CLINICAL SCIENCE SESSION

KONJUNGTIVITIS

Sinta Nur Apriliyani 12100116296
Of Prengki 12100116199

Preseptor :
Desie Warsodoedi dr., Sp.M

Anatomi

Anatomi
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan
kelopak bagian belakang.
Konjungtiva terdiri dari 3 bagian antara lain :
1. Konjungtiva tarsal/palpebra
hubungannya dengan tarsus sangat erat. Gambaran dari kelenjar
meibom yang ada didalamnya, tampak membayang sebagai garis
sejajar berwarna putih. Permukaan licin, dicelah konjungtiva
terdapat kelenjar henle.

2. Konjungtiva Forniks
struktur seperti konjungtiva palpebra tetapi jaringan dibawahnya
lebih lemah, membentuk lekukan-lekukan, mengandung banyak
pembuluh darah. Dibawah konjungtiva forniks superior terdapat
kelenjar lakrimal dari kraus, juga terdapat muara saluran air mata.

dari limbus. tembus pandang. Konjungtiva Bulbi tipis. Dekat kantus internus. meliputi bagian anterior bulbus okuli. Strukturnya seperti konjungtiva palpebra tetapi tdk memiliki kelenjar.3. Dibawahnya terdapat kapsula tenon. epitel konjungtiva meneruskan diri sebagai epitel kornea. membentuk piika semilunaris yang mengelilingi pulau kecil yang terdiri dari kulit mengandung rambut dan kelenjar “caruncle” .

 Arteri : berasal dari Arteri konjungtiva posterior dan Arteri siliaris anterior kedua arteri ini beranastomosis dan bersama dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskular konjungtiva yang banyak sekali.  Nerve : berasal dari N. . berakhir dibagian palpebra.V(I).

. didukung oleh lamina propria tipis jaringan ikat longgar vaskular. Histology : Terdiri dari epitel kolumnar berlapis. dengan banyak sel-sel kecil yang menyerupai sel goblet. Sekresi lendir dari sel epitel konjungtiva ditambahkan ke lapisan epitel film air mata dan kornea.

 Fungsi Konjungtiva : 1. 2. agregasi folikel-seperti limfosit dan sel plasma (kelenjar getah bening mata) yang terletak di bawah konjungtiva palpebra dan di forniks. 3. Motility of the eyeball. . interferon. Protective function. memungkinkan bola mata bergerak secara bebas ke segala arah tatapan. Articulating Layer. dan prostaglandin membantu melindungi mata. zat antibakteri. imunoglobulin. Permukaan konjungtiva halus dan lembab untuk memungkinkan membran mukosa bergerak dengan mudah dan tanpa rasa sakit. konjungtiva harus mampu melindungi terhadap patogen.

dan eksudat. dalam bentuk akut maupun kronis. 2013. Ophthalmology Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. . Dr. FKUI. Lang. H Sidarta Ilyas. 4th Edition.M : Ilmu Penyakit Mata. DEFINISI Konjungtivitis merupakan proses inflamasi/radang pada konjungtiva yang dicirikan dengan dilatasi vaskular. Reference: Gerhard K. 2000. Jakarta.Sp. infiltrasi selular. Reference : Prof.

Konjungtivitis didefinisikan sebagai suatu peradangan menular atau tidak menular terbatas pada konjungtiva. 2000 . Referensi : Pocket Atlas of ophtalmology.

Salamun. CA: American Academy of Ophthalmology. Konjungtivitis termasuk dalam 10 besar penyakit rawat jalan terbanyak pada tahun 2009. pada berbagai ras.815 kasus pada perempuan.380 kasus pada laki. Balai Penerbit FKUI.749 kunjungan ke departemen mata. Sari Ilmu Penyakit Mata. Tanzil. usia. Walaupun tidak ada data yang akurat mengenai insidensi konjungtivitis. 2nd ed.laki . jenis kelamin dan strata sosial. Zainal. Muzakkir. Sidarta.52. Preferred practice pattern: conjunctivitis. Azhar. penyakit ini diestimasi sebagai salah satu penyakit mata yang paling umum. American Academy of Ophthalmology.46. Jakarta 2004 . San Francisco. 2010 Di Indonesia dari 135. tetapi belum ada data statistik mengenai jenis konjungtivitis yang paling banyak yang akurat Ilyas. total kasus konjungtivitis dan gangguan lain pada konjungtiva sebanyak 99.195 . Epidemiologi Konjungtivitis dapat dijumpai di seluruh dunia.

Faktor Risiko • Daya tahan tubuh yang menurun • Adanya riwayat atopi • Penggunaan kontak lens dengan perawatan yang tidak baik • Hygine personal yang buruk Referensi : panduan prkatis klinis bagi dokter di fasilits pelayanan kesehatan primer IDI 2014 .

Etiologi Etiologi konjungtivitis dibagi menjadi 2 kategori: •Infectious – Bacterial – Viral – Parasitic – mycotic •Noninfectious – persistent irritation (seperti berkurangnya air mata) – refractive error – Allergic – toxic (karena irritants seperti asap. Lang. dll) – Hasil dari penyakit lain seperti (seperti Stevens–Johnson syndrome). Ophthalmology . Reference: Gerhard K. 2000. debu.

Konjungtivitis angularis II. Kerato-Konjungtivitis Folikularis Epidemika b. Konjungtivitis Folikularis akut a. Inklusi Konjungtivitis 2. Konjungtivitis Folikularis 1. Konjungtivitis new castle e. Trachoma . Konjungtivitis kataralis: 1. Konjungtivitis Hemorragic akut d. Konjungtivitis Folicularis Kronik a. Konjungtivitis kataralis akut 2. Konjungtivitis kataralis kronis 3. Demam Faringokonjungtivitis c. Klasifikasi I.

III. Konjungtivitis Purulenta gonokokus 2. Konjungtivitis membranosa V. Konjungtivitis Purulenta 1. Konjungtivitis atopi Referensi : (unpad) . Konjungtivitis Vernalis 2. Konjungtivitis allergi 1. Konjungtivitis Purulenta non-gonokokus IV. Konjungtivitis Flikten 3.

garamycin min 3x1 obat tetes siang hari. Puncak : 3-5 hari. diplobasil morax axenfeld dan basil koch weeks. konjungtivitis lakrimalis. Konjungtivitis traumatika. Konjungtivitis Kataralis Akut inflamasi konjungtiva akut disertai adanya sekret mukoid/mukopurulen. forniks : merah dan bengkak. konjungtivitis oleh cahaya kuat. Pada infeksi virus diberikan sulfasetamid . dan pandangan kabur (bila sekret menutupi kornea).  Patogenesis : Ditularkan melalui droplet infeksi atau kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi dari bakteri. pneumokokus. hiperinjeksi konjungtiva tarsal. Lokal (tetes/salep) : terramycin. blefarospasme. perih. sensasi benda asing. Subjektif penderita : gatal. achromycin.  Etiologi : Infeksi bakteri stafilokokus. Konjungtiva bulbi : kongesti ringan. Diawali pada 1 mata lalu mata lain terinfeksi 2-3 hari. sembuh dalam 10-14 hari. lakrimasi. neomycin. kemicytin. panas pada mata menjalar ke kelopak mata. kadang khemosis. kadang fotofobia. mukus. injeksi konjungtiva. mukopurulent (etiology)  pengobatan : . Berikan antibiotik lokal dan sistemik. Jika ada ulkus kornea ditambah sulfas atripin 16% 2-3 tetes sehari. keluhan >hebat pada malam hari. malam hari pakai salep. Objektif : Konjungtiva tarsal. Konjungtivitis Kataralis 1. Jaga kebersihan mata yang baik . . Sekret : serous.  Gambaran klinis : .

debu.Pemberian Antibiotik lokal/sistemik (tergantung etiology).Kemungkinan gejala sisa dari akut. . iritasi (asap. trikiasis.Eversi pungtum inferior yang menyebabkan epifora. terdapat sedikit sekret mukoid/mukopurulen.Perbaiki ektropion.  Pengobatan : .  Etiology : .Blefaritis . atau diplokokus pneumoni.  Komplikasi : .dll) .aparatus lakrimal .Hasil kultur : infeksi stafilokokus aureus. obt.2.Bersihkan mata dengan boorwater. . hygine yang buruk. Konjungtivitis Kataralis kronis gejala lebih ringan dibanding bentuk akut. stafilokokus viridans.

3. tetrasiklin atau basitrasin. (masa inkubasi 4 hari).Sekret mukopurulen . perih. yang menghasilkan bahan proteolitik yang menimbulkan defek epitel.  Gejala klinis : Subjektif : rasa tidak enak pada mata.  Etiology : basil Moraxella axenfeld.Disertai eksoriasi kulit didaerah yang meradang (sudut kelopak mata) . Objektif : . Pasien sering mengedip.  Pengobatan : Tetes mata sulfasetamid. Zulfas zinc (untuk mencegah proteolitis) . sakit. Konjungtivitis Kataralis angularis bentuk konjungtivitis kataralis kronik yang mengenai konjungtiva bulbi di fissura palpebra pada kantus internus dan eksternus.Pelebaran pembuluh darah konjuntiva bulbi.

konjungtiva bulbi khemosis. minggu kedua dapat timbul keratitis pungtata. 1. konjungtiva tarsal hyperemi. Konjungtivitis Folikularis terdapat hiperplasia jaringan limfoid subkonjungtiva dengan folikel-folikel. . Pengobatan: Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberi sulfasetamid atau antibiotik lokal. kelenjar preaulicular membesar dan nyeri tekan. Keratokonjungtivitis epidemika Etiology : adenovirus tipe 8 (masa inkubasi 5-10 hari). Kekeruhan subepitel yang baru hilang setelah 2bln- 3thn. Gejala klinik : biasanya unilateral lalu menyebar ke mata lainya setelah minggu kedua. kadang terdapat subkonjungtiva bleeding. Objektif : Edema palpebra.

astrigen. sekret serous. pada kasus berat diberikan antibiotik denagn steroid topikal. Demam faringo konjungtivitis Sindroma yang terdiri atas konjungtivitis folikularis akut. dapat terjadi keratitis epitel superfisial atau subepitel. lubrikasi. kadang disertai pembesaran kelenjar limfe preaulicular.2. fotofobia.4 dan7. dengan pembesaran kelenjar preaulicular. Terutama pada anak-anak yang disebarkan melalui droplet atau kolam renang (inkubasi 5-12 hari).  Pengobatan: Hanya suportif : kompres. kelopak mata bengkak dengan pseudomembran.  Gejala : Hiperemia konjungtiva.  Etiology : Adenovirus tipe 3. faringitis dan demam. .

lakrimasi. sekret seromukus. fotofobia.  Pengobatan : Dengan pengobatan simtomatis. kemosis konjungtiva. seperti kelilipan. . Pengobatan antibiotik spektrum luas. Konjungtivitis hemorragik akut  Etiologi : enterovirus type 70 (inkubasi 1-2 hari)  Gejala klinik : Subjektif : Kedua mata iritatif. sakit periorbita. sulfasetamid digunakan untuk mencegah infeksi sekunder. Objektif : edema palpebra.3.

kemosis dan sekret yang sedikit. dapat diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder disertai obat-obat simptomatik.  Gejala klinik : umumnya unilateral. penglihatan kabur. berair. lakrimasi. gatal. terdapat gejala influenza dengan demam ringan.Edema palpebra ringan.Sakit pada mata.  pengobatan : Yang khas tidak ada. dan nyeri sendi. pada konjuktiva tarsal inferior dan superior ditemukan filikel. sakit kepala. Pada kornea dapat terjadi keratitis superfisial. Konjungtivitis new castle  Etilogy : virus new castle yang terdapat pada unggas (inkubasi 1-2 hari). . dan fotofobia. Subjektif : . Objektif : . gambaran spt demam faringo- konjungtiva.4.

Gejala konjungtivitis folikularis akut disertai sekret mukopurulen. Dapat bersifat epidemik karena merupakan swimming pool konjungtivitis.  Pengobatan : sistemik dengan eritromisin lebih efektif dibanding dengan topikal.Pada apusan akan ditemukan inclusion bodies yang sama morfologinya seperti inclusion bodies pada trachoma. . Klamidia menetap didalam jaringan uretra.  Gambaran klinis : . Pada minggu kedua dapat timbul keratitis epitelial. .Pada bayi : timbul 3-5hari setelah lahir. . serviks. Konjungtivitis inklusi  Etiology : klamidia okulogenital (inkubasi 5-10 hari).Pada dewasa : seperti konjungtivitis folikularis akut.5. prostat. kedangkalan disertai neovaskularisasi superfisial. dan epitel rektum untuk beberapa tahun. memberikan gambaran konjungtivitis purulen yang disebut inclusion blerhorrhoe.

eksudasi. mata gatal. . Ditandai dengan adanya benjolan kecil berwarna kemerahan pada lipatan retrotarsal. Trakoma  Etiology : Chlamydia Trachomatis  Epidemiologi : segala umur. sel leber. Konjungtivitis Folikular Kronis Merupakan konjungtivitis yang sering ditemukan pada anak-anak. sel limfoblas. penduduk asli australia. penyediaan air bersih yang tidak sehat. sel plasma. berair. daerah paling banyak terkena adalah semenanjung balkan. padat penduduk. edema palpebra. . Ras yahudi. badan inklusi Halber Statter Prowazeck didalam sel epitel konjungtiva.Histologik : rekasi sel-sel PMN. 1.Penularan melalui sekret langsung maupun dengan benda yang terkontaminasi dengan sekret (inkubasi 5-14hari). india amerika atau daerah dengan hygine yang kurang.  Gejala klinik : Subjektif : fotofobia. .

kadang neovaskularisasi. Sekret : sedikit.  Stadium 4: Konjungtiva tarsal superior: pembentukan parut sempurna yang dapat menyebabkan entropion atau trikiasis. . dan keratitis epithelial ringan. Panuus trakoma jelas ( pembuluh darah yang terletak didaerah limbus atas dengan infiltrat). menurut Mac Callan penyakit berjalan melalui 4 stadium :  Stadium 1 (hiperplasia limfoid): Konjungtiva tarsal superior: hipertropi papil.  Stadium 2: Konjungtiva tarsal superior: hipertropi papil. jernih bila tdk ada infeksi sekunder. Parut folikel pada limbus kornea disebut cekungan Herbert. Objektif : kemosis konjungtiva bulbi. Kornea: sukar ditemukan. folikel yang matang. folikel kecil-kecil. hypertrofi papil.  Stadium 3: Konjungtiva tarsal superior: parut terlihat sbg garis putih yang halus sejajar dnegan margo palpebra. memperlihatkan penebalan dan kongesti pembuluh darah konjungtiva.

keratitis sika.Tetrasiklin 1-1. .Doxycyclin 100mg PO 2x1 selama 3 minggu . trikiasis.5gr/hari PO dlm 4 dosis 3-4 minggu. Pengobatan : .Ertyhromycin 1g/hari dibagi dalam 4 dosis selama 3-4 minggu Pencegahan : hygine yang baik. makanan yang bergizi. kekeruhan kornea. Penyulit : enteropion. .

pada kasus berat dpat terjadi kemosis dan tertutup pseudomembran • Sekret mula-mula serous dengan sedikit pus • Mata nyeri bila dipegang dan terasa panas • Hanya satu yang terkena • Berakhir kurang lebih 2 hari . merah.  Gejala Pada orang dewasa terbagi menjadi 3 stadium penyakit yaitu:  Stadium infiltratif • Palpebra bengkak. merah dan tak rata. KONJUNGTIVITIS PURULENTA 1. dan tegang sampai sulit dibuka • Konjungtiva membengkak. KONJUNGTIVITIS PURULENTA GONOKOKUS Konjungtivitis gonore merupakan radang konjungtiva akut dan hebat yang disertai dengan sekret purulen. konjungtivitis gonore infantarum (usia lebih dari 10 hari) dan konjungtivitis gonore adultorum. Biasanya ditemukan dalam bentuk oftalmia neonatorum (bayi berusia 1-3 hari).

 Stadium supuratif o Pembengkakan palpebra dan konjungtiva berkurang o Rasa sakit berkurang o Keluar sekret purulen hebat secara terus menerus o Berlangsung selama 2-3 minggu dan gejala berkurang secara bertahap.  Stadium penyembuhan o Mata dapat menjadi normal dalam 2-3 minggu o Tetapi lebih sering terdapat stadium pebengkakan berbentuk papel o Terdapat suatu peradangan kronik dari palpebra o Konjungtiva palpebra dari retrotarsal menebal. merah dan terdapat gambaran seperti beludru atau granular yang teratur terutama pada tarsus o Konjuntiva bulbi hiperemis o Berakhir beberapa minggu .

perforasi kornea. . • Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam. Kemudian salep diberikam setiap 5 manit sampai 30 menit.000 IU/kgBB selama 7 hari dan kloramfenikol tetes mata (0.  Penatalaksaan • Pasien dirawat dan diberikan pengobatan dengan penisilin salep dan suntikan.000 Unit/ml setiap 1 menit sampai 30 menit. • Antibiotik sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok. Diagnosis Diagnosis pasti penyakit ini adalah pemeriksaan sekret dengan pewarnaan metilen biru dimana akan terlihat diplokok di dalam sel leukosit.  Komplikasi tukak kornea marginal terutama di bagian atas. Pada stadium penyembuhan semua gejala sangat berkurang. Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap hari mengahsilkan 3 kali berturut-turut negatif. pada bayi diberikan 50.0%). Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari. endoftalmitis dan panoftalmitis sehingga terjadi kebutaan total.000 - 20. Dengan pewarnaan gram akan terdapat sel intraselular atau ekstraselular dengan sifat gram negatif. Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.5-1. Kemudian diberikan salep penisilin setiap ¼ jam.

. • Konjungtivitis bakterial non gonokokus Sering disebabkan oleh stafilokokus dan streptokokus. KONJUNGTIVITIS PURULENTA NON-GONOKOKUS • Inclusion konjungtivitis Disebabkan oleh sejenis riketsiela yaitu klamidia akulogenital. Sering pada bayi dengan ibu yang menderita uretritis non spesifik atau dewasa yang dapat terkena di pemandian karena airnya telah terkontaminasi sehingga sering disebut swimming bath konjungtivitis. • Dakriosistisis/dakriostenosis Tampak mata mengalami sekresi terus menerus dan tampak kotor.

Dapat terjadi perlekatan antara konjungtiva atau simblefaron. pada hari ke 6-10 dapat terjadi penyulit tukak pada kornea akibat infeksi sekunder. stafilokok.Berat: dapat terjadi nekrosis . Biasanya pada anak yang tidak mendapatkan suntikan imunisasi. . Konjungtivitis membranosa Konjungtivitis membranosa merupakan konjungtivitis dengan pembentukan membran yang menempel erat pada jaringan dibawah konjungtiva.  Etiologi Penyebab penyaki ini adalah difteria. pneumokok. dan lepasnya sekret yang banyak.Ringan: didapatkan sekret yang mukopurulen dan kelopak bengkak . dan infeksi adenovirus.  Gejala .

penonjolan ini adalah suatu hiperplasia dan hialinisasi jaringan ikat disertai proliferasi sel epitel dan sebukan limfosit. . dengan rasa gatal berat. Biasanya pada laki-laki mulai pada usia < 10 tahun. terlihat benjolan di daerah limbus. . pada kornea terdapat keratitis. dengan bercak Horner Trantas yang berwarna keputihan yang terletak di dalam benjolan.Pada mata ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada konjungtiva tarsal. Konjungtivitis Alergi 1. Pada tipe limbal. Penderita konjungtivitis vernal sering menunjukkan gejala-gejala alergi terhadap tepung sari rumput- rumputan.Secara histologik. . neovaskularisasi dan tukak indolen. VERNAL Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. sel plasma dan sel eosinofil. . sekret gelatin yang berisi eosinofil atau granula eosinofil.mengenai pasien usia muda antara 3-25 tahun dan kedua jenis kelamin.

Pada tipe ini terdapat hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik gelatin. Bentuk limbal.  Pengobatan : • Antihistamin dan desensitisasi mempunyai efek yang ringan. Pada tipe ini terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. maka dapat diberikan radiasi. Hati-hati pada pemakaian steroid yang lama. natrium karbonat dan obat vasokonstriktor. Bila tidak ada hasil. atau dilakukan pengangkatan Giant papil. maka diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder disertai . dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea. kromolin topikal dapat mengurangi pemakaian steroid. terbentuknya pannus dengan sedikit eosinofil. • Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa perlu diobati. Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edema. Tetapi dapat pula diberi kompres dingin. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Coble stone) yang diliputi sekret yang mukoid. Bentuk palpebra. Kelainan kornea dan konjungtiva dapat diobati dengan natrium kromolin topikal. Vasokonstriktor. Pengobatan dengan steroid topikal tetes dan salep akan dapat menyembuhkan. Bila terdapat tukak.• Bentuk : 1. Secara klinik papil besar ini tampak sebagai tonjolan bersegi banyak dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler di tengahnya. 2. dengan kelainan kornea lebih berat dibanding bentuk limbal. siklosforin dapat bermanfaat.

. dapat terjadi unilateral atau bilateral.Antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder . . biasanya pada anak-anak dan kadang-kadang pada orang dewasa.Diusahakan untuk mencari dan mengobati penyebab primernya . Konjungtivitis FLIKTEN Konjungtivitis yang disebabkan reaksi alergi.Objektif : Ditandai adanya flikten yang umumnya di daerah limbus.  Gejala klinik: .Preparat steroid lokal dan sistemik memberi hasil cukup baik. • Pengobatan: .Subjektif: Biasanya ada keluhan iritasi dan hiperlakrimasi.Perbaiki keadaan umum. kadang-kadang fotofobia bila kornea terkena . terutama pada penderita dengan gizi yang buruk.

Konjungtivitis Atopi Biasanya ditemukan pada orang yang mempunyai stigmata atopi seperti dermatitis atopi dan asma bronkial. disertai sekret mukoid Pengobatan: -Steroid topikal -Antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder . konjungtiva edema dengan papil. Gejala klinik: -Subjektif: dikeluhkan mata perih. fotofobia -Objektif: didapatkan kulit palpebra yang kering dan mengalami deskuamasi.

PROGNOSIS • Ad vitam: bonam • Ad fungsionam: bonam • Ad sanationam: bonam .

4.. 2000. 5. 8.310(16):1721-1729. Ilmu Penyakit Mata. 6. 7. Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology 17th Edition. Azari AA. Gerhard K.. ditjen yanmed kemkes R. Recker D. Panduan Praktik Klinis Dokter Di Fasilitas Kesehatan Layanan Primer. 2010. . 2014.. DAFTAR PUSTAKA 1. 2007:262-307. Conjunctivitis. 2010. Konjungtivitis. Jama. FK UI. Yulianti S. 3. 2015. FK UNPAD Ilmu Penyakit Mata. 2013. Ilyas S. Ophthalmology. conjunctivitis. Am Acad Opthalmology. Barney NP. Lang GK. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Spraul CW. 2. kelima.