You are on page 1of 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI

PENDERITA HIPERBILIRUBIN

Kelompok 4:
DEFINISI HIPERBILIRUBIN

1. Menurut Slusher (2013) Hiperbilirubin merupakan


suatu kondisi dimana produksi bilirubin yang
berlebihan di dalam darah.

2. Menurut Suriadi (2001) Hiperbilirubin adalah meningkatnya


kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari
normal. Nilai normal bilirubin indirek 0,3-1,1 mg/dl, bilirubin
direk 0,1-0,4 mg/dl.
KLASIFIKASI

1. Ikterus Fisiologis
Ikterus fisiologis adalah ikterus yang timbul pada hari
kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis,
kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau
mempunyai potensi menjadi kernicterus dan tidak
menyebabkan morbiditas pada bayi.
2. Ikterus Patologis/ Hiperbilirubinemia
Menurut (Tarigan, 2003) ikterus patologis adalah suatu
keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah
mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk
menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik,
atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis.
1. PENGKAJIAN

Riwayat orang tua: Ketidakseimbangan golongan


darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisetemia,
Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
Pemeriksaan Fisik: Kuning, Pallor Konvulsi,
Letargi, Hipotonik, menangis melengking, refleks
menyusui yang lemah, Iritabilitas.
Pengkajian Psikososial : Dampak sakit anak pada
hubungan dengan orang tua, apakah orang tua
merasa bersalah, masalah Bonding, perpisahan
dengan anak.
Pengetahuan Keluarga meliputi : Penyebab
penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut,
apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang
sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari
Hiperbilirubinemia.
POLA PENGKAJIAN

1. Aktivitas / istirahat
2. Sirkulasi
Mungkin pucat, menandakan anemia
Bertempat tinggal di atas ketinggian 500 ft
3. Eliminasi
Bising usus hiposktif
Pasase mekonium mungkin lambat
Feses mungkin lunak / coklat kehijauan selama pengeluaran
bilirubin
Urine gelap pekat; hitam kecoklatan (sindroma bayi bronze)
4. Makanan / Cairan
Riwayat pelambatan / makan oral buruk, lebih mungkin disusui
daripada menyusu botol
Palpasi abdomen dapat menunjukan pembesaran limfa
5. NEUROSENSORI
- SEFALOHEMATOMA BESAR MUNGKIN TERLIHAT PADA SATU ATAU
KEDUA TULANG PARIETAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN TRAUMA
KELAHIRAN / KELAHIRAN EKSTRAKSI VAKUM.
-EDEMA UMUM, HEPATOSPLENOMEGALI, ATAU HIDROPS FETALIS
MUNGKIN ADA DENGAN INKOMPATIBILITAS RH BERAT.
-KEHILANGAN REFLEX MORO MUNGKIN TERLIHAT.
-OPISTOTONS DENGAN KEKUATAN LENGUNG PUNGGUNG,
FONTANEL MENONJOL, MENANGIS LIRIH, AKTIVITAS KEJANG
(TAHAP KRITIS).
6. PERNAPASAN
-RIWAYAT ASFIKSIA
-KREKELS, MUCUS BERCAK MERAH MUDA (EDEMA PLEURA,
HEMORAGI PULMONAL).
7. KEAMANAN
- RIWAYAT POSITIF INFEKSI/SEPSIS NEONATUS
- DAPAT MENGALAMI EKIMOSIS BERLEBIHAN, PETEKIE, PERDARAHAN INTRA
CRANIAL.
- DAMPAK TAMPAK IKTERIK PADA AWALNYA PADA WAJAH DAN BERLANJUT
PADA BAGIAN DISTAL TUBUH; KULIT HITAM KECOKLATAN (SINDROM BAYI
BRONZE) SEBAGAI EFEK SAMPING FOTOTRAPI.

8. SEKSUALITAS
- MUNGKIN PRATERM, BAYI KECIL UNTUK USIA GESTASI (SGA), BAYI
DENGAN RETERDASI PERTUMBUHAN INTRAUTERUS (IUGR), ATAU BAYI
BESAR UNTUK USIAGESTASI (LGA), SEPERTI BAYI DENGAN IBUDIABETES.
- TRAUMA KELAHIRAN DAPAT TERJADI BERKENAAN DENGAN STRESS DINGI,
ASFIKSIA,HIPOKSIA, ASIDOSIS, HIPOGLIKEMIA, HIPOPROTEINEMIA.
- TERJADI LEBIH SERING PADA BAYI LAKI-LAKI DARIPADA BAYI PERMPUAN.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan jaundice atau
radiasi
Revisi : kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor
eksternal. Karena pada faktor yang berhubungan yang paling
banyak muncul pada pengkajian adalah faktor eksternal.

Eksternal Internal
Hipertermia -

Gangguan temperatur tubuh (Hipertemia) berhubungan


dengan terpapar lingkungan panas.
Revisi: Gangguan temperatur tubuh (Hipertemia) berhubungan
dengan suhu lingkungan tinggi. Karena pada pola pengkajian
yang termasuk batasan karakteristik hipertermia antara lain
letargi, reflek menyusui yang lemah atau bayi tidak dapat
mempertahankan menyusu, dan kejang.
RESIKO TERJADI CIDERA BERHUBUNGAN DENGAN
FOTOTERAPI ATAU PENINGKATAN KADAR BILIRUBIN.
REVISI: RESIKO TERJADI CIDERA BERHUBUNGAN DENGAN
FAKTOR RESIKO INTERNAL. KARENA PADA FACTOR YANG
BERHUBUNGAN YANG PALING BANYAK MUNCUL PADA
PENGKAJIAN ADALAH FAKTOR INTERNAL.

Eksternal Internal
Hambatan sumber nutrisi Hipoksia jaringan
(mis; vitamin, tipe makanan)

- Usia ekstrem

Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.


4. PERENCANAAN KEPERAWATAN
I. Dx I : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan jaundice atau
radiasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan integritas kulit kembali baik / normal.
a. NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Merabranes

Kriteria Hasil :
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan

Tidak ada luka / lesi pada kulit

Perusi jaringan baik

Menunjukan pemahaman dalan proses perbaika kulit dan mencegah


terjadinya cedera berulang
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan
perawatan alami
Indicator Skala :

Tidak pernah menunjukan

Jarang menunjukan

Kadang menunjukan

Sering menunjukan

Selalu menunjukan
b. NIC : Pressure Management
Intervensi :
Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
Revisi : berikan pakaian yang tidak ketat pada pasien
Hindari kerutan pada tempat tidur
Revisi : Letakkan matras atau kasur terapeutik dengan cara yang tepat.
Jaga kebersihan kulit agar tetap bersh dan kering
Mobilitas pasien setiap 2 jam sekali
Revisi : balikkan posisi pasien minimal setiap dua jam, sesuai jadwal
khusus.
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Revisi : monitor kulit dari adanya kemerahan dan adanya pecah-pecah
Oleskan lotion / minyak / baby oil pada daerah yang tertekan
Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat
2. DX II : GANGGUAN TEMPERATUR TUBUH
(HIPERTERMIA) BEHUBUNGAN DENGAN
TERPAPAR LINGKUNGAN PANAS.

a. NOC : Termoregulation
Kriteria hasil :
Suhu tubuh dalam rentang normal
Nadi dan respirasi dalam batas normal
Tidak ada perubahan warna kulit
Pusing berkurang/hilang.
Indicator skala :
1. Selalu terjadi
2. Sering terjadi
3. Kadang teijadi
4. Jarang terjadi
5. Tidak pernah terjadi
b. NIC : FEVER TREATMENT
-MONITOR SUHU SESERING MINGKIN
REVISI : PANTAU SUHU DAN TANDA-TANDA VITAL LAINNYA.
-MONITOR WARNA DAN SUHU KULIT
REVISI : MONITOR WARNA KULIT DAN SUHU
-MONITOR TEKANAN DARAH, NADI, DAN RESPIRASI
-MONITOR INTAKE DAN OUTPUT
3. PK III : RESIKO TERJADI CIDERA
BERHUBUNGAN DENGAN FOTOTERAPI ATAU
PENINGKATAN KADAR BILIRUBIN
TUJUAN : SETELAH DILAKUKAN TINDAKAN KEPERAWATAN SELAMA
PROSES KEPERAWATAN DIHARAPKAN TIDAK ADA RESIKO CIDERA

a. NOC : risk control


o Tidak pernah menunjukan
o Jarang menunjukan
o Kadang menunjukan
o Sering menunjukan
o Selalu menunjukan
b. NIC : PENCEGAHAN JATUH
-KAJI STATUS NEUROLOGIS
-JELASKAN PADA PASIEN DAN KELUARGA TENTANG TUJUAN
DARI METODE PENGAMATAN
-JAGA KEAMANAN LINGKUNGAN KEAMANAN PASIEN
-LIBATKAN KELUARGA UNTUK MENCEGAH BAHAYA JATUH
-OBSERVASI TINGKAT KESADARAN DAN TTV
-DAMPINGI PASIEN
4. DX IV: CEMAS BERHUBUNGAN DENGAN
PERUBAHAN DALAM STATUS
KESEHATAN.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses


keperawatan diharapkan keluarga dan pasien tidak cemas.
a. NOC I : Control Cemas

Kriteria hasil :
Monitor intensitas kecemasan

Menyingkirkan tanda kecemasan

Menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan


b. NOC II : KOPING
-KELUARGA MEUNJUKKAN FLEKSIBILITAS PERAN PARA
ANGGOTANYA
-NILAI KELUARGA DALAM MENGATUR MASALAH-MASALAH
-MELIBATKAN ANGGOTA KELUARGA UNTUK MEMBUAT
KEPUTUSAN
INDIKATOR SKALA :
1. TIDAK PERNAH DILAKUKAN
2. JARANG DILAKUKAN
3. KADANG DILAKUKAN
4. SERING DILAKUKAN
5. SELALU DILAKUKAN
a. NIC : PENURUNAN KECEMASAN
INTERVENSI :
-TENANGKAN KLIEN
REVISI : GUNAKAN PENDEKATAN YANG TENANG DAN MEYAKINKAN
-JELASKAN SELURUH PROSEDUR PADA KLIEN/KELUARGA DAN
PERASAAN YANG MUNGKIN MUNCUL PADA SAAT MELAKUKAN
TINDAKAN
REVISI : JELASKAN SEMUA PROSEDUR TERMASUK SENSASI YANG
AKAN DIRASAKAN YANG MUNGKIN AKAN DIALAMI KLIEN SELAMA
PROSEDUR DILAKUKAN
-KAJI TINGKAT KECEMASAN DAN REAKSI FISIK PADA TINGKAT
KECEMASAN
-SEDIAKAN AKTIVITAS UNTUK MENGURANGI KECEMASAN.
REVISI : BERIKAN AKTIVITAS PENGGANTI YANG BERTUJUAN UNTUK
MENGURANGI TEKANAN
b. NIC II :
-HARGAI PEMAHAMAN PASIEN TENTANG PROSES PENYAKIT
-SEDIAKAN INFORMASI ACTUAL TENTANG DIAGNOSA,
PENANGANAN
REVISI : BERIKAN INFORMASI FACTUAL TERKAIT DIAGNOSIS
PERAWATAN DAN PROGNOSIS
-DUKUNG KETERLIBATAN KELUARGA DENGAN CARA TEPAT
REVISI : DORONG KELUARGA UNTUK MENDAMPINGI KLIEN
DENGAN CARA YANG TEPAT
KESIMPULAN

Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah


meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler,
sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya
berrwarna kuning (2000).
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila
terdapat penambahan beban bilirubin pada steptucocus hepar
yang terlalu berlebihan, hal ini dapat ditemukan bila terdapat
peningkatan penghancuran eritrosit, polistemia,
memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya
bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan
sirkulasi enterohepatik.