You are on page 1of 18

ASUHAN KEPERAWATAN

ANAK DENGAN HIV AIDS

Oleh:
Firman Khafidlin
P17420111014
DEFINISI

HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah


virus pada manusia yang menyerang system
kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka
waktu yang relatif lama dapat menyebabkan
AIDS

sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma


penyakit yang muncul secara kompleks dalam
waktu relatif lama karena penurunan sistem
kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi
HIV
ETIOLOGI

Penyebab infeksi adalah golongan virus retro


yang disebut human immunodeficiency virus
(HIV).
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan
HIV pada bayi yang dikandungnya.
LANJUTAN

Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses


melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak
secara lansung antara darah ibu dengan bayi
sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi.
Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewktu
berada dalam kandungan atau juga melalui ASI. HIV
teridentifikasi ada dalam kolostrum dan ASI,
menyebabkan infeksi kronis pada bayi dan
anak.Infeksi yang ditularkan ibu ini akan
mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga anak
mudah terkena infeksi berulang, seperti infeksi
saluran cerna, infeksi jamur, infeksi tuberkulosis,dsb
sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak
terganggu
PATOFISIOLOGI

HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan


antigen permukaan CD4, yang bekerja sebagai
reseptor viral. Subset limfosit ini, yang
mencakup limfosit penolong dengan peran kritis
dalam mempertahankan responsivitas imun,
juga meperlihatkan pengurangan bertahap
bersamaan dengan perkembangan penyakit.
Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan
penurunan sel CD4.
MANIFESTASI
KLINIK
demam,
kegagalan berkembang,

hepatomegali dan splenomegali,

limfadenopati generalisata (didefinisikan sebagai


nodul yang >0,5 cm terdapat pada 2 atau lebih
area tidak bilateral selama >2 bulan),
Kandidiasis

parotitis,

dan diare kronis


FAKTOR RESIKO

bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan


berganti,
bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya
penyalahguna obat intravena,
bayi atau anak yang mendapat transfusi darah
atau produk darah berulang,
anak yang terpapar pada infeksi HIV dari
kekerasan seksual (perlakuan salah seksual),
dan
anak remaja dengan hubungan seksual berganti-
ganti pasangan.
PENCEGAHAN

Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama


kehamilan yang bertujuan agar vital load rendah
sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah
dan cairan tubuh kurang efektif untuk
menularkan HIV.
Saat melahirkan. Penggunaan
antiretroviral(Nevirapine) saat persalinan dan
bayi baru dilahirkan dan persalinan sebaiknya
dilakukan dengan metode sectio caesar karena
terbukti mengurangi resiko penularan sebanyak
80%.
LANJUTAN
Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada
ibu tentang resiko dan manfaat ASI
Untuk mengurangi resiko penularan, ibu dengan
HIV positif bisa memberikan susu formula
pengganti ASI, kepada bayinya. Namun,
pemberian susu formula harus sesuai dengan
persyaratan AFASS dari Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO), yaitu Acceptable = mudah
diterima, Feasible = mudah dilakukan,
Affordable = harga terjangkau, Sustainable =
berkelanjutan, dan Safe = aman penggunaannya
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
ELISA (positif; hasil tes yang positif dipastikan
dengan western blot)
Western blot (positif)

P24 antigen test (positif untuk protein virus yang


bebas)
Kultur HIV(positif; kalau dua kali uji-kadar
secara berturut-turut mendeteksi enzim reverse
transcriptase atau antigen p24 dengan kadar
yang meningkat)
KOMPLIKASI

Oral Lesi
Neurologik

Gastrointestinal

Respirasi

Dermatologik

Sensorik
Asuhan
Keperawatan
PENGKAJIAN

Biodata Klien
Riwayat Penyakit

Lakukan pengkajian fisik

Dapatkan riwayat imunisasi

Dapatkan riwayat yang berhubungan dengan


faktor resiko terhadap aids pada anak-anak:
exposure in utero to HIV-infected mother,
pemajanan terhadap produk darah, khususnya
anak dengan hemophilia, remaja yang
menunjukan prilaku resiko tinggi
LANJUTAN

Obsevasi adanya manifestasi AIDS pada anak-anak:


gagal tumbuh, limfadenopati, hepatosplenomegali
Infeksi bakteri berulang
Penyakit paru khususnya pneumonia pneumocystis
carinii (pneumonitys inter interstisial limfositik, dan
hyperplasia limfoid paru).
Diare kronis
Gambaran neurologis, kehilangan kemampuan
motorik yang telah di capai sebelumnya,
kemungkinan mikrosefali, pemeriksaan neurologis
abnormal
Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian
missal tes antibody serum.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan
dengan akumulasi secret sekunder terhadap
hipersekresi sputum karena proses inflamasi
Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen
dari hipotalamus sekunder terhadap reaksi antigen
dan antibody (Proses inflamasi)
Risiko tinggi kekurangan volume cairan
berhubungan dengan penurunan pemasukan dan
pengeluaran sekunder karena kehilangan nafsu
makan dan diare
Perubahan eliminasi (diare) yang berhubungan
dengan peningkatan motilitas usus sekunder proses
inflamasi system pencernaan
Risiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan
dengan dermatitis seboroik dan herpers zoster
sekunder proses inflamasi system integumen
Risiko infeksi (ISK) berhubungan dengan kerusakan
pertahanan tubuh, adanya organisme infeksius dan
imobilisasi
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kekambuhan penyakit, diare,
kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan
pembatasan fisik, hospitalisasi, stigma sosial
terhadap HIV
Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK
sekunder proses penyakit (misal: ensefalopati,
pengobatan).
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang
beresiko.
intervensi