LAPORAN KASUS

Ureterolitiasis

Hendi Anshori

Pembimbing:
Dr. Aaron Tigor Sihombing, Sp.U

60 tahun. IRT. Identitas pasien ♀. Bandung .

P5A0 Riwayat operasi (-) Riwayat keluarga (-) Produksi urin ± 600 cc/hari. jernih . Riwayat hipertensi sejak 10 tahun lalu dengan tensi tertinggi 200/...Nyeri pinggang kanan dirasakan sejak 3 bulan sebelum masuk RS. BAK keruh (-) BAK merah (-). Keluhan tidak disertai sakit kencing dan panas badan. Tidak terkontrol Riwayat Asam urat tinggi sejak 5 tahun namun tidak terkontrol Menopouse sejak umur 49 thn. semakin lama semakin memberat. BAK pasir (-). Riwayat BAK Batu (-).

MS (-) RT : TSA kuat. Pemeriksaan Fisik Status Generalis : BP : 140/100 mmHg (amlodipin 1x5 mgr/hari) N : 88 x/m. NT (-) a/r Genitalia Externa : MB (-).9 Status Lokalis : a/r flank : PG -/. NK CVA (+/-) a/r Suprapubis : Kandung Kemih kosong.. RR :20 x/m. BCR (+) . T :36. NT -/.. mukosa licin tidak teraba massa.2o C BB : 60 kg TB : 163 cm BMI : 22.58 ( Normal –healthy weight ) Lingkar pinggang: lingkar panggul = 0.

94 INR pH 5.Laboratorium Parame 27-02-17 ter Urinalysis PT/ Berat 10.100/ trombo Leukosit 2 sit 389.9 .93 + oksalat Na/K 134/ 4.9 GDS 106 As urat 8.6/ 1.030 aPTT/ Jenis 23.4/ 41 Eritrosit 3 Leuko/ 9.5 Hb/ Ht 13.000 Kalsium Ur/ Cr 42/ 1.2/ 0.

USG KUB (23/02/17) Ginjal Kanan Ginjal Kiri Vesika .

BNO .

Ioana Brudaşcă. DISKUSI menopo obesit hiperte use as nsi dislipidemia? citrat Sindrom Ca↑ ↓ metaboli k pH hiperurice urin↓ mia Mircea Cucuianu*. Nr. 3/4. Septembrie 2012 . Revista Română de Medicină de Laborator Vol. hyperuricemia and the metabolic syndrome. 20. Gout.

hiperuricemi hiperurice a mia CaOx hiperuricos obesit hiperuricos ? uria as uria dehidra Saltin si g out Hipotes is fixed pH ↓ particle Krist hiperte al Krist nsi asam al urat CaOx Kerusak an endotel .

Cegah dehidrasi 4. Kontrol hipertensi + hiperuricemia . CT Scan  Edukasi pasien 1. BNO –IVP 4. Profil Lipid + HbA1c 3. Saran  Pemeriksaan penunjang 1. Olah raga teratur 2. Periksa urin 24 jam 2. Diet tinggi sitrat 3.

Terima Kasih .

WebMD Medical Reference Reviewed by Elizabeth Klodas. Heller H. March. McCarthy S. Grover. 2015 IV. 271–278. Revista Română de Medicină de Laborator Vol. 168:1923–27. Kidney Int 1994.1 Villis R. J Urol 2002. Diagnosis of acuteflank pain: value of unenhanced helical CT. Verga M. Marshall. Septembrie 2012 II. VII. Nr. MD.2 and Rosemary L. Vol. hyperuricemia and the metabolic syndrome. 2003. Etiological role ofestrogen status on renal stone formation. Am J Roentgenol 1996. High Blood Pressure and Kidney Disease.Ioana Brudaşcă. Rosenfield AT. 20. Gout. Moe OW. 3/4. 46: 893–99. . Coates RJ. Pak CY. Smith RC. chandoke. Austin H. ã2003 Elsevier Science Ltd III. Soucie JM. Dissolved Urate Salts Out Calcium Oxalate in Undiluted Human Urine In Vitro: Implications for Calcium Oxalate Stone Genesis . Phulwinder K.166: 97–101. Paramit S. sorensen.Demographic and geographic variability of kidney stones in theUnited States. Carsten M. Hyperuricosuric calcium nephrolithiasis. 10. VI. Sakhaee K. Thun MJ.1. Mircea Cucuianu*. Endocrinology and Metabolism Clincs of North America. McClellan W. Ryall1. 31(2002) 915-925 V.Reference I. Chemistry & Biology. FACC on June 12.

.

Gambaran urolithiasis .

.

menjelaskan adanya keterikatan antara kristal dengan permukaan yang mendasarinya. Berdasarkan data dari penelitian kultur sel. dalam retensi kristal dan interaksi kristal-sel . sehingga menyebabkan kristal tersebut terperangkap pada papilla duktus kolektivus dan pada akhirnya membentuk batu  hipotesis partikel terikat. beberapa peneliti telah mengajukan adanya peran integral dari molekul pengikat kristal.Retensi kristal  Hipotesis partikel bebas menyebutkan bahwa nukleasi akan diikuti oleh pertumbuhan kristal dengan cepat didalam lumen tubulus. osteopontin. asam sialat. seperti fosfatidilserin. seperti sel-sel epitel ginjal. dan hialuronat.

 Presipitasi  nukleasi  agregasi  retensi kristal .

BACK .

akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan + uric acid Urin + CaOx Urin + UA Kristal CaOx BACK . Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibanding zat utama.