You are on page 1of 27

ABSORPTION

Absorpsi adalah proses pemisahan bahan melalui proses


penyerapan dari suatu campuran gas dengan cara pengikatan
bahan tersebut pada seluruh permukaan absorben cair yang
didikuti dengan pelarutan
Absorpsi fisik
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya
fisik (Van der Wall) dimana gas terlarut dalam cairan penyerap tidak
disertai dengan reaksi kimia . Penyerapan terjadi karena adanya interaksi
fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair.

Contoh : absorbsi gas H2S dan NH3 dengan air, metanol, propilen, dan karbonat.
Absorpsi kimia
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya ikatan kimia dimana
gas terlarut didalam larutan penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia.

Proses ini secara prinsip melibatkan dua fenomena yaitu absorpsi secara fisik
dan reaksi kimia

Contoh : absorbsi dengan adanya larutan MEA (Monoethanolamine), NaOH,


K2CO3 (Benfild). Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses
penyerapan gas CO2 oleh larutan Benfild pada pabrik amoniak

K2CO3 + H2O +CO2 2 KHCO3

Hal-hal yang mempengaruhi dalam prsoses absorbsi :


- Zat yang diabsorbsi
- Luas permukaan yang diabsorbsi
- Temperatur
- Tekanan
Absorben
Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada
permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia.Absorben sering juga
disebut sebagai cairan pencuci.

Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk
gas-gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan
cairan), natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam)
dan asam sulfat (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti basa).

Persyaratan absorben :
- Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi sebesar mungkin
(kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).
- Selektif
- Memiliki tekanan uap yang rendah (tidak mudah menguap)
- Tidak korosif.
- Mempunyai viskositas yang rendah
- Stabil secara termis.
- Murah
Volatilitas pelarut, pelarut yang baik haruslah memiliki tekanan uap yang
rendah. Tekanan uap yang rendah akan menyebabkan pelarut menjadi
pelarut jenuh ketika proses absorpsi telah selesai. Semakin kecil volatilitas
sebuah pelarut, maka make up pelarut akan semakin kecil

Kelarutan gas, dalam pemilihan pelarut diharapkan gas memiliki kelarutan yang
tinggi. Kelarutan gas yang tinggi dapat meningkatkan laju proses absorpsi. Selain
itu, dengan kelarutan gas yang tinggi dapat menurunkan jumlah pelarut yang
digunakan sehingga proses absorpsi lebih ekonomis karena tidak menggunakan
banyak pelarut.
Tidak korosif, pelarut dan gas yang bersifat korosif dapat menyebabkan korosi
pada material dan peralatan, sehingga baik pelarut maupun gas yang
diabsorpsi diusahakan bukan senyawa yang korosif. Pelarut dan gas yang
bersifat korosif dapat merusak peralatan sehingga biaya material menjadi
tinggi.
Viskositas, Pelarut dengan viskositas rendah lebih disukai dalam absorpsi. Pelarut
dengan viskositas rendah disukai karena lebih menguntungkan karena :

Pelarut viskositas rendah dapat mempercepat laju absorpsi


Perpindahan massa akan lebih baik dan akan mencegah flooding pada
kolom absorpsi
Perbedaan tekanan yang rendah (less pressure drop)
Perpindahan panas akan lebih baik karena molekul-molekul yang dapat
bergerak aktif

Pelarut yang digunakan haruslah tidak beracun, tidak mudah terbakar,


memiliki ikatan yang stabil, dan memiliki titik beku yang rendah.

Harga murah. Pelarut yang digunakan diharapkan pelarut yang murah dan
mudah ditemui. Sehingga biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dan selalu
tersedia di pasaran.
Packing (isian)

Peralatan absorpsi gas terdiri dari sebuah


kolom berbentuk silinder atau menara
yang dilengkapi dengan:

-pemasukan gas dan ruang distribusi pada


bagian bawah
-pemasukan zat cair dan distributor pada
bagian atas
- pengeluaran gas dan zat cair masing-
masing di atas dan di bawah menara
Jenis kolom absorben digolongkan ke dalam beberapa bagian yang masing-
masing memiliki klasifikasi dan pemakaian yang berbeda pada operasinya.
Bedasarkan desain untuk kotak dua phase obsorber diklasifikasi ke dalam 4
jenis utama yaitu:

Menara sembur (Spray Tower) : Terdiri dari sebuah


menara, dimana dari puncak menara cairan
disemburkan dengan menggunakan nosel semburan.
Tetes tetes cairan akan bergerak ke bawah karena
gravitasi, dan akan berkontak dengan arus gas yang
naik ke atas . Nosel semburan dirancang untuk
membagi cairan kecil-kecil. Makin kecil ukuran tetes
cairan, makin besar kecepatan transfer massa. Apabila
ukuran tetes cairan terlalu kecil, tetes cairan dapat
terikut arus gas keluar. Menara sembur biasanya
digunakan untuk transfer massa gas yang sangat mudah
larut.
Menara gelembung (Bubble Tower): Terdiri dari
sebuah menara, dimana di dalam menara tersebut
gas didispersikan dalam fase cair dalam bentuk
gelembung. Transfer massa terjadi pada waktu
gelembung terbentuk dan pada waktu gelembung
naik ke atas melalui cairan (gambar 2). Menara
gelembung digunakan untuk transfer massa gas
yang relatif sukar larut. Gelembung dapat dibuat
misalnya dengan pertolongan distributor pipa,
yang ditempatkan mendatar pada dasar menara
Menara Packing (Packed Tower) : Terdiri dari
packing (isian) yang digunakan untuk
memperbesar luas permukaan kontak antara gas
dan liquid. Di dalam menara, cairan akan mengalir
ke bawah melalui permukaan bawah pengisi,
sedangkan gas akan mengalir ke atas secara arus
berlawanan, melalui ruang kosong yang ada
diantara bahan pengisi. Jenis packing (isian): cincin
rasching, cincin lessing, cincin partisi, sadel bell,
sadel intalox dan cicin pall
Menara pelat (Plate Column). Jenis
ini biasanya digunakan pada proses
distilasi. Menara ini mempunyai
sejumlah pelat dan fasilitas yang ada
pada setiap pelat, maka akan
diperoleh kontak yang sebaik-
baiknya antara fase cair dengan fase
gas. Fasilitas ini dapat berupa topi
gelembung (bubble caps) atau
lubang ayak (sieve). Pada pelat topi
gelembung dan lubang ayak,
gelembung-gelembung gas akan
terbentuk. Transfer massa antar fase
akan terjadi pada waktu gelembung
gas terbentuk dan pada waktu
gelembung gas naik ke atas pada
setiap pelat. Cairan akan mengalir
dari atas ke bawah melintasi pelat di
dalam kolom
Menara absorben diisi dengan massa zat tak aktif (inert) diatas
penyangganya yang disebut isian menara (towerpacking).
Zat cair yang masuk berupa pelarut murni atau larutan encer
zat terlarut dalam pelarut disebut cairan lemah (weak liquor),
didistribusikan diatas isian dengan distributor secara seragam.

Gas yang mengandung zat terlarut, disebut


gas kaya (rich gas), masuk ke ruang
pendistribusian melalui celah isian,
berlawanan arah dengan zat cair.

Isian (packing) itu memberikan permukaan


yang luas untuk kontak antara zat cair dan gas
sehingga membantu terjadinya kontak yang
maksimal antara kedua fase, dan terjadi
penyerapan zat terlarut yang ada di dalam rich
gas oleh zat cair yang masuk ke dalam menara
dan gas encer (lean gas) keluar dari atas.

Sambil mengalir kebawah, zat cair makin kaya


zat terlarut, dan keluar dari bawah menara Menara Absorption
sebagai cairan pekat (strong liquor).
Menara absorption untuk
Penyerapan CO2 oleh air
Jenis-jenis Packing (Isian) pada menara Absorption
Kesetimbangan Gas-Liquid
Kestimbangan gas-liquid biasanya menggunakan Hukum Henry :

konstanta Henry konstanta Henri fraksi liquid

tekanan parsial A fraksi mol A dalam liquid tekanan total


Neraca Massa Single-stage
pada kesetimbangan

Untuk Komponen A dan C

fraksi mol A dalam fraksi mol A dalam fraksi mol A dalam


Liquid Vapor masa total M
Sistem Single-stage Gas-Liquid pada kesetimbangan
Dalam sistem single-stage di assumsikan bahwa udara tidak terlarut dalam fase air dan
air tidak teruapkan dalam fase uap. Sehingga total material balance adalah:

Untuk menyelesaikan hubungan antara yA1 dan xA2 maka gunakan


persamaan Hukum Henry:
V1 = 100 udara+ ( CO2; (yA1) Vo
100 kg.mol /h (CO2 & udara)

300 kg.mol H2O/h air murni) 300 kg.mol H2O/h + CO2 (XA1)

Lo L1
Sistem Countercurrent Multiple-stage Gas-Liquid pada kesetimbangan
V1
Lo

L (N)
V (N+1)