RINITIS ALERGI

DAN RINITIS
VASOMOTOR
Hambali humam macan

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RSUD DR H ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2017

Pendahuluan

Rinitis adalah gangguan yang disebabkan oleh peradangan atau iritasi pada mukosa
hidung.

Tiga jenis rinitis yang sering ditemukan pada praktek klinik yaitu rinitis non-alergi, rinitis alergi
dan rinitis infeksi.

Rinitis non-alergi  Diperkirakan lebih dari 19-20 juta pasien di Amerika Serikat mengalami
rhinitis non-alergi, dengan rinitis vasomotor merupakan subtipe yang paling umum.

Rinitis alergi  Di Amerika Serikat, mempengaruhi antara 10-30% populasi dewasa umum dan
hingga 40% anak-anak yang menurun seiring dengan usia sehingga pada usia lanjut rinitis
alergi jarang ditemukan. Memasuki usia dewasa, prevalensi rinitis alergi pada laki-laki dan
perempuan sama.

RINITIS ALERGI .

rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE. .Definisi Rinitis alergi adalah peradangan mukosa hidung yang disebabkan proses inflamasi mukosa hidung yang dimediasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I. rinore. Menurut Allergic Rinitis and its Impact on Asthma (ARIA) tahun 2001. rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin.

Etiologi Rinitis alergi secara umum disebabkan oleh interaksi pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan alergen .

Patofisiologi .

gangguan aktivitas harian. olahraga. dan hal-hal yang mengganggu • Sedang-Berat • Bila terdapat satu atau lebih dari gangguan yang disebutkan pada derajat ringan . bekerja. belajar. bersantai. KLASIFIKASI Berdasarkan sifat berlangsungnya : • Intermitten • Bila gejala kurang dari 4 hari/minggu • Atau kurang dari 4 minggu berturut-turut • Persisten • Bila gejala lebih dari 4 hari/minggu • Atau lebih dari 4 minggu berturut-turut Berdasarkan berat-ringannya penyakit : • Ringan • Tidak ditemukan: gangguan tidur.

DIAGNOSIS Gejala Khas Gejala Lain • Serangan bersin berulang • Keluar ingus (rinore) dan hidung tersumbat. encer dan banyak. . • Sering disertai gejala konjungtivitis alergi. hidung patologik bila terjadi lebih & mata gatal kadang dari 5x setiap serangan disertai banyak air mata keluar (lakrimasi). • Bersin dianggap hidung tersumbat.

Pemeriksaan Fisik Gejala spesifik pada anak Allergic shinner Allergic salute Allergic crease Facies adenoid Geographic tongue .

berwarna pucat-keunguan disertai adanya sekret encer yang banyak. uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET) • diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test) untuk alergen ingestan • In Vitro • Pemeriksaan darah: eosinofil. basah. • Mukosa inferior tampak hipertrofi Pemeriksaan penunjang • In Vivo • Prick skin test.Pemeriksaan Fisik • Mukosa edema. IgE • RAST (Radio Immuno Sorbent Test) • ELISA (Enzyme Linked Immuno SorbentAssay Test) • Sitologi hidung .

Ada 2 metode imunoterapi yang umum dilakukan yaitu intradermal dan sublingual .PENATALAKSANAAN Edukasi • Hindari kontak dengan alergen penyebabnya Medikamentosa • Antihistamin Dekongestan • Kortikosteroid Antikolinergik Operatif • Kauterisasi dengan AgNO3 25% atau triklor asetat • Konkotomi parsial Konkoplasti Inferior turbinoplasti Imunoterapi • Untuk pembentukkan IgG blocking antibody dan penurunan IgE.

TATALAKSANA .

Komplikasi •Sinusitis Paranasal •Polip nasi •Otitis media .

RINITIS VASOMOTOR .

eosinofilia. perubahan hormonal. fisik Faktor litik Risiko Faktor Faktor endokrin psikis . alergi. Simp Faktor ato. Rinitis vasomotor merupakan subtipe dari nonallergic rinitis (NAR) yang kejadiannya tidak berhubungan dengan infeksi. dan pajanan obat.Definisi Rinitis vasomotor adalah peradangan mukosa hidung yang idiopatik.

Patofisiologi 1. Teori Neurogenik (Disfungsi sistem otonom) .

saraf simpatis lebih dominan. 1. . Rinitis vasomotor diduga akibat ketidakseimbangan impuls saraf otonom di mukosa hidung berupa bertambahnya aktivitas parasimpatis. petrosus mukosa superfisialis mayor hidung Berperan terhadap jaringan kelenjar  sekresi hidung yang encer dan vasodilatasi Dalam keadaan hidung normal. petrosus profundus Berperan penting terhadap sistem Diteruskan vaskular dan sangat sedikit oleh cabang mempengaruhi kelenjar. Teori Neurogenik (Disfungsi sistem otonom) Saraf simpatis (adrenergik): n. nervus palatina mayor ke vidianus pembuluh darah di Saraf parasimpatis (kolinergik): n.

Patofisiologi 2. Neuropeptida • Histamin. polipeptide intestinal vasoaktif dan kinin • Asetilkolin  Rinore • Muskarinik  Nyeri 3. dan kehilangan sel goblet  rinitis vasomotor . leukotrin. Nitrit Oksida • NO  Kerusakan epitel  gg. Trauma • Trauma kerusakan siliar. sistem mukosiliar. prostaglandin. hilangnya tight junction. kehilangan tight junction dan rusaknya membran basal  gejala klinis 4. peregangan ruang interseluler.

sesuai perubahan posisi Tidak ada rasa Tidak ada gejala gatal di hidung pada mata Bersin (sneezers) Rinore (runners) Tersumbat (blockers) • Antihistamin • Antikolinergik • Glukokortikosteroid • Glukokortikosteroid topikal topikal topikal • Vasokonstriktor oral .Gejala Klinik Hidung tersumbat. tidak bersifat mukoid sisi ke sisi yang seperti rinitis alergi atau serosa lain. Rinore hebat dan bergantian dari 1 Bersin.

skin prick test. • Sedikit sekret mukoid / sekret serosa dalam jumlah yang banyak. tetapi dapat juga dijumpai berwarna pucat. • Permukaan konka dapat licin atau berbenjol.DIAGNOSIS Anamnesis • Mencari faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala Pemeriksaan fisik • Edema mukosa hidung. berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik). Pemeriksaan penunjang • Laboratorium : eusinofil. • Konka hipertrofi. IgE .

PENATALAKSANAAN Edukasi • Hindari pencetus Medikamentosa • Dekongestan • Antihistamin • Kortikosteroid • Antikolinergik Operatif • Bedah beku • Reseksi konka • Neurektomi n.vidianus .

Komplikasi • Sinusitis Paranasal • Polip nasi • Otitis media Prognosis • Prognosis golongan blocker lebih baik daripada golongan rinore. .

Karakteristik Rhinitis Alergi Rhinitis Vasomotor Mulai serangan Belasan tahun Dekade ke 3 – 4 Riwayat terpapar allergen ( Riwayat terpapar allergen ( - +) ) Etiologi Reaksi Ag . juga faktor psikologis Gatal & bersin Menonjol Tidak menonjol Gatal dimata Sering dijumpai Tidak dijumpai Test kulit Positif Negatif Sekret hidung Peningkatan eosinofil Eosinofil tidak meningkat Eosinofil darah Meningkat Normal Ig E darah Meningkat Tidak meningkat Neurektomi Tidak membantu Membantu n.Ab terhadap Reaksi neurovaskuler rangsangan spesifik terhadap beberapa rangsangan mekanis atau kimia. vidianus .

Kesimpulan  Rinitis Alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin- bersin. Penatalaksanaan dapat dilakukan secara konservatif dan apabila gagal dapat dilakukan tindakan operatif . allergic salute dan allergic crease  Pemeriksaan penunjang dengan tes kulit (tes cukit). rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE. tersumbat. keluar ingus cair seperti air bening. pemeriksaan darah. Diduga akibat gangguan keseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh faktor-faktor tertentu. sering gejala meliputi mata. yang terpenting adalah dengan menghindari alergen pemicu  Rinitis vasomotor adalah peradangan mukosa hidung yang idiopatik. bersin- bersin. rinore. ELISA dan sitologi hidung  Pengobatan rinitis alergi bergantung pada tingkat keparahan penyakit. Gejala spesifik lain pada anak adalah terdapatnya allergic shiner.  Gejala utama pada hidung yaitu hidung gatal. RAST.

whiar.nlm. Prim Care Respir J [internet]. Dalam: Soepardi EA.  ARIA. L. 2009 [disitasi tanggal 10 September 2016]. ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) 2008 Update [internet]. Tersedia dari: http://library. Classification of nonallergic rhinitis syndromes with a focus on vasomotor rhinitis. John Vickery. Rinitis vasomotor.nlm. 2007.ncbi.org/docs/ARIA_PG_08_View_WM. Michael S Blaiss. Allergy Asthma Immunol Res [internet]. Tersedia dari: http://www. 2010 [disitasi tanggal 10 September 2016]. Holmes S.ncbi. Ed.nih.gov/pmc/articles/PMC3121056  Rusmono N.ac. 2008 [disitasi tanggal 11 September 2016].pdf. Tersedia dari: http://www. Acta Med Croatia [internet]. Management of allergic rhinitis and its impact on asthma: pocket guide.pdf.nlm. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma [internet]. 19(3):217-22. 2008 [disitasi tanggal 11 September 2016]. Management of Rhinitis: Allergic and Non-Allergic.nih. Rinitis vasomotor [internet].usu. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Tersedia dari: http://www.nih.id/download/fk/tht-andrina.  Irawati N. Nurbaiti Iskandar. 3(3): 148–156.gov/pubmed/20680237  ARIA. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 65(2):181-7. Willington J. Nurbaiti Iskandar.nih. .ncbi. 2011 [disitasi tanggal 10 September 2016]. Tersedia dari: http://www. 2011 [disitasi tanggal 10 September 2016]. Tersedia dari: http://www. Management of allergic and non-allergic rhinitis: a primary care summary of the BSACI guideline. 2007. Poerbonegoro. World Allergy Organ J [internet].pdf  Angier E. Rhinitis in adults. 2003 [disitasi 11 September 2016]. Daftar Pustaka  Andrina YMR.org/docs/aria-report-2008.  Kaliner MA. Rinitis alergi. Edisi ke-6. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT.gov/pubmed/22359885  Nguten P Tran. Scadding G. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Ed. Niken L. proposed to be known henceforth as nonallergic rhinopathy. 2(6): 98–101. Karsakeyan E. Walker S.nlm. Tersedia dari: http://www.ncbi. Dalam: Soepardi EA.gov/pmc/articles/PMC3650985  Kalogjera. Edisi ke- 6. Irawati N.whiar. Karsakeyan E.