitas dikelas. Contoh beberapa Teknik
preventif:
a. Sikap terbuka
Sikap terbuka merupakan sikap guru yang penting untuk
menunjukan keakraban hubungannya dengan anak. Dengan suasana
keterbukaan, anak-anak merasa bebas dan leluasa mengemukakan
pendapatnya serta yakin bahwa guru selalu mendengarkan dan
memperhatikan pendapatnya.

b. Sikap menerima dan menghargai siswa sebagai manusia


Sikap menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, akan
berpengaruh baik juga kepada perkembangan anak. Sikap menerima
apa adanya merupakan pernyataan sayang, merasa diterima berarti
merasa di sayang. Anak tidak akan merasa rendah diri dan malu, karena
guru memperlakukannya dengan cara yang tidak membeda-bedakan.
c. Sikap empati
Sikap empati berarti guru mampu mengenali, mempresepsi, dan
merasakan perasaan siswa. Sikap empati mencegah timbulnya rasa
malu dan takut pada anak, dan dapat pula membangun keberanian
anak, jika diminta untuk melakukan kegiatan yang berhubungan
dengan pembelajaran.

d. Sikap demokratis
Sikap demokratis adalah sikap dimana seseorang dapat menjadi
pengarah dan pembimbing. Guru berusaha menempatkan perannya
sebagai pengarah dan pembimbing dalam proses pembelajaran.
2. Teknik Kuratif
Teknik kuratif merupakan tindakan korektif guru terhadap
perilaku anak yang menyimpang dan merusak kondisi
optimal bagi kelangsungan aktivitas anak di dalam kelas.
Contoh beberapa Teknik Kuratif:
a. Penguatan negatif
Guru yang melakukan penguatan negatif akan
berusaha untuk mengurangi atau menghilangkan suatu
stimulus yang tidak menyenangkan, agar anak terdorong
kembali untuk berperilaku yang lebih positif sebagai akibat
dari pengurangan atau penghilangan stimulus tersebut.
b. Penghapusan
Penghapusan dapat pula dilakukan guru dalam
menanggulangi perilaku anak yang mengganggu kegiatan
belajar. Kegiatan ini kebalikan dari penguatan,
khususnya penguatan positif. Dalam penguatan positif
tingkah anak dipertahankan, sedangkan dalam pengahapusan,
tingkah laku anak dikurangi atau dihilangkan sama sekali.
c. Penghukuman
Hukuman merupakan tindakan yang dapat diterapkan
guru untuk anak berperilaku mengganggu kelancaran
pembelajaran. Pemberian hukuman hendaklah dihindarkan,
sekiranya masih ada alternatif yang tepat untuk
menghilangkan tingkah laku anak yang tidak diinginkan,
sehingga tidak menimbulkan akibat kurang baik terhadap
anak maupun guru. Hukuman memberikan pengaruh
psikologis yang negatif pada anak. Namun pemberian
hukuman yang cocok dengan situasi dan perilaku anak, ada
kemungkinan dapat meningkatkan proses pembelajaran anak.
d. Penyalahan anak secara tidak langsung dan penunjukan
segi-segi keberhasilan
Bagi anak dengan tingkah laku ketidakmampuan, teknik
penanggulangan yang di lakukan guru adalah dengan tidak
menyalahkan anak secara langsung, melainkan menunjukan
segi-segi keberhasilan anak.

e. Peningkatan partisipasi anak dalam beraktifitas


Kegiatan yang diadakan diharapkan dapat meningkatkan
kekreatifan, keaktifan anak dalam mengikuti kegiatan
tersebut.
3. Pendekatan yang dapat dilakukan pada anak
berperilaku sulit
a. Pendekatan individual
Memiliki arti guru melakukan pendekatan
kepada masing-masing siswa. Persoalan
kesulitan belajar siswa akan lebih mudah
dipecahkan dengan pendekatan ini walaupun
pendekatan lain juga diperlukan.
b. Pendekatan kelompok
Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan
mengembangkan dan menumbuhkan rasa sosial
yang tinggi kepada setiap siswa. Mereka dibina
untuk mengendalikan rasa egois dalam diri
masing-masing, sehingga terbina sikap
kesetiakawanan sosial dikelas.
c. Pendekatan bervariasi
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap
siswa biasanya bervariasi, maka pendekatan
yang digunakan akan lebih tepat
menggunakan pendekatan bervariasi pula.
d. Pendekatan edukatif
Guru yang kurang aktif dan kurang
bijaksana dalam menggunakan pendekatan
akan merugikan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian siswa. Setiap
tindakan, sikap dan perbuatan yang
dilakukan guru harus bernilai pendidikan
dengan tujuan mendidik siswa, menghargai
norma hukum, norma susila, norma moral,
sosial dan agama.
Terima Kasih