Oleh

Dr. Nurmeilis, M.Si, Apt

 Senyawa normal yang ada dalam jaringan tubuh ( sel mast
& basofil ).
 Berperan thd berbagai proses fisiologis penting yaitu
mediator kimia yang dikeluarkan pada fenomena alergi
seperti rhinitis, asma, urtikaria, pruritis dan anafilaksis.
 Sumber histamin dalam tubuh adalah histidin yang
mengalami dekarboksilasi .
CH2CHCOOH CH2CH2NH2
+ CO2
HN N NH2 HN N

CH2CH2NH2

HN N

 Histamin cepat dimetabolisis melalui reaksi
oksidasi, N-metilasi, dan asetilasi.
 Penderita yang sensitif thd histamin atau
mudah terkena alergi karena jumlah enzim
yang dapat merusak histamin di tubuh
(histaminase & diamino oksidase) lebih
rendah dari normal.

also a neurotransmitter  synthesized by the decarboxylation of histidine  Either stored or quickly inactivated by histamine- N-methyltransferase and diamine oxidase  Release of histamine from mast cells is stimulated by IgE antibodies which respond to foreign antigens in the body . Signal involved in local immune response.

REAKSI ALERGI .

 Tree Pollen and Grass  Pet Danders  Mold  Dust Mites  Foods .

.

dan sel mast melepaskan mediator kimia seperti histamin eosinofil kemostatik faktor slow reacting substance (SRS) serotonin bradikinin asetilkolin . yaitu basofil.Mediator reaksi hipersensitivitas : antibodi IgE terikat pd sel sasaran. platelet.

smooth muscle activation. basophils.  H2 histamine receptor ◦ Found on parietal cells ◦ Regulates gastric acid secretion  H3 histamine receptor ◦ Found in the central nervous system ◦ Regulates the release of other neurotransmitters  H4 histamine receptor ◦ Recently discovered in different parts of the body including organs of the digestive tract. and bone marrow cells . endothelium. bronchoconstriction. and separation of endothelial cells. and central nervous system tissue ◦ Activation results in vasodilatation. H1 histamine receptor ◦ Found on smooth muscle.

pruritik.  Efek ini diblok oleh antagonis-H1 . Kontraksi otot polos usus & bronki  Meningkatkan permeabilitas vaskular  Meningkatkan sekresi mukus peningkatan cGMP dl sel. & urtikaria.  Vasodilatasi arteri permeabel thd cairan & plasma protein sembab. dermatitis.

Decreases venous return .

 Meningkatkan kecepatan kerja jantung  Meningkatkan sekresi asam lambung penurunan cGMP dl sel & peningkatan cAMP dl sel tukak lambung  Efek ini diblok oleh antagonis-H2 .

 Mengontrol sintesis & pelepasan histamin. mediator alergi lain & keradangan.  Efek ini diblok oleh antagonis-H3 .

DIAGNOSIS .

DIAGNOSIS OF SPECIFIC CAUSE OF ANAPHYLAXIS Skin tests .

 Betazol. tapi ES-nya lebih rendah. CH2CH2NH2 N N H . CH2CH2NH2 HN N  Histamin tidak digunakan dl p’obatan.2 HCl : isomer histamin yg b’sifat sbg agonis histamin. garam fosfatnya digunakan u : ◦ Mengetahui ber (-)nya sekresi asam lambung ◦ Diagnosis karsinoma lambung ◦ Kontrol + pd uji alergi kulit.  Penggunaannya = histamin fosfat.

Penghambatan secara fisiologis. Penghambatan pelepasan/degranulasi histamin yg timbul dapat terjadi pada pemberian kromolin & stimulan adrenoseptor β2 3. Antihistaminika Efek histamin endogen dapat dihambat melalui 3 cara: 1. Blokade reseptor histamin H1 dengan obat antihistamin. . misal oleh adrenalin 2.

 Antagonis-H2 ◦ u mengurangi sekresi asam lambung pd p’obatan tukak lambung . Obat yang dapat mengurangi a/ menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme p’hambatan bersaing pada sisi reseptor H1 dan H2  Antagonis-H1 ◦ u p’obatan gejala2 akibat rx alergi.

Cardiovascular (small blood vessels) Histamine effects: •Dilation •Increased permeability (allowing substances to leak into tissues) Antihistamine effects: •Prevent dilation of blood vessels •Prevent increased permeability .

gastric and bronchial secretions. preventing histamine from causing the allergic response. Smooth Muscle Histamine effects: Stimulate salivary. gastric and bronchial secretions. resulting in allergic reaction. Antihistamine effects: Prevent salivery.Immune System Histamine effects: Mast cells release histamine and other substances. Antihistamine effects: Bind to histamine receptors. .

Antihistamines effects… Skin: Block capillary permeability itching Anticholinergic: Drying effect that reduces nasal. tearing. and itching eyes) Sedative: Some antihistamines cause drowsiness (1st generation antihistamines) . and lacrimal gland secretions (runny nose. salivary.

dust. •Motion sickness •Sinus congestions •Sleep disorders . Antagonis-H1 Management of: Seasonal allergic rhinitis (Hay fever) •Nasal allergies •Allergic reactions to food. microbes. etc.

sering menimbulkan retensio urine & penglihatan kabur. Doksilamin. dapat untuk mengurangi rhinorrhoea . mempunyai efek mencegah mabuk gerak (motion sickness) tetapi tidak menghilangkan mabuk yang sudah ada  Efek antiparkinsonisme dan antimuskarinik Obat antihistamin golongan etanolamin dan etilendiamin yang punya efek antimuskarinik.Efek obat antihistamin dapat bermanifestasi :  Sedasi  Efek antimual & antimuntah.

antiserotonin dan anestetik lokal.  Difenhidramin & prometazin mempunyai efek anestetik lokal melalui blokade sodium channel pada membran sel eksitabel. . Antagonis reseptor H1 sering digunakan dalam terapi alergi seperti rhinitis dan urtikaria Antagonis H1 (misal difenhidramin & prometazin) juga dapat mengurangi gejala mabuk & gangguan vestibuler.  Obat antihistamin mempunyai efek α-blockade yg mengakibatkan tekanan darah turun.Efek blokade adrenoseptor-α.  Antagonis reseptor-H1 (misal: siproheptadin) mempunyai efek blokade reseptor serotonin.

• 1st Generation or Traditional antihistamines •2nd Generation or Non-sedative antihistamines .

saturated or unsaturated ◦ Amine is substituted with small alkyl groups eg CH3  . branched. lipophilic molecules that could cross the BBB  Not specific to the H1 receptor  Groups: ◦ Ethylenediamines ◦ Ethanolamines ◦ Alkylamines ◦ Piperazines ◦ Tricyclics  Common structural features of classical antihistamine ◦ 2 Aromatic rings ◦ Connected to a central Carbon. ring. Small. Nitrogen or CO ◦ Spacer between the central X and the amine ◦ Usually 2-3 carbons in length ◦ Linear.

 Modifications of the First Generation Antihistamines to eliminate side effects resulted in the Second Generation Antihistamines  More selective for peripheral H1 receptors  Examples: ◦ terfenadine ◦ loratadine ◦ cetirizine ◦ mizolastine ◦ astemizole .

•Nonsedating antihistamines •Developed to eliminate side effects. (sedation) •Bulky and not as lipophilic and thus does not readily cross BBB. fewer CNS side effects •Longer duration of action (increases compliance) .

.

faster acting or more potent than Second Generation drugs  Examples: ◦ Fexofenadine ◦ Desloratadine ◦ Levocetirizine . Metabolite derivatives or active enantiomers of existing drugs  Safer.

 Second generation antihistamines: ◦ Relatively rapid onset ◦ Elimination Half-Lives:  Loratadine-up to 28 hours  Fexofenadine-14 hours  Cetirizine-8 hours ◦ Children metabolize Cetirizine faster. but rates are similar for the others .

constipation. dry mouth. and dry cough  Second Generation Drugs: ◦ Common side effects: drowsiness. lack of coordination. First Generation Drugs: ◦ Anticholinergic CNS interactions ◦ Gastrointestinal reactions ◦ Common side effects: sedation. nausea and vomiting. blurred vision. fatigue. headache. tremor. insomnia. anxiety. euphoria. nausea and dry mouth  Side effects are far less common in Second Generation drugs . dizziness. tinnitus. diarrhea.

 The major differences between the two generations are: ◦ The time they are active  1st generation = 4 to 6 hrs  2nd generation = up to 12 hrs ◦ The extent to which they promote drowsiness  2nd generation are less sedating ◦ First-generation antihistamines cross the blood brain barrier and cause sedation .

 Berdasarkan struktur kimianya dibagi menjadi 6 kelompok: ◦ Turunan amino alkil eter/ etanolamin ◦ Turunan etilen diamin ◦ Turunan alkil amin ◦ Turunan piperazin ◦ Turunan fenotiazin ◦ Turunan piperidin  Mberikan aktivitas antikolinergik&sedatif  Turunan fenotiazin & etanolamin mberikan efek antiemetik  Turunan alkil amin mrp antihistamin dg indeks terapi (batas keamanan) cukup besar dg ES dan toksisitas relatif rendah dan Aktiv antikolinergik minimal .

serta mengadakan potensiasi dg analgetik dan sedatif. Turunan etilendiamin mrp antagonis-H1 dg keefektifan yg cukup tinggi. meskipun efek depresan SSP & iritasi lambung cukup besar. . dg awal kerja lambat & masa kerja panjang 9-24 jam.  Turunan piperazin mempunyai efek antihistamin sedang.  Turunan fenotiazin selain memp efek antihistamin juga mempunyai aktivitas transquilizer & antiemetik.

garam 8-kloroteofilinat : dimenhidrinat . Turunan amino alkil eter/ etanolamin Contoh : R=H : Difenhidramin R=Cl : Klordifenhidramin R=Br : Bromodifenhidramin R=CH3 : Metildifenhidramin R=OCH3 : Medrilamin R=H. CHOCH2CH2N(CH3)2 R 1.

3. isomer d : deksklorfeniramin .(Chlor Trimeton®)  X=H : Feniramin  X=Cl : klorfeniramin  X=Br : bromfeniramin  X=Cl. Turunan Ethylenediamines :  Contoh: tripelenamin HCl (Azaron. Turunan Alkylamines .  mebhidrolin nafadisilat (Incidal. Tripel).  antazolin HCl (Antistine).2. Histapan).

N N N NCH2CH2N(CH3)2 NCH2 CH2 CH2 R R Antazolin R=H : Tripelenamin R=OCH3 : Pirilamin N N NCH3 N CH2 R CHCH2CH2N(CH3)2 Mebhidrolin Alkil amin .

4. Turunan Piperazines
 Contoh : homoklorsiklizin (Homoclamin),
hidroksizin HCl (Iterax),
 oksatomid (Tinzet).

5. Turunan Phenothiazines
Contoh : Prometazin HCl (Phenergan, Prome),
Siproheptadin HCl (Pronicy),
Isotipendil HCl (Andatol).

6. Turunan Piperidines - Azatadine (Optimine®)

 Kelompok: antihistamin – sedatif
 Indikasi : urtikaria, rinitis alergi, gigitan serangga,
alergi obat, anafilaksis, alergi makanan, alergi
serum.
 Dosis: oral: 4 mg setiap 4-6 jam maksimal 24 mg
per hari.
 SC atau IM 10-20 mg maksimal 40mg dlm 24 jam.
Injeksi IV dalam 1 menit: 10-20 mg.
 Kontraindikasi: epilepsi, penyakit hati, asma karena
memiliki sedikit efek pada bronkospasme alergi,
hipersensitivitas.
 Efek samping: mengantuk, tidak bertenaga, pusing,
mulut kering, penglihatan kabur, sakit kepala,
gangguan gastrointestinal, IV dapat menyebabkan
hipotensi sementara, stimulasi SSP, retensi urine,
palpitasi, sesak, anemia hemolitik.

 Efek Farmakodinamik:
Antagonis antihistamin H1 kuat yang
melawan efek yang diinduksi histamin,
seperti peningkatan permeabilitas kapiler dan
konstriksi otot polos GI serta otot polos
pernapasan. Efek anestetis lokal yang dapat
menyebabkan depresi atau stimulasi SSP.

 Resiko Pada Ibu menyusui: Tingkat keamanan sedang. dianjurkan untuk tidak digunakan. Resiko Pada Janin: Tidak terbukti teratogen-pabriknya menganjurkan menghindari penggunaan obat ini. bayi dapat mengantuk dan menghambat laktasi. . jika digunakan pada trimester ketiga dapat menyebabkan reaksi pada neonatus.

•Nonsedating antihistamines •Developed to eliminate side effects. fewer CNS side effects •Longer duration of action (increases compliance) •Better specificity for H1 and/or H2 receptor to block histamines effects •Examples: fexofenadine (Allegra) loratadine (Claritin) . (sedation) •Bulky and not as lipophilic and thus does not readily cross BBB.

•CNS depression (mainly in first generation agents). . •constipation or diarrhea. •Insomnia •Tachycardia •dry mouth •blurred vision •Urinary retention •Secreted in breast milk and can cross the placenta. •Appetite loss. •nausea and vomiting.

nyeri otot dan kegelisahan . Senyawa yg m’hambat secara bersaing interaksi histamin dg reseptor H2  M’hambat sekresi asam lambung  P’obatan tukak lambung dan usus  ES :Diare.

sehingga relatif tidak menimbulkan granulositopenia. Senyawa lain (ranitidin. misalnya simetidin. oksmetidin. sindroma Zollinger-Ellison dan keadaan hiperasiditas. tidak punya gugus tiourea.2) Antagonis reseptor H2  dapat mengakibatkan timbulnya blood dyscrasia sebagai granulositopenia. famotidin dan nizatidin) merupakan antagonis reseptor H2 baru yang lebih aman Antagonis reseptor-H2 dalam klinik digunakan pada terapi ulkus peptik. . Turunan ketiga dari imidazol.

 M’hambat kerja potensiasi histamin pada sekresi asam. M’hambat secara langsung kerja histamin pada sekresi asam (efikasi intrinsik). yg dirangsang o gastrin a/ asetilkolin(efikasi potensiasi) .

Famotidin (Facid). Contoh : Simetidin (Cimet). . Roksatidin Asetat HCl (Roxan). Ranitidin HCL (Ranin. Rantin).

supp ) . inj. Immunoterapi d. Oxitropium. Antiinflamasi . OBAT ASMA I. Penyuluhan → Pasien dan keluarga mengenai: . . . Penggunaan Obat Lain Bersamaan Dengan Obat Asma.3. Fisioterapi Nafas dan batuk yang efisien. inhalasi ) . obat. Bronkodilator .Kromalin (Sodium Cromoglycate. b. II. inj. Nedocromil Sodium) Obat Asma → 2 kelompok a. Menghindari Faktor Pencetus ( makanan. Aminofilin ( oral.ß2 agonis reseptor adrenergik ( oral.Kortikosteroid (oral. inj.Cara Menghindarinya b. Umum ( Non Farmakoterapi ) a. kebiasaan hidup.Faktor Pencetus .Penyakit Asma . aerosol.Methyl Xanthin → Teofilin. Farmakoterapi Sebagai profilaksis . MDI ( Metered Dose Inhaler).Antikolinergik → Ipatropium bromida. alergen) c.

.c. Rute terbaik: Inhalasi sebab: .Inhibitor Lipoxygenase → menurunkan jumlah leukotrien cont. Kelompok Lain .antagonis reseptor leukotrien cont . zafirleukas BRONKODILATOR 1.Konsentrasi obat sistemis lebih rendah → kurang potensial → mengaktifkan reseptor ß2 yang ada pada jantung dan otot → mengurangi efek takikardia dan gejala tremor.Bronkoselektif .Metrotexate → Immunosupresan . .Antihistamin ( Konvensional ) .Respon Cepat . Terbutalin Mekanisme Kerja: Stimulasi reseptor ß2 adrenergik →epinefrin atau agonisnya → mengaktifkan Adenyl cyclase → ↑ cyclic AMP intra sel → ↓konsentrasi Ca++ bebas dalam sel → relaksasi otot polos bronkus dan terjadi bronkodilatasi. Isoetharin . Metaproterenol . Zileuton. Albuterenol . Obat ß2 Agonis selektif reseptor adrenergik : .

Terjadi toleransi → Kurang jumlah reseptor ↓ Afinitas obat dengan reseptor.Pemberian Lama ß2 Agonis → tidak menurun hiperreaktif bronkus. inhalasi jarang .Kasus Yang Muncul : . .Bila dosis tinggi / digunakan ß2 yang tidak selektif → Stimulasi reseptor pada jantung → aritmia takikardia → meningkat kebutuhan oksigen otot jantung → Asma. Vasodilatasi → Hipotensi → Pusing dan sakit kepala.Vasodilatasi pembuluh perifer → penggiatan reseptor ß2 pada pembuluh darah → timbul refleks takikardia → hemostasis tekanan darah. Hal ini dpt diatasi dengan penambahan glukokortikoid (↑ kembali jumlah reseptor dan ↑ afinitas obat dgn reseptor. . . kekurangan O2 → Iskemia → nekrosis otot jantung.Tremor → Penggiatan reseptor → ß pada otot skelet. Efek Samping Umumnya terjadi → oral dan parenteral.

Angina → Memperparah penyakit angina. Mengaktivasi enzim Na. ↑ Glukoneogenesis dan ↑ sekresi insulin Efek Samping Lain → Dosis tinggi . Dosis tinggi dengan kortikosteroid dan teofilin → ↑ resiko hipokalemia. Interaksi Obat Asma Dengan Obat Lain : 1. 2. ATP Ase . Hipokalemia . K. Antagonis → mengantagonis efek bronkodilator.Efek Agonis ß2 reseptor Adrenergik Lain . Menstabilkan membran sel mast . .

. A. .Kofein Untuk terapi Asma → Kofein dan Difilin kurang potensial dibandingkan A.Teofilin C. ..Aminofilin B. Efeknya → Antagonis Fungsional → Asma Rute Inhalasi → tidak efektif dibanding → Rute → Oral dan Parenteral Preparat yang tersedia → Tablet Lepas Lambat ( Tablet Sustained Release ). Teofilin.Difilin D. .

↓ Pembebasan mediator sel mast.↓ Pembebasan protein utama eosinofil . Efek Methyl Xanthin ( inhibitor enzim fosfo diesterase ) . Efeknya potensiasi dengan agonis ß2 adrenergik → Kombinasi teofilin dg Agonis ß2 adrenergik → bronkodilatasi sinergis. .Mekanisme Kerja: Menginhibisi enzim fosfodiesterase → ↑ (akumulasi ) siklik AMP dan siklik GMP → berkurang konsentrasi Ca++ yang bebas pada intra sel → ↓ interaksi aktin dan miosin → kurang ATP.↓ Pembebasan enzim cytokin sel T 8 ↓ eksudasi plasma .↓ Proliferasi sel limfosit .

Obat kelompok ini menghambat metabolisme teofilin → kadar serumnya ↑ → amati gejala-gejala keracunan.rifampisin.INTERAKSI XANTHIN DENGAN OBAT LAIN I. Obat-Obat → menginduksi enzim mikrosoma hati. ex : fenobarbital. Obat. kontraseptik oral. propanolol. fenitoin.Obat → Menghambat Kerja enzim mikrosoma hati ex : Simetidin. Alupurinol. karbamazepin → ↓ konsentrasi serum teofilin → ↑ laju metabolisme teofilin. II. . erytromisin.

Lanjut : delirium ringan emesis.Menguatkan kontraksi diafragma. .Menghambat Pembebasan Histamin.Setelah pemberian → diuresis akut → toleransi . dosis letal 5-10 gram.Teofilin → induksi emesis. konvulsi. konv. Toksisitas: Keracunan fatal jarang terjadi . gelisah. . gemetar.Menstimulasi Pernafasan. Gejala-gejala keracunan : Insomnia.Menghambat Edema paru-paru.↑ Efek Inotropik pada jantung .Stimulasi SSP → nervus (cemas). gelisah. pernafasan cepat.↑ Pembersihan oleh mukosiliaris. emesis. . Efek Samping / Toksisitas : . . otot tegang. kadang gembira → gejala awal.↑ Sekresi Asam Lambung . .Efek Bermanfaat Pada Asma: . insomnia. takikardia ekstra sistol. .

aki Dosis Aminofilin 500 mg → Kematian mendadak → aritmia jantung → pemberian injeksi i.Sakit Kepala .v cepat.Emesis .Hipertensi Takikardia .Jantung berdebar-debar .Mual .Keracunan Fatal : Lebih sering teofilin dan kofein.v lambat → 20-40 menit. Untuk Menghindari Gejala : .Agitasi . Umum → Pemberian i.Pusing .

GLUKOKORTIKOID Efek Farmakodinamiknya → Asma 1.Methyl Prednison . PG dan Leukotrien → dg cara menghambat aktivitas enzim fosfodiesterase → ↓ as. Inhibisi pembentukan inflamasi pada bronkus yg hipersensitif. . Gluko : parenteral . 3. ↑ jml reseptor ß2 agonis adrenergik → mencegah toleransi pada pemberian kronik.Inhibisi migrasi netrofil dan eosinofil → fungsinya juga terhambat. gluko : .Sodium Succinat Hidrokortison Oral .Methyl Prednison atw prednison .↓ Cairan dan protein keluar ( eksudasi cairan ) .Inhibisi sintesa histamin . ↓ Produksi mukus → Asma → Hipersekresi mukus. Arakidonat Efek Keseluruhannya : menekan inflamasi Penggunaannya : Pada serangan asma akut dan keadaan asma glukokortikoid dosis tinggi dikombinasi dengan agonis reseptor ß2 adrenergik selektif.Kontriksi pembuluh darah kapiler → . ex :. 2. ex : .

fungsi Kardiovaskuler. . keganjilan distribusi lemak. ginjal dan SSP. Mempengaruhi metabolisme Karbohidrat. 3. Berkurang Ca++ → deposisi Ca++ → turun dan ↑ reabsorpsi Ca++ dari tulang. keseimbangan cairan tubuh. Kasus → Efek Samping Efek Farmakologis glukokortikoid ini sangat luas. Menyebabkan retensi urin → ↓ eksresi Na dan air → ↑ tekanan darah. Diperkirakan Efek Yang Muncul Adalah: 1. lemak. Penumpukan ( deposisi ) glikogen di hati → hipoglikemia. dan elektrolit. 5. lemak berkurang dari alat gerak (kaki dan tangan).Dianjurkan penggunaannya → pasien asma yang tidak respon pada terapi bronkodilator. 2. Moon Face → Distribusi lemak tidak merata → “Cushing Syndrom” → hipersekresi kortisol. protein. Glukosa tinggi pada keadaan puasa → ↑ resistensi insulin terhadap gula → glukosuria → akibat ↓ penggunaan glukosa oleh jaringan perifer kulit) 4. Dosis besar → perobahan metabolisme glukosa seperti keadaan diabetes. Osteoporesis → ↓ protein bahan dasar tulang . otot rangka.

. Obat-obat penginduksi enzim mikrosomal hati → ↑ metabolisme steroid ↓ efek steroid. 7. Dg obat antihipertensi → ↓ efek obat antihipertensi. Pada anak-anak pre pubertas dapat terjadi perlambatan pertumbuhan. 3. 4. INTERAKSI PENGGUNAAN 1. ini terjadi pada dosis tinggi. Dengan Obat diuretik kuat → ↑ efek hipokalemia 6. Dengan ß2 Agonis reseptor → ↑ resiko hipokalemia. Estrogen dan kontraseptik oral → ↓ metabolisme steroid → ↑ efek steroid.6. Dg Salisilat → ↑ Eliminasi Salisilat. Dg obat anti diabetes Kortikosteroid → hiperglisemia 2. 5.

Eosinofilia .↑ enzim hati → bulan I dan II terapi . Toksisitas : . Methotrexat Sebagai Immunosupresan.Antikolinergik (Ipratropium ) Biasa btk kombinasi dg . . Zileuton : . ↓ mengkatalisa pembentukan Leukotrien dari As.Vaskulitis .↑ konsentrasi teofilin plasma juga ↓ clearence teofilin. Zafirlukast berinteraksi dengan warfarin → ↑ lama waktu beku darah.albuterenol → Combiven® .↓ Steady state teofilin → ↑ clearence .Efek terapi Glukokortikoid. Pencetus Asma → Reaksi Ag >< Ab.fenoterol → Doven ® Kombinasi lebih efektif. Arakidonat. Inhibitor enzim 5-lipoxygenase → Zileuton. Inhibitor Sintesa Leukotrien dan Antagonis Reseptor Leukotrien.