You are on page 1of 37

DIPHTHERIA

Retno HMA,dr SpA, A Rohim,dr SpA, Renny H,dr SpA
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD JAYAPURA

Masalah kesehatan

Apa Dampak

Diphtheria

Diagnosis Tata laksana

DEFINISI
penyakit infeksi toksik akut
sangat menular
penyebab: Corynebacterium diphtheriae
pembentukan pseudomembran pada kulit
dan/atau mukosa (saluran pernafasan
bagian atas)
melepaskan eksotoksin

bersin.bicara Indonesia  penduduk padat .EPIDEMIOLOGI tersebar luas di seluruh dunia Mortalitas 5-10% 80% kasus <15 tahun Penularan: droplet  batuk.

tdk membentuk spora. mati pd 600C. tahan beku & kering  tumbuh aerob. ETIOLOGI Corynebacterium diphtheriae:  batang gram (+). intermedius. terdiri dari 2 fragmen: A dan B . BM 62000 dalton. tdk berkapsul.media mengandung K-telurit/Loeffler  3 tipe: gravis. mitis  Membentuk eksotoksin. tidak bergerak.

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI Kuman masuk mukosa/kulit Inkubasi 2 – 6 hari . bercak eksudat tebal.Terutama mukosa saluran pernapasan .tempat kolonisasi terjadi nekrosis jaringan & peradangan lokal.sulit dilepas  pseudomembran Melekat & berbiak  eksotoksin Merembes ke sekeliling Menyebar ke seluruh tubuh melalui limfe & darah .Mukosa okuler. genital .kelabu.

diphtheriae toksigenik TOKSIN . C. Diphtheriae non-toksigenik Bakteriophage C. patogenesis dan patofisiologi……..

Toksin difteri • Efek toksik pada jaringan tubuh  hambatan pembentukan protein • Inaktivasi enzim translokasi melalui proses: NAD+ + EF2(aktif) toksin ADP-ribosil-EF2(inaktif) + H2 + Nicotinamide ADP-ribosil-EF2 yg inaktif PSEUDOMEMBRAN : fibrin.sel darah merah.. patogenesis dan patofisiologi…….sel epitel Kuman terdapat didasar pseudomembran .sel radang.

virulensi/toksinogenesitas C.peny sistemik penyerta.hipertoksik/fatal Faktor-faktor: .lain-lain: umur.diphth.90 C • Gejala lain tergantung lokalisasi penyakit . penyakit pada nasofaring • Demam < 38.primer : imunitas. MANIFESTASI KLINIK • Gejala: bervariasi.lokasi anatomis .tanpa gejala .

mulut dan tonsil tanpa bullneck  gejala hanya nyeri telan  Difteri sedang : terdapat pada laring dan faring tanpa bullneck  Difteri berat : terdapat pada laring/faring dan faucial yg disertai bullneck atau sudah miokarditis . Manifestasi klinis… Berdasarkan lokasi dan komplikasi dibedakan derajat penyakit :  Difteri ringan : terdapat di lidah.

DIPHTHERIA HIDUNG  Mula-mula mirip common cold (demam.rinorrhoe)  Sekret hidung berangsur jadi serosanguinous  mukopurulen  lecet pada nares & bibir atas  Membran putih pada septum nasi  Absorpsi toksin lambat  gejala sistemik sedikit  diagnosis lambat .

malaise. meluas ke uvula & palatum molle atau ke laring & trakhea  Dpt terjadi lymphadenitis cervicalis + submandibularis bila + edema jar lunak leher  bullneck . demam ringan. nyeri telan  Membran melekat. DIPHTHERIA TONSIL-FARING  Anoreksia. putih-kelabu dlm 1-2 hr menutup tonsil & dinding faring.

ke . paralisis palatum molle. Manifestasi klinis…  Kasus ringan: membran lepas dlm 7-10 hari  Sedang: sembuh berangsur bisa disertai miokardiopati/neuropati  Berat : gagal nafas/sirkulasi.† .

DIPHTHERIA LARING  Perluasan difteri faring  Primer  gejala terutama obstruksi sal nafas atas  Perluasan  disertai gejala toksemia  Gejala infectious croup: nafas bunyi.trakheo-bronkhial . suara parau. stridor progresif. subcostal. supraclavicular  Pelepasan membran  menutup jalan nafas  ke-†  Berat:membran meluas ke percab. batuk kering  Bila berat: retraksi suprasternal.

KONJUNGTIVA. membran pada dasar  Difteri mata: lesi konjungtiva berupa kemerahan. edema & membran pada konjungtiva palpebra  Difteri telinga: otitis eksterna. sekret purulen & bau .TELINGA  Difteri kulit: tukak tepi jelas. DIFTERI KULIT. VULVOVAGINA.

tidur ngorok (sebelumnya tdk) . nyeri telan .sukar dilepas dan mudah berdarah .bercak putih keabuan.batuk.perubahan suara sampai bindeng  Pemeriksaan fisik : .pilek. DIAGNOSIS  Ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis tanpa menunggu hasil laboratorium  Anamnesis : .panas subfebril (2-4 hari) .

Diagnosis….. pseudomembran .

Diagnosis… bullneck .

Jackson I : gejala sesak.Jackson III:Jackson II + retraksi interkostal.Jackson II: Jackson I + retraksi epigastrium dan penderita mulai gelisah .air hunger  Jackson II-III  tracheostomi . retraksi suprasternal. Diagnosis…  Pada kasus berat ada sumbatan jalan napas  Berdasarkan sumbatan jalan nafas. KU baik .dibedakan : .stridor inspirasi.

Creatinin . S. Diagnosis… Pemeriksan penunjang :  Preparat langsung swab dengan pewarnaan Neiser  tampak kuman C.Diphtheriae  EKG untuk mengetahui adanya miokarditis  BUN.Diphtheriae  Biakan kuman dalam medium Loefler didapatkan pertumbuhan kuman C.

sinusitis.DIAGNOSIS BANDING Difteri Kulit :  Impetigo  Infeksi streptokokus/ stafilokokus Difteri hidung :  Rhinorrhea (common cold.berbau tdk mudah berdarah . adenoiditis)  Benda asing Difteri Faucial :  Angina Plaut Vincent: membran rapuh tebal.

tdk mudah berdarah  Mononukleosis infeksiosa : .panas tinggi.membran putih kekuningan yg rapuh.anak lemah . Diagnosis banding…  Tonsulitis Follikularis : .darah tepi : limfosit abnormal  Pasca tonsilektomi .pembengkakan kelenjar umum .pembesaran kelenjar limpa . lembek.membran di tonsil .

mendadak (respon dg adrenalin)  Benda asing laring : dari anamnesis  Laringitis akut : Peningkatan suhu. retraksi suprasternal. Diagnosis banding… Difteri Laring :  Angioneurotik udem laring : o/k respon alergi. sianosis.sesak napas. stridor .batuk serak sampai afoni.ditandai sesak napas.

faring.gagal jantung .6) Manifestasi: takhikardi.aritmia.gagal napas Kardiovaskular  Miokarditis : minggu ke-2 (mg 1. cervical dg komplikasi bronkopneumonia.daerah submandibular. atelektasis.suara jantung redup. bising.PENYULIT Saluran Pernapasan  Obstruksi jalan nafas o/k pseudomembran atau edema tonsil.

strabismus. bilateral. terutama saraf motorik. sembuh sempurna.kesukaran menelan  Paralisis otot mata mg ke-5 (mg 5-8). Penyulit… Susunan saraf  penyulit saraf  neuropati toksik: lambat.gg akomodasi Urogenital  Akut tubular nekrosis Infeksi sekunder bakteri lain .  Kelumpuhan palatum molle: mg ke-3.

TATA LAKSANA Aspek Keperawatan Ruang isolasi dg sarana penunjang (jas. masker) Penilaian terhadap perkembangan bercak dan dilakukan swab tenggorok/hari Penderita Jackson II-konsul THT untuk tindakan trakheostomi Paska tracheostomi : perawatan kanula EKG serial (tergantung keadaan) .

Tata laksana… Aspek Medikamentosa Umum: istirahat mutlak ±2 minggu. didahului tes kulit/tes konjungtiva .cairan/ diit adekuat.kelembaban udara Trakheostomi bila: gelisah.antitoksin:serum anti difteri (ADS)segera sedia adrenalin 1:1000 dlm semprit.iritabel & gangguan pernafasan progresif Khusus: .jaga nafas tetap bebas.

Difteri ringan : 20.000 IU (difteri kulit.hidung) .penyulit)  Antimikrobial: untuk menghentikan produksi toksin .Difteri berat : 60.000 KI secara tetesan intra vena dlm larutan 200 cc selama ± 4 jam .PP 50.000 – 120.Difteri sedang : 40.000 IU/Kg BB/hari atau eritomisin 40 mg/Kg/hari.selama 10 hari . Tata laksana… .000 IU (difteri tonsil-faring.000 IU (difteri tonsil) .Dosis ADS: 20.000 IU-100.bullneck.000 – 100.

Tata laksana… Kortikosteroid: kontroversi Kasus berat Prednison 1-1.5 mg/kg BB/hr Pada obstruksi sal. nafas atas dan miokarditis Pengobatan penyulit: terutama ditujukan menjaga hemodinamika tetap baik .

Bila ringan dan bisa makan diberi peroral .Setiap hr amati kebutuhan cairan.kalori maupunkebutuhan elektrolit .Bila berat dipertimbangkan antara sonde sampai TPN . Tata laksana… Aspek Dietetik  Tergantung KU penderita .

atau eritomisin 1 mg Mungkin perlu tonsilektomi/ adenoidektomi . dalam nasofaring Penisilin oral atau suntikan. Schick (-).diphth. Tata laksana… Pengobatan carrier Carrier: tidak menunjukkan keluhan. mengandung C.

Tata laksana… Isolasi dan karantina  Isolasi penderita: sampai biakan (-) 3x berturut- turut  Kontak: isolasi sampai terlaksana biakan hidung- tenggorok  gejala klinis diikuti sampai masa tunas lewat  Bila imunisasi dasar lengkap: booster .

Tata laksana… Tata Laksana Epidemiologis Hasil Kultur Tes Schick Tindakan – – Bebas isolasi + – Terapi carrier + +. gejala (–) ADS + Penisilin – + Toksoid (imunisasi aktif) .

PROGNOSA Umur penderita (makin muda makin buruk) Keadaan Umum penderita Perjalanan penyakit dan komplikasi Lokasi membran Kecepatan diagnosa Pengobatan Status imunisasi .

PENCEGAHAN Umum: kebersihan & pengetahuan ttg bahaya peny Khusus: imunisasi DPT & pengobatan carrier Imunisasi vaksinasi dasar : umur 2.3.4 bln vaksinasi ulang : umur 18 bln dan 4 – 6 thn Imunisasi thd penderita setelah 3 bln dari sakit .

.

pemberian toksoid difteri bisa akibatkan reaksi •Kekebalan pasif: dari ibu dan suntikan antitoksin •Kekebalan aktif: dgn menderita sakit. IMUNITAS •Tes kekebalan: .Schick: menentukan kerantanan thd difteri. imunisasi toksoid difteri . disuntikkan toksin difteri (dilemahkan) intrakutan Tes (+) : tak terdapat kekebalan antitoksik (nekrosis jaringan) .Moloney: menentukan sensitivitas thd produk kuman Tes (+) : tdp pengalaman dg basil difteri sebelumnya hipersensitivitas . inapparent inf.