You are on page 1of 11

Energi Panas Bumi (Geothermal

Energy)
Energi panas bumi adalah energi panas yang tersimpan
dalam batuan di bawah permukaan bumi dan fluida yang terkandung
didalamnya. Pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor nonlistrik
(direct use) telah berlangsung di Iceland sekitar 70 tahun.
Meningkatnya kebutuhan akan energi serta meningkatnya harga
minyak, khususnya pada tahun 1973 dan 1979, telah memacu
negaranegara lain, termasuk Amerika Serikat, untuk mengurangi
ketergantungan mereka pada minyak dengan cara memanfaatkan
energi panas bumi. Saat ini energi panas bumi telah dimanfaatkan
untuk pembangkit listrik di 24 Negara, termasuk Indonesia.
Disamping itu fluida panas bumi juga dimanfaatkan untuk sektor non
listrik di 72 negara, antara lain untuk pemanasan ruangan,
pemanasan air, pemanasan rumah kaca, pengeringan hasil produk
pertanian, pemanasan tanah, pengeringan kayu, kertas dll.
Sistem Hidrotermal
Indonesia
Penelitian tentang panas bumi di Indonesia telah dimulai
sejak 150 tahun lalu oleh Junghun pada 1854, pada
penelitiannya terutama pada daerah vulkanik aktif. Penelitian
lebih lanjut dilakukan oleh Badan Survey Geologi Belanda sekitar
tahun 1900 meliputi daerah di Jawa, Maluku, dan Sumatera.
Penelitian berlanjut pasca kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu
pada tahun 1960 dengan memetakan daerah dengan
manifestasi sepanjang Jawa dan Bali dan bagian Indonesia
lainnya. Total lapangan prospek panas bumi yang ditemukan
mencapai 200 titik, Hampir seluruh dari prospek panas bumi
Indonesia berasosiasi dengan manifestasi permukaan yang
berasal dari vulkanik kuarter aktif. Seluruh gunung api kuarter
muda dapat berasosiasi dengan magma yang membeku atau
intrusi, yang menjadi sumber panas dari vulkanik aktif.
Sistem panas bumi (hidrotermal, ada
hubungan dengan fluida) di Indonesia menurut
Hochstein, 2000 terbagi menjadi 6 tipe sistem, yaitu:
1.Vapor-Dominated System
2.Volcanic-Geotermal System
3.Vapor Layer System
4.Sistem dominasi uap di daerah vulkanik
5.Liquid dominated system associated with tectonic
6.Liquid Dominated Parent System below
Mountainous Terrain
Vapor-Dominated System
Reservoir lapangan Kamojang mencakup
area seluas 14 km2 dengan daerah resestivitas
rendah seluas 21 km2. Pemboran lapangan panas
bumi ini pada tahun 1974 mencapai kedalaman 615
m, temperature maksimal saat itu adalah 239C,
tekanan reservoir 35 bar, dengan kandungan uap
berkisar 25 - 120 t/h. Lapangan Kamojang tertutupi
oleh lapisan tebal yang jenuh oleh uap terkondensasi
dan mengandung mineral lempung.
Lapangan Darajat memiliki cakupan daerah
reservoir seluas 14 km2 dengan temperature berkisar
antara 243 - 241 C dengan produksi uap kering
rata-rata sebesar 81 88 t/h. Intepretasi terkait
sistem panad bumi di Darajat menunjukkan zona low-
velocity tersebut menunjukkan daerah alterasi
propilitik dengan cakupan wilayah 22 km 2. Total heat
loss dari semua manifestasi sekitar 100MW. Struktur-
strukturnya hampir sama dengan Kamojang namun
morfologi daerah Darajat lebih curam dengan akses
lapangan yang sulit.
Volcanic-Geotermal System
Prospek Dieng-Sikidang tegolong
cukup penuh resiko dengan adanya sejarah
erupsi freatik dari daerah tersebut. Eksplorasi
dilakukakan antara tahun 1970 hingga 1972
di kawasan gunung api kompleks Dieng yang
melibatkan USGS, VSI, dan ITB dengan
sokongan dana dari USAID. Dari hasil
pemboran sumur produksi yang dimulai
tahun 1980-an pada areal 5 km2 dari kawah
Sikidang, diketahui bahwa sumur merupakan
dominasi-air pada bagian bawahnya, dengan
brine terlarut (TDS antara 5-10 g/kg),
kandungan boron yang tinggi ( lebih dari 10%
TDS), dan perbedaan rasio Cl/B. Maksimum
temperatur adalah 275- 325C pada
kedalaman <1500 m dan entalpi berkisar
antara 1500-2600 kJ/kg, serta uap yang
dihasilkan berkisar 0-90 t/h. Daerah Sikidang
merupakan volkanik geothermal system
dengan fluida yang tidak homogen, berasal
dari uap magmatic plume.
Vapor Layer System
Bentuk Gunung Wayang dan Gunung
Windu adalah lava dome kecil yang tidak
pernah mengalami erupsi. Aktivitas fumarole
dengan alterasi asam ditemukan didekat
Gunung Wayang, sedangkan steam
groundditemukan di Gunung Windu. Seluruh
manifestasi tersebut berada pada luas area
kurang dari 30 km2. Fase pertama eksplorasi
ditemukan daerah dengan resistivity rendah
yaitu 25 km2. Pada tahun 1991 pengeboran
dengan kedalaman 1600m menghasilkan
temperature 280C. Sumur tersebut
menembus lapisan atas setebal 900 m
dengan 350 m lapisan jenuh, uap mengalami
kondensasi di bagian bawah lapisan, di
bagian bawahnya pada kedalaman 600 m
berupa lapisan dominasi uap, akhirnya di
dasar sumur terdapat lapisan jenuh fluida (20
g/kg TDS) sebagai reservoir. Pada prospek
Wayang-Windu lapisan dominasi uap berada
ditengah-tengah (seperti sandwich ) dengan
bagian atas adalah fluida tersaturasi dan
bagian bawah adalah brine yang tersaturasi.
Sistem dominasi uap di daerah
vulkanik
Patuha merupakan prospek panas
bumi yang berasosiasi dengan (degassing)
Gunung Patuha, dengan gas-gas magmatik
berubah menjadi asam dan panas (Kawah
Putih). Mata air panas yang asam dan netral
terjadi pada sisi Gunung Patuha bersamaan
dengan aktivitas fumarole kecil. Eksplorasi
yang dilakukan Pertamina pada 1982-1989
dengan kedalaman 100-200 m sekitar
fumarole, terlihat jenis fluida (Cl-SO 4) dan
pH netral dari air bikarbonat. Daerah
dengan resestivitas rendah membentang 18
km2 melingkupi Kawah Putih. Patuha
memiliki sistem dominasi uap dua fasa pada
reservoirnya (Lubis, 1986) yang ditusuk oleh
dua cerobong vulkanik yang mengandung
fluida magmatik. Model sistem memiliki
kesamaan dengan sistem panas bumi
volcanic (magmatic). Pengeboran pada
tahun 1994 pada kedalaman 1350 m CBN-1
menghasilkan temperature dasar 235 C
dengan produksi utama berupa uap.
Liquid dominated system
associated with tectonic
Silangkitang yang
berada pada NE sesar besar
Sumatra memiliki manifestasi
berupa air klorida mendidih
dan mengeluarkan alkalin.
Adanya fluida mendidih pada
kedalaman dangkal memicu
terjadinya erupsi hidrotermal.
Hampir seluruh fumarole yang
berasosiasi dengan sesar
besar Sumatera memiliki
jenis manifestasi asam
dengan temperature
diperkirakan 270C.
Liquid Dominated Parent System
below Mountainous Terrain
Prospek Lahendong
pertama kali dieksplorasi secara
mendalam pada 1983 dengan
kedalaman pemboran 2200
disekitar manifestasi permukaan
asam dengan temperature
260C. Antara tahun 1983-1986
eksplorasi terus beranjut dengan
lima sumur pemboran yang
menghasilkan temperature rata-
rata 350C dengan produksi 125
t/h fluida klorida. Selain itu jenis
sistem ini juga ditemukan di
prospek Cisolok, Citaman, dan
Bratan Kaldera Bali.
Kasbani (Badan Geologi Indonesia)
mengelompokkan sistem panas bumi
Indonesia menjadi 3 jenis, yaitu : vulkanik,
vulkano tektonik, dan non vulkanik.

Sistem Panas Bumi Sistem Panas Bumi


Vulkanik Tektonik
Sistem panas bumi vulkanik adalah
sistem panas bumi yang memiliki Sistem panas bumi ini adalah
asosiasi dengan gunung api kuarter sistem yang berasosiasi
yang memanjang muai dari antara struktur graben dan
Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa
kerucut vulkanik, umumnya
Tenggara, sebagian Maluku dan
Sulawesi. Sistem panas bumi ini ditemukan di jalur sesar besar
dicirikan memiliki reservoir sekitar Sumatera (Sesar Semangko)
1.5 km dengan temperature (250- Contoh: Silangkitang yang
350C). Sistem vulkanik dapat berada pada NE sesar besar
dikelompokkan lagi menjadi
beberapa tipe, yaitu : sistem tubuh Sumatra memiliki manifestasi
gunung api strato, sistem kaldera. berupa air klorida mendidih
contoh Dieng-Sikidang dan mengeluarkan alkalin
Sistem Panas Bumi non Vulkanik
Sistem panas bumi ini didefinisikan sebagai sistem panas bumi yang tidak berkaitan
langsung dengan vulkanisme dan berada di luar jalur vulkanik kuarter, Contoh
adalah di daerah lengan dan kaki Pulau Sulawesi.

Berikut adalah pembagian sistem panas bumi


Indonesia menurut Kasbani dan contoh keberadaan
prospeknya di Indonesia.