TINEA

CRURIS
Nadiya Afifah
10100113126

Pendahuluan
 Dermatofitosis
adalah penyakit pada jaringan
yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang
disebabkan jamur golongan dermatofita.
 TineaKruris merupakan infeksi superficial kulit
oleh dermatofita.
 Sinonimdari tinea kruris adalah Eczema
Marginatum, Dhobie Itch, Jockey Itch, Ring Worm
Of The Groin.

Definisi
 Tinea kruris adalah penyakit infeksi
jamur dermatofita didaerah genitokrural
(selangkangan/lipat paha, genitalia),
sekitar anus yang dapat meluas ke
bokong dan kadang-kadang sampai
perut bagian bawah.
 Tinea kruris dapat bersifat akut ataupun
kronis, dan dapat diderita seumur hidup.

lebih sering didaerah tropis dan subtropis.  Penyakit ini lebih banyak menyerang pria dari pada wanita.Epidemiologi  Tinea kruris tersebar diseluruh dunia. . terutama pada musim panas dimana orang banyak berkeringat serta kondisi lingkungan yang kotor dan lembab.  Tinea kruris lebih sering diderita oleh orang dewasa dibanding anak.

dan lain- lain. handuk. dan dari serpihan jamur pada pakaian. antara lain obesitas dan derajat perspirasi yang berlebih.Faktor Resiko  Penularan tinea kruris dapat melalui kontak langsung.  Faktor predisposisi lain yang mempengaruhi terjadinya tinea kruris. baik dengan manusia maupun binatang. .

yaitu dari manusia ke manusia (anthropophilic).Etiologi  Dermatofita yang hidup dan memakan keratin diklasifikasikan dalam tiga genus yaitu: Microsporum. .  Penyebab dari tinea kruris ini adalah jamur dermatofita. Trichophyton dan Epidermophyton. Trichopyhton tonsurans (6%)  Dermatofita dapat menginfeksi manusia dengan berbagai cara.  Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) dan Epidermophython fluccosum Trichophyton mentagrophytes (4%). dan dari tanah ke manusia (geophilic). dari binatang ke manusia (zoophilic).

penetrasi melewati dan di antara sel. antara lain asam lemak yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea yang bersifat fungistatik dan kompetisi dengan flora normal. secara in vitro 2 jam setelah terjadinya kontak. Dalam beberapa jam. pertumbuhan dan invasi spora mulai berlangsung. yaitu perlekatan ke keratinosit. ke permukaan jaringan berkeratin setelah melewati beberapa pertahanan pejamu. dan perkembangan respon pejamu.  Pertama adalah berhasil melekatnya artrokonidia.Patogenesis  Infeksi dermatofita melalui tiga proses. . spora aseksual yang dibentuk dari hasil fragmentasi hifa.

Tahap ini dibantu oleh sekresi proteinase.  Proses ketiga adalah perkembangan respon pejamu. lipase dan enzim musinolitik. Respon imunitas seluler yang rusak akan mengakibatkan proses penyakit yang kronis dan berulang. atau Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memegang peranan yang sangat penting dalam melawan dermatofita. Proses kedua adalah invasi spora ke lapisan yang lebih dalam. Derajat inflamasi di pengaruhi oleh status imun penderita dan organisme yang terlibat. manans. suatu zat yang terkandung dalam dinding sel dermatofita ini. . Respon inflamasi dari reaksi hipersensitivitas ini berkaitan dengan penyembuhan pasien. Selain itu. Reaksi hipersensitivitas tipe IV. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke keratinosit. Pengaruh adanya atopi dan kadar IgE yang tinggi juga diduga berpengaruh terhadap kronisitas. yang menjadi nutrisi bagi jamur. dapat menghalangi proliferasi dari keratinosit dan respon imunitas seluler yang memperlambat penyembuhan epidermis.

Terdapat hipotesis menyatakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel Langerhans epidermis dan dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. peran serupa dilakukan pula oleh sel endotel pembuluh darah. Selain oleh sel Langerhans. reseptor Fe dan reseptor C3. Limfokin inilah yang mengaktifkan makrofag sehingga mampu membunuh jamur patogen. dan keratinosit. . Limfosit T yang telah aktif ini kemudian menginfiltrasi tempat infeksi dan melepaskan limfokin. Sel Langerhans berkumpul di dalam kulit membawa antigen ke dalam pembuluh getah bening dan mempertemukannya dengan limfosit yang spesifik. memproduksi IL-1. Sel Langerhans bekerja sebagai Antigen Presenting Cell (APC) yang mampu melakukan fungsi fagosit. fibroblast. mengekspresikan antigen.

penggunaan kortikosteroid dan obat-obat imunosupresif. .Faktor host yang berperan pada dermatofitosis yaitu genetik. Kulit di lipat paha yang basah dan tertutup menyebabkan terjadinya peningkatan suhu dan kelembaban kulit sehingga memudahkan infeksi. usia. jenis kelamin. Penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain juga dapat menyebabkan terjadinya tinea kruris. obesitas. misalnya tinea pedis pada daerah kaki. merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit jamur. Faktor lingkungan. berupa higiene sanitasi dan lokasi geografis beriklim tropis.

Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). .  Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.Patofisiologi  Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan.

Selain afinitas ini lebih susah untuk massing-masing jamur terserang jamur. zoofilik. berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut. Faktor virulensi dari dermatofita Faktor trauma Virulensi ini bergantung Kulit yang utuh pada afinitas jamur apakah tanpa lesi-lesi kecil jamur antropofilik. geofilik. . Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian dalam.

penyakit jamur dimana banyak pada golongan keringat seperti sosial dan ekonomi pada lipat paha. Faktor virulensi dari dermatofita Faktor trauma Kedua faktor ini Faktor ini jelas sangat memegang peranan berpengaruh penting pada infeksi terhadap infeksi jamur dimana jamur. tampak pada terlihat insiden lokalisasi atau lokal. yang lebih rendah sela-sela jari paling sering ditemukan sering terserang daripada golongan penyakit jamur. ekonomi yang baik .

.

2. Dapat pula meluas ke supra pubis dan abdomen bagian bawah. intergluteal sampai ke gluteus. atlit olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatophytosis. menderita diabetes mellitus. aktif berolahraga. tentara. bertukar pakaian dengan orang lain.Anamnesis 1.  Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat. 3. Faktor Resiko:  Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. . Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan dapat meluas ke sekitar anus. memakai pakaian ketat.  Pasien berada pada tempat yang beriklim agak lembab.

 Tinea kruris mempunyai lesi yang khas berupa plak eritematosa berbatas tegas meluas dari lipat paha hingga ke paha bagian dalam dan seringkali bilateral. baik primer maupun sekunder.Manifestasi Klinis  Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk (polimorfik). .

Pada tepi lesi dapat disertai vesikel. pustul. keluhan gatal merupakan salah satu gejala umum yang menonjol.  Peradangan di bagian tepi lesi lebih terlihat dengan bagian tengah tampak seperti menyembuh (central clearing). Apapun penyebab tinea kruris. Nyeri juga sering dirasakan pada daerah yang terjadi maserasi dan infeksi sekunder. Pada lesi kronis dapat ditemukan adanya likenifikasi disertai skuama dan hiperpigmentasi . terkadang terlihat erosi disertai keluarnya serum akibat garukan. dan papul.

distal lipat paha.1. likenifikasi. sedikit berskuama. dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis 2. Pada infeksi akut. Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama 6. Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi 5. Daerah bersisik 3. Perubahan sekunder dari ekskoriasi. dan impetiginasi mungkin muncul karena garukan 8. Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis . dan mungkin terdapat pustula folikuler 9. bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif 4. Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal. Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit eritematus. Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena 7.

. Teknik ini hanya memiliki sensitivitas hingga 40% dan spesifisitas hingga 70%. Hasil negatif palsu dapat terjadi hingga pada l5% kasus.Pemeriksaan Penunjang 1. sederhana. terjangkau. Pemeriksaan Elemen Jamur Pemeriksaan mikroskopik langsung untuk mengidentifikasi struktur jamur merupakan teknik yang cepat. bahkan bila secara klinis sangat khas untuk dermatofitosis. dan telah digunakan secara luas sebagai teknik skrining awal.

Prototheca sp.werneckii. Pemeriksaan Kultur  Kultur jamur merupakan metode diagnostik yang lebih spesifik namun membutuhkan waktu yang lebih lama dan memiliki sensitivitas yang rendah. disimpan pada suhu kamar 25-30oC selama tujuh hari. Biasanya digunakan hanya pada kasus yang berat dan tidak berespon pada pengobatan sistemik. maksimal selama empat pekan dan dibuang jika tidak ada pertumbuhan. Cryptococcus. Ochroconis gallopava).2. Scytalidium sp. contohnya kloramfenikol. P. dan sikloheksimid untuk menekan pertumbuhan jamur kontaminan/ saprofit (contohnya jamur non-Candida albicans. . Kultur dilakukan untuk mengetahui golongan ataupun spesies dari jamur penyebab tinea kruris. harga yang lebih mahal Pemeriksaan kultur tidak rutin dilakukan pada diagnosis dermatofitosis..  Media biakan yang digunakan adalah agar dekstrosa Sabourraud yang ditambah antibiotik..

beberapa dinding tipis dan tebal. T. floccosum Tidak ada mikrokonidia. rubrum Beberapa mikrokonidia berbentuk air mata. . terkadang hifa spiral. Makrokonidia berbentuk gada. interdigitale Mikrokonidia yang bergerombol. makrokonidia jarang berbentuk pensil. bentuk cerutu yang jarang. E.Morfologi Koloni Gambaran Keterangan Mikroskopis T.

Pewarnaan yang paling sering digunakan adalah dengan periodic acid-Schif (PAS). Biopsi dilakukan untuk penegakan diagnosis yang memerlukan terapi sistemik pada lesi yang luas. .3. Pemeriksaan Histopatologi Biopsi dan pemeriksaan histopatologi tidak dilakukan pada gambaran lesi yang khas. Dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin. jamur akan tampak coklat atau hitam. jamur akan tampak merah muda dan methenamine silver stains. hifa akan terlihat pada stratum korneum.

berskuama. 2.1  Kultur sediaan pada Sabourod’s Dextrose Agar (SDA) untuk menentukan spesies jamur.Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan: 1. Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan KOH 10% untuk mengetahui adanya elemen – elemen jamur seperti: hifa dan spora. . Gambaran klinis yang khas  Tampak lesi yang berupa bercak eritematosa kecil. Anamnesis  Didapatkan rasa gatal yang sangat mengganggu dan gatal semakin bertambah apabila berkeringat. berbatas tegas dengan bagian tepi yang aktif yang berbentuk polisiklik dan bagian tengah lebih tenang dan disertai rasa gatal. 3.

batas tegas. 2. . bercak kemerahan. bersisik. berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Lesi eritroskuamosa. bronki.Diagnosis Banding 1. ukuran 2-4 mm. berupa lenting-lenting yang dapat berisi nanah berdinding tipis. Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas. Candidosis intertriginosa  Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut. kulit. dan kemerahan. Kemudian meluas. Erytrasma  Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum. kuku. basah. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Pada bagian tepi kadang-kadang tampak papul dan skuama. vagina.

bersifat kronik dan residif. 2. dan Kobner. Auspitz.1. Dermatitis Seboroik  Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah kepala dan badan. . berlapis-lapis dan transparan. disertai fenomena tetesan lilin. Psoriasis  Psoriasisadalah penyakit yang penyebabnya autoimun. ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai eksudat dan krusta tebal. Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas.

nylon.Penatalaksanaan 1. Umum  Meningkatkan kebersihan badan dan menghindari keringat yang berlebihan  Menghilangkan faktor predisposisi. misalnya : mengusahakan daerah lesi kering  Mengurangi kelembapan dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat ( karet. . wol )  Tidak memakai peralatan pribadi secara bersama-sama.

asam benzoate 6%. isokonazol pemakaian obat topical saja 1%. dalam petrolatum). Sistemik  Derivate imidazole . sudah cukup efektif. Topical 3. karena bufonazol 1%. atas indikasi tertentu misalnya ketokonazol 2%. lesi yang luas. hari selama 4 minggu. Pengobatan sistemik pada seperti klotrimazol 1%. .  Itraconazole 100 mg/ dioleskan pada daerah hari selama 2 minggu. tinea kruris hanya diberikan mikonazol 2%.  Ketokonazole 200 mg/  Obat digunakan 2x sehari. minggu.2. lesi.  Bahan keratolitik :  Griseofulvin 500 – 1000 Whittfield (asam salisilat mg/ hari selama 2 – 6 3% . dan konazol 2%. pagi dan sore hari. atau  Terbinafine 250 mg/ hari selama 1 – 2 minggu.

5% ketokonazol 2% bifonazol oksikonazol 1% .Pilihan obat antijamur topikal Golongan Imidazol Golongan Alilamin Golongan Naftionat Golongan lain mikonazol 2% naftitin 1% tolnaftat 1% siklopiroksolamin 1% klotrimazol 1% terbinafin 1% tolsiklat salep Whitfield ekonazol 1% butenafin 1% salep 2-4/3-10 isokonazol vioform 3% sertakonazol tiokonazol 6.

Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering 2. pakaian dan handuk yang digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam air panas. 3. . Untuk menghindari penularan penyakit. Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat keringkan dengan handuk dan mengganti pakaian yang lembab 4. tidak ketat dan ganti setiap hari.Edukasi 1. jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi. Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun. 5. Bila gatal.

 Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.Komplikasi  Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. .

Prognosis  Prognosispenyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga . .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.