G3 SISTEM MUSKULOSKELETAL”

SPINA BIFIDA”

KELOMPOK 11 :
ARDILLAH
DEVY MAZRIANI
NUR AMALIA ASWA PUTRI

KONSEP MEDIS

DEFINISI

SPINA BIFIDA • Spina bifida (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra) yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh Keadaan ini biasanya .

.

.

Spina bifida okulta 2. klasifikasi 1. Spina bifida dengan meningomielokel . Spina bifida dengan meningokel 3.

Ibu dengan epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya dan mengkonsumsi obat asam valproic . Kekurangan asam folat dalam masa kehamilan. 3. ETIOLOGI Beberapa faktor penyebab spina bifida antara lain : 1. Genetik 2.

kantung tidak tembus cahaya jika disinari 2. tungkai atau kaki 3. adanya seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang) 6. kelumpuhan atau kelemahan pada pinggul. dan lekukan pada daerah sakrum. Gejalanya dapat berupa 1. . penurunan sensasi. korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis) 5. 4. penonjolan seperti kantong dipunggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir.

Rontgen tulang belakang 2. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan pada waktu janin masih dalam kandungan: 1. CT-Scan atau MRI tulang belakang . Triple screen 2. Amniosintesis (analisa cairan ketuban) Setelah bayi lahir dilakukan pemeriksaan : 1. USG tulang belakang 3. Fetoprotein alfa serum 3.

Paralisis cerebri 2. Osteoporosis . • Adapun komplikasi dari spina bifida yang berkaitan dengan kelahiran antara lain : 1. Komplikasi • Hidrosefalus dapat terjadi pada meningokel atau mielomeningokel. Atrofi otot 4. Retardasi mental 3.

Pre-operasi 2. Pembedahan 2. Pemberian antibiotik • Penatalaksanaan keperawatan 1. Pencakokkan kulit 3. Pasca operasi . Penatalaksanaan • Penatalaksanaan medis 1.

pepaya. Kacang-kacangan . pisang. Sayuran hijau seperti bayam. lentils. brokoli. Roti gandum . juga kembang kol 3. asparagus. alpukat) 2. romaine lettuce . Pencegahan • Pencegahan dapat dilakukan dengan mengkonsumsi asam folat atau makanan yang mengandung asam folat seperti : 1. beans 4. Buah-buahan (jeruk.

Identitas ibu c. KONSEP KEPERAWATAN • Pengkajian 1. Keluhan utama d. Pengkajian psikososial . Anamnesa a. Identitas bayi b. Riwayat atau adanya factor resiko j. Riwayat penyakit terdahulu h. Riwayat kehamilan ibu e. Riwayat kelahiran f. Riwayat penyakit sekarang g. Riwayat keluarga i.

B4 (Bladder) f. B5 (Bowel) g. B3 (Brain) e.2. B6 (Bone) . a. B1 (Breathing) c. Keadaan umum b. Pemeriksaan fisik • Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan secara per system (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan dari klien. B 2 (Blood) d.

Resiko kerusakan intgritas kulit dan eliminasi urin b/d paralisis. deficit stimulasi dan perpisahan 4. Berduka b/d kelahiran anak dengan spinal malformation 2. Resiko tinggi infeksi b/d spinal malformation dan luka operasi 3. . Diagnosa keperawatan 1. Resiko tinggi cedera b/d peningkatan intra crania 5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d kebutuhan positioning. penetesan urin yang kontinu dan feses.

Berduka b/d kelahiran anak dengan spinal malformation a. Tujuan : 1)Orangtua dapat menerima anaknyasebagai bagian dari keluarga b. Kriteria hasil : 1)Orangtua mendemontransikan menerima anaknya dengan mengendong. memberi minum. Intervensi keperawatan 1. dan ada kontak dengan anaknya 2)Orangtua membuata keputusan tentang pengobatan 3)Orangtua dapat beradaptasi dengan perawatan dan pengobatan anaknya .

diskusikan perasaan yang berhubungan dengan pengobatan anaknya Rasional : untuk meminimalkan rasa bersalah dan saling menyalakan 2) Bantu orangtua mengidentifiksi aspek normanl dari bayi terhadap pengobatan Rasional : memberi stimulasi terhadap orangtua untuk mendapatkan keadaanBayinya yang lebih baik 3) Berikan support orangtua untuk membuat keputusan tentang pengobatan pada anaknya Rasional : member arahan/suport terhadap orangtua untuk lebih mengetahui Keadaan selanjunya yang lebih baik terhadap bayi .b. Intervensi 1) Dorong orangtua mengekspresikan perasaanya dan perhatiannya terhadap bayinya.

Rasional : Menghindari terjadinya luka infeksi dan trauma terhadap pemasangan shunt . malas minum . Rasional : Untuk melihat dan mencegah terjadinya TIK dan hidrosepalus – Ubah posisi kepala setiap 3 jam untuk mencegah dekubitus Rasional : Untuk mencegah terjadinya luka infeksi pada kepala (dekubitus) – Observasi tanda-tanda infeksi dan obstruksi jika terpasang shunt.2. Observasi tanda infeksi : perubahan suhu. irritability. lakukan perawatan luka pada shunt dan upayakan agar shunt tidak tertekan. insisi bersih Intervensi – Monitor tanda-tanda vital. Resiko tinggi infeksi b/d spinal malformation dan luka operasi Tujuan : – Anak bebas dari infeksi – Anak menunjukan respon neurologik yang normal Kriteria hasli : – Suhu dan TTV normal – Luka operasi. observasi fontanel dari cembung dan palpasi sutura krania. warna kulit. perubahan warna pada myelomeingocele. Rasional : Untuk melihat tanda-tanda terjadinya resiko infeksi – Ukur lingkar kepala setiap 1 minggu sekali.

deficit stimulasi dan perpisahan a. Hriteria hasil : Bayi / anak berespon terhadap stimulasi yang diberikan Bayi / anak tidak menangis berlebihan Orangtua dapat melakukan stimulasi perkembangan yang tepat untuk bayi / anaknya . Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d kebutuhan positioning.3. Tujuan : Anak mendapat stimulant perkembangan b.

c. Intervensi 1) Ajarkan orangtun merawat bayinya dengan memberikan terapi pemijatan bayi Rasional : agar orangtua dapat mandiri dan menerima segala sesuatu yang sudah terjadi 2) Posisikan bayi miring kesalah satu sisi Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi dan tekanan terhadap luka 3) Lakukan stimulasi pemijatan saat melakukan perawatan kulit Rasional : untuk mencegah terjadinya luka memar dan infeksi yang melebar disekitar luka .

Intervensi – Observasi dengan cermat adanya tanda-tanda penigkatan TIK Rasional : untuk mencegah keterlambatan tindakan . Resiko tinggi cedera b/d peningkatan intra cranial a. Kriteria hasil : anak tidak menunujkan peningkatan TIK c. Tujuan : pasien tidak mengalami peningkatan tekanan intracranial b.4.

Ajari keluarga tanda-tanda penignkatan TIK dan kapan harus memberitau Rasional : praktis kesehatan untuk mencegah keterlambatan tindakan • . Lakukan pengkajian Neurologis dasar pada praoperasi Rasional : sebagai pedoman untuk pengkajian pascaopearsi dan evaluasi fungsi firau b. Hindari sedasi Rasional : karena tingkat kesadaran adalah pirau penting dari penigkatan TIK c.a.

Kriteria hasil : kulit tetap bersih dan kering tanpa iritasi dan gangguan eleminasi c. Intervensi – Kaji pola berkemih dan tingkatkan inkontinesai klien Rasioal : sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya – Berikan perawatan pada kulit klien yang basah karena urine (dilap dengan air hangat kemudian dilap kering dan diberi bedak) Rasional : perawatan yang baik dapat mencegah iritasi pada kulit klien – Anjurkan ibu klien untuk sering memeriksa popok klien. Tujuan : pasiet tidak iritasi kulit dan ganggua eliminasi urin b. penetesan urin yang kontinu a. jika basa segerah diganti Rasional : Popok yang selalu basah dapat menimbulkan iritasi dan lecet pada kulit – Berikan terapi stimulant pada bayi Rasional : untuk memberikan kelancaran eliminasi – kOlaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat (mis : Antikolinergik) Rasional : obat antikolinegrik diperlukan untuk menghilangkan kontraksi kandung kemih tak terhambat . Resiko kerusakan integritas kulit dan eleminasi b/d paralisis.5.

Implementasi Tindakan yang dilakukan pada pasien sesuai dengan intervensi yang telah di buat. .

Evaluasi • Orangtua dapat menerima anaknya sebagai bagian dari keluarga • Anak bebas dari infeksi dan menunjukan respon neurologik yang normal • Anak mendapat stimulant perkembangan yang baik • Pasien tidak mengalami peningkatan tekanan intracranial • Pasiet tidak iritasi kulit dan ganggua eliminasi urin .

Related Interests