Kelompok 2

:
Diah Restu W.Y.
Nana Dwi Cahyani
Erinda Verunika
Amelia Wahidah
Naharul Khairunila
Lilis Sholatin
Della Anastya
Nararia Indreswari
Apendiks bentuk tabung panjangnya kira-kira 10 cm,
dan berpangkal di seccum. Lumennya sempit di bagian
proksimal melebar di bagian distal. Namun demikian, pada
bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya
dan menyempit pada ujungnya. Keadaan ini mungkin
menjadi sebab rendahnya insiden appendisitis pada usia
itu.
Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml
perhari. Cairan lendir itu normalnya dicurahkan ke
dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.
Hambatan aliran lendir di muara appendiks
tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis.
Peradangan akibat
infeksi pada usus
buntu atau umbai
cacing (apendiks).
Sudah dapat diterima luas
bahwa pencetus sebagian besar
appendisitis adalah obstruksi
lumen appendiks.
Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang
didasari oleh terjadinya peradangan mendadak di umbai cacing
yang memberikan tanda setempat, baik disertai maupun tidak
disertai dengan rangsang peritoneum. Gejala klasik appendisitis
ialah nyeri samar-samar dan tumpul dan merupakan nyeri viseral
di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini disertai
mual, kadang muntah, dan nafsu makan menurun. Dalam beberapa
jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney.
Di titik tersebut nyeri dirasa lebih tajam dan lebih jelas
letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang
tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga
penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu
dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya
perforasi. Bila terdapat rangsangan peritoneum, biasanya pasien
mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk.
Appendisitis dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan
seluruh lapisan dinding appendiks dalam waktu 24-48 jam pertama.
Di dalamnya, dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang
dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, appendisitis
akan sembuh dan massa periappendikuler akan menjadi tenang dan
selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan
teliti,diagnosis klinis appendisitis akut masih mungkin salah
sekitar 15-20 % kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi
pada perempuan dibandingkan dengan lelaki. Hal ini dapat
disadari mengingat pada perempuan, terutama pada yang masih
muda, sering timbul gangguan yang menyerupai appendisitis
akut.
Keluhan itu berasal dari genetalia interna karena ovulasi,
menstruasi, radang di pelvis. Untuk menurunkan angka
kesalahan diagnosis appendisitis akut, bila diagnosis
meragukan, sebaiknya penderita diobservasi di rumah sakit
dengan frekuensi setiap 1-2 jam. Pemeriksaan colok dubur
: pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk
menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui.
Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka
kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah
pelvis.
Demam Subfebris (37°C-38°C) Bila suhu tinggi,
mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat
perbedaan suhu axila dan rektal sampai 1°C.
Kembung pada penderita, Penonjolan pada perut
kanan bawah (seccum). Nyeri pada iliaka kanan.
1. Pemeriksaan Darah (pada penderita apendisitis : sel
darah putih meningkat)
2. Pemeriksaan Urin untuk membedakan dengan infeksi
saluran kencing, yang gejalanya menyerupai apendisitis.
3. Pemeriksaan USG
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan
merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik adalah appendektomi.
Appendektomi terbuka, insisi Mc. Burney paling banyak dipilih
oleh ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas,
sebaiknya dilakukan observasi terlebih dahulu, istirahat posisi
fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang tidak
merangsang peristaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain di
perut kanan bawah .
Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi dapat
dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila
tersedia laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus
meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan operasi
atau tidak.
- Nyeri akut berhubungan dengan adanya insisi
bedah
- Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
muntah pasca operasi
- Kurang pengetahuan berhubungan dengan
perjalanan penyakit
Daftar Pustaka
• Harrison.Prinsip prinsip ilmu penyakit dalam.
Ypgyakarta:Kedokteran EGC.
• Griffith M.D, H.winter. 1994.Buku Pintar
Kesehatan. Jakarta:Arcan.