You are on page 1of 30

FRAKTUR MAKSILA

Pembimbing:
dr. Djoned Sananto, Sp.BP

Oleh :
Devi Nathalia S. (2016.04.2.0048)
Devy Cahya Arintika A. (2016.04.2.0050)
Dwitya Fidianti (2016.04.2.0054)

Bab i
pendahuluan

PENDAHULUAN

Kerangka wajah  3
bagian : sepertiga bawah,
sepertiga atas, sepertiga
tengah
Maksila membentuk 1/3
bagian besar wajah &
menjadi buttresses untuk
wajah  sbg dinding
penopang & meneruskan
gaya
Fraktur di daerah tsb
disebut dgn FRAKTUR
MAKSILA
JARANG , di bandingkan
fraktur mandibula (4:1)

Bab iI peMBAHASAN .

ANATOMI Maksila tdd 2 bentukan piramidal ireguler membentuk midfasial. zygomatic. frontal. dan alveolar. palatum. bag. . palatina. Orbit. Anteriornya lubang utk sinus maksila. nasal Maksila tdd (corpus) dan empat prosesus.

BUTTRESSES  Pd maksila tdp sistem BUTTRESSES (vertikal) yg berfungsi saat oklusi gigi gaya beban didistribusikan & di serap  ke kraniofasial  Buttresses : 1. Mandibular buttresses . Zygomatic buttresses 2. Pterygomaxillary buttresses 4. Nasofrontal buttresses 3.

.ANATOMI Tiap sisi maksila  kanal palatina mayor  arteri dan saraf palatine mayor keluar  menyuplai darah dan memberikan persarafan pada seluruh tulang dan mukosa dari os palatum.

maxillary  menjadi a.alveolaris superior posterior  memberikan perdarahan pada gigi molar melalui plexus dental . ANATOMI Cabang a.alvelolaris superior posterior dan n.maxillary dan n.

infraorbital dan n. .ANATOMI Cabang a.infraorbital  perdarahan bagi gigi bagian anterior.

FRAKTUR MAKSILA .

Etiologi  Tubrukan yang keras pada daerah frontal atau lateral .

seluruh prosesus alveolar maksila. . kubah palatum.FRAKTUR MAKSILA  KLASIFIKASI : Klasifikasi Le Fort (1901) a). dan prosesus pterygoid. Le Fort I atau Fraktur Transversal (Guerin) Fraktur tdp di atas apex dari gigi.

meluas melewati hidung. dan struktur midfasial . membentuk bentukan pyramidal dari bagian maksila. Berjalan ke medial melewati bagian median orbita.FRAKTUR MAKSILA  Le Fort II :  dimulai dr atas gigi sebelah lateral. meluas ke pterygoid plates dgn model yg sama dgn Le Fort I.

FRAKTUR MAKSILA  Le Fort III : Fraktur meluas sampai ke sutura zygomaticofrontalis dan sutura nasofrontalis dan melewati dinding dari orbita yang mengakibatkan pemisahan seluruhnya struktur midfacial dari cranium .

Temuan ini mengarahkan pada fraktur pyramidal maksila Pada palpasi intraoral menunjukkan fraktur pada area anterior maksila atau fraktur pada tulang alveolar. . dan sclera). mengindikasikan adanya fraktur pada rima orbita.DIAGNOSIS DAN MANIFESTASI KLINIS • Anamnesis  Riwayat cedera • Inspeksi  Adanya epistaksis. edema • Palpasi  Adanya deformitas pada sutura zygomaticomaxillary. konjungtiva. ekimosis (periorbital.

• Cerebrospinal rhinorrhea atau otorrhea .• Manipulasi digital  Dilakukan dengan cara mencengkram bagian anterior maksila dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk menunjukkan mobilitas maksila.

Klas I  b. Klas II Divisi I n nn Divisi II  c. Klas III .• Maloklusi Gigi  a.

 Maloklusi gigi .

dan tiga dimensi (3D). atau garis fraktur.• Pemeriksaan Radiologi . . .Pada foto polos Antero-posterior dan Occipitomental menunjukkan adanya cairan pada sinus maksila.Standar pemeriksaan : potongan axial. sagittal.

PENATALAKSANAAN .

. bekuan darah. gigi/patahan gigi atau benda asing lain akan menyebabkan sumbatan Perawatan jalan jalan nafas nafas bila terjadi maka harus segera dilakukan tracheostomy. serta jaringan lunak.PENATALAKSANAAN DARURAT Adanya pergeseran dan pecahan tulang akibat fraktur maksila.

Jika perdarahan yang terjadi tidak dapat dihentikan. berupa tampon pada tempat luka ataupun dengan melakukan Perawatan tampon pada faring perdarahan posterior. karotis eksterna . dapat dilakukan ligase a. Perdarahan dapat diatasi dengan melakukan penekanan.

Fiksasi Maksilomandibular. .TINDAKAN OPERATIF DEFINITIF a. stabilisasi awal sering dilakukan dengan kawat interosseous. Reduksi Fraktur. Teknik ini merupakan langkah pertama dalam treatment fraktur maksila untuk memungkinkan restorasi hubungan oklusal yang tepat dengan aplikasi arch bars serta kawat interdental pada arkus dental atas dan bawah. fiksasi maksilomandibular dilakukan untuk memperbaiki lebar dan proyeksi wajah b. Tergantung pada kompleksitas fraktur. Segmen-segmen fraktur ditempatkan kembali secara anatomis.

Pada Le Fort II. Pada Le Fort I.c. Plat mini yang menggunakan sekrup berukuran 2 mm dipakai untuk stabilisasi buttress. fiksasi tambahan dilakukan pada nasofrontal junction dan rima infraorbital. Pada Le Fort III. . Stabilisasi Plat dan Sekrup Fiksasi dengan plat kecil dan sekrup lebih disukai. plat mini ditempatkan pada artikulasi zygomaticofrontal untuk stabilisasi. plat mini ditempatkan pada tiap buttress nasomaxillary dan zygomaticomaxillary.

Cangkok Tulang Primer. Apabila terjadi gangguan oklusi pada saat itu. morbiditas tempat donor diambil minimal. fiksasi maksilomandibular dilepaskan. . Pelepasan Fiksasi Maksilomandibular. reduksi dan fiksasi diulang. oklusi diperiksa kembali. Cangkok tulang diambil dari kranium karena aksesibilitasnya (terutama jika diakukan insisi koronal). Pemasangan cangkokan juga dilakukan dengan plat mini & sekrup e. MMF dipasang kembali. dan memiliki densitas kortikal tinggi dengan volum yang berlimpah. Setelah reduksi dan fiksasi semua fraktur dilakukan. berarti fiksasi rigid harus dilepas.d.

. Dilakukan canthoplexy lateral dan penempelan kembali massa soft tissue pipi pada rima infraorbita. Untuk menghindari dystopia lateral kantal. displacement massa pipi malar ke inferior. soft tissue yang telah terpisah dari rangka dibawahnya ditempelkan kembali.f. Resuspensi Soft tissue Pada saat menutup luka.

terbuka dan if ventilasi bekuan darah.PERAWATAN PASCA OPERATIF Suction Obat penggunaa berulang pada vasokontrikto pemberi n nasal dan r juga dapat Menjaga an cavum oral diberikan kebersih antibiotik harus untuk an oral nutrisi untuk dilakukan menjaga jalan masa untuk dan gigi yang membersihka nafas tetap adekuat perioperat n mukus. . dan saliva. untuk sinus.

KONTRAINDIKASI PEMBEDAHAN  Pada pemeriksaan klinis dan radiologis terbukti didapatkan fraktur yang tidak bergeser fraktur yang tidak bergeser terhitung stabil pada saat gaya mengunyah terjadi.  Pasien dengan cedera otak yang parah. yang diperkirakan tidak selamat. . Pasien akan diberikan makanan lunak selama 6 minggu dan kemudian secara bertahap diperbolehkan kembali untuk makan secara normal.

KOMPLIKASI Deformitas Obstruksi pada fasial. nasal Malunion terutama dan Non-union soft-tissue Infeksi (septoplast maloklusi y) yg turun/ kendur .