You are on page 1of 16

Diagnosis Banding

Hipertensi kronik

Hipertensi kronik dengan superimpose preeklampsia

Hipertensi gestasional

Eklampsia

Epilepsi
Pencegahan
- ANC
- Kalsium
- Anti trombotik
- Diet makanan bergizi dan sehat tinggi protein dan rendah lemak,
karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak
berlebihan.
- Tirah baring
Tatalaksana
Preeklamsia Ringan
1. Tirah baring (miring) tidak total
2. Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak, garam secukupnya, dan roboransia prenatal.
3. Tidak diberikan obat-obat diuretik, antihipertensi, dan sedatif.
4. Dilakukan pemeriksaan lab: Hb, hematokrit, fungsi hati, fungsi ginjal, dan urin lengkap.
Rawat inap:
Bila tidak ada perbaikan tekanan darah dan proteinuria selama 2 minggu.
Ada satu/ lebih gejala dan tanda preeklampsia berat
Selama di RS, lakukan:
Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lab.
Pemeriksaan kesejahteraan janin: USG, Doppler, dan NST.
Konsultasi ke bagian mata, jantung, dll
Tatalaksana
Preeklamsia Berat
Sikap terhadap penyakit berupa pemberian terapi medikamentosa
Sikap terhadap kehamilan
Tatalaksana
Preeklamsia Berat
- Sikap terhadap kehamilan
a. Perawatan aktif
Indikasi Ibu :

Kegagalan terapi pada perawatan konservatif :

- Setelah 6 jam sejak dimulai pengobatan medikamentosa, terjadi kenaikan darah yang persisten.

- Setelah 24 jam sejak dimulai pengobatan medikamentosa, terjadi kenaikan desakan darah yang persisten

- Adanya tanda-tanda terjadinya impending eklampsia

- Gangguan fungsi hepar

- Gangguan fungsi ginjal

- Dicurigai terjadi solutio plasenta

- Timbulnya onset partus, ketuban pecah dini, perdarahan


Tatalaksana
Preeklamsia Berat
- Sikap terhadap kehamilan
a. Perawatan aktif
Indikasi Janin :
- Umur kehamilan lebih dari 37 minggu

- Adanya tanda-tanda gawat janin (bisa diketahui dari NST nonreaktif dan profil biofisik abnormal)

- Adanya tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat berat (IUGR berat) berdasarkan pemeriksaan USG

- Timbulnya oligohidramnion

Indikasi Laboratorium :

- Trombositopenia progresif yang menjurus ke Sindroma HELLP.


Tatalaksana
Preeklamsia Berat
- O2 3 lpm

- Infus larutan ringer laktat

- Pemberian MgSO4

Pemberian melalui intravena secara kontinyu ( infus dengan infusion pump)

Dosis awal : 4 gr ( 10 cc MgSO4 40%) dilarutkan ke dalam 100 cc RL, diberikan selama 15-20 menit

Dosis maintenance : 10 gr dalam 500 cc cairan RL, dengan kecepatan 1-2 gr/jam (20-30 tpm).

Pemberian melalui intramuskuler secara berkala

Dosis awal : 4 gr ( 20 cc MgSO4 20%) diberikan secara i.v dengan kecepatan 1 gr/menit

Dosis maintenance : selanjutnya diberikan MgSO4 4 gr ( 10 cc MgSO4 40%) i.m setiap 4 jam. Tambahkan 1 cc lidokain 2%
pada setiap pemberian i.m untuk mengurangi perasaan nyeri dan panas.

Bila timbul kejang-kejang ulangan maka dapat diberikan 2 gr MgSO4 40% i.v selama 2 menit, sekurang-kurangnya 20 menit
setelah pemberian terakhir. Dosis tambahan 2 gr hanya diberikan sekali saja. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap
kejang maka diberikan amobarbital 3-5 mg/kgbb/i.v perlahan-lahan.
Tatalaksana
Preeklamsia Berat
-Pemberian antihipertensi
Tekanan darah mulai dari 160/110 mmHg. Obat anti hipertensi yang dapat digunakan
antara lain nifedipin, nikardipin dan metildopa. Nifedipine diberikan 10-20 mg oral,
diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 jam.
-Pemberian diuretik
Diuretik tidak boleh diberikan pada pasien preeklampsia karena dapat memperberat
hipovolemia. Pemberian diuretik seperti furosemid atau sejenisnya hanya boleh
dilakukan jika terbukti adanya edema paru, edema anasarka dan payah jantung
kongestif. Pasien dapat diberikan injeksi furosemid 40 mg.
-Pemberian antasida
Antasida dapat diberikan untuk menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak
kejang dapat menghindari risiko aspirasi asam lambung (Angsar, 2010).
-Pemberian kortikosteroid
Kortikosteroid dapat diberikan jika terdapat indikasi darurat yang mengharuskan
kehamilan diakhiri pada usia 24 34 minggu untuk mempercepat pematangan paru
janin
Tatalaksana
Preeklamsia Berat
- Sikap terhadap kehamilan
a. Perawatan konservatif
Kehamilan tetap dipertahankan sehingga memenuhi syarat janin dapat dilahirkan,
meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibu.
Indikasinya pada kehamilan kurang bulan (< 37 minggu) tanpa disertai tanda-tanda
impending eklampsia dengan keadaan janin baik (Sastrawinata, 2003).
Sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan secara aktif. Hanya dosis
awal MgSO4 tidak diberikan i.v. cukup i.m. saja (MgSO4 40% 8 gr i.m.). Sebagai
pengobatan untuk mencegah timbulnya kejang-kejang dapat diberikan
(Sastrawinata, 2003):
Tatalaksana
Preeklamsia Berat
- Sikap terhadap kehamilan
a. Perawatan konservatif
Kehamilan tetap dipertahankan sehingga memenuhi syarat janin dapat dilahirkan, meningkatkan
kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibu. Indikasinya pada kehamilan
kurang bulan (< 37 minggu) tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin
baik.
a) Larutan sulfas magnesikus 40 % (4 gram) disuntikan IM pada bokong kiri dan kanan sebagai dosis
permulaan, dan dapat diulang 4 gram tiap 6 jam menurut keadaan. Tambahan sulfas magnesikus hanya
diberikan bila diuresis baik, reflek patella positif, dan kecepatan pernapasan lebih dari 16 kali per menit

b) klorpromazin 50 mg IM

c) diazepam 20 mg IM
Tatalaksana
Preeklamsia Berat
- Sikap terhadap kehamilan
Untuk penderita pre eklampsia diperlukan anestesi dan sedativa lebih banyak
dalam persalinan. Pada kala II, pada penderita dengan hipertensi, bahaya
perdarahan dalam otak lebih besar, sehingga apabila syarat-syarat telah terpenuhi,
hendaknya persalinan diakhiri dengan cunam atau vakum. Pada gawat janin,
dalam kala I, dilakukan segera seksio sesarea; pada kala II dilakukan ekstraksi
dengan cunam atau ekstraktor vakum.
Tatalaksana
Eklampsia
-Bila timbul kejang-kejang ulangan maka dapat diberikan 2 gr MgSO4 40% i.v selama 2 menit, sekurang-kurangnya
20 menit setelah pemberian terakhir. Dosis tambahan 2 gr hanya diberikan sekali saja. Bila setelah diberi dosis
tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital 3-5 mg/kgbb/i.v perlahan-lahan.
Perawatan pasien dengan serangan kejang :
- Pasien yang mengalami kejang-kejang secara berurutan ( status konvulsivus), diberikan suntikan benzodiazepine 1
ampul (10 mg) i.v perlahan-lahan

- Bila pasien masih tetap kejang, beri suntikan ulangan benzodiazepine i.v setiap jam sampai 3x berturut-turut

- Selain benzodiazepine, berikan juga phenytoin ( untuk cegah kejang ulangan) dengan dosis 3x200 mg (2 kapsul)
pada hari kedua dan 3x100 mg (1 kapsul) pada hari ketiga dst

- Apabila setelah pemberian benzodiazepine i.v 3x berturut-turut pasien masih kejang, maka berikan tetes valium (
diazepam 50 mg/5 ampul dalam 250 cc NaCl 0,9%) dengan kecepatan 20-25 tpm selama 2 hari.
Komplikasi
-Impending Eklampsia
Preeklampsia berat dapat mengarah menjadi
impending eclampsia dan menjadi eclampsia.
Impending eclampsia adalah gejala-gejala oedema,
protenuria, hipertensi disertai gejala subyektif dan
obyektif.
Gejala subyektif antara lain : nyeri kepala,
gangguan visual dan nyeri epigastrium. Sedangkan
gejala obyektif antara lain hiperreflexia, eksitasi
motorik dan sianosis
Komplikasi
a. -Sindroma HELLP
Merupakan sindrom kumpulan gejala klinis berupa gangguan fungsi hati, hepatoseluler (peningkatan enzim hati [SGPT,SGOT], gejala subjektif [cepat
lelah, mual, muntah, nyeri epigastrium]), hemolisis akibat kerusakan membran eritrosit oleh radikal bebas asam lemak jenuh dan tak jenuh. Trombositopenia
(<150.000/cc), agregasi (adhesi trombosit di dinding vaskuler), kerusakan tromboksan (vasokonstriktor kuat), lisosom (Manuaba, 2007).

a. Perdarahan otak

b. Gagal ginjal

c. Hipoalbuminemia

d. Ablatio retina

e. Edema paru

f. Solusio plasenta

g. Hipofibrinogenemia

h. Hemolisis

i. Prematuritas, IUGR dan kematian janin intrauterin

j. Komplikasi Lain

Lidah tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejangkejang pneumonia aspirasi dan DIC (disseminated intravascular cogulation)
Prognosis
Prognosis PEB dan eklampsia dikatakan jelek karena kematian ibu
antara 9,8 20,5%, sedangkan kematian bayi lebih tinggi lagi, yaitu 42,2
48,9%. Kematian ini disebabkan karena kurang sempurnanya pengawasan
antenatal, di samping itu penderita eklampsia biasanya sering terlambat
mendapat pertolongan. Kematian ibu biasanya karena perdarahan otak,
decompensatio cordis, oedem paru, payah ginjal, dan aspirasi cairan
lambung. Sebab kematian bayi karena prematuritas dan hipoksia
intrauterin (Artikasari, 2008).