KEGAWATAN NEONATUS

• Berdasarkan Permenkes 75 Tahun 2014,
jumlah minimal tenaga bidan adalah 4 bidan
untuk puskesmas non rawat inap & 7 bidan
untuk puskesmas rawat inap.

• Rasio bidan di puskesmas terhadap jumlah
puskesmas di Indonesia pada tahun 2014
sebesar 10,52 bidan per puskesmas.

• Secara nasional jumlah bidan telah
mencapai target, tetapi penyebaran per
propinsi yg belum merata
• Pada tahun 2014, rasio bidan terhadap
penduduk sebesar 49,56, lebih rendah jika
dibandingkan dengan target tahun 2014
sebesar 100 bidan per 100.000 penduduk.

• Pada tahun 2014, baru ada dua provinsi yang
telah mencapai target rasio bidan terhadap
penduduk, sedangkan 32 provinsi lainnya
belum mencapai target yang telah
ditetapkan
Capaian penanganan neonatal dg
komplikasi mengalami peningkatan dari
tahun 2013 yg sebesar 51,47% menjadi
59,68 pada tahun 2014. Masih terdapat
disparitas yang cukup besar antar
provinsi.

• Kejadian kematian tertinggi pada bayi &
balita terjadi pada masa neonatus.
• Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa
78,5% dari kematian neonatal terjadi pada
umur 0-6 hari.
• Dengan melihat adanya risiko kematian yang
tinggi & berbagai komplikasi pada minggu
pertama kelahiran, maka setiap bayi baru
lahir harus mendapatkan pemeriksaan
sesuai standar lebih sering, minimal 2x
dalam minggu pertama.
• Tahun 2008 ditetapkan perubahan
kebijakan dalam pelaksanaan
kunjungan neonatal, dari 2 x (1 x
pada minggu pertama & 1 x pada 8-28
hari) menjadi 3 x (2 x pada minggu
pertama & 1 x pada 8–28 hari).
• Dengan demikian, jadwal kunjungan
neonatal yang dilaksanakan saat ini
yaitu pada :
• umur 6 - 48 jam,
• umur 3 - 7 hari &
• umur 8 - 28 hari.
KEGAWATAN NEONATUS

• Asfiksia BBL
• Gangguan Nafas pd BBL
• BBLR
• Hipotermi
• Hipoglikemia
• Ikterus
• Kejang pd BBL
• Infeksi Neonatal
• Perdarahan
• Syok / renjatan
Penilaian cepat TANDA BAHAYA

Manajemen segera

Penilaian lanjut
Penilaian cepat

Letakkan bayi pd permukaan yg hangat
& cahaya cukup

• PERIKSA TANDA BAHAYA :
Megap megap (merintih) / tidak
bernapas /
RR < 30 x /mnt
Perdarahan
Kejang
Syok ( pucat, dingin, FJ > 180 x/mnt )
Penurunan kesadaran
Manajemen segera

• Pasang jalur IV & beri cairan
kristaloid IV 10 ml/kgBB dlm 1
jam
• Lakukan manajemen segera
Bayi risiko tinggi

• Bayi lahir dg masa gestasi
< 37 minggu atau
> 42 minggu.
• Bayi dg berat lahir < 2500 gram atau
> 4000 gram.
• Bayi dg penyimpangan BB atau
perkembangan thd masa gestasi.
• Bayi dg riwayat sakit berat atau
kematian saudaranya.
• Bayi dg nilai APGAR < 7
• Kecurigaan atau adanya kelainan
bawaan
• Anemia atau ketidak cocokan gol.
darah.
• Bayi lahir dari kehamilan ganda, atau
ibu hamil lagi 3 bulan setelah
kelahiran
• Bayi dari ibu dg riwayat infeksi atau
penyakit lain selama kehamilannya
• Bayi lahir dg persalinan tindakan
• Bayi lahir dari ibu yg “sangat
menderita” saat kehamilan
Penilaian cepat
• Letakkan bayi pd permukaan yg
hangat, di bawah pemancar panas,
cahaya yg cukup.
• Periksa bayi dg segera adakah ada
tanda bahaya :
• Megap2 (merintih) atau tidak bernapas
atau frek. napas < 30 x /menit
• Perdarahan
• Kejang
• Syok (pucat, dingin, frek. jantung > 180
x/menit, tidak sadar atau kesadaran
menurun)
Manajemen segera

Pasang jalur IV &
Beri cairan IV 10 mL/kg dlm 1 jam
Lakukan manajemen segera setelah
kondisi stabil,
Lakukan penilaian lanjut
Tanda Bahaya segera pd tanda
Manajemen Manajemen
bahaya segera

Megap-megap Resusitasi dg balon resusitasi
tidak bernapas atau & sungkup
- Beri O2 dg kecepatan aliran
frek. napas < 30 x/menit, maksimal
- Lakukan rujukan

Hentikan perdarahan yg
tampak
(tali pusat, ulangi penjepitan /
pengikatan tali pusat; jika
Perdarahan perdarahan dari tempat
khitan/sirkumsisi, tekan
tempat perdarahan dg
kompres steril
Beri vit K1 1 mg IM
Lakukan penilaian lanjut
Jika perdarahan
sbg penyebab syok:

Beri segera cairan infus Ringer
Laktat atau NaCl 0,9% dg dosis
10 cc/kg BB diberikan selama 10
menit

Syok Jika perdarahan
bukan penyebab syok:

Naikkan kecepatan infus cairan IV
sampai 20 cc/kgbb/jam selama 1 jam
pertama
Hangatkan bayi.
Cari tanda sepsis & mulai terapi
untuk kecurigaan sepsis, jika tanda
tsb ditemukan.
Lakukan penilaian lanjut
Atasi kejang dg fenobarbital.

Bila jalur IV sudah terpasang beri fenobarbital 20
mg/kgBB secara IV pelan dlm 5 menit

Bila jalur IV belum terpasang, beri fenobarbital 20
mg/kgBB dosis tunggal secara IM;
Kejang
- Pasang jalur IV & beri cairan IV dg dosis rumatan
- Jaga saluran napas agar tetap bersih & terbuka
- Beri Oksigen, bila perlu
- Lakukan penilaian lanjut .
ASFIKSIA
PADA BAYI
BATASAN

• Asfiksia pd bayi baru lahir (BBL)
adalah kegagalan napas secara
spontan & teratur pd saat lahir
atau beberapa saat setelah lahir.
Langkah promotif /
preventif
• Pemeriksaan selama kehamilan
secara teratur yg berkualitas,
• Meningkatkan status nutrisi ibu
• Manajemen persalinan yg baik &
benar
• Melaksanakan Pelayanan neonatal
esensial terutama dg melakukan
resusitasi yg baik & benar sesuai
standar.
PENYEBAB ASFIKSIA
Faktor ibu
• Preeklampsia & eklampsia
• Perdarahan antepartum abnormal
(plasenta previa atau solusio plasenta)
• Partus lama atau partus macet
• Demam sebelum & selama persalinan
• Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
• Kehamilan lebih bulan ( > 42 minggu
kehamilan)
Faktor plasenta dan talipusat
» Infark plasenta
» Hematom plasenta
» Lilitan talipusat
» Talipusat pendek
» Simpul talipusat
» Prolapsus talipusat
Faktor bayi
• Bayi kurang bulan/prematur ( < 37 minggu
kehamilan)
• Persalinan sulit: Letsu, kembar, distosia bahu,
Extraksi vakum/forsep
• Air Ketuban bercampur mekonium
• Kelainan kongenital yg memberi dampak pd
pernapasan bayi
DIAGNOSTIK

Anamnesis
• Gangguan atau kesulitan waktu lahir (lilitan
tali pusat, sungsang, ekstraksi vakum,
forseps, dll.)
• Lahir tidak bernafas / menangis.
• Air ketuban bercampur mekonium.

Pemeriksaan fisik
• Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap
• Denyut jantung < 100 X/menit
• Kulit sianosis, pucat.
• Tonus otot menurun.
Lahir

Perawatan Rutin
- Cukup bulan? Ya - Berikan kehangatan
- Amnion jernih dari mekonium? - Bersihkan/buka
- Bernapas/menangis? jalan napas
30 detik

- Keringkan
- Tonus baik? - Nilai warna
Tidak

- Berikan kehangatan
- Posisikan; bersihkan/
jalan napas (kalau perlu)*
- Keringkan, stimulasi, reposisi

Bernapas Perawatan
Evaluasi pernapasan,
FJ > 100 & Observasi
FJ, & warna
kemerahan
Sianosis
Apnu /
FJ < kemerahan
Beri oksigen
100
39
Ventilasi efektif
Berikan Ventilasi Tekanan
Positip* Perawatan Pasca
FJ > 100 & Resusitasi
kemerahan

FJ > 60
FJ < 60
30 detik

- Berikan Ventilasi Tekanan
Positip*
- Lakukan Kompresi Dada*
30 detik

FJ < 60

Berikan Epinefrin*

40
Bayi tidak membaik setelah diberi obat
Nilai kembali efektifitas:
• Ventilasi
• Kompresi dada
• Intubasi endotrakeal
• Pemberian efinefrin
Pertimbangkan kemungkinan:
• Hipovolemia

FJ < 60 atau sianosis menetap atau
VTP tidak berhasil

FJ = 0
Pertimbangkan:
 Malformasi jalan napas
 Gangguan pada napas, seperti:
- Pneumotoraks
- Hernia diafragmatika
 Penyakit jantung bawaan
Pertimbangkan untuk
menghentikan resusitasi
41
GANGGUAN NAPAS PD BAYI
PRINSIP DASAR

• Gangguan Napas
 Dampak buruk bagi Bayi Baru Lahir (BBL )
 kematian / bila dapat bertahan hidup 
sekuele
• Apnu merupakan salah satu Tanda Bahaya /
Danger Sign harus segera ditangani
dimanapun BBL
• Gangguan napas dapat diakibatkan beberapa
faktor penyebab penanganan awal
kegawatan  sangat penting
BATASAN

• Frek. napas bayi > 60 x /menit,
mungkin menunjukkan satu atau lebih
tanda tambahan gangguan napas.
• Frek. napas bayi < 30 x /menit.
• Bayi dg sianosis sentral (biru pd lidah
& bibir).
• Bayi apnu (napas berhenti > 20 detik)
Diagnosis
Anamnesis
• Waktu timbulnya gangguan napas
• Usia kehamilan
• Pengobatan steroid antenatal
• Faktor predisposisi: KPD (Ketuban
Pecah Dini), Demam pd ibu sebelum
persalinan
• Riwayat Asfiksia & Persalinan dg
tindakan
• Riwayat aspirasi
Penyebab

• Kelainan paru: Pnemonia
• Kelainan jantung: Penyakit Jantung Bawaan,
Disfungsi miokardium
• Kelainan Susunan Syaraf Pusat akibat :
Asfiksia, Perdarahan otak
• Kelainan metabolik: Hipoglikemia, Asidosis
metabolik
• Kelainan Bedah: Pneumotoraks, Fistel
Trakheoesofageal, Hernia diafragmatika
• Kelainan lain: Sindrom Aspirasi Mekonium,
“Transient tachypnea of the Newborn”,
Penyakit Membran Hialin
• Pada Bayi Kurang Bulan:
– Penyakit Membran Hialin
– Pneumonia
– Asfiksia
– Kelainan atau Malformasi Kongenital
• Pada Bayi Cukup Bulan:
– Sindrom Aspirasi Mekonium
– Pneumonia
– ”Transient Tachypnea of the
Newborn”
– Asidosis
– Kelainan atau Malformasi Kongenital
Frekuensi Gejala tambahan
Klasifikasi
napas gangguan napas
> 60 kali/menit DENGAN Sianosis sentral DAN tarikan dinding dada
atau merintih saat ekspirasi.

ATAU > 90 kali/ DENGAN Sianosis sentral ATAU tarikan dinding dada
menit ATAU merintih saat ekspirasi. Gangguan
napas berat
ATAU < 30 kali/ DENGAN Gejala lain dari gangguan napas.
menit atau TANPA

DENGAN Tarikan dinding dada ATAU merintih saat
ekspirasi
60-90
kali/menit tetapi Sianosis sentral Gangguan napas
TANPA sedang

ATAU > 90 kali/ TANPA Tarikan dinding dada atau merintih saat
menit ekspirasi atau sianosis sentral.

60-90 TANPA Tarikan dinding dada atau merintih saat Gangguan napas
kali/menit ekspirasi atau sianosis sentral. ringan

DENGAN Sianosis sentral
60-90 Kelainan jantung
tetapi Tarikan dinding dada atau merintih.
kali/menit kongenital
TANPA
Manajemen umum

• Berikan O2 (2-3 liter/menit dg kateter
nasal)
• Jika bayi mengalami apnu:
– Lakukan tindakan resusitasi yg
sesuai
– Lakukan penilaian lanjut
– Evaluasi penyebab
• Periksa kadar glukosa darah
• Tentukan jenis gangguan napas
• Lanjutkan dg manajemen spesifik
Tatalaksana Bayi
preterm

Dalam ruang bersalin:
• Ruang bersalin di rumah sakit harus
mempunyai peralatan dan staf yg
memadai
• Resusitasi dan stabilisasi memerlukan
tersedianya staf yg memiliki
kualifikasi dan peralatan dg segera
• Oksigenasi yg memadai &
pertahankan suhu merupakan hal yg
sangat penting 50
51
Di Ruang bersalin

52
Suhu inkubator
BERAT SUHU INKUBATOR (OC) MENURUT UMUR
LAHIR
35oC 34 oC 33 oC 32 oC
<1500 g 1-10 hari 11 hari-3 3-5 minggu >5 minggu
minggu

1500-2000 g 1-10 hari 11 hari - 4 >4 minggu
minggu

2100 – 2500 1-2 hari 3 hari – 3 >3 minggu
g minggu

>2500 g 1-2 hari > 2 hari

Buku Panduan Manajemen Bayi Bayi Baru Lahir (Depkes, 2004) 53
Perawatan
Metode Kanguru

• Menghangatkan/mempertahankan bayi
pd suhu normal
• Memperlancar ASI/ fasilitasi menyusui
• Meningkatkan durasi menyusui
• Meningkatkan BABY BONDING

54
Kriteria BBLR yg
menggunakan PMK

• Kondisi secara klinis baik & stabil
• Berat lahir 1500 – 2500 gram
• Suhu tubuh stabil (36,5 – 37,5 oC)
• Kemampuan hisap& menelan baik
• Grafik BB cenderung naik
• Ibu / pengganti ibu ingin memakai
Metode Kanguru
Perawatan Metode Kanguru

56
PMK, BBLR 1250 gram
Rekomendasi WHO

• Kontak kulit dg kulit
– Semua BBL
– Mencegah hipotermia
– Mengatasi hipotermia
• KMC pd BBLR yg stabil
• KMC pd BBLR yg tidak stabil
Manfaat Perawatan
Metode Kanguru

• Stabilisasi kondisi
• Perlindungan suhu
• Pemberian ASI
• Ibu bebas bergerak
• Menurunkan morbiditas
• Meningkatkan harapan hidup
Manfaat PMK

• Denyut jantung bayi lebih stabil
• Pernapasan bayi lebih teratur
• Distribusi oksigen ke seluruh
tubuh menjadi lebih baik
• Mencegah bayi terkena udara
dingin
• Waktu tidur bayi lebih lama
• Kenaikan BB lebih cepat
…manfaat PMK

• Pemakaian kalori <
• Frekuensi bayi menangis <
• Mempermudah pemberian ASI
produksi ASI >>
• Ikatan batin dg ibu lbh baik
• Bayi lbh tenang & rileks
• Pengaruh psikologis thd orangtua
lbh baik
TERAPI OKSIGEN

HATI 2 :
SEBAIKNYA O2 < 60 %
KECEPATAN ALIRAN < 2 L / MENIT
RETROLENTAL FIBROPLASIA 
BUTA
CEDERAI PARU
SEBAIKNYA dg ALAT CPAP

62
Water-Seal CPAP
Komponen CPAP- I
• Sebuah sirkuit untuk aliran terus
menerus gas yg kemudian dihisap oleh
bayi
– Sumber O2 & udara bertekanan
menghasilkan gas yg dihisap.
– Sebuah pencampur O2 memungkinkan
gas yg sesuai diberikan.
– Sebuah flow meter mengontrol
kecepatan aliran gas yg dihisap
(kecepatan 5-7 L/menit).
– Sebuah humidifier menghangatkan &
melembabkan gas yg dihisap.
Komponen CPAP- II

• Sebuah alat untuk
menghubungkan sirkuit ke
saluran napas neonatus.
– nasal prong merupakan metode
yg lebih disukai untuk
penerapan CPAP.
Komponen CPAP- III

• Sebuah alat untuk menghasilkan
tek. positif pd sirkuit
– Tekanan positif dlm sirkuit dapat
dicapai dg perendaman selang
ekspirasi distal dlm larutan asam
asetat 0,25% sampai kedalaman
yg diharapkan (5 cm) atau katup
CPAP.
Ukuran prong yg sesuai

• Ukuran 1 untuk BB 700-1000 gram
• Ukuran 2 untuk BB 1000-2000 gram
• Ukuran 3 untuk BB 2000-3000 gram
• Ukuran 4 untuk BB 3000-4000 gram
• Ukuran 5 untuk BB > 4000 gram
Karakteristik CPAP yg baik
• Selang fleksibel & ringan yg
memungkinkan neonatus mengubah
posisinya dg mudah
• Mudah untuk dipasang & dilepas
• Resistensi rendah shg neonatus dapat
bernapas secara spontan
• Relatif tidak invasif
• Sederhana & mudah dipahami oleh
semua pemakai
• Aman & efektif dari segi biaya
Efek CPAP

• Mencegah kolaps alveolar
• Meningkatkan compliance
• Mempertahankan surfaktan
• Mendukung jalan napas &
diafragma
• Menstimulasi pertumbuhan paru
Yg Diuntungkan dg CPAP

• Neonatus prematur dg sindrom
gawat pernafasan (RDS)
• Neonatus dg transient tachypnea
of the newborn (TTN)
• Neonatus dg meconium aspiration
syndrome (MAS)
• Neonatus dg apnu yg sering
terjadi & bradikardia prematuritas
• Neonatus dg paralisis diafragma
• Neonatus yg telah dilepas dari
ventilator mekanik
• Neonatus dg penyakit saluran
napas seperti trakeomalasia &
bronkiolitis
• Neonatus setelah pembedahan di
bagian perut atau dada
Evaluasi Gawat napas dg
Skor Down

0 1 2

Frek. napas < 60/menit 60 – 80/menit > 80/menit

Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat

Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang dg Sianosis menetap
O2 walaupun diberi
O2
Air entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara
bilateral baik udara masuk masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar dg Dapat didengar
stetoskop tanpa alat bantu
74
Evaluasi Gawat napas dg
Skor Down

Skor < 4 Tidak ada gawat napas
Skor 4 - 7 Gawat napas
Skor > 7 Ancaman gagal napas
(pemeriksaan gas darah harus
dilakukan)

75
Bayi prematur harus diletakkan di inkubator
segera untuk meminimalkan kehilangan
cairan melalui evaporasi.

76
Manajemen spesifik
Gangguan Napas Berat

• Lanjutkan pemberian O2 2-3 liter/menit dg
kateter nasal, bila masih sesak berikan
O2 4-5 liter/menit dg sungkup
• Bayi jangan diberikan minum
• Jika ada tanda berikut, berikan
antibiotika (Ampisilin & Gentamisin)
untuk terapi kemungkinan besar sepsis:
– Suhu aksiler < 34 °C atau > 39 °C;
– Air ketuban bercampur mekonium;
– Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga
infeksi berat atau ketuban pecah dini (> 18
jam).
Manajemen spesifik
Gangguan Napas Berat
• Bila suhu aksiler 34-36.5 °C atau 37.5-39 °C
tangani masalah suhu abnormal & nilai ulang
setelah 2 jam:
– Bila suhu masih belum stabil atau
gangguan napas belum ada perbaikan,
berikan antibiotika untuk terapi
kemungkinan besar sepsis;
– Jika suhu normal, teruskan amati bayi.
Apabila suhu kembali abnormal, ulangi
tahapan diatas.
• Bila tidak ada tanda kearah sepsis, nilai
kembali bayi setelah 2 jam
• Bila bayi tidak menunjukkan perbaikan
setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan
besar sepsis  segera rujuk
Manajemen spesifik
Gangguan Napas Berat

• Bila ada perbaikan (frek. napas menurun
tidak kurang dari 40 x/menit, tarikan dinding
dada berkurang atau suara merintih
berkurang) disertai perbaikan tanda klinis,
kurangi terapi O2 bertahap
• Pasang pipa lambung, berikan ASI peras
setiap 2 jam.
• Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian
antibiotik dihentikan. Bila bayi kembali
tampak kemerahan tanpa pemberian O2
selama 3 hari, minum baik & tak ada alasan
bayi tetap tinggal di rumah sakit, bayi dapat
dipulangkan
Manajemen spesifik
Gangguan Napas Ringan

• Amati pernapasan bayi setiap 2 jam
selama 6 jam berikutnya.
• Bila dlm pengamatan gangguan napas
memburuk atau timbul gejala sepsis
lainnya, terapi untuk Kemungkinan
besar sepsis & tangani gangguan
napas sedang serta segera dirujuk ke
Rumah Sakit Rujukan
• Berikan ASI bila bayi mampu mengisap.
Bila tidak, berikan ASI peras dg
menggunakan salah satu cara
alternatif pemberian minum.
Manajemen spesifik
Gangguan Napas Ringan

• Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila
ada perbaikan gangguan napas. Hentikan
pemberian O2 jika frekuensi napas antara
40 – 60 kali/menit.
• Amati bayi selama 24 jam berikutnya, jika
frek. napas menetap antara 40-60 kali/menit,
tidak ada tanda-tanda sepsis, & tidak ada
masalah lain yg memerlukan perawatan, bayi
dapat dipulangkan
KEJANG PD BAYI
BATASAN

Kejang adalah perubahan secara tiba-
tiba fungsi neurologi, baik motorik
maupun autonomik, karena kelebihan
pancaran listrik pd otak
Langkah Promotif
Preventif
• Mencegah persalinan prematur
• Melakukan pertolongan persalinan yg
bersih & aman
• Mencegah asfiksia neonatorum
• Melakukan resusitasi dg benar
• Melakukan tindakan pencegahan
Infeksi .
• Mengendalikan kadar glukosa darah
ibu.
• Antisipasi setiap faktor kondisi (faktor
predisposisi) & masalah dlm proses
persalinan.
Langkah Promotif
Preventif

• Berikan pengobatan yg rasional dan
efektif.
• Lanjutkan pengamatan & pengobatan
terhadap masalah atau infeksi yg dikenali
pd saat kehamilan ataupun persalinan.
• Jangan pulangkan bila masa kritis belum
terlampaui.
• Beri instruksi tertulis untuk asuhan
mandiri di rumah.
• Lakukan tindakan & perawatan yg sesuai
bagi bayi baru lahir dari ibu yg infeksi saat
persalinan.
• Berikan hidrasi oral / IV secukupnya.
DIAGNOSIS
Anamnesis :
• Riwayat persalinan: bayi lahir prematur,
lahir dg tindakan, penolong persalinan,
asfiksia neonatorum.
• Riwayat imunisasi tetanus.
• Riwayat perawatan tali pusat dg obat
tradisional.
• Riwayat kejang, penurunan kesadaran,
ada gerakan abnormal pada mata, mulut,
lidah & ekstrimitas .
• Riwayat spasme atau kekakuan pd
ekstremitas, otot mulut & perut.
• Kejang dipicu
kebisingan/prosedur/tindakan
pengobatan.
• Riwayat bayi malas minum sesudah
dapat minum normal.
• Adanya faktor risiko infeksi.
• Riwayat ibu mendapat obat mis. heroin,
metadon, propoxypen, sekobarbital,
alkohol.
• Riwayat perubahan warna kulit (kuning)
• Saat timbul & lamanya terjadi kejang.
DIAGNOSIS
Kejang:

• Gerakan abnormal pd wajah, mata,
mulut, lidah & ekstemitas
• Ekstensi atau fleksi tonik ekstremitas,
gerakan seperti mengayuh sepeda,
mata berkedip, berputar, juling.
• Tangisan melingking dg nada tinggi,
sukar berhenti.
• Perubahan status kesadaran, apnu,
ikterus, ubun-ubun besar membonjol,
suhu tubuh tidak normal.
Pada kecurigaan infeksi (meningitis),
lakukan rujukan.
• Pemeriksaan darah adanya lekositosis ( >
25.000/ mm3) atau lekopeni ( < 5000 / mm3),
netrofil < 4000/mm3.
• Pemeriksaan cairan serebrospinal
ditemukan lekosit ≥ 20/ml ( umur < 7 hari)
& ≥ 10 /ml ( umur > 7 hari), pengecatan
gram ditemukan kuman.
• Gangguan metabolik
• Hipoglikemi ( glukosa darah < 45 mg/dl),
hipokalsemi
Diduga/ ada riwayat jejas pd kepala:
• Pemeriksaan berkala Hb & Ht untuk
memantau perdarahan
intraventrikuler serta didapat
perdarahan pd cairan serebrospinal.
• Pemeriksaan kadar bilirubin
meningkat
• Pemeriksaan kadar bilirubin bebas (
bila tersedia)
Medikamentosa
Anti kejang :
• Fenobarbital 20 mg/kgBB intra vena dlm
waktu 5 menit, jika kejang tidak
berhenti dapat diulang dg dosis 10
mg/kg BB sebanyak 2 kali dg selang
waktu 30 menit.
• Jika tidak tersedia jalur intravena,
dapat diberikan IM dg dosis ditingkatkan
10-15%.
• Bila kejang berlanjut diberikan fenitoin
20 mg/kg BB IV dlm larutan garam
fisiologis dg kecepatan 1mg/kgBB/menit.
Pengobatan rumatan :
• Fenobarbital 3-5 mg/ hari, dosis
tunggal atau terbagi tiap 12 jam secara
IV atau per oral. Sampai bebas kejang
7 hari.
• Fenitoin 4-8 mg/kgBB/ hari IV atau per
oral dosis terbagi 2 atau 3 per hari
Pengobatan faktor penyebab kejang.
Meningitis
• Antibiotik awal diberikan Ampisilin & gentamisin,
bila organisme tidak dapat ditemukan & bayi
tetap menunjukkan tanda infeksi > 48 jam, ganti
dg sefotaksim disamping tetap beri gentamisin.
Antibiotika diberikan sampai 14 hari setelah ada
perbaikan.
Gangguan metabolik
• Hipoglikemi (lihat pengelolaan hipoglikemi
Kern ikterus: ( lihat hiper bilirubinemia)
Hipoksia: optimalisasi ventilasi & terapi oksigen
Spasme / tetanus
• Beri diazepam 1mg/kg BB/IV
perlahan selama 3 menit atau IM,
ulangi setiap 30 menit sampai 2 kali
atau lebih bila perlu.
• Beri tambahan dosis 1 mg/ kg BB
setiap 6 jam bila perlu.
• Bila frek. napas < 30 x/ menit,
hentikan pemberian diazepam
meskipun bayi masih mengalami
spasme.
• Bila bayi berhenti napas lakukan
resusitasi & beri oksigen.
• Bila tali pusat merah & membengkak,
mengeluarkan pus atau berbau busuk obati
untuk infeksi tali pusat.
• Beri bayi human tetanus immunoglobin 500 U
IM, bila tersedia, atau beri antitoksin tetanus
5000 U IM;
• Beri toksoid tetanus IM pada tempat yg
berbeda dg tempat pemberian antitoksin
• Ampisilin 100 mg /kg BB IV dua kali sehari
selama 7 hari
• Anjurkan ibunya untuk mendapat toksoid
tetanus 0,5 ml (untuk melindunginya & bayi
yg dikandung berikutnya) & kembali bulan
depan untuk pemberian dosis ke dua.
• Pasang jalur IV & beri cairan IV dg
dosis rumat serta tunjangan nutrisi
adekuat
• Mengurangi rangsang suara, cahaya
maupun tindakan invasif untuk
menghindari bangkitan kejang pd
penderita tetanus, Pasang pipa
nasogastrik & beri ASI peras
diantara spasme. Mulai dg jumlah
setengah kebutuhan per hari &
pelan2 dinaikkan jumlah ASI yg
diberikan sehingga tercapai jumlah
yg diperlukan
SEPSIS NEONATORUM

• Neonatal sepsis merupakan
sindroma klinis dari penyakit
sistemik akibat infeksi pd masa
neonatus (1 bln pertama
kehidupan). Penyebab Bakteri,
virus, jamur & protozoa
Langkah promotif / preventif :
• Mencegah & mengobati ibu demam dg
kecurigaan infeksi.; Mencegah & mengobati
ibu dg ketuban pecah dini.; Perawatan
antenatal yg baik
• Mencegah aborsi yg berulang, cacat bawaan.;
Mencegah persalinan prematur
• Melakukan pertolongan persalinan yg bersih
& aman.
• Mencegah asfiksia neonatorum; Melakukan
resusitasi dg benar
• Melakukan tindakan pencegahan Infeksi
• Melakukan identifikasi awal terhadap faktor
risiko sepsis & pengelolaan yg efektif.
Anamnesis :

• Riwayat ibu : mengalami infeksi (demam)
• Riwayat persalinan : tindakan, penolong
persalinan, lingkungan persalinan yg kurang
higienis.
• Riwayat ketuban pecah dini, air ketuban
keruh, purulen atau bercampur mekonium
• Riwayat bayi lahir: asfiksia berat, bayi
kurang bulan, berat lahir rendah bayi malas
minum, penyakitnya cepat memberat bayi
lunglai, mengantuk atau aktivitas berkurang
atau iritabel /rewel, muntah, perut
kembung, tidak sadar, kejang.
Pemeriksaan fisis :

Keadaan umum :
• Suhu tubuh tidak normal
• letargi atau lunglai,
• Mengantuk atau aktivitas berkurang
• Malas minum sebelumnya minum dg
baik.
• Iritabel atau rewel,
• Kondisi memburuk secara cepat
• Gastrointestinal : Muntah, diare,
perut kembung, hepatomegali
• Kulit : Perfusi kulit kurang/ pucat,
sianosis, petekie, ruam, sklerem,
ikterik
• Kardiopulmoner : Takipnu, distres
respirasi ( merintih, retraksi),
takikardi, hipotensi
• Neurologis : Iritabilitas, penurunan
kesadaran, kejang, ubun-ubun
membonjol, kaku kuduk sesuai dg
meningitis.
Pemeriksaan penunjang
• Pemeriksaan jumlah lekosit & hitung
jenis secara serial untuk menilai
perubahan akibat infeksi, adanya
lekositosis atau lekopeni, netropeni
• Gangguan metabolik : Hipoglikemi
atau hiperglikemi, asidosis
metabolik.
• Peningkatan kadar bilirubin
• Pemeriksaan lain sesuai penyakit yg
menyertai, atas indikasi.
Diagnosis Sepsis Neonatus -
Tanda & gejala klinis

Tanda klinis: tanda awal tidak spesifik,
mungkin samar
• Gawat nafas - 90%,apnu,takipnea,sianosis
• Gejala GI:mutah,diare,malas
minum,distensi abdomen,ileus
• Ikterus
• Suhu tidak stabil-  suhu lebih sering
• Hipoglikemia atau hiperglikemia
• Lethargi, atau justru rewel
• Fontanela membonjol
• Hipotensi, syok, purpura, kejang- tanda
lanjut
104
Dugaan sepsis

• Jika tidak ditemukan riwayat infeksi
intra uterin, ditemukan :
– 1 kategori A & 1 atau 2 kategori B
– kelola untuk tanda khususnya (mis.
kejang). Lakukan pemantauan.
– Jika ditemukan tambahan tanda sepsis,
maka dikelola sebagai kecurigaan besar
sepsis.
INFEKSI NEONATORUM
KATEGORI A KATEGORI B

● Kesulitan bernapas (mis. apnu, napas ● Tremor
> 30 kali/ menit, retraksi dinding dada, ● Letargi atau lunglai
grunting pd waktu ekspirasi, sianosis ● Mengantuk atau aktifitas
sentral) berkurang
● Kejang ● Iritabel atau rewel
● Tidak sadar ● Muntah (menyokong ke arah
● Suhu tubuh tidak normal, (tidak normal sepsis)
sejak lahir & tidak memberi respons ● Perut kembung (menyokong ke
terhadap terapi atau suhu tidak stabil arah sepsis)
sesudah pengukuran suhu normal
selama 3 X atau lebih, menyokong ke ● Tanda tanda mulai muncul
arah sepsis) sesudah hari ke 4 (menyokong
ke arah sepsis)
● Persalinan di lingkungan yg kurang
higienis (menyokong ke arah sepsis) ● Air ketuban bercampur
mekonium
● Kondisi memburuk secara cepat &
dramatis (menyokong kearah sepsis) ● Malas minum sebelumnya minum
dg baik (menyokong ke arah
sepsis)
Kecurigaan besar
sepsis
Pd bayi umur < 3 hari
• Bila riwayat ibu dg infeksi rahim,
• demam dg kecurigaan infeksi berat atau
• (ketuban pecah dini) atau
• bayi mempunyai > 2 Kategori A atau
> 3 Kategori B

Pd bayi umur > 3 hari
• Bila bayi mempunyai > 2 Kategori A atau
> 3 Kategori B.
Cara
ANTIBIOTIK Pembe- Dosis dalam mg
rian
Hari 1-7 Hari 8 +
50 mg/kg setiap 50mg/kg setiap
Ampiisilin IV, IM 12 jam 8jam

Ampisilin untuk 100mg/kg setiap 100 mg/kg setiap
IV 12 jam 8jam
meningitis
50mg/kg setiap 50 mg/kg setiap 8
Sefotaksim IV, IM 12 jam jam

Sefotaksim untuk 50mg/kg setiap 6 50 mg/kg setiap 6
IV jam jam
meningitis
< 2 kg
4mg/kg sekali 3.5mg/kg setiap 12
sehari jam
Gentamisin IV, IM
> 2 kg
5mg/kg sekali 3.5mg/kg setiap 12
sehari jam
Ikterus Neonatorum
(Hiperbilirubinemia)

• Ikterus adalah gambaran klinis;
pewarnaan kuning pd kulit & mukosa
karena deposisi bilirubin.
• Klinis ikterus tampak bila kadar
bilirubin dlm serum adalah ≥ 5 mg/dl
• Dibedakan Ikterus neonatorum
fisiologis & Ikterus neonatorum
patologis ( Hiperbilirubinemia).
• Hiperbilirubin bila kadar bilirubin
serum > 13 mg/dL
Faktor Risiko/ predisposisi ;
• 1. Riwayat ibu melahirkan anak dg ikterus;
• 2. Golongan darah ibu & ayah berbeda;
• 3.Riwayat ikterus hemolitik, defisiensi
glukose-6-fosfat dehidrogenase (G6PD), atau
inkompatibilitas faktor rhesus atau golongan
darah ABO pd kelahiran sebelumnya
• 4. Riwayat anemia, pembesaran hati atau
limpa pd keluarga
• 5. Infeksi neonatal, trauma lahir.
• 6. Prematuritas, bayi berat lahir rendah.
Gambaran Klinik :
• Bayi tampak berwarna kuning.
• Amati ikterus pd siang hari dg sinar lampu
yg cukup. Tekan kulit dg ringan memakai
jari tangan untuk memastikan warna kulit &
jaringan subkutan:
– Pd hari pertama, tekan pd ujung hidung atau
dahi;
– Pd hari ke 2, tekan pd lengan atau tungkai;
• Pd hari ke 3 dst tekan pd tangan & kaki.
• Tentukan tingkat keparahan ikterus secara
kasar dg melihat pewarnaan kuning pd
tubuh metode Kremer. Pemeriksaan kadar
bilirubin
Pembagian Ikterus menurut
Metode Kremer

Derajat Daerah Ikterus Perkiraan
Ikterus kadar
bilirubin

I Daerah kepala & leher 5.0 mg%
II Sampai badan atas 9.0 mg%
III Sampai badan bawah 11.4 mg%
hingga tungkai

IV Sampai daerah lengan, 12.4 mg%
kaki bawah, lutut.

V Sampai daerah telapak 16.0 mg%
tangan & kaki
Ikterus fisiologis:
Minum ASI dini & sering
Bila perlu terapi sinar
Pada bayi yg pulang < 48 jam,
diperlukan pemeriksaan ulang &
kontrol lebih cepat (terutama bila
tampak kuning).
Ikterus patologis :
• Ikterus tampak dlm 24 jam pertama
kehidupan
• Bilirubin total untuk bayi cukup bulan ≥
13 mg/dl atau bayi kurang bulan ≥ 10
mg/dl
• Peningkatan kadar bilirubin > 5 mg/dl
• Bilirubin direk > 2 mg/dl
• Ikterus menetap pd bayi cukup bulan
> 1 minggu atau
pd bayi kurang bulan > 2 minggu
Ikterus patologis
Mulai terapi sinar bila ikterus berat, jangan
menunda terapi sinar dg menunggu hasil lab
Tentukan apakah bayi mempunyai faktor resiko:
BBL < 2500 gr,
usia kehamilan < 37 minggu,
hemolisis atau sepsis.

Periksa kadar bilirubin:
Bila kadar bilirubin dibawah kadar yg
memerlukan terapi sinar, hentikan terapi sinar
Bila kadar bilirubin serum sesuai diatas kadar
yg memerlukan terapi sinar, lanjutkan terapi
sinar.
Panduan terapi sinar berdasarkan kadar
bilirubin serum (jika fasilitas tersedia)
Saat Bayi cukup bulan Bayi dg faktor
timbul sehat risiko
ikterus kadar bilirubin, (kadar bilirubin,
mg/dl; (umol/l) mg/dl;umol/l)

Hari ke 1 Setiap terlihat ikterus Setiap terlihat ikterus

Hari ke 2 15 (260) 13 (220)
Hari ke 3 18 (310) 16 (270)
Hari ke 4 dst 20 (340) 17 (290)

Faktor risiko : BBLR, penyakit hemolisis karena inkompatibilitas gologan darah, asfiksia atau asidosis,
hipoksia, trauma serebral, atau infeksi sistemik
HIPOGLIKEMI

Hipoglikemia adalah kondisi bayi dg
kadarglukose darah < 45 mg/dL
dapat memberi gejala (simtomatis) &
tidak memberi gejala (asimtomatis).
Langkah promotif/preventif:

• Monitor penyakit DM pd ibu & kontrol
kadar gula ibu DM
• Tatalaksana resusitasi yg baik & benar
• Pantau gambaran klinik bayi baru lahir
dg ibu DM
• Periksa kadar glukose pd bayi dg ibu
DM
Anamnesis :
• Ibu menderita DM sebelum &
selama kehamilan terutama DM yg
tidak terkontrol
• Bayi mengalami kesulitan
persalinan karena bayi besar
• Bayi baru lahir dg gejala lemas
atau letargi, kadang kadang
sampai kejang
Pemeriksaan fisis :
• Bayi baru lahir dg BB > 4000 gram
• Beberapa saat sesudah lahir bayi dapat
memberi gejala : “ not doing well “ , lemas
atau letargi, kejang atau gangguan napas
( apnu, sesak napas )

Pemeriksaan penunjang
• Pemeriksaan kadar glukose darah pd bayi
risiko tinggi
• Pemeriksaan urin rutin , khususnya reduksi
urin pd waktu yg sama
• Bila tersedia fasilitas, diperiksa kadar
elektrolit darah
Medikamentosa :
• Bila terjadi kejang, hentikan kejang dg
fenobarbital 20 mg/kgBB , i.v.
• Bila terjadi gangguan napas, berupa apnu
lakukan resusitasi, bila terjadi sesak napas
beri O2 nasal
• Bila glukosa darah < 25 mg/dL atau terdapat
tanda hipoglikemi. Pasang jalur IV jika belum
terpasang,
• Jika jalur IV tidak dapat dipasang dg cepat,
berikan lar. glukosa melalui pipa lambung dg
dosis yg sama
• Berikan glukosa 10% 2 mL/kg secara IV bolus
pelan dlm 5 menit.
• Infus glukose 10% sesuai kebutuhan rumatan.
• Periksa kadar glukose darah 1 jam setelah
bolus glukose kemudian tiap 3 jam:
• Jika kadar glukose darah masih < 25 mg/dL
ulangi pemberian bolus glukose seperti
tersebut di atas & lanjutkan pemberian
infus;
• Jika kadar glukose darah 25 - 45 mg/dL,
lanjutkan infus & ulangi pemeriksaan kadar
glukose setiap 3 jam sampai kadar glukose
> 45 mg/dL
• Bila kadar glukose darah > 45 mg/dL dalam
2 X pemeriksaan berturut-turut, ikuti
petunjuk tentang frekuensi pemeriksaan
kadar glukose darah setelah kadar glukose
darah kembali normal.
• Anjurkan ibu menyusui.
• Bila bayi tidak dapat menyusu,
berikan ASI peras dg menggunakan
salah satu alternatif cara pemberian
minum.
• Bila kemampuan minum bayi
meningkat turunkan pemberian
cairan infus setiap hari secara
bertahap.
• Jangan menghentikan infus glukose
dg tiba-tiba.
• Bila glukose darah 25 mg/dL tanpa tanda
hipoglikemia
• Anjurkan ibu menyusui.
• Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI
peras dg menggunakan salah satu alternatif
cara pemberian minum.
• Pantau tanda hipoglikemia & bila dijumpai
tanda tsb, tangani seperti di atas
• Periksa kadar glukose darah dlm 3 jam atau
sebelum pemberian minum berikutnya:
• Jika kadar glukose darah < 25 mg/dL atau
terdapat tanda hipoglikemia, tangani
seperti tsb di atas;
• Jika kadar glukose darah masih antara
25 – 45 mg/dL , naikkan frekuensi
pemberian minum ASI atau naikkan
volume pemberian minum dg
menggunakan salah satu alternatif
cara pemberian minum;
• Jika kadar glukose darah > 45 mg/dL
lihat tentang frekuensi pemeriksaan
kadar glukose darah.
Setelah bayi dilakukan terapi & kadar
glukose darah sudah menjadi normal
maka dilakukan pemantauan terapi &
ulangan pemeriksaan kadar glukose
darah sbb :
• Jika bayi mendapatkan cairan IV, untuk
alasan apapun, lanjutkan pemeriksaan
kadar glukose darah setiap 12 jam
selama bayi masih memerlukan infus.
Jika kadar glukose darah turun,
tangani seperti tsb di atas.
• Jika bayi sudah tidak lagi mendapat
infus cairan IV, periksa kadar glukose
darah setiap 12 jam sebanyak 2 kali
pemeriksaan:
• Jika kapan saja kadar glukose darah
turun, tangani seperti tsb di atas;
• Jika kadar glukose darah tetap normal
selama waktu tersebut, maka
pengukuran dihentikan.
BAYI BERAT LAHIR RENDAH
(BBLR)

Bayi berat lahir rendah (BBLR)
adalah bayi dgberat lahir < 2500 g
tanpa memandang masa gestasi

Berat lahir adalah berat bayi yg
ditimbang dalam 1 jam setelah
lahir.
Langkah Promotif / Preventif
• Mencegah persalinan prematur
• Pemberian tokolitik pd persalinan
kurang bulan (salbutamol,
terbutalin).
• Pemberian kortikosteroid pd ibu, jika
diperkirakan akan terjadi kelahiran
kurang bulan, untuk mempercepat
pematangan paru janin
(Betametason 12 mg/kgbb dibagi
dalam 2 dosis i.m. selama 2-3 hari).
Anamnesis :
• Umur ibu;
• Riwayat Hari Pertama Haid Terakhir ;
• Riwayat persalinan sebelumnya
• Jumlah paritas, jarak kelahiran
sebelumnya; Kenaikan berat badan
selama hamil
• Aktivitas;
• Penyakit yg diderita selama hamil
• Obat-obatan yg diminum selama hamil
Pemeriksaan fisik
• Berat badan < 2500 gram
• Tanda prematuritas ( Bila bayi
kurang bulan)
• Tanda bayi cukup bulan atau
lebih bulan ( bila bayi kecil untuk
masa kehamilan )
Pemeriksaan penunjang
• Tes kocok (Shake test), dianjurkan
untuk bayi kurang bulan
• Darah rutin, glukosa darah
• Foto Rontgen dada diperlukan pd
bayi baru lahir dg umur kehamilan
kurang bulan dimulai pd umur 8 jam
atau jika didapat/diperkirakan akan
terjadi Sindrom Gangguan Napas
• Mempertahankan suhu tubuh normal
• Bayi harus tetap berpakaian atau
diselimuti setiap saat, agar tetap hangat
walau dlm keadaan dilakukan tindakan.
Misal bila dipasang jalur infus intravena,
atau selama resusitasi dengan cara:
– Memakai pakaian dan mengenakan topi;
– Bungkus bayi dg pakaian yg kering &
lembut & selimuti;
– Buka bagian tubuh yg diperlukan untuk
pemantauan atau tindakan.
• Rawat bayi kecil di ruang hangat (> 25C
bebas dari aliran angin).
• Jangan meletakkan bayi dekat benda yg
dingin (misal dinding dingin atau jendela)
walaupun bayi dlm inkubator atau di
bawah pemancar panas.
• Jangan meletakkan bayi langsung di
permukaan yg dingin (misal alasi tempat
tidur atau meja periksa dg kain atau
selimut hangat sebelum bayi diletakkan).
• Pada waktu dipindahkan ke tempat
lain, jaga bayi tetap hangat & gunakan
pemancar panas atau kontak kulit dg
perawat.
• Berikan tambahan kehangatan pd
waktu dilakukan tindakan (misal
menggunakan pemancar panas).
• Ganti popok setiap kali basah.
• Bila ada sesuatu yg basah ditempelkan
di kulit (misal kain kasa yang basah),
usahakan agar bayi tetap hangat.
• Jangan memandikan atau menyentuh
bayi dg tangan dingin.
• Ukur suhu tubuh sesuai jadwal
• Gunakan salah satu cara
menghangatkan & mempertahankan
suhu tubuh bayi, seperti, kontak kulit
ke kulit, Kangaroo Mother Care,
pemancar panas, incubator atau
ruangan hangat yang tersedia di
tempat fasilitas kesehatan setempat
sesuai petunjuk.
Pemberian minum :
• Apabila bayi mendapat ASI, pastikan
bayi menerima jumlah yg cukup
• Apabila kenaikan BB bayi tidak adekuat,
tangani sebagai Masalah kenaikan berat
badan tidak adekuat.
• Apabila bayi telah menyusu ibu,
perhatikan cara pemberian ASI &
kemampuan bayi mengisap paling
kurang sehari sekali.
• Apabila bayi sudah tidak mendapatkan
cairan IV & beratnya naik 20 g/hari
selama 3 hari berturut-turut, timbang
bayi 2 kali seminggu.
Berat lahir 1750 - 2500 gram

Bayi sehat:
• Biarkan bayi menyusu ke ibu semau
bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah
merasa letih & malas minum, anjurkan
bayi menyusu lebih sering (misal setiap
2 jam).
• Pantau pemberian minum & kenaikan BB
untuk menilai efektivitas menyusui.
Apabila bayi kurang dapat mengisap,
tambahkan ASI peras dg menggunakan
salah satu alternatif cara pemberian
minum.
Bayi sakit:
• Apabila bayi dapat minum per oral &
tidak memerlukan cairan IV, berikan
minum seperti pd bayi sehat.
• Apabila bayi memerlukan cairan IV
berikan cairan IV selama 24 jam
pertama;
• Mulai berikan minum per oral pada hari
ke 2 atau segera setelah bayi stabil.
• Anjurkan pemberian ASI bila ibu ada &
bayi menunjukkan tanda siap untuk
menyusu;
Apabila masalah sakitnya menghalangi
proses menyusui (misal gangguan
napas, kejang), berikan ASI peras
melalui pipa lambung berikan cairan IV
& ASI menurut umur, berikan minum 8
kali dalam 24 jam (misal 3 jam sekali).

Apabila bayi telah mendapat minum 160
ml/kgBB /hari tetapi masih tampak lapar
berikan tambahan ASI setiap kali
minum;
Biarkan bayi menyusu apabila keadaan
bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan
keinginan untuk menyusu & dapat
menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.
Jumlah cairan yg dibutuhkan bayi (mL/kg)

Hari ke
1 2 3 4 5+
Berat
> 1500 g 60 80 100 120 150
< 1500 g 80 100 120 140 150

Jumlah cairan IV & ASI
bayi sakit berat 1750 - 2500 g
U m u r (hari)
Pemberian
1 2 3 4 5 6 7

Kecepatan cairan IV (mL/jam atau 5 4 3 2 0 0 0
tetes mikro/menit)

Jumlah ASI setiap 3 jam (mL/kali) 0 6 14 22 30 35 38
Tumbuh Kembang
Bayi akan kehilangan berat selama 7-10
hari pertama sampai 10% untuk bayi dg
BBL  1500 g & 15% untuk bayi dg BBL
< 1500 g.
BBL biasanya tercapai kembali dlm 14
hari kecuali apabila terjadi komplikasi.

Bila bayi sudah mendapat ASI secara
penuh & telah berusia > 7 hari:
Tingkatkan jumlah ASI dg 20mL/kgBB
/hari sampai 180 mL/kgBB/hari;
Tingkatkan jumlah ASI sesuai dg
kenaikan BB bayi agar jumlah
pemberian ASI tetap 180 mL/kgBB/hari;

Apabila kenaikan BB tidak adekuat,
tingkatkan jumlah pemberian ASI
sampai 200 mL/kgBB/hari;

Ukur BB tiap hari, panjang badan &
lingkar kepala setiap minggu.
DIARE

• Keadaan bayi berak cair lebih sering
dari biasanya & atau tinja berwarna
hijau & mengandung lendir atau darah.
• Banyak penyebab diare selain infeksi,
tetapi sepsis merupakan penyebab yg
paling sering selama periode neonatal.
• Lakukan tindakan pencegahan infeksi dg
ketat, bila merawat bayi dg diare untuk
mencegah infeksi silang di ruang
perawatan bayi
Gambaran Klinis

• Bayi berak cair lebih sering dari biasanya.
• Tinja berwarna hijau & mengandung lendir
atau darah.
• Kehilangan banyak cairan menyebabkan
dehidrasi
• Tanda dehidrasi (mata cekung, ubun-ubung
cekung, elastisitas kulit turun, lidah dan
membran mukosa kering).
• Secara umum sulit mencari tanda dehidrasi
pd neonatus; dicurigai bila BB turun > 10%
dan/atau jumlah kencing menurun.
• Tanda-tanda sepsis
• Distensi abdomen
Terapi :
• Tetap berikan ASI. Jika bayi tidak
dapat menyusu, berikan ASI peras dg
menggunakan salah satu cara
alternatif pemberian minum.
• Jika ibu memberikan makanan atau
cairan lain selain ASI,
minuman/makanan lain harus
dihentikan
• Berikan larutan rehidrasi oral, setiap kali
diare:
– Jika bayi dapat menyusu, berikan ASI
sesering mungkin, atau berikan larutan
rehidrasi oral sebanyak 20 ml antara
pemberian ASI dg menggunakan salah
satu cara alternatip pemberian minum
– Jika bayi tidak dapat menyusu dg baik,
pasang pipa lambung. Berikan cairan oralit
20 ml melalui pipa. Berikan ASI peras 20
ml, jika tidak cukup dan berikan ASI &
oralit secara simultan

– Jika tidak ada ASI, berikan larutan
rehidrasi oral 20 ml yang sudah
diencerkan, dengan perbandingan 1:3.

• Jika bayi tidak dehidrasi, ASI diberikan lebih
sering & lebih lama
SYOK

• Syok atau renjatan: keadaan akut
gangguan sirkulasi yg mengakibatkan
kebutuhan O2 & nutrisi jaringan tidak
memadai.
• Dapat  hipoksia otak
• Diakibatkan karena :
asfiksia neonatorum,
perdarahan,
dehidrasi,
infeksi.
 Tanda Bahaya harus segera
dikelola dg baik.
Pencegahan
• Mencegah asfiksia neonatorum
• Melakukan pertolongan persalinan
yg bersih & aman, resusitasi yg
benar, tindakan pencegahan
Infeksi.
• Mencegah & mengatasi kehilangan
cairan tubuh & elektrolit yg
berlebihan ( perdarahan, dehidrasi)
Perawatan tali pusat.
Anamnesis :
• Riwayat perdarahan, infeksi saat
kehamilan, ketidak sesuaian gol.
darah ibu & bayi.
• Riwayat persalinan tindakan/ trauma
persalinan
• Riwayat asfiksia neonatorum.
• Riwayat gangguan minum, kehilangan
cairan tubuh berlebihan.
• Riwayat penurunan berat bayi lebih
dari 10%.
• Riwayat kelahiran kembar.
Tanda & gejala klinis :
• Pucat, lemah, sianosis, kencing
berkurang, dan nadi lemah, kaki
tangan dingin,
• kesadaran menurun.
• denyut jantung > 180 x/mnt.
Penatalaksanaan:
Jika perdarahan sebagai penyebab
syok:
• Hentikan perdarahan yg tampak (
perdarahan dari tali pusat, ulangi
penjepitan atau pengikatan tali
pusat; jika perdarahan dari tempat
khitan/sirkumsisi, tekan tempat
perdarahan dg kompres steril)
• Beri vit K1 1 mg IM
• Beri cairan infus RL atau NaCl
0,9% dg dosis 10 mL/kg BB
diberikan selama 10 menit
• Bila tanda syok masih berlanjut
ulangi lagi dosis diatas sesudah
20 menit lakukan rujukan
• Beri O2 dg aliran kecepatan
maksimal
• Hangatkan bayi
RUJUKAN & TRANSPORTASI
NEONATAL
Keadaan yg memerlukan rujukan
ke fasilitas yg lebih lengkap

• Gangguan napas sedang & berat, apapun
penyebabnya
• Asfiksia yg tidak memberi respons pd
tindakan resusitasi, sebaiknya dlm 10 menit
pertama
• Kasus bedah neonatus
• BBLR < 1,750 g
• BBLR 1.750 - 2.000 g dg kejang, gangguan
napas, gangguan pemberian minum
• Bayi hipotermi berat
Keadaan yg memerlukan rujukan ke
fasilitas yg lebih lengkap

• Ikterus yg tidak memberikan respons dg
fototerapi
• Kemungkinan penyakit jantung bawaan
• Bayi ibu diabetes mellitus dg
hipoglikemia simtomatik
• Kejang yg tidak teratasi
• Tersangka infeksi (sepsis, meningitis)
berat / dg komplikasi
• Penyakit hemolisis
• Tersangka renjatan yg tidak memberi
respons baik
• Hipoglikemia yg tidak dapat teratasi
SISTEM RUJUKAN &
TRANSPORTASI

• Perhatikan regionalisasi Rujukan Perinatal
dlm menentukan tujuan rujukan, sehingga
dapat merujuk dg cepat, aman & benar
• Puskesmas merupakan penyaring kasus
risiko yg perlu dirujuk sesuai dg besaran
risiko, jarak & faktor lainnya
• Memberi informasi kesehatan & prognosis
bayinya & melibatkan orangtua atau
keluarga dlm mengambil keputusan untuk
merujuk
SISTEM RUJUKAN &
TRANSPORTASI
• Melengkapi syarat- syarat rujukan
(persetujuan tindakan, surat rujukan, catatan
medis).
– Untuk kasus tertentu kadang diperlukan
sampel darah ibu.
• Merujuk bayi dlm keadaan stabil, menjaga
kehangatan bayi & ruangan dlm kendaraan yg
digunakan untuk merujuk, & menjaga jalan
napas tetap bersih & terbuka selama
transportasi. Bila memungkinkan bayi tetap
diberi ASI.
• Harus disertai dg tenaga yg terampil
melakukan Resusitasi
Data dasar yg harus diinformasikan:

• Identitas bayi & tanggal lahir
• Identitas orang tua
• Riwayat kehamilan, persalinan & prosesnya,
tindakan resusitasi yg dilakukan.
• Obat yg dikonsumsi oleh ibu
• Nilai Apgar (tidak selalu harus diinformasikan,
bila tidak tersedia waktu karena melakukan
tindakan resusitasi aktif)
• Masa Gestasi & berat lahir.
• Tanda vital (suhu, frekuensi jantung,
pernapasan, warna kulit & aktif/tidak nya bayi)
• Tindakan/prosedur klinik & terapi lain yg sudah
diberikan
• Bila tersedia data pemeriksaan penunjang yg
ada (glukosa, elektrolit, dll)
Syarat untuk melakukan
transportasi

• Bayi dlm keadaan stabil
• Bayi harus dlm keadaan hangat
• Kendaraan pengangkut juga harus dlm
keadaan hangat
• Didampingi oleh tenaga kesehatan yg
terampil melakukan tindakan
resusitasi, minimal ventilasi
• Tersedia peralatan & obat yg
dibutuhkan
Bayi dlm keadaan stabil, bila:

• Jalan napas bebas & ventilasi
adekuat.
• Kulit & bibir kemerahan
• Frekuensi jantung 120-160 kali/menit
• Suhu aksiler 36.5-37 °C (97.7-98.6 °F)
• Masalah metabolik terkoreksi
• Masalah spesifik penderita sudah
dilakukan manajemen awal
Transpor dg metode kangguru
Tahapan Metode Kangguru


Terima Kasih
Terima Kasih

TERIMA
KASIH