You are on page 1of 15

PATOFISIOLOGI

BRYAN LEWAHERILA
(Fasilitator)
CHANDRA I. MANDOWEN
GALUH M. ARTAMTI
MARILYN K. SIMBONG
MEIS HARIANDJA
MOHAMAD SAFI’I
NUGROHO P. YUDHO
OBET N. NAA
SELVIANA H. RANGAN
SUSANA A.P. KBAREK
TRIWAHYUNI R.D. ARTASARI
TERIANUS BISARABISI

RPS: tidak sadar dialami sejak 2 jam yang lalu. nadi 80x/menit dan suhu 38°C. konjungtiva anemis dan sklera ikterik. sebelumnya pasien panas tinggi yang dialami sejak 3 hari yang lalu timbul hilang. yang diikuti dengan mengigil dan berkeringat dingin. dan hapusan darah tipis terdapat bentukan sausage . Terdapat splenomegali dan hepatomegali. Pemeriksaan penunjang: didapatkan Hb 7 g/dL. Didapatkan respirasi 24x/menit. Pemeriksaan fisik: didapatkan tubuh kuning. urin 100cc/24 jam.Skenario C Seorang laki-laki berusia 30 tahun dibawa oleh keluarganya karena tidak sadar.

Kata Sulit • Panas: Meningkatnya suhu tubuh • Mengigil: Perasaan dingin disertai dengan getaran tubuh • Keringat: Air yang dikeluarkan oleh kelenjar keringat • Sklera ikterik: Pigmentasi kekuningan di sklera • Splenomegali: Pembesaran Lien • Hepatomegali: Pembesaran Hati • Sausage: bentukan seperti sosis .

Bagaimana penanganan dari malaria berat? . Apa diagnosis banding dari demam? 4. Apa yang menjadi komplikasi dari malaria berat? 6. Apa diagnosis dari kasus tersebut? 2.Learning Objective 1. Bagaimana mekanisme dari demam? 3. Bagaimana mekanisme patofisiologi dari malaria berat? 5.

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 1. Diagnosis Pemeriksaan Fisik: • Nadi 80x/menit Heteroanamnesis • Respirasi 24x/menit • Suhu 38°C Jenis kelamin: laki-laki • Konjungtiva anemis Usia: 30 tahun • Sklera ikterik Keluhan: • Hepatomegali • Panas tinggi sejak 3 • Splenomegali hari Pemeriksaan Penunjang: • Menggigil • Hb 7 g/dL • Berkeringat dingin • Urin 100 cc/24 jam • Terdapat bentukan sausage Diagnosis: Dari keluhan. pasien pada kasus di diagnosis mengalami penyakit malaria berat. .

.

TNF PGE 2 Anterior hypothalamus Set point thermonegulator (37°C) Produksi panas (kontraksi otot Konservasi panas (vasokonstriksi) Involunter/menggigil) DEMAM . makrofag. tumor) Monosit. sel imun lain Interleukin (IL-1. toksin. Mekanisme Infeksi Demam Pirogen eksogen (kuman. sel endotel.2. IL-8). α-interferon. IL-6.

3. Diagnosis banding dari Demam • Hepatitis • Thypus • Demam Berdarah Dengue (DBD) .

4. Mekanisme patofisiologi dari Malaria berat .

Hipoglikemia O2 dari Eritrosit Glikolisis Anaerob Konjungtiva Pemecahan Hb Akumuliasi Asam Laktat Anemis oleh Makrofag Nitrit Oksidasi ↑ Bilirubin Peroksida Lipid Demam Ikterus Hipoksia Splenomegali Tidak Sadar Tubuh Kuning Sklera Ikterik . Respon imun ↓ Pengikatan Keluarnya Hb Gagal Ginjal 5. Umur Eritrosit Oliguria Falciparum memendek 3. Falciparum ↓ Interaksi Hb dan 1. Pembentukan Rosette Hb 7 dinding sel Eritrosit 2. P. Gumpalan perlekatan terhadap eritrosit yang terinjeksi P. Pelepasan sitokin lokal ATN 4. Falciparum Sel Parenkim Hati Hepatosit Lisis Hiperplasia Hepatomegali Eritrosit terinfeksi Membran sel abnormal P.

5. Komplikasi malaria berat • Gagal Ginjal • Stroke • Radang otak (meningitis/ensefalitis) • Tifoid ensefalopati • Leptospirosis berat • Glomerulonefritis akut/kronik • Sepsis .

Sesak nafas .Muntah terus menerus .6mg/kgBB atau 1 ampul dan 24 untuk orang dewasa.2 mg/kgBB pada hari I Hari Pertama : 2. 12 Hari Berikutnya : 1.Pucat/anemia berat.Kesadaran menurun .Jaundice (kuning) . . Pasien datang dengan gejala malaria berat: .4mg/kgbb setiap hari sampai 1xsehari sampai pasien sadar pasien sadar Bila sudah dapat makan-minum : ganti dengan tablet ACT selama 3 hari + Primakuin pada hari 1 .4 mg/kg bb pada jam ke 0. Intravena (IV)/ Artemeter injeksi 80 mg/ampul Intramuscular(IM) Intramuscular(IM) Hari Pertama : 3.Keadaan Umum (KU) : Lemah . intramuskular (IM) Hari Berikutnya : 2.Hemoglobinuria .Kejang-kejang Periksa Sediaan Darah dengan Mikroskop / Rapid Diagnostik Test Hasil : Plasmodium falciparum (+) Artesunate injeksi atau Artemeter injeksi Artesunae injeksi 60 mg/ vial . Hb <7gr% Penatalaksanaan .Gejala syok .Demam tinggi 6.

3. thypus.KESIMPULAN 1. leptospirosis berat. Patofisiologi terjadinya malaria berat disebabkan oleh infeksi P. radang otak (meningitis/ensefalitis). . Komplikasi malaria berat adalah gagal ginjal. Mekanisme demam adalah adanya pengaktifan PGE2 dari pirogen endogen membuat anterior hipotalamus meningkatkan set point level (37°C). 5. falciparum pada eritrosit melalui air liur nyamuk Anopheles betina. tifoid ensefalopati. 6. demam berdarah dengue (DBD). glomerulonefritis akut/kronik. dan sepsis. Penanganan pada malaria berat dapat dilakukan dengan tindakan umum dan pemberian obat-obatan. stroke. 4. Diagnosis banding dari demam : hepatitis. Diagnosa pada kasus tersebut adalah penyakit malaria berat 2.

FK UI: Jakarta . 2008. dkk. EGC: Jakarta • Corwin. Newman. 2010. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. EGC: Jakarta • Sutanto. Buku Saku Patofisiologi. 2005. 2009. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6 volume 1. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. DAFTAR PUSTAKA • Dorland. Wilson. Edisi revisi 3. EGC: Jakarta • Price.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH .