Acute Abdomen

• Trauma Abdomen
• Perforasi
• Ileus
• Peritonitis

Trauma Abdomen

Penetrasi /Tumpul Trauma Penetrasi / Tajam Kompresi Luka iris atau luka sayat (vulnus scissum) Crush (tekanan) Luka tusuk (vulnus punctum) Shearing Injuries Luka bacok (vulnus caesum) Akselerasi / Deselerasi Luka Tembak . Trauma Abdomen Trauma Non.

. dimana pada keadaan ini trauma terjadi karena adanya suatu alat penahan seperti seat belt yang dipakai secara salah. trauma dada mayor. *Indikasi kecurigaan trauma tumpul abdomen jika ditemukan : unknown bleeding. misalnya kena pinggir bawah stir mobil pada tabrakan kendaraan bermotor. defisit basa. syok. Kekuatan ini akan merusak bentuk organ padat atau berongga dan akibatnya akan menyebabkan ruptur dari organ tersebut. • Decelerasi / accelerasi karena gerakan yang berbeda dari bagian badan yang bergerak dan yang tidak bergerak . • Cedera crush ( tekanan ) pada isi abdomen. fraktur pelvis. hematuria.• Kompresi ( pukulan langsung ). • Shearing injuries. adanya jejas abdomen dan mekanisme trauma yang besar. penurunan kesadaran.

.

Organ / area yang terkena Cedera yang mungkin terkait langsung Fraktur kosta kanan Cedera hepar Fraktur kosta kiri Ruptur lien Kontusio midepigatrium Perforasi duodenum. cedera pankreas Fraktur prosesus tranversalis lumbal Cedera ginjal Fraktur pelvis Ruptur VU. cedera urethra .

posisi korban pasca trauma dan kerusakan kendaraan akibat trauma.  Penetrans : jenis senjata dan jarak. jenis benda. Penilaian pasien dengan trauma abdomen Anamnesis : • Mekanisme trauma • Riwayat trauma  Tumpul : kecepatan. .

perineum dan rektum  Pemeriksaan gluteus . luka tusuk.Pemeriksaan Fisik :  Inspeksi : adanya jejas. bagian usus/omentum yang keluar. vagina. status kehamilan  Auskultasi : mendengarkan bising usus Darah bebas di peritonium / gastrointestinal dapat mengakibatkan ileus  bising usus hilang  Perkusi : redup bila terjadi hematoperitoneum  Palpasi : nyeri tekan abdomen  tanda-tanda peritonitis  Evalusi luka tusuk  Menilai stabilitas pelvis  Pemeriksaan penis. laserasi.

FAST. CT Scan .Pemeriksaan Penunjang : • Pengambilan sampel darah dan urin • Pemeriksaan radiologis : x ray. x ray dengan kontras. DPL.

yaitu nyeri alih (referred pain) melalui n. • Perdarahan hebat  syok hipovolemik berat .Banyak sedikitnya perdarahan . hipotensi atau takikardi • Nyeri abdomen  kuadran kiri atas disertai tanda anemia sekunder • Kehr sign positif.Ada tidaknya organ lain yang ikut cedera . Ruptur Lien • Anamnesis : Riwayat Trauma • Pemeriksaan Fisik : Tanda fisik yang ditemukan pada ruptur lien bergantung pada : .frenikus ke puncak bahu kiri jika ada rangsangan pada permukaan bawah peritoneum / diafragma .Ada tidaknya kontaminasi rongga peritoneum.

000  Foto rontgen :  fraktur iga kiri bawah  peninggian diafragma  letak lambung bergeser mendesak ke arah garis tengah  Gambaran tepi lien menghilang pada pemeriksaan CT scan .• Ciri diagnostik lain :  Peningkatan atau penurunan hematokrit  Leukositosis > 15.

AAST American Association for the Surgery of Trauma (AAST) splenic injury scale .

.

• Splenorafi • Splenektomi Observasi : • Monitoring produksi urin • Evaluasi hemoglobin • Identifikasi ulang menggunakan CT scan 8 -12 minggu untuk mempercepat penyembuhan .Penatalaksanaan : • Tindakan Operatif : • Hipotensi (Tekanan darah sistol < 90 mmHg) • Takikardi (heart rate > 100x/mnt) • Hematokrit < 30% • Protrombin time >14 detik. cedera multipel dan memerlukan transfusi darah.

• Tanda Lokal : Nyeri abdomen difus. hipotensi. kesadaran menurun. . oliguri. Trauma Hepatobilier • Gejala Klinis : Perdarahan Intraabdomen • Tanda Sistemik : Gejala syok hipovolemik. defans muskular. nyeri tekan (+). pucat. takikardi. peristaltik menurun.

AAST liver injury grading system .

AAST liver injury grading system .

USG {intraperitoneal fluid (+)} • Kontrol perdarahan  ligasi. tampon.Penatalaksanaan : • Trauma Tumpul • Konservatif : • Bedrest • Transfusi darah • Koagulan • Antibiotik • Trauma Tajam  Eksplorasi Abdomen • Operatif : • Indikasi  Syok. drainase . Asites (+).

Operatif.Ileus paralitik • Pemeriksaan Laboratorium : Leukositosis • Pemeriksaan Radiologi : .Defans muskuler .Foto polos abdomen  udara bebas subdiafragma • Penatalaksanaan : . jika : peritonitis (+). Trauma Usus Halus • Gejala dan Tanda : . perdarahan hebat (+) .Nyeri abdomen .

besar robekan 5-10 cm. • Pemeriksaan foto Thorax : • Awalnya diafragma terlihat tinggi atau kabur • Bisa berupa hemothorax. atau gambaran diafragma  kabur • Tampak NGT yg terpasang di gaster  terlihat di thorax . Trauma Diafragma • Robekan trauma tumpul lebih sering  posterolateral bagian hemidiafragma kiri.

.

Trauma Pankreas • Umumnya akibat pukulan langsung pada epigastrium • Kadar Amilase awal  Normal. tapi tidak menyingkirkan kemungkinan cedera pankreas. .

AAST
pancreatic
trauma

Ruptur Duodenum

• Robekan pada
duodenum terjadi pada
pengendara yang tidak
menggunakan sabuk
pengaman dan
tabrakan frontal.

Modalitas Diagnostik :

• Pemeriksaan Fisik
• Trauma tumpul
• FAST (Focused Assessment with Sonography in
Trauma)
• DIAGNOSTIC PERITONEAL LAVAGE (DPL)
• ABDOMINAL CT - SCAN
• USG Abdomen
• LAPAROSCOPY

• Trauma penetrans
• Anterior → eksplorasi luka
• Posterior → foto rontgen + kontras

perkiraan jumlah perdarahan yang terjadi serta monitor perkembangan pasien. USG dapat dikerjakan pada trauma tumpul yang tidak stabil. noninvasif. termasuk yang retroperitoneal dan false positif pada fraktur pelvis.  USG Abdomen USG mudah dikerjakan. dapat diulang. namun kurang sensitif pada cedera usus. tetapi tak dapat mengidentifikasi organ yang cedera. akurasinya tergantung tenaga radiologi. cedera intra/retroperitoneal . sensitif dan spesifik untuk perdartahan intraabdomen (90%). . bila tak ada USG dapat dilakukan DPL.  CT-Abdomen CT-Abdomen dapat mengetahui derajat kerusakan organ. DPL Keuntungan DPL dapat dilakukan cepat. komplikasi minimal.

FAST (Focused Assessment with Sonography in Trauma) .

.

DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage) .

.

udara retroperitoneal atau ruptur diafragma akibat trauma tumpul • CT scan + kontras memperlihatkan perforasi organ berongga akibat trauma tumpul dan penetrans . anus. Indikasi Operasi : Berdasarkan evaluasi abdomen : • Trauma tumpul abdomen dengan DPL + • Trauma tumpul abdomen dengan hipotensi berulang setelah resusitasi cairan • Peritonitis difusa • Hipotensi dengan luka tembus • Perdarahan dari gaster. traktus urinarius akibat luka tembus • Luka tembak melalui rongga peritonium atau retroperitonium • Eviscerasi Berdasarkan pemeriksaan rontgen • Udara bebas.

Perforasi .

usus halus. usus besar akibat dari bocornya isi dari usus ke dalam rongga perut. Gaster Perforasi Intestinum Gastrointestinal Minor Intestinum Mayor . Definisi • Perforasi gastrointestinal merupakan suatu bentuk penetrasi yang komplek dari dinding lambung.

Pada pasien yang lebih tua appendicitis acuta mempunyai angka kematian sebanyak 35 % dan angka kesakitan 50 %. Perforasi ulkus duodenum insidensinya 2-3 kali lebih banyak daripada perforasi ulkus gaster. Hampir 1/3 dari perforasi lambung disebabkan oleh keganasan pada lambung. . Sekitar 10-15 % penderita dengan divertikulitis akut dapat berkembang menjadi perforasi bebas. Epidemiologi Perforasi pada ulkus peptikum merupakan penyebab yang tersering.

· Infeksi bakteri: infeksi bakteri ( demam typoid) · Penyakit inflamasi usus : perforasi usus pada paien dengan colitis ulceratif akut. gaster. . · Perforasi sekunder dari colitis iskemik · Keganasan didalam perut atau limphoma · Radiotherapi · Benda asing ( tusuk gigi) dapat menyebabkan perforasi oesophagus. divertikulosis akut. · Kondisi yang mempredisposisi : ulkus peptikum. NSAID. atau usus kecil dengan infeksi intra abdomen. Etiologi · Cedera tembus yang mengenai dada bagian bawah atau perut · Obat aspirin. peritonitis. dan divertikulum Meckel yang terinflamasi. dan perforasi ileum terminal l pada pasien dengan Crohn’s disease. · Luka usus yang berhubungan dengan endoscopic : luka dapat terjadi oleh ERCP dan colonoscopy. steroid. dan sepsis. appendicitis akuta.

pada keadaan lanjut disertai demam dan mengigil. vomitus. · Palpasi dengan halus. Pemeriksaan fisik Inspeksi: tanda eksternal seperti luka. biasanya dengan posisi flexi pada lutut. pola pernafasan dan pergerakan perut saat bernafas. perhatikan ada tidaknya massa atau nyeri tekan. abscess tuba ovarian yang ruptur dan divertikulitis acuta yang perforasi. periksa adanya distensi dan perubahan warna kulit abdomen. dan atau ekimosis. Diagnosa • Gejala klinik • Nyeri perut hebat yang makin meningkat dengan adanya pergerakan diertai nausea. . · Nyeri perkusi mengindikasikan adanya peradangan peritoneum · Pada auskultasi : bila tidak ditemukan bising usus mengindikasikan suatu peritonitis difusa. dan abdomen seperti papan. rasa kembung dan konsistens  perdarahan intra abdominal. Pada perforasi ulkus peptikum pasien tidak mau bergerak. · Pemeriksaan rektal dan bimanual vagina dan pelvis : pemeriksaan ini dapat membantu menilai kondisi seperti appendicitis acuta. abrasi.

.

Terapi konservatif di indikasikan pada kasus pasien yang non toxic dan secara klinis keadaan umumnya stabil dan biasanya diberikan cairan intravena. Intervensi bedah hampir selalu dibutuhkan dalam bentuk laparotomy explorasi dan penutupan perforasi dengan pencucian pada rongga peritoneum (evacuasi medis). aspirasi NGT. Penatalaksanaan Penatalaksaan tergantung penyakit yang mendasarinya. antibiotik. dan dipuasakan pasiennya .

Ileus .

Hambatan Pasase Usus Penyebab – Obstruksi lumen usus – Gangguan peristalsis Ileus =Ileus Obstruksi – Strangulasi – Invaginasi – Sumbatan lumen =Ileus paralitik .

Penyebab Ileus .

Sifat dan Intensitas Nyeri Kolik Intermiten  pada awal obstruksi organ berongga Nyeri Kolik tanpa interval bebas nyeri  Pada obstruksi usus lanjut oleh karena mulai ada iskemi .

muntah – Obstipasi. adakah hernia – Hiperperistalsis: terlihat (bowel countur. terdengar (meteorismus. Diagnosis Gejala dan tanda – Serangan kolik. timpani pada perkusi) – Dehidrasi Foto polos perut: air-fluid level . tidak ada flatus – Oliguri – Perut kembung. mual. adakah bekas operasi. bowel movement).

Pemeriksaan Penunjang Radiologi : foto 3 posisi – toraks tegak – abdomen tegak – abdomen datar Bila perlu – abdomen lateral dekubitus .

Sumbatan usus halus Sumbatan usus kolon Megakolon Toksik .

USG .

perbaikan elektrolit • Pada obstruksi parsial • – Konservatif • Tindakan bedah apabila ditemukan: • – Strangulasi • – Obstruksi total • – Hernia inkarserata • – Konservatif gagal . Penatalaksanaan • Pemasangan NGT • Puasa • Rehidrasi intravena.

Intervensi Bedah Laparotomi – Reseksi usus – By-pass usus – Kolostomi – Ileostomi .

Peritonitis .

 Peritonitis lokal  peradangan pada bagian tertentu dari peritoneum  Peritonitis general  peradangan menyeluruh pada peritoneum . Suatu kumpulan gejala akibat iritasi peritoneum yang dapat disebabkan oleh bakteri. Definisi • Definisi : peradangan pada peritoneum. kimiawi atau darah.

Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. Anatomi & Fisiologi  menutupi usus dan mesenterium  melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis Fungsi peritonium . .Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis .Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan .Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen .

dan diverticulitis sehingga terjadinya penyebaran infeksi ke rongga abdomen • Trauma abdomen • Pemakaian Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) . Etiologi • Penyebaran infeksi dari organ abdomen lain misalnya apendisitis atau salphingitis • Perforasi saluran dan organ pencernaan • Pankreatitis.

Patofisiologi .

Klasifikasi • Klasifikasi a. Peritonitis Bakterial Primer b. Peritonitis tersier . Peritonitis Bakterial Akut Se kunder (Supurativa) c.

. Spesifik : misalnya Tuberculosis 2. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis. dan sirosis hepatis dengan asites. • Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. Penyebabnya bersifat monomikrobial.a. Coli. Peritonitis Bakterial Primer • Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. gagal ginjal kronik. biasanya E. lupus eritematosus sistemik. keganasan intraabdomen. Sreptococus atau Pneumococus. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. yaitu: 1.

perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. • Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal. . misalnya appendisitis. Kuman dapat berasal dari: • Luka/trauma penetrasi. Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa) • Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. • Perforasi organ-organ dalam perut. contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahankimia.

getah lambung. seperti misalnya empedu. • Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung. Peritonitis tersier • Peritonitis yang disebabkan oleh jamur • Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. getah pankreas. dan urine .

Normal Anatomy VS Peritonitis .

• Anamnesis yang penting adalah tentang onset keluhan yang sering berupa : -Nyeri abdomen akut yang ditandai gejala-gejala SIRS. yaitu febris. -Diskripsi sifat nyeri abdomen serta perubahannya pada perjalanan waktu penting pula untuk mendiagnosis kemungkinan etiologinya .

dan “muscle guarding”. Nyeri tekan 2.• Pemeriksaan fisik untuk : menilai tanda vital. anemia. adanya dehidrasi. Nyeri lepas 3. kesadaran pasien merupakan tanda-tanda penting yang harus diperhatikan untuk menilai kemungkinan sudah terjadinya sepsis berat. Tanda-tanda peritonitis ditemukan pada pemeriksaan khusus abdomen yaitu terdapat tanda-tanda iritasi peritoneum : 1. “defence musculair”. bising usus yang menurun sebagai akibat penyebaran pus intraperitoneal . 4. Ditemukan pula tanda-tanda ileus paralitik sperti distensi abdomen.

.

kreatinin. gula darah. lekositosis.Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium : anemia. atau lekopenia. Tanda-tanda ileus paralitik 2. . protein. LFT (Liver Function Test) dan elektrolit penting untuk menilai komplikasi kegagalan organ ganda • Pemeriksaan radiologis “X-ray” pada abdomen dengan tiga posisi menunjukkan 1. Pemeriksaan kimia darah seperti ureum. Pelebaran rongga diantara usus. Hilangnya bayangan pre peritoneal fat 3. dan adanya lymphopenia dan pergeseran ke kiri.

.

Obat-obat vasoaktif dapat diberikan jika terdapat tanda syok setelah volume telah mencukupi.50 C perlu diberikan obat antipiretik untuk mencegah kesulitan saat anesthesia . jika terdapat tanda- tanda hipoksemia. CVP untuk monitor volume dan hemodinamik pasien. dan pemantauan hemodinamik : Pemasangan NGT untuk dekompresi.Penatalaksanaan • Non operatif Sebelum dilakukan operasi perlu dilakukan persiapan operasi yang meliputi sebagai berikut :  Resusitasi cairan : Cairan kristaloid harus diberikan untuk mengatasi dehidrasi atau syok.  Pengendalian suhu tubuh > 38. kateterisasi.  Oksigenasi dan bantuan ventilasi.  Intubasi. ventilasi alveolar yang tidak adekuat. sedangkan darah atau komponen darah diberikan jika ada anemia.  Obat-obatan : Obat analgetik jangan diberikan sampai dengan jelas adanya indikasi operasi.

Pengelolaan bedah didasarkan pada 3 prinsip utama yaitu : -eliminasi sumber infeksi. -mencegah terjadinya infeksi yang yang persisten dan rekuren. . -reduksi jumlah bakteri kontaminan di dalam rongga peritoneum.• Operatif : Tindakan operasi bertujuan untuk mengontrol sumber primer kontaminasi bakteri. sedangkan non-operatif terdiri dari terapi suportif. dan “surveillence” infeksi residual. antibiotika.