FASILITATOR

DR. HANIFAH, SE.,Msi
dan
CECEP TAUFIQURROCHMAN SE.,MM.,Akt.,CA
PROFESI:

- TIM FASILITATOR LSP CERTIF JAKARTA
- TIM AUDITOR KAP “YATI AKUNTAN” BANDUNG
- D0SEN TETAP STIE EKUITAS BANDUNG

ALAMAT:
PERUM UJUNGBERUNG INDAH KAV 30/2
TLP 081320144000
EMAIL ctaofiq@yahoo.com

AGENDA MODUL

1. Sesi Gamabaran Umum Manajemen Risiko
BPR
2. Sesi Penerapan Manajemen Risiko Kredit
3. Sesi Analisa Kredit
4. Sesi Penanganan Kredit Bermasalah
5. Sesi Pembentukan PPAP

MANAJEMEN RISIKO KREDIT .

menyebabkan bank harus menerapkan prinsip kehatian- hatian dalam melakukan aktivitas operasionalnya agar bank tetap menjadi lembaga yang dipercaya oleh masyarakat (prudential banking activity).  Penerapan prinsip kehati-hatian oleh bank diantaranya diimplementasikan melalui kemampuan bank untuk mengelola portfolio kredit yang dimiliki sehingga risiko yang berpotensi untuk terjadi (credit risk) dapat diukur dan dikontrol. . dan juga merupakan konstributor yang paling dominan terhadap pendapatan bank. PENDAHULUAN  Sebagai lembaga financial intermediary yang menerima dana masyarakat. Mengingat saat ini kredit merupakan asset yang paling besar yang dikelola bank. dan selanjutnya menyalurkan kembali dalam bentuk kredit.

yaitu risiko akibat nasabah/debitur tidak mampu melunasi fasilitas yang telah diberikan oleh bank. Hal-hal yang termasuk dalam Risiko Kredit adalah : • Lending Risk. RISIKO KREDIT ? Adalah risiko dimana nasabah / debitur atau counterpart tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya sesuai kontrak /kesepakatan yang telah dilakukan. • Issuer Risk. risiko dimana penerbit suatu surat berharga tidak bisa melunasi kepada bank sejumlah nilai surat berharga yang dimiliki bank. baik berupa fasilitas kredit langsung maupun tidak langsung (cash loan maupun non cash loan) • Counterparty Risk. risiko dimana counterpart tidak bisa melunasi kewajibannya ke bank baik sebelum tanggal kesepakatan maupun pada saat tanggal kesepakatan. .

Sebagai contoh. • Risiko kredit dapat timbul dikarenakan telah terjadinya risiko pasar terlebih dahulu. risiko pasar dan risiko likuiditas) dan keempat jenis risiko ini saling terkait.RISIKO KREDIT DENGAN JENIS RISIKO LAINNYA • Ruang lingkup risiko kredit tidak dapat dipisahkan secara jelas dan tegas dengan jenis risiko lainnya (risiko operasional. • . • Risiko kredit dapat timbul dikarenakan telah terjadinya risiko operasional terlebih dahulu. dikarenakan kredit diberikan dalam dominasi valas dan nilai tukar Rupiah melemah. petugas Bank telah lalai dalam melaksanakan taksasi jaminan dan pengikatannya. nilai kredit nasabah menjadi sangat besar. Sebagai contoh.

dan dimulai sejak aplikasi kredit diterima oleh Bank. diukur. CREDIT RISK MANAGEMENT • Credit Risk Management merupakan suatu proses dimana risiko kredit diidentifikasi. dianalisa. yaitu: Kebijakan. Sistem Informasi. dan dikelola (termasuk monitoring. • Agar proses pengelolaan risiko kredit tersebut dapat berjalan secara efisien diperlukan infrastruktur pendukung. • Proses dimaksud sifatnya cyclical. dan penyelamatan. dan Risk Modelling. pemantauan. controlling dan communication). persetujuan. Organisasi. .

• Untuk menghindari hal tersebut diatas. • Memelihara Kualitas Kredit • Meningkatkan Efisiensi Proses Manajemen Kredit • Meningkatkan Budaya Kredit Yang Sehat (Healthy Credit Culture) • Memberikan Respon Bisnis Dengan Lebih Cepat . maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut : • Menyediakan Modal Yang Cukup Untuk Menutup Risiko. PENGENDALIAN RISIKO KREDIT • Tujuan utama dari pengendalian risiko kredit adalah menjaga agar semua aktivitas kredit Bank tidak menimbulkan kerugian yang melebihi kemampuan Bank atau membahayakan kelangsungan usaha Bank.

PARA METER RISIKO KREDIT • Probability of Default (PD). • Exposure at Default (EAD) EAD merupakan jumlah maksimum kerugian yang diukur dengan menggunakan model yang memperhitungkan economic value dari claim atas counterparty pada saat default. • Loss Given Default (LGD) merupakan besarnya tingkat kerugian yang timbul apabila debitur benar-benar tidak mampu membayar kreditnya . merupakan ukuran kemungkinan debitur menjadi default.

merupakan ukuran kemungkinan debitur menjadi default. • Exposure at Default (EAD) merupakan jumlah maksimum kerugian yang diukur dengan menggunakan model yang memperhitungkan economic value dari claim atas counterparty pada saat default. PARA METER RISIKO KREDIT • Probability of Default (PD). • Loss Given Default (LGD) merupakan besarnya tingkat kerugian yang timbul apabila debitur benar-benar tidak mampu membayar kreditnya. .

yaitu 1. Setiap model memiliki karakteristik dan tujuan penggunaaannya sendiri.Credit Portfolio View.Credit Risk Plus. CREDIT RISK MEASUREMENT Terdapat beberapa model pengukuran risiko kredit yang telah dikembangkan oleh para ahli. Reduce form 4. ada 5 metode untuk mengukur risiko kredit. 3. . 2.Merton OPM KMV/Moodys. Menurut Jorion (2005).KPMG/Kamkura dan 5.Credit Metrics.

sedangkan Credit Metrics KPMG.Dari kelima jenis pengukuran risiko tersebut. Portfolio View dan Merton OPM KMV/Moodys. . Credit. yang biasa digunakan untuk portofolio kredit konsumer adalah metode Credit Risk+. relatif lebih cocok digunakan pada debitur segmen korporasi. dimana jumlah debitur relatif lebih banyak dengan outstanding balance yang lebih kecil serta tidak terkait satu sama lainnya.

dengan berfokus pada pengukuran kecukupan cadangan modal (capital reserved) untuk mem-back up kerugian tersebut pada level tertentu. . CREDITRISK+ MODEL • CreditRisk + merupakan metode credit risk measurement yang dikembangkan oleh Credit Suisse First Boston (CSFB) pada awal tahun 1990-an dan kemudian diperkenalkan kepada umum pada Desember 1996. • CreditRisk + berusaha untuk memperkirakan expected losses dari kredit dan distribusi dari kerugian tersebut.

• LGD : Loss Given Default. atau besarnya kerugian yang akan timbul apabila debitur default. Expected loss = PD x EAD x LGD Dimana : • PD : Probability of Default. • EAD : Exposure at Default. atau peluang debitur mengalami default darii setiap band. Expected loss Expected loss adalah kerugian yang dapat diperkirkan terjadinya. . Adapun perkiraan terjadinya didasarkan pada data historis munculnya credit events tersebut. atau jumlah debitur yang default berdasarkan Band dalam suatu kelompok Band.

NPL Net = (Kredit Non Lancar .PPAP) / Total Kredit . 2. dihitung dengan rumus: 1. D & M) / Total Kredit. sehingga terjadi keterlambatan pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran. Rasio Non Performing Loan (NPL) merupakan salah satu rasio untuk mengukur kualitas kredit BPR. KREDIT BERMASALAH/NPL Kondisi dimana debitur mengingkari janjinya membayar bunga dan / atau pokok kredit yang telah jatuh tempo.Rasio NPL = Kredit Non Lancar (KL.

KOLEKTABILITAS KREDIT BU Kolektibiliti 1 – Lancar (Pass) Kolektibiliti 2 – Dalam Perhatian Khusus (Special Mention) Kolektibiliti 3 – Kurang Lancar (Substandars) Kolektibiliti 4 – Diragukan (Doubtful) Kolektibiliti 5 – Macet (Loss) .

PENCEGAHAN KREDIT BERMASALAH Prinsip kehati-hatian dalam: • Permohonan • Analisa kredit • Keputusan • Perjanjian • Pengikatan jaminan • Dropping kredit • Pengawasan • Pelunasan dan atau perpanjangan .

MODEL PENANGANAN KREDIT BERMASALAH PENYELAMATAN KREDIT DENGAN 3R PENYELESAIAN KREDIT DENGAN AYDA DAN LITIGASI .

RESTRUKTURISASI KREDIT .

perpanjangan jangka waktu Kredit. DASAR HUKUM RESTRUKTURISASI KREDIT BU PBI : NOMOR 14/ 15 /PBI/2012 ENTANG PENILAIAN KUALITAS ASET BANK UMUM Restrukturisasi Kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya. . penambahan fasilitas Kredit. pengurangan tunggakan bunga Kredit. dan/atau f. e. c. b. yang dilakukan antara lain melalui: a. pengurangan tunggakan pokok Kredit. penurunan suku bunga Kredit. d. konversi Kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara.

penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual. penurunan kualitas Kredit. Pasal 52 Bank hanya dapat melakukan Restrukturisasi Kredit terhadap Debitur yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Pasal 54 Bank wajib menerapkan perlakuan akuntansi Restrukturisasi Kredit sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga Kredit. . b. dan/atau c. peningkatan pembentukan PPAP. Pasal 53 Bank dilarang melakukan Restrukturisasi Kredit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 apabila bertujuan hanya untuk menghindari: a. Debitur memiliki prospek usaha yang baik dan diperkirakan mampu memenuhi kewajiban setelah Kredit direstrukturisasi. Dan b.

c. Direksi harus membentuk satuan/unit kerja atau menunjuk pejabat/pegawai untuk menangani restrukturisasi kredit. Pejabat/pegawai yang ditugaskan dalam satuan/unit kerja atau yang ditunjuk untuk menangani restrukturisasi kredit tidak terlibat dalam proses pemberian kredit kepada debitur yang akan direstruktrisasi tersebut. f. Penetapan limit wewenang memutus kredit yang direstrukturisasi yang akan diatur dalam prosedur perkreditan. . e. maka kewenangan tersebut dapat dilaksanakan oleh Direksi. Perkembangan penanganan kredit yang direstrukturisasi harus dilaporkan oleh satuan/unit kerja atau pejabat/pegawai yang ditunjuk kepada Direksi dan/atau Dewan Komisaris secara berkala. Hak dan kewajiban debitur dan persyaratan lainnya dalam rangka restrukturisasi harus dituangkan dalam perubahan (addendum) perjanjian kredit secara tertulis. b. Pasal 55 Kebijakan dalam rangka restrukturisasi kredit mencakup hal-hal sebagai berikut: a. d. Dalam hal BPR tidak memiliki jumlah personil yang cukup.

(2) Penetapan kualitas Kredit yang direstrukturisasi sampai dengan jumlah Rp1. Pasal 58 (1) Kualitas Kredit setelah restrukturisasi ditetapkan sebagai berikut: a. paling tinggi sama dengan kualitas Kredit sebelum dilakukan Restrukturisasi Kredit.00 (satu milyar rupiah) dilakukan sebagai berikut: .000. sepanjang debitur belum memenuhi kewajiban pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga secara berturut turut selama 3 (tiga) kali periode sesuai waktu yang diperjanjikan.000. b.000. setelah debitur memenuhi kewajiban pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga secara berturut turut selama 3 (tiga) kali periode sebagaimana dimaksud huruf a. dapat meningkat paling tinggi 1 (satu) tingkat dari kualitas Kredit sebelum dilakukan Restrukturisasi.

. b. selanjutnya ditetapkan berdasarkan faktor penilaian atas ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga.a. sampai dengan 3 (tiga) kali periodekewajiban pembayaran. paling tinggi Kurang Lancar untuk Kredit yang sebelum dilakukan restrukturisasi kredit tergolong Diragukan dan Macet dan tetap sama untuk Kredit yang tergolong Kurang Lancar dan Dalam Perhatian Khusus.

jangka waktu (Reconditioning) pembayaran dan persyaratan lain sepanjang tidak mengubah maksimum saldo kredit 3 Penataan kembali Penurunan suku bunga (Restructuring) Perpanjangan jangka waktu kredit Pengurangan tunggakan bunga Pengurangan tunggakan pokok Penambahan fasilitas kredit Konversi tunggakan bunga . jangka waktu (Recheduling) pembayaran 2 Persyaratan kembali Jadwal pembayaran.PENYELAMATAN KREDIT BERMASALAH MELALUI 3 R No Cara Penyelamatan Syarat Kredit Yang diubah 1 Penjadwalan kembali Jadwal pembayaran.

2. Penurunan Suku Bunga Kredit Penurunan suku bunga merupakan salah satu bentuk restrukturisasi yang bertujuan memberikan keringanan kepada debitur sehingga dengan penurunan bunga kredit. 3. Pengurangan Tunggakan Bunga Kredit Langkah penyelamatan dengan menghapus sebagian atau seluruh tunggakan kredit diharapkan debitur memiliki kemampuan kembali untuk melanjutkan usahanya sehingga menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk membayar utang pokok yang tidak mungkin dihapus seluruhnya oleh kreditur. Perpanjangan Jangka Waktu Kredit Perpanjangan jangka waktu kredit merupakan bentuk restrukturisasi kredit yang bertujuan memperingan debitur untuk memenuhi kewajibannya. besarnya bunga yang harus dibayar debitur menjadi lebih kecil dibandingkan dengan suku bunga yang ditetapkan sebelumnya. PENATAAN KEMBALI 1. .

4. 6. Pengurangan pokok kredit merupakan pengorbanan bank yang sangat besar karena asset bank yang berupa utang pokok ini tidak kembali dan merupakan kerugian yang menjadi beban bank. Mengenai berapa besarnya nilai saham yang berasal dari konversi kredit tergantung hasil kesepakatan kreditur dan debitur. Konversi Kredit Menjadi Penyertaan Modal Sementara Konversi kredit menjadi modal artinya sejumlah nilai kredit dikonversikan menjadi saham pada perusahaan debitur ini disebut dept equity swap. Pengurangan Tunggakan Pokok Kredit Pengurangan tunggakan pokok kredit merupakan restrukturisasi kredit yang paling maksimal diberikan oleh kreditur kepada debitur karena pengurangan pokok kredit biasanya diikuti dengan penghapusan bunga dan denda seluruhnya. Dengan demikian. Penambahan Fasilitas Kredit Penambahan kredit dilakukan dengan harapan usaha debitur akan berjalan kembali dan berkembang sehingga dapat menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk mengembalikan utang lama dan dan tambahan kredit baru. bank memiliki sejumlah saham pada perusahaan debitur dan utang debitur menjadi lunas. 5. .

Related Interests