You are on page 1of 40

Oleh: Novvi Fitria Ayu S.

Ked (G1A109052)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT/KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014

 Obat bahan untuk diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi.
 WHO, penggunaan obat rasional  pasien menerima
pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam
dosis yang sesuai dengan kebutuhan individual, untuk
jangka waktu yang tepat dan dalam biaya terapi yang
terendah bagi pasien maupun komunitas mereka.
 Di beberapa studi baik dari negara maju maupun
berkembang, menggambarkan adanya polifarmasi,
penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi atau
pengobatan yang seharusnya tidak mahal, penggunaan
antibiotik yang tidak tepat dan pengobatan sendiri yang
tidak rasional

 WHO menyimpulkan sekitar lebih dari 50% obat yang
diresepkan, dibagikan, dan dijual tidaklah tepat. Dan
sekitar 50% pasien tidak mengonsumsi obat dalam
aturan yang benar.
 Pada puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang
monitoring peresepan dilakukan pada penyakit ISPA
non pneumonia (J.00), diare non spesifik (A.09) dan
Myalgia (M.79) dan belum diketahui pelaksanaan
penggunaan obat rasionalnya

 Tujuan Umum
Mengidentifikasi dan mencari masalah dalam pelaksanaan
penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74
tanjung pinang pada November 2013 sampai Januari 2014

 Tujuan Khusus
 Mengidentifikasi masalah-masalah dalam pelaksanaan
penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74
tanjung pinang pada November 2013 sampai Januari 2014
 Mengidentifikasi prioritas masalah dalam pelaksaan
penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74
tanjung pinang pada November 2013 sampai Januari 2014
 Mencari alternatif pemecahan masalah dalam pelaksaan
penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74
tanjung pinang pada November 2013 sampai Januari 2014

tepat obat. aman. bermutu. harga terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan. tepat dosis obat. Penggunaan obat rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi.  Obat-obatan tersebut digunakan secara rasional (tepat indikasi. tepat pasien dan waspada terhadap efek samping obat). tepat dosis. . tersedia setiap saat dan harga terjangkau  Tersedianya obat yang efektif. cara dan waktu pemberian. diagnosis.

Tepat pemilihan obat. Tepat diagnosis 2. 3. 15. Tepat interval waktu pemberian. Tepat informasi. 7. Tepat lama pemberian. 12.Menurut Depkes penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria: 1. 8. 14. 5. tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau. Sesuai dengan indikasi penyakit. 13. 10. 4. Tepat penyerahan obat (dispensing). Tepat dosis. Waspada terhadap efek samping. Tepat tindak lanjut (follow up). Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin serta 11. 9. 6. . Tepat cara pemberian. Tepat penilaian kondisi pasien. Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan.

 Peresepan kurang (under prescribing).  Peresepan majemuk (multiple prescribing)  Peresepan salah (incorrect prescribing) .Menurut Departemen Kesehatan (2007) Penggunaan obat yang tidak rasional dapat dikategorikan sebagai berikut :  Peresepan berlebih (over prescribing).

 Pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder.  Pengumpulan data  24-01-2014 sampai 6-02-2014  Pengolahan Data Mengidentifikasi masalah-masalah yang ada prioritas masalah metode MCUA dan PAHO  Fish Bone. .  kemungkinan penyebab masalah dan penyelesaiannya. setelah mendapat penyebab masalah yang paling dominan.  lihat faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pemecahan masalah  rencana usulan kegiatan pemecahan masalah monitoring dan evaluasi.  prioritas pemecahan masalah dengan MCUA.

70%) .Data Sekunder Penggunaan Obat Diare Bulan Jumlah Jumlah Pemberian Polifarmasi Diare Antiobitik Desember 2013 46 40 (86.97%) 17 (36.88%) 11 (34.96%) November 2013 32 23 (71.82%) 5 (14.38%) Januari 2014 34 20 (58.

Penggunaan Obat ISPA non Pneumonia Bulan Jumlah Jumlah Pemberian Polifarmasi ISPA Antiobitik Desember 2013 180 3 (1.67%) 1 (0.6%) November 2013 238 51 (24.31%) 1 (0.4%) .4%) Januari 2014 258 55 (21.43%) 1 (0.

zink. tidak penanggung terdapat masalah-masalah lagi” jawab program penggunaan obat rasional: Dokter “Pemakaian antibiotik pada anak diare cukup dengan Puskesmas pemberian oralit. karena pengobatan simptomatik saja” . serta banyak konsumsi air Tanjung Pinang putih. pemberian antibiotik pada ISPA jika sudah terdapat tanda infeksi sekunder seperti ingus yang sudah hijau. Begitu juga dengan ISPA.Untuk penggunaan obat yang banyak. kuning.Data Primer HASIL WAWANCARA Petugas “penggunaan obat disini sudah cukup rasional. Antibiotik diberikan jika BAB nya berlendir dan berdarah.

terkadang juga terdapat pemberian obat antibiotik yang dicampur dengan obat yang lainnya. sehingga diberikan antibotik.” Petugas Apotek “Pemberian antibiotik kepada pasien cukup tinggi.Selain itu juga pemberian obat yang cukup banyak kepada anak“ .Petugas “Pemakaian antibiotik pada penderita diare dan ISPA kesehatan sangat tinggi disini (Puskesmas Tanjung Pinang) ini Puskesmas dikarenakan pasien diare yang berobat kesini Tanjung Pinang biasanya pasien yang lebih dari tiga hari.

 Empat belas dari tujuh puluh resep yang penulisannya belum sesuai standar . Informasi yang diberikan sangat sedikit kepada pasien.HASIL OBSERVASI  Delapan dari dua puluh orang anak yang berobat dalam satu hari dilakukan pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan  Enam dari sepuluh orang pasien tidak mendapatkan informasi mengenai penjelasan cara pemberian obat. khususnya antibiotik.

Identifikasi Masalah  Pemberian Antibiotik tidak tepat pada indikasi pemberian  Penulisan resep belum sesuai standar  Pulveres antibiotik yang dicampur dengan obat lain  Masih rendahnya informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien  Penggunaan banyak obat .

Menurut salah satu petugas yang memberikan resep alasan diberikan antibiotik karena diare dan ISPA yang lebih dari tiga hari.Konfirmasi Masalah dengan Data 1. Indikasi pemberian Antibiotik: Diare BAB Berlendir dan berdarah ISPA Cairan hidung berwarna hijau dan kental . Seharusnya. Pemberian Antibiotik tidak tepat pada indikasi pemberian Berdasarkan catatan pada buku register didapatkan bahwa sekitar 73% pengobatan pada diare dan 16% pengobatan ISPA diberikan antibiotik.

Penulisan resep belum sesuai standar Dari hasil pengamatan selama satu minggu didapatkan bahwa 14 dari 70 penulisan resep belum sesuai standar .2.

Pulveres antibiotik yang dicampur dengan obat lain hasil wawancara dengan petugas apotek didapatkan bahwa “terkadang juga terdapat pemberian obat antibiotik yang dicampur dengan obat yang lainnya” .3.

Penggunaan banyak obat Dari catatan buku register diketahui bahwa 29% anak dengan diare diberikan pengobatan lima atau lebih. Informasi yang diberikan sangat sedikit kepada pasien. 5. . khususnya antibiotik. Masih rendahnya informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien Dari hasil observasi didapatkan bahwa 6 dari 10 pasien tidak mendapatkan informasi mengenai penjelasan cara pemberian obat.4.

Sekitar 44% anak dibawah lima tahun yang berobat ISPA di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang pada bulan November 2013 sampai januari 2014 mendapatkan antibiotik mendapatkan pengobatan yang pemberian antibiotiknya digabungkan dengan obat yang lain.1. . Sekitar 14 dari 70 penulisan resep belum sesuai standar di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang pada bulan November 2013 sampai Januari 2014 3. Sekitar 73% pengobatan diare dan 16% pengobatan ISPA pada anak dibawah 5 tahun diberikan antibiotik di Puskesmas inpres 5/74 Tanjung Pinang yang belum tepat pada indikasi pemberian pada bulan November 2013 sampai Januari 2014 2.

4. Sekitar 29% pengobatan diare pada anak dibawah 5 tahun pada bulan November 2013 sampai januari 2014 di Puskesmas Tanjung Pinang mendapatkan pengobatan lima macam atau lebih obat . Sekitar 6 dari 10 pasien yang berobat di Puskesmas Tanjung Pinang tidak mendapatkan informasi mengenai penjelasan cara pemberian obat. 5.

Metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assessment) No Pengaruh Pengaruh terhadap terhadap Besarnya Keseriusan JUMLAH kesehatan kesehatan Masalah Masalah masyarakat pasien Bobot 4 5 3 1 Pemberian antibiotik N 8 10 7 2 1 tidak tepat indikasi BN 32 50 21 2 105 pemberian Penulisan resep N 7 8 6 4 2 BN 28 40 18 4 90 belum sesuai standar 3 Pulveres antibiotik N 5 9 4 1 yang dicampur BN 20 45 12 1 78 dengan obat lain 4 Rendahnya informasi N 4 7 5 3 dan edukasi yang BN 16 35 15 3 69 diberikan kepada pasien 5 Penggunaan banyak N 2 4 8 5 obat BN 8 20 24 5 57 .

Tekhnik Scoring PAHO Penentuan Prioritas Masalah No Masalah M S V C Total 1 Pemberian antibiotik tidak tepat 9 10 4 7 2520 indikasi pemberian 2 Penulisan resep belum sesuai 6 5 3 4 360 standar 3 Pulveres antibiotik yang 8 7 5 6 1680 dicampur dengan obat lain 4 Rendahnya informasi dan 7 8 6 3 1008 edukasi yang diberikan kepada pasien 5 Penggunaan banyak obat 4 6 5 2 240 .

maka diperoleh masalah yang prioritas pada adalah: “Pemberian antibiotik tidak tepat indikasi pemberian di Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang” .Dari hasil tabel MCUA dan PAHO diatas.

Pasien datang ke Anamnesis dan Poli Anak Pemeriksaan Fisik Pembuatan Resep Diagnosis Pemili Indikas Cara han i Pember Obat ian Pasien Pulang Ke Apotik / Catat Bagian Farmasi Konseling di Puskesmas .

Manusia Material/Dana Pasien diare dan ISPA Meresepkan obat sering mendapatkan berdasarkan apa yang Tidak ada tim Antibiotik diresepkan oleh seniornya pengawas kefarmasian Tidak dilakukan kultur bakteri Kurangnya pengetahuan Pemeriksaan mengenai indikasi Biaya kultur pemberian antibiotik dan pengobatan Pasien diare dan bakteri yang oleh petugas ISPA sering diberikan mahal kesehatan. antibiotik bukan dokter Pemberian antibiotik tidak tepat indikasi pemberian Pasien diare dan ISPA Anamnesis kepada sering mendapatkan pasien tidak lengkap Antibiotik Pemeriksaan dan pengobatan oleh Pasien datang Kurangnya petugas dengan banyak pengetahuan kesehatan. bukan keluhan mengenai indikasi dokter pemberian antibiotik Lingkungan Proses .

Pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan Dari hasil pengamatan selama satu minggu di poli anak diketahui bahwa 40% anak yang berobat. 2. Hal ini dikarenakan jumlah pasien yang cukup ramai atau dokter yang sedang sibuk.1. Kurangnya pengetahuan petugas kesehatan mengenai indikasi pemberian antibiotik Dari hasil wawancara kepada petugas kesehatan yang memberikan resep alasan diberikan antibiotik karena diare dan ISPA yang lebih dari tiga hari. . dilakukan pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas kesehatan.

3. Dari wawancara kepada petugas apotek bahwa pemberian antibiotik kepada pasien cukup tinggi.Pasien datang dengan banyak keluhan Dari hasil pengamatan diketahui bahwa ada beberapa pasien yang datang dengan banyak keluhan misalnya ISPA dan diare terjadi bersamaan pada satu anak . 4. hal ini juga terlihat pada laporan bulanan obat. bahwa penggunaan antibiotik termasuk kedalam 10 besar penggunaan obat. Hampir semua pasien diare dan ISPA diberikan antibiotik.

Dengan adu argumentasi sehingga diperoleh penyebab yang paling dominan yaitu : Kurangnya pengetahuan petugas mengenai indikasi pemberian antibiotik .

Pembuatan panitia farmasi terapi yang fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tata kefarmasian di Puskesmas . Mempelajari buku pedoman pemberian obat 3.Alternatif-alternatif Pemecahan Masalah 1. Pelatihan mengenai indikasi pemberian antibiotik 2.

Alternatif Pemecahan Masalah Terpilih MCUA untuk Menentukan Prioritas Pemecahan Masalah No Dapat memecahkan Mudah Waktunya Kriteria masalah Murah biaya JUMLAH dilaksanakan singkat dengan sempurna Bobot 5 4 3 1 Pelatihan mengenai N 8 10 7 2 1 indikasi pemberian BN 40 40 21 2 103 antibiotik Mempelajari buku N 7 8 6 5 2 pedoman pemberian BN 35 32 18 5 90 obat 3 N 6 7 5 3 Pembuatan panitia farmasi terapi yang BN 30 28 15 3 76 fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tata kefarmasian di Puskesmas .

 Adanya pelatih yang mampu memberikan pelatihan tentang cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik  Adanya buku pedoman mengenai cara pemberian dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik  Adanya dana operasional untuk kegiatan pelatihan .

 Kurangnya waktu untuk memberikan pengarahan dan bimbingan kepada petugas kesehatan karena banyaknya tugas dan kegiatan mereka dipuskesmas  Kurangnya minat petugas untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri. .

No Kegiatan Tujuan Sasaran Lokasi dan Pelaksana Dana Tolak Ukur Waktu 1 Membuat jadwal Kepastian waktu Petugas Sebelum Petugas Tanpa Biaya Jadwal pelatihan pelaksanaan kesehatan kegiatan Kesehatan kegiatan tepat pelatihan waktu 2 Mempersiapkan Presentan lebih Petugas Sebelum Kepala Tanpa Biaya Materi presentan yang akan siap untuk kesehatan kegiatan Puskesmas presentasi dan memberikan memberikan pelatihan presentan pelatihan pelatihan telah siap 3 Melakukan kegiatan Meningkatkan Petugas Lokasi: Dinkes Kota Dana Meningkatnya pelatihan kepada pengetahuan kesehatan Puskesmas seksi Operasional pengetahuan petugas kesehatan kepada petugas mengirimkan Farmakmin Puskesmas petugas mengenai indikasi kesehatan petugas untuk kesehatan pemberian obat mengenai melakukan mengenai khususnya indikasi pelatihan di indikasi antibiotik pemberian obat Dinkes Kota pemberian khususnya Waktu: obat antibiotik 6 bulan sekali khususnya sehingga ataupun 1 antibiotik pengobatan tahun sekali .

Target mini bulanan petugas pengetahuan petugas indikasi obat di tercapai program penggunaan kesehatan mengenai pemberian puskesmas obat rasional tentang indikasi pemberian obat obat menjadi kendala-kendala dalam khususnya antibiotik rasional pelaksanaan program penggunaan obat rasional seperti indikasi pemberian obat khususnya antibiotik .No Kegiatan Indikator Standar Hasil Selisih Ket 1 Membuat jadwal Jadwal sudah dibuat dan Terlaksana Jadwal . Terlaksana pelatihan disusun pelatihan 100% sudah dibuat 2 Mempersiapkan Presentan mampu Terlaksana Presentan . Terlaksana presentan yang akan mempresentasikan materi menguasai 100% memberikan pelatihan pelatihan dengan baik materi pelatihan dengan baik 3 Melakukan lokakarya Meningkatnya Mengetahui Penggunaan .

No Kegiatan Indikator Awal Akhir Efektivi Ket tas 1 Melakukan Meningkatnya Penggunaan Penggunaan . Ada pelatihan pengetahuan obat di obat di Peningkat petugas petugas puskesmas puskesmas an kesehatan kesehatan belum rasional mengenai mengenai rasional indikasi indikasi pemberian obat pemberian obat khususnya khususnya antibiotik antibiotik .

khususnya antibiotik . tidak tepat cara pemberian. Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang adalah tidak tepat indikasi pemberian. polifarmasi dan informasi yang diberikan kepada pasien mengenai cara pemberian obat masih kurang  Masalah yang diprioritaskan dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang berdasarkan tabel MCUA adalah pemberian antibiotik yang tidak tepat indikasi pemberian  Rencana usulan kegiatan pemecahan masalah yang terpilih dalam pelaksanaan penggunaan obat rasional di puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang adalah diadakannya pelatihan petugas tentang indikasi pemberian obat.

 Sebaiknya pemeriksaan dan penulisan resep dilakukan oleh dokter  Perlu dilakukan pelatihan petugas mengenai cara dan indikasi pemberian obat khususnya antibiotik agar tidak terjadi resistensi obat. .  Perlu dibuat panitia farmasi terapi yang fungsinya mengawasi dan menyempurnakan tentang kefarmasian di puskesmas.

 Setiawati. Geneva  Hogerzeil HV (1995).39.S.A. Journal of Medicine Indonesia. Gan.1-6  WHO. 2007. Suyatna. Promoting rational prescribing. (2002). Pengantar Farmakologi dalam Farmakologi dan Terap Edisi 5. Dalam http://www. an international perspective. Medicines: rational use of medicines.VII/71 tentang peraturan wajib daftar obat . S (2004). Hal.596-612  Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Br J Clin Pharmac 1995. Antibiotic prescription Practices in Six Health Centers in South Sumatra. Jakarta: Departemen farmakologi dan teraupetik fakultas kedokteran universitas Indonesia. Nomor 189/Menkes/SK/III/2006 tentang kebijakan obat nasional  World Health Organization.2012.who. Jakarta: PT ISFI Penerbitan. 14. 44-9. Hal 1-29  Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no 125/kab/B. Informasi obat spesialit Indonesia Volume 47. …. Promoting Rational Use of Medicine: Core Components.int/mediacentre/factsheets/fs338/en/ diunduh februari 2014  Munaf. 2010.

DR. Jakarta. Farmakologi dasar dan klinis.2008. Catatan register anak <5 tahun. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap FKUI.  …………. Penggunaan Obat Rasional. Jakarta. 2006.  Paul W lotholm dan Betram G Katzung. …………. (2005).. Hal 1010-18  Lauralea Edwards dan M. 2007. Jakarta:EGC.. R.  Setiabudi. Hal 1869-81  Promoting rational use of medicines saves lives and money. Dasar Farmakologi Terapi Volume 2 Edisi 10. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Rianto Setiabudi.1998. Direktorat jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional.html) diunduh Februari 2014  Puskesmas Inpres 5/74 tanjung pinang. puskesmas inpres 5/74 tanjung pinang pada bulan November 2013-Januari 2014 .Roden.int/mediacentre/news/notes/2004/np9/en/in dex. Jakarta:EGC. SpFK.who. Prinsio-prinsip penulisan order resep dan kepetuhan pasien dalam Goodman dan Gilman.. Prof. (http://www. Peresepan Rasional dan Penulisan resep dalam Betram G Katzung. Direktorat jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional.