Jakarta, 18 November 2014

MENINGIOMA
Case Report
Anasti Putri P (030.10.028)
Pembimbing: dr. Robert Loho, Sp. S
Dept. Neurologi RS AL Mintohardjo
Periode 27 Oktober – 29 November 2014

CASE REPORT

IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. Dharma Laila Imelda
 Usia : 41 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Pendidikan Terakhir : Sarjana
 Pekerjaan : Ibu rumah tangga
 Status : Menikah
 Alamat : Komp. TNI AL RT 01 / 01
Akehuda Ternate
 Suku Bangsa / Agama : Ambon/ Islam
 Tanggal Masuk : 4 November 2014
 Tanggal Keluar : 14 November 2014
 No. CM : 11.48.24

ANAMNESIS
5 November 2014. Dilakukan di bangsal Pulau Numfor
secara alloanamnesis

Keluhan •Lemas sejak ± 1 jam SMRS
Utama

Keluhan •Nyeri kepala berdenyut, mata sebelah kanan
sulit terbuka, mulut miring ke arah kanan,

Tambahan perubahan sikap yang tiba tiba menjadi aneh,
penurunan kesadaran yang fluktuatif.

ANAMNESIS (3)

1 jam SMRS.
Berdasarkan
keterangan dari
5 bulan yang lalu. kakak Os, OS
mengalami lemas
Mata sebelah sehingga hampir
kanan sulit terjatuh.
membuka.
Mulut miring ke
kanan.
Riwayat kebiasaan
tertidur lama > 12 Perubahan sikap.
jam perhari. Penurunan
Sulit dibangunkan kesadaran yang
saat tertidur. fluktuatif.

sehingga sempat akan terjatuh saat mau berjalan ke kamar mandi. berdiri mematung. . namun saat disadarkan OS dapat kembali berkomunikasi dengan normal.  OS juga merasakan adanya nyeri kepala yang hilang timbul.  Mata kanan OS sulit membuka sejak ± 5 bulan yang lalu. BAK dan BAB dikemukakan normal. Keadaan ini dirasakan semakin sering terjadi. dirasakan semakin progresif. frekuensi dirasakan meningkat sejak ± 5 bulan SMRS. Keadaan ini muncul secara tiba tiba. dan dirasakan sampai dengan sekarang. Setelah itu OS sulit diajak berbicara dan cenderung terus seperti orang tertidur. mulut yang juga miring ke kanan.ANAMNESIS (2) Riwayat Penyakit Sekarang :  OS datang ke IGD pada 4 November 2014 pada pukul 17. Keadaan lemas ini seringkali didapatkan hilang timbul. namun berdasarkan pengakuan OS hal ini tidak menganggu. Lemas dikemukakan keluarga pasien muncul tiba-tiba.  OS menyangkal adanya mual. dan penurunan berat badan. disertai dengan bicara yang agak pelo.30 WIB dengan keluhan lemas sejak ± 1 jam SMRS.  Keluarga OS mengemukakan bahwa OS seringkali tiba-tiba sulit diajak berbicara. muntah dan kesemutan.

kolesterol. darah tinggi.  OS memiliki riwayat sakit maag. kencing manis.ANAMNESIS (4) Riwayat Penyakit Dahulu :  OS pernah dirawat di RSPAD ± lima bulan yang lalu karena mata kanan yang sulit membuka selama satu minggu  OS menyangkal adanya riwayat asthma. . ginjal. jantung dan stroke.

 Jam tidur OS ± 12-15 jam dalam sehari.ANAMNESIS (5) Riwayat Penyakit Keluarga  Hipertensi -  Stroke -  DM - Riwayat Kebiasaan  OS memiliki kebiasaan sering tertidur ketika sedang beraktifitas. dan bangun bila di tepuk. seperti sering terdiam mematung. .  Keluarga pasien menyatakan bahwa. OS mengalami perubahan perilaku.

HR 88 bpm. Keadaan Umum  compos mentis E4V5M6.PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Dilakukan di dilakukan di bangsal Pulau Numfor pada hari 5 November 2014. Normoglossia Leher  Distensi vena leher (-). CA +/+. Tanda Vital  BP 110Τ80 mHg.7 oC Kepala  Normocephali. T 36.38 WIB. gizi kurang Antropometri  BB 42kg.  KGB dan tiroid tidak teraba massa .42. RR 16 tpm. SI -/-. simetris. tampak sakit berat. JVP normal. BMI 15. TB 165cm. pukul 19.

Murmur -. batas kiri atas ICS III linea para sternalis sinistra. batas kiri bawah ICS V linea midklavikularis sinistra. Gallop -. sonor di seluruh lapang paru. Wheezing-  Cor : ictus cordis tidak tampak. Abdomen  Supel. BJI BJII regular. Hepatomegali (–) . Bising usus normal. Nyeri tekan (-). suara dasar Vesikular +/+ normal.PEMERIKSAAN FISIK (2) STATUS GENERALIS Thorax  Pulmo :simetris saat statis dan dinamis. suara tambahan Rhonki -. batas kanan ICS II-V linea sternalis dekstra.

kaki +/+ .PEMERIKSAAN FISIK (3) STATUS GENERALIS Ekstremitas  Akral hangat : tangan +/+. kaki +/+  Pitting oedema : tangan -/-.

PEMERIKSAAN FISIK (4) Status Psikikus  Cara berpikir : baik  Perasaan hati : euthym  Tingkah laku : gelisah  Ingatan : baik  Kecerdasan : sesuai dengan usia pasien .

Kemampuan berbahasa  Kernig : (-)  Afasia Motorik : (-)  Afasia Sensorik : (-) B. Leher  Kaku kuduk : (-)  Sikap : Tidak tampak torticollis  Brudzinki I : (-)  Pergerakan: bebas ke segala arah  Brudzinski II : (-)  Laseque : (-) D. Kepala  Disartria : (+)  Bentuk : Normocephali  Nyeri tekan : -)  Pulsasi : (-)  Simetri : (+) . Tanda rangsang meningeal C.PEMERIKSAAN FISIK (5) STATUS NEUROLOGIS A.

II Optikus  Tajam penglihatan Sulit dinilai Menurun (kacamata +)  Lapang penglihatan Sulit dinilai Sama dengan pemeriksa  Melihat warna Sulit dinilai (+)  Fundus okuli Tidak dilakukan Tidak dilakukan . I Olfaktorius  Subjektif Tidak diperiksa Tidak diperiksa  Dengan beban Tidak diperiksa Tidak diperiksa N.PEMERIKSAAN FISIK (6) STATUS NEUROLOGIS Nervus Kranialis Kanan Kiri N.

normal normal kedalam)  Sikap bulbus Ortoforia Ortoforia  Melihat kembar (-) (-) . III Okulomotorius  Sela mata Ptosis (+) Ptosis (-)  Pergerakan bulbus Sulit dinilai Baik ke segala arah  Strabismus (-) (-)  Nistagmus (-) (-)  Eksoftalmus (-) (-)  Pupil Besar ± 7mm 3mm Bentuk Bulat. anisokhor  Refleks cahaya ↓ (+)  Refleks cahaya konsensual ↓ (+)  Refleks konvergensi Sulit dinilai (+)  Melihat kembar (-) (-) N. IV Trokhlearis  Pergerakan mata (kebawah. anisokhor Bulat. PEMERIKSAAN FISIK (6) STATUS NEUROLOGIS N.

VI Abducen (+) (+)  Pergerakan mata (ke lateral) Ortoforia Ortoforia  Sikap bulbus (-) (-)  Melihat kembar N. VII Fasialis ↓ ↓  Mengerutkan dahi Ptosis Normal  Menutup mata ↓ Normal  Memperlihatkan gigi Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai  Bersiul Normal Normal  Perasaan lidah (2/3 depan) (-) (-)  Hiperakusis .PEMERIKSAAN FISIK (7) STATUS NEUROLOGIS N.

miring ke kiri  Berbicara Normal  Menelan Normal  Nadi Dalam batas normal  Refleks okulokardiak Tidak dilakukan . IX Glossofaringeus  Perasaan lidah (1/3 Tidak dilakukan Tidak dilakukan belakang)  Sensibilitas faring Normal Normal N. VIII Vestibulokoklearis  Detik arloji Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa  Suara berbisik Normal Normal  Tes Swabach Tidak dilakukan Tidak dilakukan  Tes Rinne Tidak dilakukan Tidak dilakukan  Tes Weber Tidak dilakukan Tidak dilakukan N. PEMERIKSAAN FISIK (8) STATUS NEUROLOGIS N. X Vagus  Arkus faring Tidak berada di tengah.

XI Accecorius  Mengangkat bahu Normal Normal  Memalingkan kepala Normal Normal N. XII Hypoglossus  Pergerakan lidah Normal ↓  Tremor lidah Normal Normal  Artikulasi Normal Normal . PEMERIKSAAN FISIK (9) STATUS NEUROLOGIS N.

Motorik .Trisep (+) (+) .Diskriminasi 2 titik normal normal .Kekuatan 5 5 .Presipitasi Kulit lembab Kulit lembab .Tonus Eutoni Eutoni 3.Gerak kolumna vertebralis Aktif Aktif 2.Bisep (+) (+) .Pergerakan Gerak aktif (+) Gerak aktif (+) .Hoffman Tromner (-) (-) 5.Taktil normal normal . Reflek Patologis .Radius (+) (+) .Ulna (+) (+) 4.PEMERIKSAAN FISIK (10) STATUS NEUROLOGIS Kanan Kiri 1. Badan . Refleks Fisiologis .Suhu tidak dilakukan tidak dilakukan .Trofi Eutrofi Eutrofi . Sensibilitas .Nyeri normal normal . Anggota gerak atas .

Gordon (-) (-) . Anggota gerak bawah .Chaddock (-) (-) . Reflek Patologis .Babinski (-) (-) .Pergerakan Bebas. Refleks fisiologis .Mendel (-) (-) .Trofi Eutrofi Eutrofi .Kekuatan 5 5 .Kaki (-) (-) .Oppenheim (-) (-) .Achiles (+) (+) 8.Bechterew (-) (-) . PEMERIKSAAN FISIK (11) STATUS NEUROLOGIS Kanan Kiri 6. aktif .Schaefer (-) (-) . Klonus .Tonus Eutoni Eutoni 7. aktif Bebas.Patella (+) (+) .Rossolimo (-) (-) 9.Paha (-) (-) .Motorik .

Finger to Finger Normal Normal 12.Cara berjalan tidak dilakukan tidak dilakukan .Athetose (-) (-) .Disdokokinesia Normal Normal .Diskriminasi 2 titik Normal Normal 11.Taktil Normal Normal .Dismetri tidak dilakukan tidak dilakukan .Chorea (-) (-) . Koordinasi.Tremor (-) (-) .Suhu Tidak dilakukan Tidak dilakukan .Mioklonik (-) (-) .Ataksia tidak dilakukan tidak dilakukan . gait. keseimbangan .Tes Romberg tidak dilakukan tidak dilakukan .Nyeri Normal Normal . Gerak abnormal .PEMERIKSAAN FISIK (12) STATUS NEUROLOGIS Kanan Kiri 10.Rebound Fenomenon Normal Normal . Sensibilitas .

Laseque . - .Refleks bulbocavernous Tidak dilakukan Tidak dilakukan 14. Alat vegetative .Patrick . - .Kontra Patrick .Defekasi Baik Baiik .Miksi Baik Baik .Refleks Anal Tidak dilakukan Tidak dilakukan .PEMERIKSAAN FISIK (13) STATUS NEUROLOGIS Kanan Kiri 13.

6 g/dL 12.0 % Fungsi Renal Ureum 28 mg/dL 17-43 mg/dL Creatinine 1.0 g/dL Leukosit 9.PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil Pemeriksaan Hematologi Ny.51 x106/ ?? 4.4-4. D (39 tahun) Parameter Hasil Nilai Rujukan Darah Rutin Hemoglobin 12.5 mmol/L Clorida 101 mmol/L 96-108 mmol/L Glukosa Darah 123 mg/dl < 140 mg/dL Glukosa Darah Sewaktu .6-1.20-5.2 mg/dL 0.1 mg/dL Elektrolite Na2+ 140 mmol/L 134-140 mmol/L K+ 2.4 x103/?? 5-10 x103/ ?? 4.40 x106/ ?? Eritrosit Trombosit 244 x103/ ?? 150-440 x103/ ?? Hematokrit* 33 % 37-42.0-14.8 mmol/L 3.

D (39 tahun) .PEMERIKSAAN PENUNJANG (1) Hasil Pemeriksaan Hematologi Ny.

DIAGNOSIS .

N. X dan XII dextra (hemifasial dextra)  Diagnosis Etiologis : SOL  Diagnosis Topis : brain stem sisi dextra. hemisphere dextra  Diagnosis Patologis : tumor dd. III.DIAGNOSIS  Diagnosis Klinis : penurunan kesadaran. IX. Abses. VII N. parese N. N. .

PEMERIKSAAN TAMBAHAN .

RENCANA PEMERIKSAAN TAMBAHAN  Direncanakan untuk dilakukan MRI dengan dan tanpa kontras untuk melihat adanya kelainan pada berbagai struktur kepala. .

PENATALAKSANAAN .

Citicholine 2x500 mg . S:  IVFD RL 20 tpm  Neurobion 5000 1x1 ampul/drip  Inj.PENATALAKSANAAN  Observasi tanda vital. kesadaran  Diet cair  Pasang NGT dan dauer catheter  Konsul Sp.

FOLLOW UP .

Citicholine 2x500 mg. VII.40C Objektif •Pupil anisokhor. RCL ↓/+. Rencana dilakukan MRI dengan dan tanpa kontras. III. III. diameter 7/3 mm. VII. X dan XII dextra (hemifasial dextra) Assesment •Diagnosis Etiologis : SOL •Diagnosis Topis : brain stem sisi dextra. HR 70bpm. IVFD RL 20 tpm. parese N. Inj. Dexamethasone 3x1 ampul. Abses. T 37. Inj. terkadang bangun dari tidur lalu diam mematung. hemisphere dextra •Diagnosis Patologis : tumor dd. kesadaran OS masih hilang timbul. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra. •CM. Inj. Diet cair.1 •OS sudah berada di bangsal Pulau Numfor. Ranitidine 2x1 ampul. IX dan XII dekstra •Diagnosis Klinis : penurunan kesadaran. •Observasi tanda vital. kesadaran. RR 17tpm.FOLLOW UP HARI KE . . Berdasarkan keterangan dari Subjektif kakak OS. Neurobion 5000 Planning 1x1 ampul/drip. IX. disatria •Lesi nervus kranialis : N. E4V5M6 •BP 100/90 mmHg.

Inj. III. Konsul THT dan Bedah Syaraf. Neurobion 5000 1x1 ampul/drip. diameter 7/3 mm. IVFD RL 20 tpm. Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. CA Nasofaring. IX. hemisphere dextra. Topis: Lobus Occipitalis Dextra. . III. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. Klinis: (-) Dx. IX . Dx. Etiologis: SOL susp. T 37.2 •Kesadaran OS stabil. CA Nasofaring. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg. Dx. Diet cair. Citicholine 2x500 mg. Topis: brain stem sisi dextra. parese N.FOLLOW UP HARI KE . X. RCL ↓/+. Klinis: penurunan kesadaran. Dexamethasone 3x1 ampul. kesadaran. HR 65bpm. Inj.30C Objektif •Pupil anisokhor. VII. XII dextra (hemifasial dextra). VII. Dx. Dx. disatria •Lesi nervus kranialis : N. Ranitidine 2x1 ampul. RR 18tpm. Dx. Etiologis: SOL susp. X dan XII dekstra •Dx. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra. Inj. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra Planning •Observasi tanda vital. Subjektif •Hasil MRI (+) •CM.

D.HASIL MRI NY. KAMIS 6 NOV 2014 .

D (2) .HASIL MRI NY.

HASIL MRI NY. D (3) .

5 cm. meluar ke cysterna prepontin kanan. mendesak midbrain-pedenkulus cerebri kanan dan pons sisi kanan.  Infark akut cerebri dextra di lobus superior occipital  Sinusitis maxilla dextra.  Lesi juga terlihat mendesak fisura orbita kanan. membungkus arteri carotis interna kanan segmen cavernosa.  Massa tersebut meluas ke cavernosa sisi kanan. Lesi massa juga menginfiltrasi tulang sekitarnya. Optikus kanan dan sangat menungkinkan chiasma optikum sisi kanan. D (3)  Lesi massa di sphenoid wing-paracavernosa kanan (±5. HASIL MRI NY. menjangkkau paraparingal space kanan (pterygoid medial-lateral).5 cm / L x AP x CC). sphenoid dan ethmoid  Otomastoiditis dextra. . pons sisi kanan.  Terlihat lesi dengan edema luas sekitarya mencapai midbrain kakan. mendesak dan obliterasi ventrikel lateal kanan.2 x 4. clivus kanan. Pasca kontras menyangat kuat → sesuai MENINGIOMA (Sphenoid-Cavernosa). pathway N. mencapai midbrain shift ke kiri sejauh ±1.9 x 3.

Dx. CA Nasofaring. Dx. Planning Citicholine 2x500 mg.FOLLOW UP HARI KE . RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra. Ranitidine 2x1 ampul. Diet lunak. Dx. parese N. diameter 7/3 mm. Inj. Neurobion 5000 1x1 ampul/driip. Dexamethasone 3x1 ampul. hemisphere dextra.30C Objektif •Pupil anisokhor. Topis: Lobus Occipitalis Dextra. Dx. RR 18tpm. NGT up. IVFD RL 20 tpm. Topis: brain stem sisi dextra. VII. Klinis: penurunan kesadaran. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. CA Nasofaring. Inj. Bedah Syaraf: rencana angiografi cerebri dan VCT . T 37. kesadaran. Dx. HR 65bpm. Hasil Konsul Sp. III. Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. XII dextra (hemifasial dextra). RCL ↓/+. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg. III. VII. X dan XII dekstra •Dx. X.3 Subjektif •Kesadaran OS stabil. Inj. •CM. Etiologis: SOL susp. Etiologis: SOL susp. IX . disatria •Lesi nervus kranialis : N.-. IX. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra •Observasi tanda vital. Klinis: (-) Dx.

Neurobion 5000 1x1 ampul/drip. XII dextra (hemifasial dextra). Dx. Dx. Inj. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra. X. disatria •Lesi nervus kranialis : N. Konsul THT dan VCT . RCL ↓/+. Etiologis: SOL susp.5 mg. VII. Manitol 4 x 125 cc. Dx. VII. parese N. T 37. III. Dx. •CM. hemisphere dextra. RR 18tpm. CA Nasofaring. IX.FOLLOW UP HARI KE . Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. Etiologis: SOL susp. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. Inj. Topis: brain stem sisi dextra. Topis: Lobus Occipitalis Dextra. CA Nasofaring. HR 65bpm. Klinis: penurunan kesadaran. IVFD RL 20 tpm. X dan XII dekstra •Dx. Klinis: (-) Dx. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra Planning •Observasi tanda vital. Dexamethasone 3x1 ampul.-. Dx. diameter 7/3 mm.4 Subjektif •Kesadaran OS stabil. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg. IX .30C Objektif •Pupil anisokhor. Hallopperidol 2 x 0. III. Diet lunak. kesadaran.

VII. Inj. diameter 7/3 mm. X. •CM.5 mg. Klinis: penurunan kesadaran. Dx. HR 65bpm. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg. CA Nasofaring. T 37. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra. RCL ↓/+. XII dextra (hemifasial dextra). CA Nasofaring. kesadaran. III. Konsul THT dan VCT . IX. Hallopperidol 2 x 0. Dx. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra Planning •Observasi tanda vital. Neurobion 5000 1x1 ampul/drip. Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. Dx.-. IVFD RL 20 tpm. Etiologis: SOL susp. Klinis: (-) Dx. Diet lunak. VII. Dx. Dexamethasone 3x1 ampul. Inj.5 Subjektif •Kesadaran OS stabil.30C Objektif •Pupil anisokhor. X dan XII dekstra •Dx. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. Dx.FOLLOW UP HARI KE . IX . disatria •Lesi nervus kranialis : N. hemisphere dextra. Manitol 4 x 125 cc. Topis: brain stem sisi dextra. parese N. RR 18tpm. III. Topis: Lobus Occipitalis Dextra. Etiologis: SOL susp.

Dx. disatria •Lesi nervus kranialis : N. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra Planning •Observasi tanda vital. RCL ↓/+.5 mg. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. VII. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra.FOLLOW UP HARI KE . Hasil konsul VCT (-). T 37. Neurobion 5000 1x1 ampul/drip. Etiologis: SOL susp. III. X dan XII dekstra •Dx. Inj. XII dextra (hemifasial dextra). diameter 7/3 mm. hemisphere dextra. Dx. Etiologis: SOL susp. Hasil konsul THT (+) . Dx. RR 18tpm. X. Dx. IX . parese N. Inj. CA Nasofaring. Manitol 3 x 125 cc. Klinis: penurunan kesadaran. Hallopperidol 2 x 0. CA Nasofaring. Topis: brain stem sisi dextra. VII. HR 65bpm. Klinis: (-) Dx. IX.8 Subjektif •Kesadaran OS stabil. Dexamethasone 3x1 ampul. Topis: Lobus Occipitalis Dextra.-. •CM. Dx. III. Diet lunak.30C Objektif •Pupil anisokhor. Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. IVFD RL 20 tpm. kesadaran. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg.

HASIL KONSUL THT •Suara sengau Subjektif •Strabismus •Telinga: dbn •Hidung: krusta (+). lapang Objektif •Telinga: dbn •Hasil MRI: massa di atap nasofaring kanan yang meluas ke hemisfere kanan Assesment •Tumor nasofaring Susp. CA Nasofaring •Biopsi tumor dengan teknik nasoendoskopi Planning •Dengan anestesi umum •Persiapan: Persetujuan penyakit dalam dan anestesi .

III. Etiologis: SOL susp. Klinis: penurunan kesadaran. kesadaran. Neurobion 5000 1x1 ampul/drip. Topis: brain stem sisi dextra. T 37. XII dextra (hemifasial dextra). CA Nasofaring. CA Nasofaring. •OS menolak biopsi •CM. parese N. VII. Etiologis: SOL susp. HR 65bpm. Diet lunak.FOLLOW UP HARI KE . RR 18tpm. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg. hemisphere dextra. diameter 7/3 mm. X dan XII dekstra •Dx. Inj. X.9 Subjektif •Kesadaran OS stabil. Dexamethasone 3x1 ampul. Dx. Inj. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. Topis: Lobus Occipitalis Dextra. Dx. Klinis: (-) Dx. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra Planning •Observasi tanda vital. Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. Dx. IX . RCL ↓/+. IVFD RL 20 tpm. IX. Dx. III. . Hallopperidol 2 x 0.5 mg. VII. Manitol 3 x 125 cc. Dx. disatria •Lesi nervus kranialis : N. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra.30C Objektif •Pupil anisokhor.

•CM. III. Patologis : Meningioma Assesment •Dx. Dx. Etiologis: SOL susp. •OS pulang paksa. RR 18tpm. HR 65bpm. Dx. X. disatria •Lesi nervus kranialis : N.30C Objektif •Pupil anisokhor. CA Nasofaring. Etiologis: SOL susp.10 Subjektif •Kesadaran OS stabil. hemisphere dextra.FOLLOW UP HARI KE .5 mg Planning •Vitaneuron 2 x 1 tab •Kontrol 1 minggu lagi atau bila ada kegawatan. IX . IX. RCTL ↓/+ •Spasme hemifasial dextra. sphenoid dan ethmoid •Dx4 Otomastoiditis dextra •Halloperidol 2 x 0. T 37. E4V5M6 •BP 110/80 mmHg. Patologis: Infark akut •Dx3 Sinusitis maxilla dextra. Topis: Lobus Occipitalis Dextra. parese N. VII. Dx. VII. Klinis: penurunan kesadaran. Klinis: (-) Dx. RCL ↓/+. X dan XII dekstra •Dx. Topis: brain stem sisi dextra. CA Nasofaring. XII dextra (hemifasial dextra). Dx. Dx. III. . diameter 7/3 mm.

PROGNOSIS .

PROGNOSIS  Ad Vitam : ad malam  Ad Functionam : dubia ad malam  Ad Sanationam : dubia ad malam .

TINJAUAN PUSTAKA .

 Lebih sering ditemukan pada wanita dan biasanya muncul pada usia 40-60 tahun.EPIDEMIOLOGI DAN INSIDENSI  Tumor ini mewakili 20% dari semua neoplasma intrakranial dan 12 % dari semua tumor medulla spinalis.  Banyak meningioma tergolong jinak (benign) dan 10 % maligna. .

seperti:  Nonaktifnya gen supressor tumor.  Gangguan dalam sintesis DNA.ETIOLOGI  Kelainan kromosom akbat berbagai peenyebab.  Delesi. .

PATOFISIOLOGI  Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk.  Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. .

seperti:  Meningioma falx dan parasagital  Meningioma Convexitas  Meningioma Sphenoid  Meningioma Olfactorius  Meningioma fossa posterior dan lain sebagainya. dimana penatalaksanaan sesuai dengan grade tersebut. .  Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtipe berdasarkan lokasi dari tumor.KLASIFIKASI  WHO mengembangkan sistem klasifikasi melalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop.

TANDA DAN GEJALA  Gejala meningioma dapat bersifat:  umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak dan atau medulla spinalis)  khusus (disebabkan oleh terganggunya fungsi normal dari bagian khusus dari otak atau tekanan pada nervus atau pembuluh darah) .

.

.

.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI  Foto Polos Kepala  Computed Tomography (CT scan)  Magnetic Resonance Imaging (MRI)  Angiografi .

 Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor. dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi.  Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama.  Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura. jaringan lunak. riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf. . dan pada kasus rekurensi.PENATALAKSANAAN  Tergantung dari lokasi dan ukuran tumor. ukuran dan konsistensi.

.PROGNOSIS  Bergantung kepada jenis. luas. progresifitas dan kekambuhan pasca dioperasi.

TERIMAKASIH ☺ .

Related Interests