P R E S E N TA S I K A S U S

PRESENTASI KASUS

UVEITIS ANTERIOR
Oleh:
Nuraini Sidik
1102011200

Pembimbing :
dr. Agah Gadjali, SpM
dr. Hermansyah, SpM
dr. Henry A. W, SpM
dr. Gartati Ismail, SpM
dr. Mustafa K. Shahab, SpM

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. 1 RADEN SAID SUKANTO
PERIODE 9 Januari 2017-10 Febuari 2017

Identitas Pasien
• Nama : Ny. D
• Tempat tanggal Lahir : Jakarta, 5 Januari 1961
• Umur : 56 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Agama : Islam
• Suku Bangsa: Jawa, Indonesia
• Status: Menikah
• Pendidikan : SD
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Alamat : Jl. Bangka XI C RT OO6 / RW 010 No.6 Kelurahan
• Pela, Kecamatan Mampang, Jakarta Selatan
• Tanggal pemeriksaan : 17 Januari 2017

Anamnesis

Dilakukan autonamnesis , 17 januari 2017

Keluhan utama :
Penglihatan buram dan nyeri periorbita kedua mata bila terkena cahaya sejak 2 tahun
yang lalu.

Keluhan tambahan :
Silau bila melihat cahaya, dan penglihatan menurun.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Ny. D datang ke Poli Mata RS Polri dengan keluhan penglihatan buram secara tiba-tiba dan nyeri
periorbita pada kedua mata bila terkena cahaya sejak 2 tahun yang lalu sebelum berobat ke
rumah sakit. Penglihatan menurun, hanya bisa membaca pada jarak dekat dan merasa seperti
ada benda yang menghalangi penglihatannya. Pasien mengatakan lebih enak melihat pada
keadaan gelap terutama malam hari. Gejala seperti ini sering kali dirasakan oleh pasien.
Pasien mengatakan sering mengalami gejala seperti ini sejak 2 tahun yang lalu, namun karena
keterbatasan dana dan asurasansi dari pihak kantor suaminya yang bekerja sebagai pegawai
negeri sipil di POLSEK Pasar Minggu maka pasien mengutamakan pengangkatan tumor
payudaranya terlebih dahulu yang dilakukan pada tahun 2015. Pasien mengatakan memiliki gigi
berlubang dan sampai saat ini belum pernah pergi berobat ke dokter gigi.
Pasien menyangkal penglihatannya seperti ada bingkai bulat berwarna hitam. Keluhan mual
muntah, demam, sekret pada mata, dan gatal pada mata disangkal oleh pasien. Kegiatan pasien
sehari-hari adalah menjadi ibu rumah tangga dan apabila berpergian menggunakan angkutan
umum dan berpergian dengan sepeda motor.

Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat penyakit seperti sekarang sejak tahun 2015 pada kedua mata kiri dan kanan
• Riwayat menggunakan kaca mata (miopi)
• Riwayat hipertensi disangkal
• Riwayat diabetes mellitus disangkal
• Riwayat mengalami benturan dan trauma disangkal
• Riwayat terkena bahan kimia disangkal
• Riwayat alergi makanan disangkal
• Riwayat alergi obat disangkal
• Riwayat operasi (+) dilakukan Mastektomi ec Ca Mamae pada april dan mei 2015 di RS
Polri

Riwayat Penyakit Keluarga • Riwayat keluarga dan lingkungan dengan penyakit yang sama disangkal • Riwayat hipertensi disangkal • Riwayat diabetes mellitus disangkal .

. Riwayat Kebiasaan • Riwayat kebiasaan pasien menggunakan angkutan umum dan berpergian dengan sepeda motor.

.5 º C. Pemeriksaan Fisik Status generalis • Keadaan umum : Baik • Kesadaran : Composmentis Tanda Vital • Tekanan darah : 120/ 80 mmHg • Nadi : 80x/menit • Respirasi : 20x/menit • Suhu : 36.

Pemeriksaan Ophthalmologi OD OS Visus 5/40 F 2/60 F Gerakan bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah Kedudukan bola mata Ortoforia TIO N/palpasi N/ pada palpasi Supracillia Tenang Tenang .

presipitat (+). Perdarahan (-) Kornea Keruh (+). nodul koeppe (-) ulkus (-). Injeksi siliar (-) injeksi konjungtiva perdarahan (-) (-). keratik Keruh (+). arkus pericorneal vascular injeksi (-) senilis (-). sikatrik (-).nodul koeppe (-) infiltrate keratik presipitat (+). abrasi (-). sikatrik (-). ulkus (-). (+). abrasi (-).Palpebral superior Tenang Tenang Palpebral inferior Tenang Tenang Konjungtiva tarsalis superior Tenang Tenang Konjungtiva tarsalis inferior Tenang Tenang Konjungtiva bulbi Injeksi siliar (-). infiltrate (+). injeksi konjungtiva (-). arkus senilis (-). pericorneal vascular injeksi (-) .

berada sentral. Hipopion (-) Pupil Bentuk irregular. RCL(+). Hipopion (-) Dalam. Kripti (+). Diameter <3 mm. di sentral. miosis. sinekia anterior (-). miosis berada di Bentuk irregular. Kripti (+). flare (+). RCTL(+) Iris Warna coklat. sinekia posterior (+) anterior (-). sinekia Warna coklat.Bilik mata depan/COA Dalam. RCL(+). sinekia posterior (+). flare (+). seklusio (+) Lensa Jernih Jernih Vireus Tidak dilakukan Tidak dilakukan Fundus Tidak dilakukan Tidak dilakukan . RCTL(+) Diameter <3 mm.

32 .• Pemeriksaan Tonometri : menggunakan midriasil 0.5 OS 5/7.5 • Pemeriksaan Retinometri : ODS 0.5% + Efrisel 10% ODS TIO OD 7/7.

Pemeriksaan Mata Klinis .

Pemeriksaan Mata Dengan Slit Lamp Oculi Sinistra (17 januari 2017) .

Kalium L-Aspartate tab 100 mg (Aspar-K) 1x1 . sinekia posterior ODS (+) A : Uveitis Anterior ODS P : . Kontrol (20 Januari 2017) S : Pasien mengeluh kesemutan di tangan dan kaki serta lemas pada tubuhnya O : TIO : OD : 12/7.5 OS : 12/7.5 Bilik mata depan : Flare ODS (+) mulai berkurang Pupil : bentuk irregular ODS .Acetazolamide tab 250 mg (Glaucon) 1x1 .

Oculi Dextra Oculi Sinistra .

Pasien mengatakan sering mengalami gejala seperti ini sejak 2 tahun yang lalu.tiba dan nyeri periorbita pada kedua mata bila terkena cahaya sejak 2 tahun yang lalu sebelum berobat ke rumah sakit. namun tidak pernah berobat. Pasien mengatakan lebih enak melihat pada keadaan gelap terutama malam hari. Pasien mengatakan memiliki gigi berlubang dan sampai saat ini belum pernah pergi berobat ke dokter gigi. Penglihatan menurun. D datang ke Poli Mata RS Polri dengan keluhan penglihatan buram secara tiba. hanya bisa membaca pada jarak dekat dan merasa seperti ada benda yang menghalangi penglihatannya. Kegiatan pasien sehari-hari adalah menjadi ibu rumah tangga dan apabila berpergian menggunakan angkutan umum dan berpergian dengan sepeda motor. Resume Ny. .

7/7.5 • Kornea OD : Keruh (+). 5/7. diameter < 3 mm • Iris OD : Warna coklat.• Pada pemerikasaan oftalmologi didapatkan : • Visus : OD : 5/40 F OS : 2/60 F • TIO : OD : N/Palpasi. berada di sentral . kripti (+). sinekia posterior (+) OS : Warna coklat. keratik prespitat (+). infiltrate (+ • COA : OD : Dalam. Flare (+) • Pupil OD : Bentuk Irregular. sinekia posterior (+). berada di sentral . infiltrate (+) OS : Keruh (+).5 OS : N/Palpasi. diameter < 3 mm OS : Bentuk Irregular. kripti (+). miosis . miosis . keratik presipitat (+). seklusio (+) . Flare (+) OS : Dalam.

Diagnosis Kerja • Uveitis Anterior Oculi Dextra dan Sinistra Diagnosis Banding • Uveitis Non Granulomatosa .

• Menjelaskan pentingnya menjaga higenitas kedua mata • Kontrol Ke poliklinik mata 1 minggu mendatang • Konsul ke dokter gigi . Tatalaksana • Terapi topical • Cendo Efrisel 10% ( Phenylepherin HCL 100mg/ml) 3x1 • Cendo Mydriatil 1% ( Tropicamide 10 mg/ml) 3x1 • Timol 5% ( Timolol Maleat MSD 5mg/ml ) 2x1 • Terapi Sistemik ( 17 januari 2017 ) ( Kontrol 20 Januari 2017) • Antibiotik quionolon (Levofloxacin) 500 mg 1x1 diteruskan • Acetazolamide tab 250 mg (Glaucon) 3x1  Acetazolamide tab 250 mg (Glaucon) 1x1 per hari • Kalium L-Aspartate tab 100 mg (Aspar-K) 2x1 Kalium L-Aspartate tab 100 mg (Aspar-K) 1x1 per hari Edukasi • Menjelasakan cara pemakian obat dan pentingnya menggunakan obat dengan teratur dan sesuai petunjuk.

Prognosis • Quo Ad Vitam : Ad Bonam • Quo Ad Fungsionam : Dubia Ad Bonam • Quo Ad Sanactionam : Dubia Ad Bonam .

korpus siliaris dan koroid. Iritis dan siklitis disebut iridosiklitis atau disebut juga dengan uveitis anterior dan bila mengenai lapisan koroid disebut uveitis posterior atau koroiditis. Peradangan pada uvea dapat hanya mengenai bagian depan uvea atau iris yang disebut iritis. dan koroid (koroiditis). badan kaca dan retina. Trakus uvealis terdiri atas iris. Bagian ini merupakan lapisan vascular yang dilindungi oleh kornea dan sklera. Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya ikut terkena inflamasi. korpus siliar (uveitis intermediet. . uveitis perifer. Bila mengenai badan tengah disebut siklitis. dimana dinding bola mata terdiri atas sklera dan kornea sedangkan isi bola mata terdiri dari atas lensa. Tinjauan Pustaka Bola mata terdiri atas dinding bola mata. siklitis. Struktur ini ikut memperdarahi retina. atau pars planitis). uvea. 1 Uveitis merupakan suatu peradangan pada iris (iritis).

dan koroid. Bagian ini adalah lapisan vascular tengah mata yang dilindungi oleh kornea dan sclera. badan siliaris. Iris dan badan siliaris disebut juga uvea anterior. sedangkan koroid disebut uvea posterior. • Bagian ini juga ikut memasok darah ke retina. . ANATOMI FISIOLOGI • Uvea terdiri dari iris.

Gambar 2.2 Histologis iris dan corpus ciliaris .1 Anatomi mata Gambar 2.

ditengahnya ada celah yang disebut pupil. letaknya di dalam stroma dekat pupil dan dipersarafi oleh saraf parasimpatis N III. Di dalam iris terdapat M. Pupillae yang berjalan radier dari akar iris ke pupil . Fungsi iris adalah mengatur secara otomatis masuknya sinar ke dalam bola mata. Sphincter Pupillae yang berjalan sirkuler.• Iris Suatu membran datar sebagai lanjutan dari badan siliar ke anterior dan merupakan diafragma yang membagi bola mata menjadi 2 segmen yaitu : anterior & posterior. selain itu terdapat M. letaknya dibagian stroma dan dipersarafi oleh saraf simpatis. Iris terbagi menjadi bilik mata depan ( camera oculi anterior) & bilik mata belakang ( camera oculi posterior). • .

Fungsis otot siliar adalah untuk akomodasi.kira 4 mm.• Badan Siliar ( Corpus Ciliaris) Berbentuk segitiga. bagian anterior bergerigi. Terdapat 3 macam otot radier. kontraksi atau relaksasi otot-otot ini mengakibatkan kontraksi dan relaksasi dari kapsula lentis. Corpus ciliaris berfungsi sebagai pembentuk aquos humor. sehingga lensa menjadi lebih atau kurang cembung yang berguna pada penglihatan dekat atau jauh. teridiri dari 2 bagian yaitu : pars korona. yang menonjol (processus ciliaris) berwarna putih (tidak mengandung pigmen) sedangkan pada leukan berwarna hitam mengandung pigmen. Badan siliar banyak mengandung pembuluh darah dimana pembuluh darah baliknya mengalirkan darah ke . pars korona di lapisi oleh 2 lapisan epitel sebagai lanjutan dari iris. sirkuler. dan longitudinal. Dari processus ciliar keluar serat-serat zonula zinii yang merupakan penggantung lensa. panjangnya kira.

Lapisan vaskular: mengandung pembuluh darah besar dan kecil dengan sel- sel pigmen yang terdapat dalam stroma disekitar pembuluh darah. 2. 4. Koroid kapiler : terdiri dari pembuluh-pembuluh kapiler yang teratur. Lapisan koroid terdiri dari : 1. .• Koroid Merupakan bagian paling belakang dari jaringan uvea dan merupakan lapisan antara retina dan sklera. Vaskularisasi uvea dari arteri siliaris anterior dan posterior yang berasal dari arteri oftalmika. koroid berfungsi sebagai pemasok nutrisi kepada lapisan luar retina. Membran bruch : merupakan pelindung yang teratur yang menyuplai makanan melalui bagian dasar retina. 3. Suprakoroid : mengandung sel-sel pigmen jaringan elastis dan kolagen .

dan koroid). Definisi UVEITIS Uveitis didefinisikan sebagai inflamasi pada uveal tract (iris. . Biasanya iritis disertai dengan siklitis yang disebut iridosiklitis. Uveitis anterior merupakan radang iris dan badan siliar bagian depan. korpus siliaris. Uveitis anterior dapat mengenai hanya pada iris yang disebut iritis atau menganai badan siliar yang disebut siklitis.

• Uveitis berpengaruh terhadap 10-20% kasus kebutaan yang tercatat di negara- negara maju. seperti toksoplasmosis. dan tuberculosis di negara- negara berkembang. uveitis merupakan penyebab kebutaan nomor tiga setelah Retinopati Diabetik dan degenerasi makular. Epidemiologi • Insiden uveitis sekitar 15 per 100. • Uveitis lebih banyak ditemukan pada negara berkembang dibandingkan di Negara-negara maju karena lebih tinggi prevalensi infeksi yang dapat mempengaruhi mata.000 orang Sekitar 75% merupakan uveitis anterior. Sekitar 50% pasien dengan uveitis menderita penyakit sistemik terkait. Umur penderita biasanya bervariasi antara usia prepubertas sampai 50 tahun.8 . • Di Amerika Serikat.

sarkoidosis. sindrom reiter. trauma dan infeksi. herpes zoster atau herper simplek. sifilis. Etiologi Penyebab uveitis anterior diantaranya yaitu idiopatik. . juvenile idiopatic arthritis. penyakit chorn. penyakit lyme. penyakit sistemik yang berhubungan dengan HLA-B27 seperti. psoriasis. ankylosing spondylitis. inflammatory bowel disease.

Klasifikasi Berdasarkan patologi Uveitis Granulomatosa Uveitis Non Granulomatosa Uveitis granulomatosa Pada jenis non granulomatosa umumnya mengikuti invasi umumnya tidak dapat ditemukan mikroba aktif ke jaringan oleh organisme patogen dan karena organisme penyebab (misal berespon baik terhadap terapi Mycobacterium tuberculosis atau kortikosteroid diduga peradangan Toxoplasma gondii). ini semacam fenomena hipersensitivitas .

.

Uveitis anterior akut : Onset simptomatik terjadi tiba-tiba dan terjadi kurang dari 6 minggu • b. Berdasarkan klinis dan waktu . Uveitis anterior kronik : onset tidak jelas dan bersifat asimtomatik dan lebih dari 6 minggu . uveitis anterior terbagi : • a.

yaitu : yang terdapat pada diagnosis uveitis anterior kronik adalah : • Uveitis anterior traumatik • Uveitis anterior idiopatik • Uveitis anterior berhubungan dengan • Juvenile Rheumatoid Arthitis HLA-B27 • Uveitis anterior berhubungan • Behcet disease/syndrome dengan uveitis posterior primer • Uveitis anterior berhubungan dengan • Fuch’s Heterochromatic lensa Iridocyclitis • Masquerad syndrome . Beberapa keadaan yang Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan gejala yang berhubungan menghasilkan tanda dan gejala dengan uveitis anterior akut.

fibrin. lensa jadi fibroblas menutup pupil dan TIO menyebabkan terjadi keruh. Gangguan aliran aquous humor pada lensa. fibrin fibroblast menyebabkan sel-sel radang melekat Migrasi eritrosit ke bilik iris melekat pada kapsul pada endotel kornea mata depan. katarak (seklusio / oklusi pupil) glukoma sekunder komplikata patofisiologi uveitis Peradangan menyebar bisa menjadi endoftalmitis dan panofthalmitis . hifema ( bila lensa anterior (sinekia (keratic precipitate) akut ) anterior)) & pada endotel kornea ( sinekia posterior) Gangguan metabolisme sel-sel radang. & sel sel eksogen radang dalam aquos humor alergi . (pada slit lamp tampak rusaknya Blood mekanisme sebagai flare : partikel kecil antigen Aqueous Barrier hipersensitivitas yang bergerak dengan endogen gerak brown ( efek tyndall ) sel sel radang .antigen protein. fibrin.

meskipun proses radang yang hebat sedang terjadi . fotofobia. Sedangkan pada keadaan kronis gejala uveitis anterior yang ditemukan dapat minimal sekali. nyeri. penurunan tajam penglihatan dan hiperlakrimasi. GEJALA KLINIS Gejala akut dari uveitis anterior adalah mata merah.

nodul. • Lensa : pengendapan sel radang. . perubahan kejernihan lensa. oklusi pupil. pengendapan pigmen. berwarna keunguan. pupil mengecil. Gejala Subjektif Gejala Objektif • Nyeri • Injeksi siliar : • Fotofobia dan lakrimasi Gambaran merupakan hiperemi • Penglihatan kabur pembuluh darah siliar sekitar limbus. • Umumnya unilateral • Perubahan kornea : Keratik presipitat • Iris : Hiperemi Iris. sinekia.

ginioskop. . Konjungtiva Terlihat injeksi silier. Kornea : KP (+). permietri Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan darah untuk antinuclear antibody dan rheumatoid factor serta foto rontgen lutut sebaiknya dilakukan. Tekanan intraokular (TIO) . DIAGNOSIS ANAMNESIS Nyeri . Camera Oculi Anterior (COA) : Sel-sel flare dan/atau hipopion. Fotofobia. Kemerahan. Pandangan kabur. Udema stroma kornea. Umumnya unilateral Oftalmologi : Visus biasanya normal atau dapat sedikit menurun. Pemeriksaan Penunjang : Tonometri.

Pemeriksaan Penunjang • Tonometri Schiotz .

• Tonometri Aplanasi Goldmann Agar dapat melihat flourescein. Beban tonometer diatur secara manual sampai kedua setengah lingkaran tersebut tepat bertumpuk. . dipakai filter cobalt blue dengan penyinaran paling terang. Setelah memasang tonometer didepan kornea. pemeriksa melihat melalui slitlamp okuler saat ujungnya berkontak dengan kornea.

.• Gonioskop Gonioskopi dapat menilai lebar sempitnya Dilakukan dengan meletakkan lensa sudut sudut bilik mata depan. (goniolens) di dataran depan kornea setelah diberikan anestesi local. Lensa ini dapat digunakan untuk melihat sekeliling sudut bilik mata dengan memutarnya 360 derajat.

Pada tahap yang sudah lanjut. seluruh lapangan pandang rusak dengan tajam penglihatan sentral masih normal sehingga penderita seolah- olah melihat melalui suatu teropong (tunnel vision). penderita tidak akan menyadari adanya kerusakan lapangan pandang karena tidak mempengaruhi ketajaman penglihatan sentral.• Lapang Pandang (Perimetri) Pada stadium awal. .

. yang harus diperhatikan adalah keadaan papil saraf optik.• Oftalmoskopi Pada pemeriksaan oftalmoskopi. Perubahan yang terjadi pada papil dengan glaukoma adalah penggaungan (cupping) dan degenerasi saraf optik (atrofi).

Tonometer yang dipakai adalah semacam tonometer schiotz dan bersifat elektronik yang merekam tekanan bola mata selama 4 menit dan berguna untuk mengukur pengaliran keluar cairan air mata.• Tonografi Tonografi dilakukan untuk mengukur banyaknya cairan aquos yang dikeluarkan melalui trabekula dalam satu satuan waktu. .

ada kotoran mata dan umumnya tidak ada rasa sakit. Diagnosis Banding • Konjungtivitis. • Glaukoma akut. fotofobia atau injeksi siliaris. Pada konjungtivitis penglihatan tidak kabur. • Keratitis atau keratokonjungtivitis. tidak ditemukan sinekia posterior dan korneanya “beruap”. Pada keratitis atau keratokonjungtivitis. Pada glaukoma akut pupil melebar. respon pupil normal. . Beberapa penyebab keratitis seperti herpes simpleks dan herpes zoster dapat menyertai uveitis anterior sebenarnya. penglihatan dapat kabur dan ada rasa sakit dan fotofobia.

Baik pengobatan topical atau oral adalah ditujukan untuk mengurangi peradangan. . meredakan nyeri pada ocular. menghilangkan inflamasi ocular atau mengetahui asal dari peradangannya. dan mengatur tekanan intraocular. Tujuan dari pengobatan uveitis anterior adalah memperbaiki visual acuity. mencegah terjadinya sinekia. Tatalaksana Penatalaksanan yang utama untuk uveitis tergantung pada keparahannnya dan bagian organ yang terkena.

uveitis anterior mungkin berulang. . PROGNOSIS Kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat didiagnosis secara awal dan diberi pengobatan. terutama jika ada penyebab sistemiknya.

Uveitis anterior dapat Pada pasien ditemukan gigi berlubang disebabkan oleh gangguan kronis. menjalar ke mata atau timbul reaksi alergi mata . Uveitis anterior dapat mengenai hanya pada iris yang disebut iritis atau menganai badan siliar yang disebut siklitis. Uveitis anterior merupakan radang iris dan badan siliar bagian depan. Dan riwayat sering bepergian sistemik ditempat lain. Iris. korpus siliaris. dan koroid). yang dengan kendaraan umum. Pembahasan Teori Kasus Anamnesis Uveitis didefinisikan sebagai Pada kasus ditemukan radang pada inflamasi pada uveal tract (iris. terkena secara hematogen dapat debu.

. keluhan tambahan yaitu silau bila melihat cahaya / sinar matahari pada siang hari dan penglihatan menurun. buram dan nyeri periorbita bla terkena penurunan tajam penglihatan cahayasejak 2 tahun yang lalu. nyeri. fotofobia. Pembahasan Teori Kasus Anamnesis Gejala akut dari uveitis anterior adalah Keluhan utama pasien adalah penglihatan mata merah.

cendo mydriatil 1% 3 x1 menghilangkan inflamasi ocular atau .acetazolamide tab 250 mg (Glaucon) 3x1 .timol 5 % 2x1 mengetahui asal dari peradangannya. levofloxacin 500 mg 1x1 . Terapi sistemik mencegah terjadinya sinekia. b. .kalium l-aspartate ( Aspar-k )2x1 . meredakan nyeri pada ocular. dan mengatur . Terapi topikal adalah memperbaiki visual .antibiotik ( gol quionolon tekanan intraocular.cendo efrisel 10% 3 x1 acuity. Teori Kasus Tatalaksana 2 Tujuan dari pengobatan uveitis anterior a.

kadang Nodul iris kadang .kadang kadang.kadang kadang -kadang Tempat uvea anterior uvea posterior dan posterior Perjalanan akut menahun Rekurens sering kadang kadang Berdasarkan gejala yang timbul pada pasien tersebut maka saya menyimpulkan diagnosis banding pada pasien ini adalah uveitis non granulomatosa . Non Granulomatosa Granulomatosa Onset Akut tersembunyi Sakit Nyata tidak ada atau ringan Fotofobia Nyata ringan Penglihatan kabur Sedang nyata Merah sirkumkorneal Nyata ringan Presipitat keratik Putih halus kelabu besar ( mutton fat ) Pupil Kecil dan tidak teratur kecil dan tidak teratur Synechia Posterior kadang .

Ciliary Body. 1980. 2005. 2007. Pavan-Langston D. • George R.emedicine. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. 143-44. Uveal Tract: Iris. [diakses pada tanggal 22 Juni 2016] • Schlaegel TF. Brown and Company. 2000 • Gondhowiardjo TD. Boston: Little. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy. 1992. 2nd Edition. editors.emedicine. Ilmu Penyakit Mata. The Uvea Uveitis and Intraocular Neoplasms Volume 2. Iritis and Uveitis. Oftalmology Umum.com. Panduan Manajemen Klinis PERDAMI. editors. Uveitis.com [diakses pada tanggal 22 Juni 2016] • Sidiarta I. Jakarta. Uveitis. Uveitis.com/ ph. Jakarta: PP PERDAMI. Wydia Medika: Jakarta. Daftar Pustaka • Vaughan D. uveitis/ • Rao NA. 2006 • Roque MR. http:/www. and Choroid In: Pavan- Langston D.uveitis.34 • WebMD. New York: Gower Medical Publishing. Basic Principles In: Berliner N. Forsters DJ. Ilmu Penyakit Mata. Simanjuntak GWS. 2005 http://www. Non granulomatous Anterior Uveitis.1 .images. http://www.

Terimakasih .