You are on page 1of 20

IMPLIKASI UU PEMDA

23/2014 TERHADAP
PENGELOLAAN WILAYAH
PESISIR DAN PULAU-PULAU
KECIL
Kelompok II

(Rezha)

OUTLINE PEMBAHASAN

I. Substansi/Muatan UU 23/2014 yang Terkait dengan
Pesisir dan Kelautan
II. Implikasi UU 23/2014 terhadap Penyelenggaraan
Pengelolaan Pesisir dan Kelautan

Substansi/Muatan UU 23/2014 .1.

bahwa penyelenggaraan Urusan Pemerintahan bidang kehutanan. . Pasal 14 ayat (5).23/2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH Pasal 14 ayat (1). serta energi dan sumber daya mineral dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi. bahwa Daerah Provinsi diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam di laut yang ada di wilayahnya. bahwa Penentuan Daerah kabupaten/kota penghasil untuk penghitungan bagi hasil kelautan adalah hasil kelautan yang berada dalam batas wilayah 4 (empat) mil diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. 23 TAHUN 2014 PEMERINTAH DAERAH UU No.UU NO. kelautan. Pasal 27 ayat (1). bahwa Daerah kabupaten/kota penghasil dan bukan penghasil mendapatkan bagi hasil dari penyelenggaraan Urusan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 14 ayat (6).

.UU NO. Daerah membentuk Perda. Pasal 236 (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan. atau c. Pasal 21 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren diatur dalam peraturan pemerintah. dengan cara menugasi Daerah kabupaten/kota berdasarkan asas Tugas Pembantuan. b. 23 TAHUN 2014 PEMERINTAH DAERAH Pasal 20 (1) Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah provinsi diselenggarakan: a. dengan cara menugasi Desa. sendiri oleh Daerah provinsi. Pasal 30 Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan Daerah provinsi di laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Daerah Provinsi yang Berciri Kepulauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan Pasal 29 diatur dengan peraturan pemerintah.

Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumberdayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah provinsi atau lintas negara. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah kabupaten/kota. dan/atau e. dan/atau d. (4) Berdasarkan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota adalah: a. Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya hanya dalam Daerah kabupaten/kota. (3) Berdasarkan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi adalah: a. c. 23 TAHUN 2014 PEMERINTAH DAERAH (Subject: Pembagian urusan pemerintahan konkuren) Pasal 13 (2) Berdasarkan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat adalah: a. Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah provinsi atau lintas negara. Urusan Pemerintahan yang lokasinya dalam Daerah kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan yang peranannya strategis bagi kepentingan nasional. c. d.UU NO. . Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumberdayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Daerah kabupaten/kota. c. Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumberdayanya lebih efisien apabila dilakukan oleh Daerah Provinsi. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah kabupaten/kota. b. b. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah provinsi atau lintas negara. Urusan Pemerintahan yang penggunanya dalam Daerah kabupaten/kota. b. dan/atau d.

.UU NO. semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan secara langsung dengan Daerah wajib mendasarkan dan menyesuaikan pengaturannya pada Undang-Undang ini. 23 TAHUN 2014 PEMERINTAH DAERAH Pasal 407 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.

Implikasi UU 23/2014 terhadap Penyelenggaraan Pengelolaan Pesisir dan Kelautan .2.

. . bahwa Daerah pesisir dan pemanfaatan Provinsi diberi kewenangan sebagian PPK secara menetap untuk mengelola sumber daya wajib memiliki Ijin Lokasi. bahwa Ijin Perairan laut Lokasi diberikan 12 mil 4 mil berdasarkan RZWP3K. Kab.. Ketentuan lebih lanjut Pasal 26 (1) dan (3).23/2014 TERHADAP PENGELOLAAN WP-3-K UU No. bahwa setiap orang yang melakukan pemanfaatan UU No.. mengenai kewenangan Daerah bahwa Ijin Pemanfaatan provinsi di laut dan Daerah Provinsi PPK dan pemanfaatan yang Berciri Kepulauan sebagaimana perairan di sekitarnya diatur dengan peraturan pemerintah... Pasal 17 (1).. IMPLIKASI UU No.. alam di laut yang ada di wilayahnya.... . Kab. . . Kab.23/2014: ruang dari sebagian perairan Pasal 27 ayat (1). Pasal 30. .1/2014: Kab. Kab. dlm rangka PMA diberikan oleh Menteri setelah mendapat rekomendasi dari Bupati/Walikota. B Pasal 16 (1). A Kab.

Pengelolaan ruang - Pesisir dan dan strategis nasional laut sampai dengan Pulau-Pulau b. Penerbitan izin pemanfaatan ruang laut 12 mil di luar minyak Kecil nasional dan gas bumi c. Penerbitan izin dan genetik (plasma nutfah) ikan pemanfaatan ruang antarnegara laut di bawah 12 mil d. Database pesisir dan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil 10 . Penerbitan izin pemanfaatan jenis dan b. Implikasi UU 23/2014 terhadap Penyelenggaraan Penataan Ruang Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kelautan dan Perikanan dalam UU 23/2014 Daerah Sub Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi Kab/Kota Kelautan. Penetapan kawasan konservasi masyarakat pesisir f. II. Pemberdayaan e. Pengelolaan ruang laut di atas 12 mil a. a. Penetapan jenis ikan yang dilindungi di luar minyak dan gas dan diatur perdagangannya secara bumi internasional c.

1 Kewenangan Provinsi untuk Mengelola SDA di Laut.. Kewenangan pengelolaan sumber daya di memiliki wilayah laut diberikan wilayah laut termasuk melakukan wewenang untuk mengelola sumber pengaturan tata ruang diberikan kepada daya di wilayah laut termasuk Daerah Provinsi (Pasal 27) melakukan pengaturan tata ruang b.(2) UU 32/2004 UU 23/2014 Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang a. Daerah Kabupaten/Kota mendapatkan bagi (Pasal 18) hasil pengelolaan sumber daya wilayah laut yang penentuan bagi hasilnya dihitung berdasarkan hasil kelautan yang berada dalam batas wilayah 4 mil (Pasal 14) 11 .2.

pesisir dan pulau-pulau kecil. a. Penerbitan IUP di bidang pembudidayaan ikan yang usahanya dalam 1 (satu) Perikanan Daerah kabupaten/kota. Pesisir genetik (plasma nutfah) ikan pemanfaatan ruang laut di 1 dan Pulau-Pulau antarnegara bawah 12 mil di luar minyak Kecil d. Penetapan kawasan konservasi. f. Penerbitan izin dan Kelautan. a. minyak dan gas bumi. e. Penerbitan izin pemanfaatan ruang laut sampai dengan 12 mil di luar nasional. Pemberdayaan usaha kecil pembudidayaan ikan. Database pesisir dan pulau-pulau kecil. dengan 12 mil. Pengelolaan ruang laut b. Pengelolaan ruang laut di atas 12 mil dan strategis nasional. Penetapan jenis ikan yang dilindungi dan gas bumi. strategis nasional kelautan dan perikanan sampai Kelautan dan dan ruang laut tertentu. Matriks Pembagian Urusan pemerintah konkruen antara pemerintah pusat dan daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota Pembagian urusan bidang kelautan dan perikanan No Sub urusan Pemerintah pusat Daerah provinsi Daerah kabupaten/kota 1 2 3 4 5 a. Perikanan . Pemberdayaan masyarakat internasional. 3 budidaya b. Pengelolaan pembudidayaan ikan. dan diatur perdagangannya secara c. a. Pemberdayaan nelayan kecil dalam Daerah kabupaten/kota 2 Perikanan tangkap b. Penerbitan izin pemanfaatan jenis dan b. Pengelolaan dan penyelenggaraan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pengawasan Pengawasan sumber daya kelautan dan Pengawasan sumber daya Sumber Daya 4 perikanan di atas 12 mil. c. c.

Jadi dalam hal ini propinsi berwenang dalam: • Penerbitan izin usaha angkutan laut pelayaran rakyat bagi orang perorangan atau badan usaha yang berdomisili dan yang beroperasi pada lintas pelabuhan antar Daerah kabupaten/kota dalam Daerah provinsi. dan pelabuhan. . StS lebih dari 12 mil atau lintas propinsi perijinannya menjadi kewenangan pusat.Pengelolaan ruang laut di atas 12 mil dan strategis nasional. • Penetapan lintas penyeberangan dan persetujuan pengoperasian kapal antar-Daerah kabupaten/kotaDaerah provinsiterletak padajalan provinsi dan/atau jaringan jalur kereta api provinsi.1. Misal kebijakan terkait kepelabuhanan. Bagaimana tentang izin lokasi untuk StS area ( ship to ship area) dalam 12 mil Area dalam 12 mil menjadi kewenangan pemerintah propinsi. pelabuhan antar Daerah provinsi. PPI (Pelabuhan Pendaratan Ikan) kewenangan awalnya ada di pemerintah kabupaten atau kota. • Penerbitan izin trayek penyelenggaraan angkutan sungai dan danau untuk kapal yang melayani trayek antar-Daerah kabupaten/kota dalam Daerah provinsi yang bersangkutan. Sistem penganggaran program yang berkaitan dengan kawasan dan wilayah laut nantinya harus ke provinsi (awalnya kewenangan ada di pemerintah kabupaten atau kota).

Pemerintah Daerah provinsi 20%. Ini semua bukan kerugian yang sedikit bagi pemerintah dan masyarakat • Hal lain dalam urusan Pengolahan dan pemasaran. sedangkan Pemerintah Kabupaten/Kota tidak mendapatkan kewenangan dalam urusan Pengolahan dan pemasaran. hal ini bisa saja berdampak semakin mengecilnya produksi ikan tangkapan. Pemerintah pusat mengambil 80%. Perizinan yang pengelolahannya ke Pusat dan Pemerintah Provinsi berdampak pada pendapatan hasil daerah pada Kabupaten/Kota • Kasus izin kapal penangkapan ikan yang belum dapat diperpanjang. efek langsungnya adalah bahwa masyarakat yang bekerja di kapal tersebut tidak bekerja dan tidak punya penghasilan. . pengembangan SDM Masyarakat Kelautan dan Perikanan yang mana semunya 100% kewenangan dilakukan oleh pusat. Belum lagi urusan karantina ikan. dan memicu lonjakan harga ikan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.2. pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan. Dan di daerah-daerah tertentu.

Beban provinsi dalam pengelolaan hutan akan semakin berat. Contoh di Kabupaten Berau dan Kota Balikpapan yang sudah mencanangkan/inisiatif terhadap program pengelolaan terhadap kawasan konservasi: . merupakan salah satu sektor yang paling banyak berubah. menyediakan sumber daya dan mengatur tata kelola hutan termasuk memenuhi berbagai harapan terhadap kontribusi sumber daya hutan terhadap isu-isu perubahan iklim. Tantangannya bagaimana provinsi dapat meneruskan inisiatif-inisatif tersebut seraya juga mengembangkan program yang lebih besar dan menyeluruh. .Penetapan kawasan konservasi Sektor Kehutanan. dan lain- lain.Program Karbon Hutan Berau (PKHB) . kemudian di tarik ke tingkat provinsi.Hutan Lindung Sungai Wain dan Sungai Manggar yang telah memiliki badan pengelola dan sangat didukung oleh Pemerintah Kota Balikpapan  Praktis dengan dikeluarkannya UU. Good forest  governance ditantang oleh kemampuan provinsi dalam merencanakan. 23/14 kabupaten/kota hanya diberi mandat untuk mengurusi Taman Hutan Raya. Tantangan lain bagaimana alokasi sumber daya (termasuk keuangan) yang bisa dialokasikan pemerintah provinsi untuk memenuhi tuntutan tugas yang baru ini. Banyak kegiatan yang selama ini didesentralisasikan ke tingkat kabupaten/kota. mengelola.

Demikian juga beberapa inisiatif lainnya yang ada di kabupaten/kota. bagaimana agar kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil seperti Taman Pesisir Kepulauan Derawan (TKPD) dapat tetap dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Berau dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. pesisir dan pulau-pulau kecil seperti Kabupaten Berau dan Kotamadya Bontang. dan ini ada di semua wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Selama ini yang menonjol adalah kegiatan pertambangan batu bara. Hanya saja imbas ditetapkannya UU 23/14 upaya pengelolaan wilayah pesisir dan laut berkelanjutan yang telah diinisiasi oleh kabupaten/kota menjadi tidak dapat dilanjutkan.Penetapan kawasan konservasi Sektor Perikanan dan Kelautan juga tak terelakkan. pengelolaan energi sumber daya mineral (ESDM) tidak hanya pada pertambangan batubara. Bagaimana dengan pengawasan sisa-sisa lubang tambang? Pengelolaan sumberdaya alam di Kalimantan Timur tetap harus dilanjutkan untuk kesejahteraan masyarakat dimanapun kewenangan pengelolaan ditempatkan . Kebijakan yang tersisa adalah untuk panas bumi. yang tidak ada potensinya di sejumlah kabupaten kota di Kaltim. Beberapa kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur telah mencadangkan wilayahnya sebagai kawasan konservasi perairan. dan salah satu yang terkena imbasnya dalam pelaksanaan UU No 23/14. Sektor Sumberdaya mineral dan batubara Sumberdaya mineral dan batubara di Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu penyumbang terbesar pendapatan Provinsi Kalimantan Timur dan kabupaten yang memiliki potensi tinggi. dan tidak bertentangan dengan UU 23 tahun 2014. kerikil yang menjadi gantungan hidup bagi usaha kecil masyarakat. Tantangannya. tapi juga untuk klasifikasi galian C seperti pasir. padahal di tingkat kabupaten/kota.

semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang belum diganti dan tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. c. Pemberdayaan masyarakat di bidang kehutanan Pasal 408 menyatakan “Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Dalam lampiran hal. Peningkatan kapasitas SDM masyarakat kelautan dan perikanan.Pemberdayaan Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang urusannya di tangani oleh Pemerintah Pusat dan Provinsi 1. b. Penyelenggaraan penyuluhan perikanan nasional. Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat di bidang Kehutanan menjadi urusan pemerintah pusat. 3. yang meliputi : a. 107 UU No 23 tahun 2014 meyebutkan bahwa Pengembangan SDM Masyarakat Kelautan dan Perikanan menjadi urusan pemerintah pusat. 120 UU No 23 tahun 2014 menyebutkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan. . penyuluhan kelautan dan perikanan tetap bisa dilakukan di tingkat Kabupaten/Kota dengan memberikan tugas pembantuan dari Pusat. b. yang meliputi : a. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan serta pendidikan menengah kehutanan. b. yang meliputi : a. Pelaksanaan penyuluhan kehutanan provinsi. Dan menjadi urusan pemerintah daerah provinsi. Dalam lampiran hal. 2. Penyelenggaraan penyuluhan kehutanan nasional. Akreditasi dan sertifikasi penyuluh perikanan.

Pemerintah kab/kota tidak lagi memiliki kewenangan untuk mengelola sumber daya wilayah laut termasuk melaksanakan pengaturan tata ruang (penyusunan dan penetapan RZWP-3-K)  RZWP-3- K ditetapkan melalui Perda Provinsi b. penyelengaraan urusan pemerintahan bidang kelautan. Perlu dilakukan review terhadap UU No. karena memang rentang waktu yang diberikan UU tersebut paling lambat dua tahun. Dampak dari kekosongan regulasi tersebut bukan hanya akan terwujud dalam bentuk kerugian maupun penurunan pendapatan pemerintah. kehutanan serta energi dan sumber daya mineral menjadi kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah propinsi. Kabupaten diberi mandat untuk mengurus taman hutan raya dan pemberdayaan nelayan kecil serta tempat pelelangan ikan untuk sektor kelautan.Implikasi terhadap kewenangan kab/kota dalam pengelolaan SDA laut: a. menurut UU tersebut belum juga terbit. 27 tahun 2007 jo UU No. 1 Tahun 2014 d. Sementara regulasi teknis terkait pemberian maupun perpanjangan izin di bidang-bidang itu. Pemerintah kab/kota tidak lagi memiliki kewenangan untuk perizinan pengelolaan SDA laut c. dikembalikan ke tingkat provinsi. f. Perlu kejelasan status RZWP-3-K kabupaten/kota yang telah ditetapkan sebagai Perda kabupaten/kota e. Kegiatan yang selama ini didesentralisasikan ke tingkat kabupaten. Dalam UU 23/2014. namun juga berdampak pada ekonomi mikro di tingkat masyarakat 18 .

.

Pasal 360 diatur mengenai Kawasan Khusus. yang antara lain salah satu dari lima belas kawasan khusus yang dimaksud dalam pasal 360 tersebut adalah “Kawasan Perdagangan Bebas dan/atau Pelabuhan Bebas”. yang juga sering di sebut Free Trade Zone/FTZ. yang akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan daerah mempunyai kewenangan di kawasan khusus yang dibentuk itu. inilah yang seharusnya dirumuskan oleh Kabinet Kerja yang ditugaskan oleh Presiden untuk menghilangkan dualisme yang dinyatakan telah terjadi di Batam . dalam pembentukannya pusat mengikutsertakan daerah yang bersangkutan.