PARU

ANATOMI DAN FISIOLOGI

 Di dalam paru sistem percabangan jalan
napas, sistem percabangan
a.pulmonalis dan sistem percabangan
v.pulmonalis merupakan susunan yang
sama.

Mengenai peredaran darah kecil dari
ventrikel kanan ke atrium kiri melalui kedua
paru harus diingat bahwa banyaknya darah
yang masuk dan keluar dari jantung kanan
adalah tepat sama dengan banyaknya darah
yang masuk dan keluar dari jantung kiri.
Curah ventrikel kanan sama dengan curah
ventrikel kiri.
Pebedaan secara Reologik* merupakan
perbedaan tekanan darah di aorta dan si
a. pulmonalis dan kecepatan aliran darah di
dalamnya.

 Pada peredaran darah kecil tekanan
darah rendah dan kecepatan aliran tinggi
sekali, sedangkan tekanan darah di aorta
dan arteri tinggi, sehingga kecepatan
aliran darah rendah.

 Di samping sistem a.pulmonalis dan v.bronkialis Fungsi : untuk memberikan nutrien dan zat asam pada jaringan paru dan berasal dari jantung bagian kiri melalui aorta.pulmonalis ada sistem :  a. .bronkialis  v.

Kedua sistem di atas berhubungan satu sama lain di dalam bronkiolus respoirasi.  Kelenjar limf paru kanan dan kiri terletak di mediastinum pada hilus paru di sekitar bronkus utama dan karina. . Vena bronkialis akan masuk kedalam siatem azigos .  Bila satu sistem terganggu aliranya maka sistem yang lain akan berfungsi sebagai kolateral.

 Kelenjar limf paru kanan pada akhirnya akan masuk ke dalam kelenjar limf skalenus.  Limf paru kiri atas masuk ke dalam kelenjar skalenus kiri dan kemudian ke dalam sistem subklavia kiri. .  Aliran kelenjar limf paru kiri ke bawah dapat mengalir ke arah paru kanan atau ke arah paru kiri atas. yang selanjutnya masuk ke kelenjar limf subkalvia kanan.

.

.

KELAINAN BAWAAN .

Biasanya pengidap tidak dapat bertahan hidup. yang dapat mengenai satu atau dua paru.Agnesis paru Agnesis paru adalah tidak terbentuknya paru.KELAINAN BAWAAN 1. Kelainan ini disebabkan perkembangan yang terhenti sehingga sama sekali tidak ditemukan bekas brankial* atau vaskuler dan jaringan parenkim. .

Hipoplasiaparu Pada hipoplasia paru bronkus terbentuk sempurna tetapi ukuranya sangat kecil.2. Biasanya disertai kelainan bawaan organ tubuh yang lain sehingga umumnya sukar bertahan hidup. .

3. akan sering terinfeksi karena ada hubungan dengan bronkus sehingga menimbulkan keluhan. Lebih dari 50% terletak di paru proksimal. Kelainan ini dapat ditemukan di hilus atau di mediastinum. sehingga jarang terinfeksi. misalnya batuk darah . di hilus.Kista bronkus Istilah kista bronkus meliputi kista bronkus dan kista paru. Lain halnya bila kista terletak di perifer paru. dan di mediastinum. Kista ini umumnya tidak mempunyai hubungan dengan bronkus.

Kelainan ini memerlukan tindakan operasi untuk mengeluarkanya. Diagnosis ditegakkan dengan foto thoraks dan angiografi.Tumor atau massa yang tidak ada hubunganya dengan bronkus disebut skuester paru yang kebanyakan akan terletak intralobus ( 85% ). .

kecuali bila terinfeksi. . Pada foto thoraks akan terlihat bayangan yang dihiperlusen dan pendorongan mediastinum ke sisi yang sehat. yang intralobar dikelilingi jaringan paru normal tetapi sama dengan yang ekstralobar disuplai arteri dan vena sistemik. Kadan kelainan ini asimtomatik.Emfisema lobus (emfisema) Enfisema yang ekstralobar diselubungi pleura sendiri.4. Keluhan penderita biasanya sesak napas.

Diagnosis ditentukan dengan arteriografi yang menunjukan perdarahan sistematik yang khas. . lalu dilakukan reseksi.

Bula yang besar atau banyak . . Kelainan ini bersifat bawaan. pada foto thoraks akan memperlihatkan bayangan radiolusen.5. kadang karena penyakit emfisema paru atau penyakit paru obstruktif menahun.Bulaparu Bula adalah kerusakan satu atau beberapa alveolus yang membesar karena terdesak oleh udara di dalamnya yang tidak dapat keluar dari alveolus tersebut akibat fenomena pentil.

Komplikasi bula adalah pneumotoraks spontan dengan atau tanpa mekanisme pentil. sehingga terjadi pneumotoraks desak. Untuk terapinya diperlukan bulektomi. jika mungkin melalui torakoskopi. .

6.Kelainan arteriovena Kelainan ini dapat dijumpai pada penderita yang mempunyai juga kelainan telengiektasia di tempat lain. dapat terjadi hematotoraks. Mungkin pasien tampak sianosis dengan jari gada karena besarnya hubungan pintas arteriovena di paru. Bila kelainan terletak dekat permukaan paru. .

Diagnosis sedapat mungkin ditegakkan dengan arteriografi dari a. Tetapi mungkin juga secara kebetulan dibuat foto Rontgen dada oleh sebab lain.pulmonalis yang bersangkutan.Diagnosis biasanya dibuat karena kecurigaan adanya hematotoraks atau adanya kelainan seperti di atas. Pengobatanya hanya dengan tindakan bedah. .

PENYAKIT INFEKSI PARU .

PENYAKIT INFEKSI PARU Tindak bedah pada infeksi paru merupakan cara penanggulangan penyulit infeksi tersebut .

Biasanya keaadan pasien jelek yang mungkin merupakan penyebab terjadinya abses dan keadaan umum yang jelek menjadi lebih buruk lagi karena abses. I. . ABSES PARU Abses paru disebabkab oleh infeksi dengan nekrosis parenkim paru.

A. Etiologi Abses paru biasanya disebabkan oleh pneumonia akibat berbagai penyebab seperti obstruksi bronkus karena tersedak benda asing. pascacedera. radang bronkus. Kelainan parenkim seperti kista. atau aspirasi isi lambung. penyusupan abses hati. . keadaan pascamboli. debris septik dari orofaring pun termasuk penyebab. atau tumor.

Faktor kausal tanbahan terjadinya pneumonia dengan abses ialah keadaan umum kurang baik. . karsinomatosis atau penyakit kronik lain. gizi buruk.

B. dan benda asing selalu harus dipertimbangkan sebagai penyebab. Karsinoma paru. Diagnosis Untuk diagnosis buat foto thoraks yang menampakan rongga yang berisi cairan dan udara. . Kadang hanya ada rongga saja seperti kavitas tampaknya. infeksi jamur. abses amebik. tuberkulosis.

Penyulit yang lain ialah fistel bronkopleura. terutama di otak.C. Penyebaran akibat terjadinya sepisis dapat menyebabkan abses di organ lain. emfisema. . pneumotoraks dan perikarditis. Penyulit Dapat terjadi perluasan di jaringan paru sekitarnya sehingga sebagian besar paru hilang.

Penanggulangan Keadaan umum harus diperbaiki dengan rehidrasi dan perbaikan keadaan gizi. Kecuali bila terjadi pendarahan yang secara konservatif tidak dapat diatasi. Harus diingat. Jarang diperlukan lobektomi. .D. Infeksi harus diatasi berdasarkan hasil pemeriksaan biakan kuman. pungsi dan atau penyaliran abses merupakan kunci penanganan.

Sering mulai dari bronkitis atau pneumonia. dan kebanyakan mengenai di lobus inferior. Kira-kira 50% terjadi bilateral. dan penyakit anak seperti batuk rejan. . Kurang lebih dari separo dari penderita sudah dihinggapi sebelum usia tiga tahun. BRONKIEKTASIS Bronkiektasis merupakan dilatasi bronkus yang disertai bronkitis kronik. II. Bronkiektasis juga sering terlihat sebagai akibat atau yang menyertai penyakit tbc paru. distal dari tumor. stenosis bronkus atau infeksi bronkusyang akut atau kronik.

A. kadang batuk darah. dan biasanya sesak napas. Diagnosis dipastikan dengan bronkografi. Selama betahun tahun. . Terutama orang tua. Gambaran kllinik Pasien dengan bronkiektasis biasanya menderita batuk produktif. dapat terjadi hemoptisis dan sering dijumpai dari gada.

penanggulangan Pengobatan konservatif berupa fisioterapi. pemberian anti biotik yang sesuai dengan perbaikankeadaan kesehatan serbaik- baiknya.B. salir sikap. . Pelembapan lingkungan jalan napas dan penggunaan ekspektoran sering dapat meringankan keluhan. penghentian merokok.

Tindakan bedah berguna sekali untuk bronkiektasis yang terbatas. misalnya bronkiektasis satu lobus saja yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan konservatif. . asalkan dioperasi atas indikasi yang tepat. Lobektomi memulihkan kesehatan kembali kepada hampir semua penderita.

kortikosteroid.INFEKSI JAMUR Terjadinya mikosis paru erat hubungannya dengan penggunaan banyak antibiotik spektrum lebar. dan penyakit imunodepresi seperti Aids. III. Bermacam-macam infeksi jamur hanya terbatas pada daerah tertentu. . imunossupresif.

Aspergiloma merupakan massa nekrotik yang bundar bulat yang terdiri dari hifa. dan sel imflamasi. dan pneumonia atau aspergilosis diseminata yang tersebar. Biasanya terdapat kompleks belcher yang merupakan rongga yang dikelilingi jaringan inflamasi paru dengan bola jamur didalamnya . fibrin. aspergiloma atau rongga dengan misetoma.Aspergilosis paru dapat berupa bronkitis dengan atau tanpa reaksi alergik.

jika pengobatan tidak berhasil dan bila ada hemoptisis dapat dilakukan lobektomi. Sering terdapat juga bersama tuberkulosis. . Hemoptisis seing terjadi.Aspergilosis sering ditemukan di lobus atas. Penanganan berupa tindakan konservatif dengan amfoterisin B.

termasuk tuberkulosis paru. terutama pada pasien dengan sputum positif yang menetap.. IV. .TUBERKOLUSIS PARU Tuberkulosis. Tindak bedah dalam hal ini mempunyai dua tujuan. yaitu mempercepat konversi sputum sehingga menghilangkan sumber penularan terhadap keluarga dan masyarakat sekitarnya dan juga mencegah penyebaran secara bronkogenik bagi penderita itu sendiri. Hanya kadang diperlukan tindak bedah setelah mendapat pengobatan secara teratur. diobati dengan tuberkulostatik.

seperti infeksi sekunder atau perdarahan yang juga dicegah dengan operasi mengeluarkan sarang penyulit itu. .Pada penderita dengan sputum negatif sering ditemukan kerusakan pada paru dengan komplikasinya.

otot. Patologi Bronkiektasis dapat terjadi karena kelemahan dinding bronkus yang dapat terjadi akibat fibrosis jaringan paru atau radang dinding bronkus yang merusak lapisan rawan.A. dan serabut elastis dengan akibat akan terjadi pelebaran yang menetap. .

bronkiektasis dengan kerusakan lobus dan bronkostenosis. Dari kavitas maupun bronkiektasis dapat timbul perdarahan yang menyebabkan hemobtisis hebat. yang merupakan keadaan gawat yang memerlukan lobektomi darurat.Kelainan sisa yang tidak dapat diperbaiki dengan terapi konservatif terdiri dari kaverna. .

Indikasi operasi paru tbc setelah penanganankonservatif. . • Sputum positif menetap. • Lesi paru menetap  Kavitas  Bronkiektasis dengan distruksi lobus  Bronkostenosis dengan strikur • Keadaan gawat  Hemoptisis • Penyulit lain  Empiema  Fistel bronkopleura.

Penanggulangan Secara singkat dapat dikatakan indikasi pembedahan pendeita dengan tuberkulosis paru setelah ditangani dengan tuberkulosistatik ialah bedah paru elektik. . Selain itu dapat pula untuk mengeluarkan kelainan akibat destruksi yang tidak dapat dipengaruhi pengobatan konservatif.B. Alasanya antara kain untuk mencapai sputum negatif.

.Tindakan ini juga merupakan operasi darurat pada hemoptisis hebat (bagan diatas). radiologik dan klinik. Pada saat diambil ketetapan apakah penderita akan diteruskan dengan kemoterapi atau akan diusulkan untuk pembedahan.setelah pasien diobati dengan tuberkulostatik diadakan evaluasi kemajuan pengobatan secara bakteriologik.

frenkus atau thorakoplastik. Apabila kuman tuberkulosis sudah resisten maka sukar untuk melakukan tindakan pembedahan sebab pembedahan pada tuberkulosis psru harus dipayungi obat yang masih efektif. ekshaeresis* n.biasanya tidak lagi dikerjakan terapi berupa kolaps paru secara pneumotoraks buatan.Sebaiknya jangan terlalu sering mengadakan penggantian obat antituberkulosis karena dikhawatirkan terjadi resistensi. .

. Didalam hal ini perlu dilakukan persiapan seperti pada operasi luas. Secara khusus diperiksa apakah paru yang ditinggalkan dapat menopang tindakan torakotomi dan kehidupan pascabedah.Pada masa prabedah pasien diperiksa apakah dapat menerima dan menjalani operasi.

. untuk lobektomi tiga persen dan untuk reseksi segmen sekitar satu persen. Prognosis Prognosis penanganan tuberkulosis baik jika belum ada destruksi paru sewaktu pasien didiagnosis.C. Mortalitas pembedahan dapat turun di bawah sepuluh persen. untuk pneumektomi sekitar sepuluh persen.

Kelangsungan penanggulangan tbc paru Penemuan pendeita terapi antituberkulosis selama 6 bulan Klinik Evaluasi Roentgen Bakteriologi sembuh antituberkulosis sembuh Kelanjutan Operasi + antituberkulosis sembuh .