1.

SUSI SIMILIKITI KEL 25: Dosis adregenis aman
?
• Jawaban: Kita sih tau, tapi cari aja sendiri,
males lu.
2. TRIA MACAN KEL 26: Demensia ?
• A. Benar
• B. Salah
• C. A dan B benar

OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF
OTONOM

Susunan saraf pusat (otak dan
sumsum tulang belakang)

Susunan saraf motorik
(otot – otot lurik)
Susunan saraf
simpatis
Susunan saraf perifer
(adrenergik)

Susunan saraf otonom
(otot- -otot polos,
jantung dan kelenjar) Susunsn saraf
parasimpatis
(kolinergik)

tekanan & peredaran darah. dsb.) .) • Susunan saraf otonom tersebar luas di seluruh tubuh (misalnya: lambung. kelenjar keringat dsb. usus. • Susunan saraf otonom (SSO) bekerja menurut aturannya sendiri (otonom / tidak kita sadari) • fungsi sso : mengatur secara otomatis keseimbangan fisiologis organisme (misal : suhu badan.• Susunan saraf otonom terdiri atas saraf dan simpul saraf / ganglia / ganglion. pernafasan.pembuluh darah jantung.

bila salah satu sistem menghambat fungsi tertentu yang lain justru menstimulasi contoh : perangsangan saraf simpatis pada pembuluh darah arteri akan menyebabkan vasokontriksi. –Saraf simpatis (adrenergik) –Saraf parasimpatis (kolinergik) • Pada umumnya kedua susunan saraf ini bekerja antagonis.• Saraf otonom dibagi menjadi 2 yaitu. . sedangkan perangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan vasodilatasi arteri.

otot-otot α Vasokonstriksi - . kedua susunan saraf ini bekerja antagonis.simpatis S.kontriksi. Diperlemah denyutan dipercepat Arteriola αβ vasokonstriksi - Vena α Vasokontriksi Vasodilatasi. empedu. parasimpatis (adrenergik) (kolinergik) Mata (pupil) α diperbesar diperkecil Paru – paru (bronchia) β vasodilatasi vasokontriksi Jantung β daya kontraksi diperkuat. usus (peristaltik αβ dikurangi relaksasi - & sekresi) Kandung kemih dan α Relaksasi Diperbesar. rahim berubah-ubah Rahim yg mengandung β Vasokonstriksi - Kulit. bila salah satu sistem menghambat fungsi tertentu yang lain justru menstimulasi Efek stimulasi organ Reseptor S. diperlambat Lambung.

dimana terdapat sinaps (celah diantara 2 neuron). ganglia SSP Organ ujung/efektor preganglioner postganglioner • Neuron/saraf preganglioner : saraf yg meneruskan impuls dari SSP ke ganglia. organ ujung) secara tidak langsung.sel-sel saraf diluar SSP). • saraf otonom dibeberapa tempat terkumpul di sel – sel gaglion (kump. Penerusan impuls pada saraf otonom • Pada saraf otonom. • Impuls dari SSP dalam sinaps diteruskan dari satu neuron ke neuron lain secara kimiawi melalui neurotransmitter / neurohormon. impuls disalurkan ke organ tujuan (efektor. . • Neuron postganglioner : saraf antara ganglia & organ ujung/efektor.

2. semua neuron preganglioner (baik dari saraf simpatis maupun saraf parasimpatis). neuron postganglioner parasimpatis/kolinergik. • Adrenalin / NA juga diproduksi oleh medulla adrenalis / cortex. • Ach adl neurotransmiter pd ujung saraf motoris yg menuju ke otot rangka/lurik.Saraf kolinergik / parasimpatis : • Bekerja dg melepas neurotransmitter asetilkolin (Ach). . Saraf adrenergik / simpatis : • Bekerja dg melepas neurotransmitter adrenalin / noradrenalin (NA) di ujung sarafnya. • Meliputi : neuron postganglioner dari saraf simpatis. • Meliputi : 1.

maka neurotransmiter tersebut di-inaktivasi. . misal : serotonin dan dopamin. – Asetilkolin (Ach) diuraikan oleh enzim Asetilkolinesterase (AChE) menjadi kolin & asetat (tidak berefek sbg neurotransmitter lagi). – Noradrenalin dan adrenalin mengalami demetilasi (dalam darah) oleh enzim metiltransferase (COMT) dan deaminasi (dalam hati) oleh monoamin-oksidase (MAO) – MAO juga bertanggung jawab pada penguraian (metabolisme) neurotransmiter yang lain yg aktif dalam SSP. yaitu Catecholamin. Metabolisme neurotransmiter • Untuk menghindari akumulasi neurotransmiter dalam tubuh & terangsangnya saraf secara kontinyu.

penimbunan. dan kelenjar). Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi organ (otot polos. Obat – obat otonom • Obat – obat otonom adalah obat – obat yang dapat mempengarui penerusan impuls dalam SSO dengan jalan mengganggu sintesa. . jantung. dan penguraian neurotransmiter atau mempengaruhi kerja neurotransmitter terhadap reseptor khusus. pembebasan.

amfetamin • Simpatolitika (adrenolitika) bekerja menekan saraf simpatis atau melawan efek adrenergika. skopolamin). Penggolongan obat otonom menurut khasiat 1. • Parasimpatolitika (antikolinergika) bekerja melawan efek parasimpatomimetika. zat – zat yang bekerja terhadap saraf simpatis • Simpatomimetika (adrenergika) bekerja merangsang (meniru efek) organ yg dilayani saraf simpatis.misalnya : noradrenalin.isoprenalin. . atropin. fisostigmin. Contoh: pilokarpin. contoh : propranolol 2. Zat – zat yang bekerja terhadp saraf parasimpatis • Parasimpatomimetika (kolinergika) bekerja merangsang organ yg dilayani saraf parasimpatis & meniru efek perangsangan oleh asetilkolin.contoh : alkaloid beladonna (hyoscyamin. efedrin.

Reserpin.3.Antikolinergika (atropin) berefek menekan SSP dengan efek sedatif .misalnya : .Zat-zat perintang MAO.Adrenergika (efedrin dan amfetamin) berefek menstimulasi SSP .Klonidin. berefek meredakan ketegangan & menurunkan TD. bekerja di SSP. . berkurangnya sekresi berbagai kelenjar). vasodilatasi karena blokade saraf simpatis (con : antihipertensive) tidak digunakan lagi karena blokade parasimpatis (gangguan penglihatan. Disamping itu dikenal pula sejumlah obat otonom perifer yang dapat mempengaruhi SSP . menghabiskan cadangan noradrenalin → efek sedatif. Efek ini dampaknya luas. . . Contoh : senyawa amonium kwaterner. -Semua obat yang dapat berefek pada SSP tersebut di atas karena bersifat sangat lipofil & mudah melintasi membran otak. a. merintangi metabolisme noradrenalin → efek stimulasi SSP (antidepresi).Fenotiazin memblokir reseptor noradrenalin di otak dengan efek sedatif . Zat – zat perintang ganglion Zat yang merintangi penerusan impuls dalam sel – sel ganglion simpatik dan parasimpatik.l.

• Reseptor α lebih peka terhadap NA (adrenalin ≥ NA > isoprenalin). fright. Adrenergika (simpatomimetika) • “fight. flight” • Adrenergika dibagi dua kelompok menurut titik kerjanya. noradrenalin (NA) and isoprenalin / isoproterenol. perbedaan kedua reseptor didasarkan pada kepekaan terhadap adrenalin. yaitu reseptor alfa (α)dan reseptor beta(β). • Reseptor β lebih peka terhadap isoprenalin (isoprenalin > NA ≥ adrenalin) .

mungkin juga pelepasan Ach pada saraf kolinergis pada usus terhambat sehingga turunnya periltastik – Beta-1 : memperkuat daya dan kontraksi otot jantung (efek inotrop dan kronotrop) – Beta-2 : bronchodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak. beta-1 & beta-2. . – Alfa-2 : menghambat pelepasan NA pada saraf – saraf adrenergik dengan turunnya tekanan darah. reseptor α & β dibagi menjadi sub tipe : alfa-1 & alfa-2 . • Stimulasi/aktivasi masing-masing reseptor menghasilkan efek.• Berdasarkan efek fisiologinya. sbb : – alfa-1 : menimbulkan vasokontriksi otot polos (kecuali otot polos usus : vasodilatasi) dan menstimulasi sel-sel kelenjar (meningkatkan sekresi liur dan keringat).

artinya lewat sinaps di organ efektor – Alfa-2 dan beta-2 pada presinapsis dan ekstrasinaps antara lain di kulit otak.• Lokasi reseptor ini umumnya adalah seagai berikut : – Alfa-1 dan beta-1 pada postsinapsis. . rahim dan pelat – pelat darah (trombosit).

NA.disini NA hanya berefek ringan sedangkan adrenalin dan isoprenalin menimbulkan bronkodilatasi yang kuat. • Contoh pada bronci . . dopamin. Efek stimulasi reseptor alfa & beta • Bila suatu organ terdapat kedua jenis reseptor tersebut maka respon terhadap katecholamin (adrenalin. serotonin) tergantung pada pembagian & jumlah reseptor alfa dan beta pada jaringan tersebut.dimana terdapat banyak reseptor beta-2 .

2. Sekresi insulin & Pelepasan as. metabolisme Glikogenolise naik -----------. Nafas Vasokonstriksi -----------. --------- naik. Bronkhodilatasi mukosa mata & hidung. nafsu makan turun. pupil melebar. Tabel : efek stimulasi reseptor alfa & beta Stimulasi pada : Efek alfa Efek beta-1 Efek beta-2 Sirkulasi jantung -------------. renin naik. Psikomotor ----------. Sekresi kelenjar- naik SSP : 1. Kewaspadaan Aktv. Inotrop/kronotrop Vasodilatasi – (+) koroner Sirkulasi perifer Vasokonstriksi. ----------. Lemak naik . ----------- TD naik.

Mekanisme kerja adenylcyclase fosfodieterase ATP cAMP 5-AMP inaktif adrenergika Efek2 adrenergik Katecholamin bekerja sebagai neurotransmiter dan akan mengikatkan diri pada reseptor yang berada di luar membran sel yang akan mengaktifkan enzim adenylcyclase yang akan mengubah ATP menjadi cAMP. . Peningkatan kadar cAMP dalam sel akan menyebabkan bermacam2 efek adrenegik seperti diatas.

. Zat-zat yang bekerja tidak langsung. amfetamin. Pengolongan adrenergika Adrenergika dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu : Zat-zat yang bekerja langsung pada reseptor organ tujuan (adrenalin. yaitu dengan cara merangsang pengeluaran NA dari tempat penyimpanannya (di ujung saraf adrenergik/simpatik). NA.dan reserpin. guanetidin. efedrin dan dopamin bekerja langsung & tak langsung.contoh : efedrin. isoprenalin).

.Penggolongan dapat juga menurut jenis reseptor yang khusus distimulasi oleh obat tersebut : Adrenergika Efek-alfa Efek beta-1 Efek beta-2 Adrenalin x x x Noradrenalin x x o Fenilefrin x o o Efedrin x x x Norefedrin x x x Oksifedrin o x o Dopamin x x x Dobutamin o x o Serotonin x x - Isoprenalin dan turunannya o x x Salbutamol dan turunannya o o x Isoksuprin o x x Ritodin o o x Nafazolin dan turunannya x o o Amfetamin dan turunannya x o o X : efek utama.: tidak berefek . o : efek ringan.

Penggolongan secara kimiawi 1. amfetamin dan turunannya (efek SSP terkuat). . Derifat feniletil amin • Zat dengan 2 gugus-OH pd cincin-aromatis : Katecholamin (adrenalin. Derivat imidazolin : ksilometazolin. isoprenalin) • Zat dengan 1 gugus-OH (posisi meta) : fenilefrin • Zat tanpa gugus-OH : efedrin. NA. nafazolin dan turunannya yang berdaya dekongestif pada mukosa hidung & efek sentral ringan. 2.

menurunkan ketahanan perifer & dinding pembuluh dg memblok pelepasan NA (alfa-2) & alfa-1. contoh : salbutamol dan turunannya. contoh : fenfluramin dan mazindol • Pada nyeri haid & menghambat kontraksi untuk relaksasi otot rahim (beta-2). contoh : ritodrin . adrenalin dan efedrin • Pada hipertensi . contoh : turunan imidazol. contoh : fenilefrin dan nafazolin • Pada obesitas yaiu untuk menekan nafsu makan. contoh : adrenalin dan noradrenalin(NA) • Pada asma untuk broncodilatasi (beta-2). efedrin dan adrenalin • Sebagai midriatikum guna melebarkan pupil (alfa). contoh : propranolol • Sebagai vasodilator perifer (beta-2) di betis. contoh : buflomedil pd penyakit claudicatio intermittens • Pada pilek guna menciutkan mukosa yang bengkak (alfa). Penggunaan adrenergika • Pada shock guna memperkuat kerja jantung (beta-1) dan melawan hipotensi (alfa-1).

adrenergika menimbulkan efek samping pada jantung dan SSP yaitu jantung berdebar. . hipertensi dan hipertirosis.nyeri kepala. bila digunakan lama. Efek samping adrenergika • Pada dosis biasa. Contoh : efedrin & adrenergik kerja tak langsung karena habisnya cadangan NA. Untuk itu perlu hati-hati jika diberikan pada penderita yang mengindap infark jantung . • Tachyfylaxis. Efek ini semacam resistensi yang terjadi jika diberikan berulang pada waktu yang singkat. gelisah dsb.

Alfa blockers – zat yang memblokir reseptor alfa yang banyak terdapat pada otot polos pembuluh (khususnya pembuluh kulit & mukosa). Adrenolitika / simpatolitika • Dikelompokkan menjadi tiga : 1. – Efek utamanya adalah vasodilatasi perifer. .

terazozin. Quinazolin (prazosin. . tamsulosin) serta urapidil untuk hipertensi dan hiperplasia prostat.– ada tiga jenis alfa blockers : • Alfa blockers tidak selektif contoh : fentolamin untuk hipertensi & disfungsi ereksi. • Alfa-2 blockers selektif contoh : yohimbin (aprodisiaca). • Alfa-1 blockers selektif contoh : derv.

dibagi 2 kelompok : • Beta-1 blockers selektif yaitu melawan efek stimulasi jantung oleh adrenalin & NA (reseptor beta-1).simpatis). contoh : propranolol. .2. Beta. Penghambat neuron adrenergis tidak menghambat reseptor adrenergis tapi menghambat pelepasan catecholamin pada postganglioner dari saraf adrenergis (s. banyak digunakan untuk antihipertensi.blockers. 3. dsb. contoh : guanetidin (untuk terapi glaukoma tertentu). alprenolol. contoh : atenolol dan metoprolol • Beta blockers tidak selektif juga berefek pada reseptor beta-2 (menghambat bronchodilatasi).

– Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil / miosis dan penurunan tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata. vasodilatasi pembuluh darah & penurunan TD.l. dengan mengurangi kegiatan jantung. memperbesar sekresi dahak. • Efek kolinergis yang penting adalah : – Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat periltastik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung. a. – Memperlambat pernafasan dengan menciutkan bronci. karena melepaskan ACh di ujung sarafnya. – menekan SSP setelah di awal distimulasi. . – Memperlambat sirkulasi. Kolinergika / parasimpatomimetika • Kolinergik adalah zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan saraf parasimpatis (SP). • Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dan mengambat penggunaannya. jika SP dirangsang akan timbul efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. – Kontraksi kandung kemih dan ureter sehingga memperlancar pengeluaran urin – Dilatasi pembuluh & kontraksi otot rangka.

di pelat ujung otot lurik. • neurotransmiter dari neuron kolinergik adalah ACh. sinaps. Reseptor muskarinik (M).ganglioner . ada tiga subtipe : reseptor jaringan Efek stimulasi M1 Neuron-neuron aktivasi Ganglia simpatis pelepasan NA naik M2 Myocard kontraksi naik Jaringan nodus bradycardia M3 Kelenjar eksokrin Penyaluran atrioventrikuler berkurang Ileum sekresi pembuluh Relaksasi langsung : kontraksi. • Ada 2 jenis reseptor kolinergik : 1. Reseptor kolinergik • Reseptor kolinergik terdapat pada semua ganglia. via endotel : relaksasi . berada di neuron post. dan neuron post-ganglioner dari SP. & di bagian SSP (sistem ekstrapiramidal).

Reseptor nikotinik (N) – terutama terdapat di pelat – pelat ujung myoneural dari otot kerangka dan di ganglia otonom (SS dan SP). Mis : vasokonstriksi dg kenaikan TD. – Efek nikotinik dari ACh juga terjadi pada perokok karena sejumlah nikotin yang diserap ke dalam darah melalui mukosa mulut. – Stimulasi reseptor N oleh kolinergika (neostigmin dan piridostigmin) menimbulkan efek seperti adrenergik. jadi sangat berlawanan. kegiatan jantung meningkat.2. .

Bekerja langsung bekerja langsung pada organ ujung dengan kerja utama mirip efek muskarinik dari ACh. malathion (obat kutu rambut). contoh : karbachol. pilokarpin. klasifikasi kolinergika • Berdasarkan cara kerjanya. 2. Semua obat ini bersifat hidrofil kecuali arekolin. arekolin. muskarin. contoh : organofosfat & parathion (insektisida). – Ada juga zat-zat yang merintangi/mengikat kolinesterase secara irreversible. kolinergik dibedakan : 1. . Bekerja tak langsung yaitu merintangi penguraian ACh secara reversible / sementara. neostigmin & piridostigmin (antikolinesterase). contoh : fisostigmin.

Penggunaan kolinergika Kolinergika khusus digunakan untuk penyakit : • Glaukoma. contoh : antikolinesterase (fisostigmin. contoh : pilokarpin. karbachol. • Demensia alzheimer. neostigmin). . dan neostigmin • myastenia gravis (kelemahan otot). contoh : karbachol dan neostigmin. rivastigmin • Atonia (kelemahan otot polos). contoh : takrin.

• Antidot untuk keracunan kolinergika adalah dengan pemberian antikolinergika atropin dengan dosis tinggi (melawan efek muskarinik). keringat. dahak. bradycardia. broncokontriksi. mutah. dan air mata. antara lain : mual. peningkatan sekresi ludah. • Kehamilan dan laktasi boleh mengunakan obat-obat kolinergik (per oral) karena bersifat amonium kwaterner tidak melewati plasenta tetapi tidak diberikan secara parenteral karena memicu kontraksi rahim. depresi pernafasan. Efek samping kolinergik • Efek samping kolinegik mirip dengan efek samping stimulasi SP yg berlebihan. diare. .

• Hanya antikolinergik yg bersifat amonium kwaterner saja yg menghambat reseptor N di pelat ujung myoneural & di ganglia otonom. . contoh : pankuronium (relaksansia otot) & ganglion blockers. • Kebanyakan obat antikolinergik tidak bekerja spesifik untuk subtipe reseptor-M. Antikolinergika / parasimpatolitika • Adalah zat yg menghambat reseptor M (di SSP & organ perifer) sehingga melawan efek ACh.

3. . Zat amin tersier : pirenzepin. skopolamin. homatropin. Klasifikasi antikolinergik 1. Alkaloid belladonna : atropin. ipatropium. Zat amonium kwaterner : propantelin. oksibutinin. 2. hyoscyamin. tiotropium.

• Mengurangi pengeluaran kelenjar (ludah. keringat) • Mengurangi tonus dan motilitas saluran lambung- usus dan produksi HCl lambung • Bronkhodilatasi • Meningkatkan frekuensi jantung • relaksasi otot polos dari organ urogenital shg mempercepat pengosongan kandung kemih & meningkatkan kapasitasnya. . • Merangsang & menekan SSP pd dosis tinggi (kecuali zat amonium kwaterner). Efek antikolinergik • memperlebar pupil (mydriasis) & mengurangi akomodasi. dahak.

. Penggunaan antikolinergik 1. contoh : oksibutinin. Sebagai antidot pd keracunan kolinergik (& antikolinesterase). contoh : atropin. empedu. contoh : atropin. 7. untuk memperbesar pupil & mengurangi akomodasi. skopolamin yang digunakan bersama anestesika umum sebelum pembedahan (premedikasi) 5. Sebagai premedikasi pra-bedah. contoh : skopolamin. Sebagai midriatikum. homatropin. contoh : atropin. Sebagai spasmolitik (pereda kejang otot) dari saluran lambung – usus. 6. propantelin. karena instabilitas otot polos kandung kemih.contoh : hyoscyamin. untuk mengurangi sekresi ludah & bronkhi & sbg sedativ berdasarkan efek menekan SSP. Sebagai anti mabuk jalan mencegah mual muntah. dan organ urogenital. contoh : pirenzepin 3. 2. Tukak lambung-usus & gastritis guna mengurangi sekresi HCl . 4. Untuk mengurangi kontraksi spontan & hasrat BAK pada inkontinensi urin.

retensi urin. bingung. obstipasi. . • Pada dosis tinggi timbul efek sentral seperti gelisah. yang lain belum cukup data mengenai keamanannya. midriasis.dan berkeringat. halusinasi. • Kehamilan dan laktasi hanya atropin yang dapat digunakan. eksitasi. gangguan akomodasi. aritmia. • Zat-zat amonium kwaterner dalam dosis tinggi menghasilkan efek nikotinik khususnya blokade ganglion misalnya hipotensi dan impotensi. yakni mulut kering. Efek samping antikolinergika • Efek samping umum (tergantung dosis) adalah berupa efek muskarinik.