ASKEP KASUS SPONDILITIS

OLEH
KELOMPOK IV

PENGERTIAN

• Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi
tuberkulosis ekstra pulmonal yang bersifat
kronis berupa infeksi granulomatosis
disebabkan oleh kuman spesifik yaitu
Mycobacterium tuberculosa yang mengenai
tulang vertebra sehingga dapat menyebabkan
destruksi tulang, deformitas dan paraplegia
(Tandiyo, 2010).

ETIOLOGI

• Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri
berbentuk basil (basilus). Bakteri yang paling sering
menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium
tuberculosis, walaupun spesies Mycobacterium yang
lainpun dapat juga bertanggung jawab sebagai
penyebabnya, seperti Mycobacterium fricanum
(penyebab paling sering tuberkulosa di Afrika Barat),
bovine tubercle baccilus, ataupun non-tuberculous
mycobacteria (banyak ditemukan pada penderita
HIV).

. Penyakit dapat kambuh apabila pengobatan tidak teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat karena terjadi resistensi terhadap pengobatan (Lindsay. 2008). PROGNOSIS • Prognosis dari spondilitis tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada tidaknya komplikasi neurologis. Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat. prognosisnya baik walaupun tanpa operasi.

Penyebaran terjadi secara hematogen. di sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman bersarang. PATOFISIOLOGI • Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus respiratorius. bakteri berkembang biak umumnya di tempat aliran darah yg menyebabkan bakteri berkumpul banyak (ujung pembuluh). Terutama di tulang belakang. .

bagian depan. discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya.. Infeksi berawal dari bagian sentral. . Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifise. Kerusakan pada bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal sebagai gibbus.. Lanjutan.. Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. atau daerah epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus..

• PATHWAY .

KLASIFIKASI • Peridiskal / paradiskal • Sentral • Anterior • Bentuk atipikal .

• Pada awal dijumpai nyeri interkostal. Hal ini disebabkan oleh tertekannya radiks dorsalis di tingkat torakal. nyeri yang menjalar dari tulang belakang ke garis tengah atas dada melalui ruang interkostal. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. • Nyeri spinal menetap dan terbatasnya pergerakan spinal • Deformitas pada punggung (gibbus) • Pembengkakan setempat (abses) • Adanya proses tbc. MANISFESTASI KLINIS • Suhu subfebril terutama pada malam hari dan sakit (kaku) pada punggung. .

KOMPLIKASI • Pott’s paraplegia • Ruptur abses paravertebra • Cedera corda spinalis (spinal cord injury) .

• Uji kultur biakan bakteri dan BTA • Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Pemeriksaan laboratorium • Pemeriksaan darah lengkap • Uji mantoux positif tuberkulosis. • Pemeriksaan serologi . • Pemeriksaan hispatologis. • Pungsi lumbal • Peningkatan CRP (C-Reaktif Protein).

• Foto polos vertebra • Pemeriksaan mielografi. PEMERIKSAAN RADIOLOGI • Foto toraks atau X-ray • Pemeriksaan foto dengan zat kontras. • Ctscan • MRI .

dengan corset tadi pasien dapat duduk/berjalan sehingga tidak memerlukan perawatan di rumah sakit namun tetap di kontrol. PENATALAKSANAAN • Terapi Konservatif • Dengan memberikan corset yang mencegah gerak vertebrae/membatasi gerak vertebrae. . dari kulit/plastik. Corset tadi dapat dibikin dari gips.

.. • Terapi Operatif • Bedah Kostotransversektomi yang dilakukan berupa debrideman dan penggantian korpus vertebra yang rusak dengan tulang spongiosa / kortikospongiosa.. Lanjutan.

selama pengkajian sumber informasi berasal dari klien. keluarga klien (Ayah dan ibu klien) serta rekam medis klien. I (21 Tahun) beragama islam. . KASUS • Tn. lahir pada tanggal 11 Juni 1992 dan belum menikah masuk ruang rawat pada tanggal 24 Januari 2017 dengan diagnosa medis spondilitis tuberculosis pada vertebra torakal IV hingga lumbal I.

Kemudian sekitar 3 tahun lalu klien jatuh disekolah. Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah berobat ke RS. Kemudian sekitar 3 tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan nanah (disekitar leher). Lanjutan.. . • Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2011 dan menjalani pengobatan dengan OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan). Setelah itu lama kelamaan terjadi pembesaran skrotum/orchitis (infeksi sekunder TB yang metastase hingga ke saluran reproduksi).. Selama itu klien hanya beraktivitas dirumah dengan bantuan keluarga. dan langsung tidak dapat berjalan selama 1 tahun.

ASUHAN KEPERAWATAN • 1. Pengkajian • A. I • Masuk ke RS : 24 Januari 2017 • Usia : 21 tahun • Tanggal lahir : 11 Juni 1992 • Jenis kelamin : laki-laki • Agama : Islam • Pekerjaaan : pelajar • Status : belum menikah • Anak ke. Daftar Riwayat Hidup • Nama : Tn. : satu dari empat bersaudara • Diagnosa Medis : Spondilitis TB .

Riwayat Kesehatan Dahulu : • Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani pengobatan dengan OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan). • 3 tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan nanah (disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah berobat ke RS .

• Klien mengatakan rasa nyeri hampir dirasakan setiap waktu dengan skala 2-4 dan masih bisa ditahan. Riwayat Kesehatan Sekarang • Klien mengatakan kadang merasa sangat nyeri dibagian tonjolan tersebut saat digerakkan maupun hanya disentuh. . sakit bertambah ketika dibawa berjalan.

Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah berobat ke RS. • Sekitar 3 tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan nanah (disekitar leher). . Persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan • Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani pengobatan dengan OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan).

Nutrisi dan Metabolic • Klien mampu makan sendiri sesuai dengan porsi yang diberikan diruangan • Klien tidak ada gangguan muntah dan mual serta tidak memiliki alergi terhadap makanan tertentu • Klien makan 3x per hari • Berat badan klien 47 kg dengan tinggi badan 167 cm. (termasuk golongan berat badan kurang) .

tidak berdarah saat defekasi. Eliminasi • Klien mengatakan defekasi 1x sehari • Klien mengatakan tidak sakit. • Klien mengatakan biasanya BAK >5x sehari . • Klien hanya sesekali mengeluhkan nyeri saat buang air kecil karena klien mengalami pembesaran testis akibat infeksi sekunder dari TB.

namun aktivitas klien lebih banyak dihabiskan dengan duduk di kursi atau tempat tidur karena klien tidak terlalu kuat untuk berdiri lama • Klien sering merasa kesemutaan pada kedua ekstremitas bawah . Aktivitas dan latihan • Klien cukup mandiri dalam beraktivitas dengan keadaan tulang yang mengalami skoliosis dan kifosis.

. biasanya punggung harus disangga oleh bantal • Klien tidur dengan posisi miring atau duduk. Istirahat dan tidur • Klien tidak mengalami masalah kesulitan tidur • Posisi tidur tidak mampu telentang sepenuhnya.

Kognitif dan Perseptual • Klien menunjukkan status mental/tingkat kesadaran composmentis (CM). • Reaksi pupil baik • Klien tidak memakai alat bantu pendengaran ataupun penglihatan .

Persepsi diri dan Konsep diri • Klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya • Klien mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu mengatasi emosinya • Klien mengatakan cemas dengan tindakan operasi yang akan dilakukan karena merupakan pertama kali bagi klien .

• Klien berhubungan baik dengan orang tua dan saudara nya terlihat dari setiap keluarga menjaga klien dengan cara bergantian . Peran dan hubungan • Klien tidak melanjutkan pendidikan semenjak sakit • Klien anak pertama dari empat bersaudara.

. Seksual dan reproduksi • Klien seorang laki – laki dan belum menikah • Klien mengalami pembesaran skrotum/orchitis (infeksi sekunder TB yang metastase hingga ke saluran reproduksi).

Koping dan toleransi stress • Klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya • Klien mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu mengatasi emosinya .

Nilai dan kepercayaan • Klien beragama islam • Ibu klien mengatakan klien adalah seorang yang taat beribadah .

10gr/dl. klien mengalami anemia karena Hb hanya berkisar 9-10g/dl. Pemeriksaan penunjang • Berdasarkan hasil laboratorium: • Pemeriksaan darah lengkap : leukositosis dan LED meningkat hingga 100mm dan globulin mencapai 4.30 gr/dl). albumin cenderung rendah (nilai albumin 3. Berdasarkan pemeriksaan hematologi klien didiagnosis mengalami anemia mikrositik hipokrom. • Pada pemeriksaan MRI di tunjukkan gibbus sudah sampai menekan sumsum tulang belakang. dimana salah satu fungsi nya adalah produksi sel darah merah .

terapi restriktif (imobilisasi). Diagnosa Keperawatan • Nyeri kronik b. • Resiko cidera b. nyeri.d Ketidakmampuan fisik secara terus menerus • Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler.d keterbatasan gerak dan anemia .

RENCANA KEPERAWATAN • INTERVENSI .

Implementasi • Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan yang telah disusun / ditemukan. yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien .

Evaluasi • Dx 1 : Nyeri pasien berkurang • Dx 2 : Klien meningkat dalam aktivitas fisik • Dx 3: Daya tahan pasien akan meningkat .

KESIMPULAN • Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi tuberkulosis ekstra pulmonal yang bersifat kronis berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu Mycobacterium tuberculosa. .

TERIMA KASIH .