Oleh

:
Putu Ayudia Mahendra Dewi(1102005003)
Putu Kessi Vikanswari (1102005147)

Bagian / SMF Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin
FK UNUD / RSUP Sanglah Denpasar
DEFINISI
 peradangan kulit baik
epidermis dan dermis
sebagai respon terhadap
pengaruh faktor eksogen
dan atau endogen yang
dapat menimbulkan
efloresensi polimorfik
(eritema,edema,papul,
vesikel, skuamosa dan
likenifikasi ) dan gatal
ETIOLOGI
EKSOGEN ENDOGEN

FISIK (sinar
DERMATITIS
matahari,
ATOPIK
suhu)

KIMIA
(detergen,oli, SEBOROIK
asam,basa)

MIKROORGA LIKEN
NISME SIMPLEK
GEJALA &
STADIUM DERMATITIS
stadium akut
• eritema, edema, vesikel, bula, erosi, dan
eksudasibasah (madidans)
stadium subakut
• eritema berkurang,eksudat mengering, krusta

stadium kronis
• lesi kering, skuama, hiperpigmentasi,
likenifikasi, papulerosi & eskoriasi
KLASIFIKASI
 ETIOLOGI: dermatitis kontak, dermatitis medikamentosa

 MORFOLOGI: dermatitis papulosa, dermatitis vesikolosa

 BENTUK: dermatitis numularis

 LOKALISASI: dermatitis manus, interdigitalis

 STADIUM PENYAKIT: dermatitis akut, subakut dan kronis
1. DERMATITIS KONTAK
 DEFINISI :
dermatitis yang disebabkan oleh bahan (substansi) yang
menempel pada kulit

JENISNYA :
1. dermatitis kontak iritan (dki)
2. dermatitis kontak alergi (dka)
DERMATITIS KONTAK IRITAN (DKI)
DEFINISI :
merupakan dermatitis yang terjadi karena adanya kontak
dengan bahan iritan.

IRITAN :
1. IRITAN KUAT: larutan asam dan basa kuat
2. IRITAN LEMAH: sabun, detergen, bahan pelarut

FAKTOR YANG MEPENGARUHI
 jenis bahan yang kontak
 lamanya kontak
 konsentrasi bahan kontak
 faktor individu (ketebalan kulit, usia, ras, jenis
kelamin)
PATOGENESIS
PENETRASI IRITAN  MERUSAK
BARIER KULIT

menembus membran lemak dan
merusak jaringan

mengaktifkan sitokin proinflamasi

menimbulkan peradangan klasik
(eritema, edema, panas, nyeri)
GAMBARAN KLINIS
 DKI AKUT (iritan kuat)
kulit pedih, panas, terbakar, eritema, edema, bula,
nekrosis

 DKI KRONIS (iritan lemah)
kulit kering, eritema, skuama, hiperkeratosis, likenifikasi
DIAGNOSIS DKI
 ANAMNESIS & GAMBARAN KLINIS
 WAKTU TIMBULNYA GEJALA:
dki akutcepat
dki kronislambat
 UJI TEMPEL--- untuk mengetahui bahan iritan

TERAPI
 Mencari Penyebab Menyingkirkan Pajanan Iritan
 Kortikosteroid Topikal (hidrokortison)
 Untuk kelainan kronis dapat diberikan kortikosteroid yang
lebih kuat
DERMATITIS KONTAK ALERGI
(DKA)
DEFINISI :
dermatitis yang terjadi karena kulit terpajan/kontak dengan
bahan-bahan sensitizer (alergen)

Terdiri dari 2 fase:
 Fase sensitisasi (induksi)

 Fase elisitasi
GEJALA KLINIS
 GATAL

 AKUT eritema, batas jelas,
papulo-vesikel, vesikel&bula,
erosi dan eksudasi (basah)

 KRONIK kulit tebal,kering,
berskuama&likenifikasi,
fisura,batas
jelas,hiperpigmentasi
DIAGNOSIS
 ANAMNESA
menggali informasi tentang kontaktan yg dicurigai atas kelainan
kulit yg ditemukan.
 PEMERIKSAAN FISIK
lokasi & kelainan kulit utk kemungkinan penyebab

 UJI TEMPEL
DIAGNOSIS BANDING
DERMATITIS ATOPIK, DERMATITIS NUMULARIS, DERMATITIS
SEBOROIK, PSORIASIS,
TERUTAMA DENGAN DKI
Penatalaksanaan:
 Pengobatan utama dengan menghindari penyebabnya
 Keluhan gatal dapat diberi anti histamin : loratadin 10 atau setirizin 10 mg
setiap 24 jam
 Kortikosteroid oral bila sangat diperlukan : Metilprednisolone 8 mg setiap
8jam. Kortikosteroid untuk mengatasi peradangan akut.

DKA RINGANKORTIKOSTEROID TOPIKAL
 Kompres lesi dengan NaCl 0,9% (untuk lesi akut)
 Hidrokortison krim 2,5% untuk lesi akut mometason krim 0,1% bila ada
erosi dicampurkan dengan kloramfenikol 2%.
 Untuk lesi kronis Desoksimetason 0,25% atau betametason 0,1%

Terapi lokal disesuaikan dengan morfologi lesi
DEFINISI

Radang kulit, kronik, residif, rasa gatal
Terkait hipersensitivitas tipe I (IgE)
Riwayat atopik (rhinitis alergi, asma
bronkial)
Etiologi & Patogenesis
 Faktor genetik, lingkungan, barier kulit,
farmakologik
 Berkaitan dengan reaksi imunologi
 Gangguan imunitas seluler
 Overproduksi IgE oleh sel B
Faktor Pencetus
 Alergi makanan
 Aeroalergen
 Bahan iritan/kontaktan
 Infeksi bakteri
 Faktor stres
 Iklim
Klasifikasi
Bentuk Infantil (2 bln-2 thn)
Bentuk anak (2-10 tahun)
Bentuk Dewasa (13-30 tahun)
Gejala Klinis
Infantil :
papulo-vesikula,
eritema, erosi,
eksudasi dan
terbentuk krusta.
Predileksi: wajah,
kepala, dan ekstensor
tungkai. Kadang
terdapat pada bokong,
badan, dan genitalia,
eritroderma
Infantile atopic dermatitis
Gejala Klinis
Anak :
Eksematous, papula
eritema dan
likenifikasi.
Predileksi: fleksura,
pergelangan tangan
& kaki, tengkuk
Kelanjutan bentuk
infantil atau mulai
pada masa anak
Gejala Klinis
 Dewasa :
 Penebalan kulit,
likenifikasi, dan skuama,
kulit kering, sulit
berkeringat, lesi bilateral
simetris
 Predileksi : sama dengan
bentuk anak
 Kelanjutan bentuk anak
atau timbul pada masa
dewasa.
 > 30 thn  menurun
Atopic dermatitis in adults
Diagnosis
 Anamnesa : riwayat atopik, pajanan faktor
pencetus, rasa gatal
 Pemeriksaan Fisik : inspeksi gejala klinis
 Penunjang : biopsi, eosinofil total, IgE
total/spesifik, Prick test, tes provokasi/
eliminasi, fungsi imunitas seluler
 DD : dermatitis kontak, dermatitis seboroik,
dermatitis numularis
Diagnosis (Kriteria Hanifin dan Rajka)
Kriteria mayor (harus ada minimal 3):
1. Pruritus
2. Morfologi dan distribusi lesi yang khas:
 Bayi dan anak  wajah & ekstensor
 Dewasa  likenifikasi fleksura & hiperlinearitas

3. Dermatitis yang kronis residif
4. Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya (asma, rinitis
alergi, dermatitis atopik)
Diagnosis (Kriteria Hanifin dan Rajka)
Kriteria minor (3 atau lebih) :
1. Xerosis
2. Infeksi kulit (s.aureus dan virus herpes simplex)
3. Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki
4. Iktiosis/hiperlinear palmaris/keratosis pilaris
5. Pitiriasis alba
6. Dermatitis di papila mamae
7. White dermographism dan delayed blanch response
8. Keilitis
9. Lipatan infra orbital Dennie-Morgan
16. Intolerans terhadap
10. Konjungtivitis wol atau pelarut
berulang lemak
11. Keratokonus 17. Aksentuasi
12. Katarak subskapular perifolikular
anterior 18. Hipersensitif
13. Orbita menjadi terhadap makanan
gelap 19. Kadar IgE di dalam
14. Muka pucat atau serum meningkat
eritem 20. Tes kulit alergi tipe
15. Gatal bila dadakan positif
berkeringat
Memenuhi tiga kriteria
mayor dan tiga kriteria
minor
Penatalaksanaan
Topikal
1. Mencegah kekeringan kulit hidrasi kulit
Pelembab : krim hidrofilik urea 10%, emolien
2. Kortikosteroid topikal
Hidrokortison 1-2,5%

Sistemik
1. Mengurangi rasa gatal  antihistamin
2. Kortikosteroid  untuk eksaserbasi akut
3. Menanggulangi komplikasi infeksi sekunder antibiotika
Identifikasi dan eliminasi faktor pencetus
Definisi
Berupa Lesi berbentuk coin atau lonjong, berbatas
tegas dengan efluoresensi papulovesikel, biasanya
mudah pecah sehingga basah

EPIDEMIOLOGI
 Biasanya mengenai orang dewasa umur 55-65 tahun.
 Pria > Wanita
Etiopatogenesis
Penyebab  tidak diketahui
 Hipersensitivitas
 Infeksi : Stafilokokus dan mikrokokus
 Iritasi/kontaktan
 reaksi infeksi jamur di tempat lain
 trauma fisis, kimiawi, jaringan parut
 stres, alkohol, kelembapan rendah
Gejala Klinis
Gatal
 Akut  vesikel&papulovesikel
membesar,berkonfluen,lesi sebesar
uang logam eritema batas
tegaspecah eksudasi krusta

 Kronis  likenifikasi, skuama

34
Predileksi : tungkai bawah, badan, lengan
termasuk punggung tangan
Diagnosis
Berdasarkan gejala klinis
Anamnesis
P.Fisik : inspeksi lesi papulovesikel seperti koin

DD
dermatitis kontak, dermatitis atopik, stasis
dermatitis
Penatalaksanaan :
Umum  mencari faktor penyebab
Khusus :
- Topikal lesi : anti inflamasi (glukokortikoid,
takrolimus)
- Lesi eksudatif : kompres Permanganas
Kalikulus 1: 10.000
- Infeksi bakteri : antibiotik sistemik
- Pruritus : Antihistamin
- Kasus berat, refrakter, jangka lama :
kortikosteroid sistemik
DERMATITIS POPOK (NAPKIN
ECZEMA)
Dermatitis popok (Diaper): Dermatitis yang pada
awalnya diutupi popok bisa trjadi pada bayi atau orang
dewasa yang lama menggunakan popok.

Etioptogenesis: Penyebab DP multifaktorial. Faktor
inisial adalah kelembaban kulit yang berlangsung lama.
Klinis :
- Lesi papulovesikular, bisa juga
berupa bula ataupun erosi
- Biasanya berkonfluent dari
umbilikus, genitalia, bokong
dan biasanya sampai ke paha.
- Anak dengan dermatitis popok
ditandai dengan rasa
tidaknyaman atau rewel.
Penatalaksanaan
Non medikamentosa
A. Air
Daerah popok dibiarkan terbuka selama mungkin agar
tidak lembab, misalnya ketika bayi tidur.
B. Barrier ointments
Barrier ointments dioleskan setiap kali popok diganti.
Contoh barrier ointments : seng oksida, petrolatum,
preparat barier non mediated
C. Diaper
Frekuensi penggantian popok perlu diperhatikan. Popok
diganti sesegera mungkin bila telah kotor.
Penatalaksanaan
Medikamentosa
1. Kortikosteroid topikal
Kortikosteroid topikal yang dianjurkan adalah yang ringan
Hidrokortison 1% - 2½ %) dan umumnya diberi untuk jangka
waktu 3 – 7 hari.
Penggunaan steroid poten merupakan indikasi kontra karena
dapat menimbulkan efek samping yang cukup banyak.
2. Antifungal topikal
Nistatin atau imidazol terbukti aman dan efektif untuk
pengobatan DP kandida klotrimazol dan mikonazol nitral
juga dapat digunakan.
Penataaksanaan
Medikamentosa
3. Anti bakterial
Bila terjadi infeksi ataupun infeksi sekunder pada DP dapat
diberikan beberapa anti mikroba, termasuk benzalkonium
chlorida dan triklosan
LICHEN COMPLEX KRONIK
DEFINISI
Kelainan pruritus kronis dengan karakteristik satu atau lebih
plak ter likenifikasi, dengan penebalan kulit.

Lokasi : Kulit kepala, leher, ekstremitas bagian ekstensor,
pergelangan kaki dan area anogenital.
ETIOPATOGENESIS
Muncul akibat menggaruk dan menggosok area yang gatal.
Faktor lingkungan yang menyebabkan gatal antara lain :
 Panas
 Keringat
 Iritasi

MANIFESTASI KLINIS
Terdapat plak gatal pada satu atau lebih area tubuh, gatalnya bisa
paroksimal, kontinyu atau sporadik. Gatal bertambah parah jika
berkeringat, terkena panas, dan iritasi dari pakaian, dan dibawah
tekanan psikologis.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
klinis dan histopatologi. Histopatologi ditemukan
hiperkeratosis dengan par dan ortokeratosis,
hipergranulosis dan psoriasiform epidermal
hiperplasia.

DD
 Lichenified atopic eczema
 Lichenified psoriasis
 Hypertropic lichen planus
TREATMENT
Bertujuan untuk meringankan gatal agar pasien berhenti
menggaruk.
 poten topikal steroid
 nonsteroidal antipruritus seperti mentol, phenol dan
pramoxine.
 Emollien
 Steroid intralesi
 Triamcinolone acetonide
 KIE pasie untuk berhenti menggaruk .