DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA

ANAK GIZI BURUK

Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNSRAT/
RSU. Prof. Dr. R.D. Kandou-Manado

6/10/2017 1
PEMANTAUAN STATUS GIZI

A. Cara menentukan status gizi
B. Cara mengukur berat badan
C. Cara mengukur Panjang Badan/ Tinggi Badan
D. Indeks antropometri yang di gunakan
E. Penilaian status gizi

6/10/2017 2
A. CARA MENENTUKAN STATUS GIZI

 ANTROPOMETRI :
BB/U, TB/U, BB/ TB.
 KLINIS :
Kulit, otot, jar lemak, mata, lidah, bibir
Kurus, edema (+/-), otot atrofi, jar.lemak <, pucat,
bercak bitot’s, dermatitis
 LABORATORIUM :
Darah, kemih, tinja, cairan spinal
 ANALISA DIET /MAKANAN :
Frekuensi makan, jumlah makanan, jenis makanan,
Alergi dan intoleransi makanan.

6/10/2017 3
B.CARA MENGUKUR BERAT BADAN

 Dengan Dacin (25 kg) :
Sudah ditera
Bandul digeser di posisi nol
Batang timbangan hrs seimbang, bila belum seimbang sekrup
timbangan perlu diatur
Anak ditimbang dg pakaian minim/telanjang, tanpa sepatu, dan
dalam keadaan tenang
Pembacaan hasil timbangan harus teliti, sampai 0,1 kg

6/10/2017 4
C. CARA MENGUKUR
PANJANG BADAN/ TINGGI BADAN

 Bila anak masih kecil < 2 th :
diukur sambil berbaring  Panjang Badan (PB),
dengan alat “Stadio Meter”
 Anak ditelentangkan & dipegang oleh seorang
asisten terutama pada lutut & telapak kaki
 Petugas pengukur meletakkan kepala anak menempel
pada “Bidang Kepala” yang statis dari Stadio Meter,
sedangkan “Bidang Kaki” yg dapat digeser di tempat
kan pada telapak kaki dalam keadaan tegak lurus
 Hasil pengukuran dibaca pada skala, dengan
ketelitian 0,1 cm

6/10/2017 5
C. CARA MENGUKUR
PANJANG BADAN/ TINGGI BADAN (Lanjutan..)

 Bila anak sudah besar > 2 tahun :
biasanya diukur sambil berdiri  Tinggi Badan (TB),
dengan “Microtoise”
 Microtoise digantungkan pada dinding tegak lurus pd
ketinggian 2 m
 Pada waktu mengukur TB, punggung, tumit, pantat
dan belakang kepala menempel pada tembok, posisi
kepala tegak dan pandangan mata lurus ke depan
 Meteran microtoise diturunkan hingga mengenai
kepala anak
 Hasil pengukuran dibaca pada skala, dengan
ketelitian 0,1 cm

6/10/2017 6
D. INDEKS ANTROPOMETRI YANG
DIPERGUNAKAN
 BB/U : Berat Badan menurut Umur, tidak dapat
menggambarkan ada atau tidak adanya
malnutrisi

 TB/U : Tinggi Badan menurut Umur,
menggambarkan ada atau tidak adanya
malnutrisi kronik atau masa lampau

 BB/TB : Berat Badan menurut Tinggi Badan,
Menggambarkan ada atau tidak adanya
malnutrisi akut

(Baku rujukan : WHO-NCHS 1983)

6/10/2017 7
E. PENILAIAN STATUS GIZI (lanjutan..)

Contoh: penentuan status gizi anak secara antropometri

menentukan status gizi anak laki-laki umur 17 bulan,
dengan PB = 72 cm dan BB = 6,8 kg

Berat laki-laki (kg) TB-PB Berat perempuan (kg)
(cm)
-4SD -3SD -2SD - 1SD Med Med -1SD -2SD -3SD -4SD

1,8 2,1 2,5 2,8 3,1 49 3,3 2,9 2,6 2,2 1,8

1,8 2,2 2,5 2,9 3,3 50 3,4 3,0 2,6 2,3 1,9

1,8 2,2 2,6 3,1 3,5 51 3,5 3,1 2,7 2,3 1,9
d s t n y a
6,0 6.8 7,5 8,3 9,1 72 8,9 8,1 7,2 6,4 5,6

d s t n y a

17,9 20,1 22,3 24,5 26,8 130 26,8 24,3 21,8 19,4 16,9
6/10/2017 8
(Buku I : Buku Bagan Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2005, hal. 22)
MEMASANG DACIN YANG SALAH

Batang dacin tidak
datar (seimbang)

Bandul penyeimbang
tidak dipasang

Sarung timbang Anak langsung ditimbang
sudah dipasang  berat badan anak lebih
berat dari sebenarnya

6/10/2017
MEMASANG DACIN YANG SALAH
9
CARA MENGUKUR
BERAT BADAN PADA ANAK < 2 TH

6/10/2017 10
CARA MENGUKUR
PANJANG BADAN PADA ANAK < 2 TH

6/10/2017 11
CARA MENGUKUR
TINGGI BADAN PADA ANAK > 2 TH

6/10/2017 12
KLASIFIKASI
ANAK GIZI BURUK

1. Kwashiorkor

2. Marasmus

3. Marasmik-kwashiorkor

6/10/2017 13
Gizi buruk : Kwashiorkor

edema
rambut kemerahan, mudah dicabut
kurang aktif, rewel/cengeng
pengurusan otot
Kelainan kulit berupa bercak merah muda
yg meluas & berubah warna menjadi
coklat kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement de rmatosis)

6/10/2017 14
Gizi buruk : Kwashiorkor

Scrotum edema
6/10/2017 15
Gizi buruk : Kwashiorkor

6/10/2017 16
Gizi Buruk :Kwashiorkor

Hepatomegali

Pitting Edema

6/10/2017 17
Gizi Buruk : Marasmus

wajah seperti orang tua
kulit terlihat longgar
tulang rusuk tampak terlihat
jelas
kulit paha berkeriput
terlihat tulang belakang lebih
menonjol dan kulit di pantat
berkeriput
( baggy pant )

6/10/2017 18
Gizi Buruk : Marasmus

Iga gambang Atrofi otot
6/10/2017 19
Gizi Buruk : Marasmus

Kulit pantat berkeriput (baggy pants)
6/10/2017 20
GIZI BURUK :
MARASMIK - KWASHIORKOR

6/10/2017 21
KEKURANGAN ZAT GIZI MIKRO
PADA ANAK GIZI BURUK

1. Kurang Vitamin A

2. Anemia (kurang Fe, Asam Folat)

3. Kurang vitamin B dan C

4. Kurang Zn

6/10/2017 22
X1A (Xerosis Konjungtiva)

Tanda-tanda:
• Penumpukan keratin & sel epitel yang khas
• Konjungtiva kering, tampak menebal dan
berlipat-lipat
• Keluhan orang tua mata anaknya bersisik

6/10/2017 23
Kerutan dan hiperpigmentasi
X1B (dengan Bitot’ spot)

‘Foam-like’ substance

Hyperpigmentation & wrinkle
(X-1b)

6/10/2017 24
X2 (Xerosis Kornea)

Tanda-tanda :
•Kekeringan meluas sampai kornea
•Kornea tampak suram & kering dan permukaan kasar
•K.U. anak biasanya buruk (gizi buruk & penyakit
penyerta lain)

6/10/2017
Kerutan dan hiperpigmentasi 25
X3A

Corneal ulcer < 1/3

6/10/2017 Conjunctival & ciliary injection 26
X3 B

Ulkus kornea > 1/3

Keratomalacia

6/10/2017 27
XS (Jaringan parut kornea)

Tanda-tanda:

Kornea mata tampak putih/ bola mata mengecil
Meninggalkan bekas luka parut/ sikatrik
Menjadi buta & tidak dpt sembuh, walau dioperasi
cangkok kornea

Corneal scar

6/10/2017 28
ANEMIA

Kadar Hb dibawah normal

Kadar Hb normal:
6 bulan – 5 tahun : 11 g/ dl
6 tahun – 11 tahun : 11, 5 g/ dl
12 tahun – 13 tahun : 12 g/ dl

Tanda-tanda klinis:
- pucat (mata, telapak tangan)
- mudah lelah
- daya tahan terhadap penyakit menurun

(Sumber: indicators for assessing iron deficiency and strategies for its
prevention, WHO, UNICEF, UNU, 1998)
6/10/2017 29
ANEMIA

6/10/2017 30
STOMATITIS

• Kekurangan vitamin B2 (riboflavin), B6
(piridoksin), B12 (kobalamin)
Menyebabkan  Stomatitis

• Kekurangan vitamin C (asam askorbat)
 Scorbut

6/10/2017 31
TANDA-TANDAPENYAKIT PENYERTA

1. Diare Persisten
2. Parasit cacing
3. Tuberkulosis Paru
4. Malaria
5. Pneumonia

6/10/2017 32
Dehidrasi

Turgor :

6/10/2017 33
Dehidrasi

Sunken eyes
6/10/2017 34
Gizi Buruk dengan TB Paru

Sumber: Pedoman Nasional TB anak, UKK
6/10/2017 Pulmonologi PP IDAI, 2005 35
10 LANGKAH TATALAKSANA
ANAK GIZI BURUK

DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT
DEPARTEMEN KESEHATAN RI

6/10/2017 36
No Tindakan Stabilisasi Transisi Rehabilitasi Tindak
H 8-14 Mg 3 - 6 Lanjut
H 1-2 H 3-7
Mg 7 - 26
1 Atasi/cegah hipoglikemia

2 Atasi/cegah hipotermia

3 Atasi/cegah dehidrasi

4 Perbaiki gangguan elekrtolit

5 Obati infeksi

6 Perbaiki def.nutrisi mikro Tanpa Fe +Fe

7 Makanan Stab & Trans

8 Makanan Tumbuh Kejar

9 Stimulasi

10 Siapkan tindak lanjut

6/10/2017 37
HIPOGLIKEMIA

Kadar glukosa darah yang sangat rendah (< 3
mmol/liter atau < 54 mg/dl)

Biasanya terjadi bersamaan dengan hipotermia

Tanda lain : letargis, nadi lemah, kehilangan
kesadaran

Gejala hipoglikemia berupa berkeringat dan
pucat sangat jarang dijumpai pada balita gizi
buruk

(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal. 3)
6/10/2017 38
CARA MENGATASI
HIPOGLIKEMIA
TANDA CARA MENGATASI
SADAR  Berikan 50 ml larutan Dekstrosa/ Glukosa
(TIDAK LETARGIS) 10%*) atau 50 ml larutan gula pasir 10%
secara oral/ NGT (bolus)
TIDAK SADAR (LETARGIS)  Berikan Larutan dekstrosa/ Glukosa 10% iv,
5 ml x kgBB
 Selanjutnya berikan 50 ml larutan Glukosa
10% atau larutan gula pasir 10% secara
oral atau NGT (bolus)

RENJATAN (SHOCK)  Berikan Larutan Dekstrosa/ Glukosa 10%
secara intravena (iv) sebanyak 5 ml x kgBB
 Selanjutnya beri infus Ringer Laktat dan
Glukosa 10% prebandingan 1:1 (= RLG 5%)
sebanyak 15 ml x kgBB untuk 1 jam

*) 5 gram gula pasir (= 1 sendok the munjung) + air matang s/d 50 ml
6/10/2017 39
(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal. 3)
HIPOTERMIA

 Suhu aksiler < 36,5 C (ukur selama 5 menit)
 Biasanya terjadi bersama-sama dgn hipoglikemia
 Hipotermia + hipoglikemia : merupakan tanda dari
adanya infeksi sistemik serius  terapi u/ ketiganya
 hipotermia + hipoglikemia + infeksi, Cadangan
energi balita gizi buruk sangat terbatas  tidak
mampu memproduksi panas utk mempertahankan
suhu tubuh

6/10/2017
(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal.404)
Cara mempertahankan dan memulihkan
suhu tubuh balita agar tidak hipotermia

Suhu tubuh 36,5 – 37,0 ºC
Mudah terjadi hipotermia  pertahankan suhu :

1. Tutuplah tubuh balita termasuk kepalanya
2. Hindari adanya hembusan angin
3. Pertahankan suhu ruangan 25–30C
4. Tetap diselimuti pada malam hari
5. Jangan biarkan tanpa baju terlalu lama saat pemeriksaan
& penimbangan
6. Tangan yg merawat harus hangat
7. Segeralah ganti baju atau peralatan tidur yang basah
8. Segera keringkan badan setelah mandi
9. Jangan gunakan botol air panas utk menghangati balita
 kulit terbakar

6/10/2017
(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal. 41
4)
Cara mempertahankan dan memulihkan
suhu tubuh balita
agar tidak hipotermia(lanjutan)
Suhu tubuh < 36,5 ºC (hipotermia)
Tindakan  hangatkan tubuh :
1. Cara “kanguru” : kontak langsung kulit ibu
dan kulit balita
2. Lampu : diletakkan 50 cm dari tubuh balita
3. Monitor suhu setiap 30 menit
- suhu sdh normal?
- suhu tdk terlalu tinggi?
4. Hentikan pemanasan bila suhu tubuh sudah
mencapai 37C

6/10/2017 Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal. 4)
42
TANDA DEHIDRASI
No TANDA CARA MELIHAT DAN MENENTUKAN

1 Letargis lemas, tidak waspada, tidak tertarik thdp
kejadian sekitar
2 Anak gelisah terutama bila disentuh/ ditangani untuk
dan rewel tindakan
3 Tidak ada air Tidak ada air mata saat balita menangis
mata
4 Mata cekung Mata cekung tsb memang spt biasanya
ataukah baru beberapa saat timbulnya

(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal. 5)
6/10/2017 43
TANDA DEHIDRASI (lanjutan)

No TANDA CARA MELIHAT DAN MENENTUKAN

5 Mulut dan Raba dengan jari yang kering dan bersih untuk
lidah kering menentukan apakah lidah dan mulutnya kering

6 Haus Apakah balita ingin meraih cangkir saat diberi
ReSoMal. Saat cangkir itu disingkirkan, apakah
balita masih ingin minum lagi?

7 Kembalinya Tarik lapisan kulit dan jaringan bawah kulit
cubitan/turgor pelan-pelan. Cubit selama 1 detik dan
kulit lambat lepaskan. Jika kulit masih terlipat (belum balik
rata)  kulit/turgor kulit lambat. (catatan :
cubitan kulit biasanya lambat pada anak
“wasting”)

6/10/2017 44
(Buku II: Petunjuk Teknis Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2006, hal. 5)
Memperbaiki gangguan
keseimbangan elektrolit

 Pada anak gizi buruk terjadi
ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh
 Perlu diberikan larutan elektrolit/ mineral
dalam bentuk ReSoMal (bila diare) dan
Formula WHO sesuai dengan fasenya

6/10/2017 45
PETUNJUK PEMBERIAN
ANTIBIOTIKA
 Tidak ada komplikasi/ infeksi yang jelas
 kotrimoksasol/ oral/ 12 jam selama 5 hari

 Ada komplikasi
 gentamisin iv atau im selama 7 hari,
ditambah ampisilin iv atau im/ 6 jam selama
2 hari, diikuti amoksisilin/ 8 jam selama 5 hari

6/10/2017 46
PETUNJUK PEMBERIAN
ANTIBIOTIKA (lanjutan)

 Dalam 48 jam tidak membaik
 kloramfenikol iv atau im/ 8 jam selama 5 hari
 Bila ada infeksi khusus
 antibiotika khusus sesuai dengan penyakitnya

Catatan:
1. Jika balita tidak kencing, Gentamisin akan menumpuk di dalam
tubuh dan menyebabkan tuli, jangan diberi dosis kedua sampai
balita bisa kencing.
2. Jika Amoksisilin tidak tersedia, beri Ampisilin 50 mg/kg peroral
6/10/2017 setiap 6 jam selama 5 hari. 47
DOSIS TABLET BESI DAN SIRUP BESI
UNTUK ANAK UMUR 6 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BENTUK FORMULA Fe DOSIS

TABLET BESI/FOLAT Bayi usia 6 – < 12 bln  1 x sehari ¼ tab
(sulfas ferosus 200 mg atau 60 mg
besi elemental + Anak usia 1–5thn 1 x sehari ½ tablet
0,25 mg as folat)

SIRUP BESI Bayi 6 – < 12 bulan  1 x sehari 2 ,5 ml
(sulfas ferosus 150 ml), (½ sendok teh)
setiap 5 ml mengandung 30 mg
besi elemental Anak usia 1–5 thn  1 x sehari 5 ml
10 mg ferosulfat setara dengan 3 (1 sendok teh)
mg besi elemental

Catatan :
•Zat besi atau Fe baru boleh diberikan setelah memasuki Fase Rehabilitasi
•Zat Besi atau Fe diberikan setiap hari selama 4 minggu atau lebih
6/10/2017 48
•Dosis Fe : 1 – 3 mg Fe elemental/kg berat badan/hari
KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN
MAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (lanjutan)

A. Fase Stabilisasi
 Hari 1 – 2
F-75/ modifikasi/ modisco ½  12 x pemberian
ASI  bebas
 Hari 3 – 7
F-75/ modifikasi/ modisco ½  8 x pemberian
ASI  bebas

Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan tabel
Pedoman F-75 (buku I, hal.19 – 20)
6/10/2017 49
KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN
MAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (lanjutan)

B. Fase Transisi

Hari 8 - 14
F- 100/ modifikasi/ modisco I/ II  6 x pemberian
ASI  bebas

Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan tabel
Pedoman F-75 (buku I, hal.19 – 20)

6/10/2017 50
KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN
MAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (lanjutan)

C. Fase Rehabilitasi (Minggu 3 – 6)

Berat Badan < 7 Kg
F-135/ modifikasi/ modisco III  3 x pemberian
ASI  bebas
Ditambah
Makanan bayi/ lumat  3 x 1 porsi
Sari buah  1 x pemberian

Berat Badan > 7 Kg
F-135/ modifikasi/ modisco III  3 x pemberian
ASI  bebas
Ditambah
Makanan anak/ lunak/ lembik  3 x 1 porsi
Sari buah  1 - 2 x pemberian
6/10/2017 51
KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN
MAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (lanjutan)

FASE STABILISASI

RENCANA I RENCANA II RENCANA III RENCANA IV RENCANA V

FASE TRANSISI

FASE REHABILITASI

Pemberian makanan berdasarkan rencana I, II, III, IV, V
6/10/2017 52
akan dijelaskan lebih lanjut pada materi inti IV dan V
HAL-HAL PENTING
YANG HARUS DIPERHATIKAN

1. Jangan berikan Fe sebelum minggu ke 2
(Fe diberikan pada fase rehabilitasi)

2. Jangan berikan cairan intra vena, kecuali syok
atau dehidrasi berat

3. Jangan berikan protein terlalu tinggi

4. Jangan berikan diuretik pada penderita
kwashiorkor

6/10/2017 53
STIMULASI SENSORIK DAN DUKUNGAN
EMOSIONAL PADA ANAK GIZI BURUK

Anak Gizi buruk/ KEP berat:
keterlambatan perkembangan mental dan perilaku
 berikan:

• Kasih sayang
• Lingkungan yang ceria
• Terapi bermain terstruktur selama 15 – 30 menit/
hari (permainan ci luk ba)
• Aktifitas fisik segera setelah sembuh
• Keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan,
bermain dan sebagainya)

6/10/2017 54
TINDAK LANJUT DI RUMAH

Bila gejala klinis sudah tidak ada dan BB/ TB-PB
> - 2 SD  ”anak sembuh”

Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi
harus tetap dilanjutkan di rumah

Berikan contoh kepada Orang Tua:
a. menu dan cara membuat makanan dengan
kandungan tinggi energi dan padat gizi sesuai
umur dan berat badan anak.
(lihat buku II, lampiran 4, hal. 53)

b. Terapi bermain terstruktur
6/10/2017 55
TINDAK LANJUT DI RUMAH (lanjutan)

Sarankan :
• Memberikan makanan dengan porsi kecil dan
sering sesuai dengan umur anak

• Membawa anak kembali untuk kontrol secara
teratur:
Bulan I : 1 x/ minggu
Bulan II : 1 x/ 2 minggu
Bulan III - VI : 1 x/ bulan

• Suntikan/imunisasi dasar BCG, Polio, DPT,
Campak, Hepatitis B dan ulangan (booster)

6/10/2017 • Vit.A dosis tinggi setiap 6 bulan (dosis sesuai umur)
56
TINDAK LANJUT DI RUMAH (lanjutan)
Jadwal imunisasi

Imunisasi I II III IV

BCG 1 bulan
(sedini
mungkin)
Polio 1 bulan 1 bulan setelah 1 bulan setelah 1 bulan setelah
(sedini imunisasi polio imunisasi polio ke-2 imunisasi polio ke-3
(interval 4 minggu) (interval 4 minggu)
mungkin) ke-1
(interval 4 minggu)
DPT 2 bulan 1 bulan setelah 1 bulan setelah
imunisasi DPT ke-1 imunisasi DPT ke-2
(interval 4 minggu) (interval 4 minggu)

Campak 9 bulan

Hepatitis B Waktu lahir 2 bulan 3 bulan 4 bulan
(< 7 hari)

Sumber: Dit. Surveilans, Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra, 2004
6/10/2017 57
6/10/2017 58