You are on page 1of 23

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai

bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektal,


vagina, maupun uretra, berbentuk torpedo, dapat
melunak, melarut, atau meleleh pada suhu tubuh, dan
efek yang ditimbulkan adalah efek sistemik atau lokal.
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam
air atau meleleh pada suhu tubuh. Semakin pendek
waktu melarut/mencair semakin baik karena efektifitas
obat semakin baik.
Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g
untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak kecil. Umumnya
memiliki panjang 32 mm, berbentuk silinder, dan kedua
ujungnya tajam. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak
ukurannya dari ukuran dan berat untuk orang dewasa.
Penyimpanan suppositoria dalam wadah tertutup baik dan di
tempat yang sejuk pada suhu 5-15 derajat
selciussuppositoria tidak menjadi lembek dan tiak bias
digunakan
Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung

Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan

Langsung dapat masuk ke saluran pembuluh darah sehingga akan


memberikan efek yang lebih Cepat dibanding obat per oral

Bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar

Menghindari biotransformasi hati / sirkulasi portal

Bila obat ditujukan untuk efek lokal


Cara pakai tidak menyenangkan

Absorbsi obat seringkali tidak teratur / sukar


diramalkan

Tidak dapat disimpan dalam suhu ruangan

Tidak semua obat bisa dibuat suppositoria


Suppositoria rektal / analia
Untuk dewasa kalau tidak dinyatakan lain beratnya adalah 3 g; bentuk lonjong
pada salah satu atau kedua ujungnya, sedangkan untuk anak-anak kalau tidak
dinyatakan lain beratnya adalah 2g.

Suppositoria vaginal / ovula


Berbentuk bulat atau bulat telur, umumnya memiliki berat 5-15 g, sering
disebut tablet vaginal.

Suppositoria urethal
Ukuran untuk pria adalah panjang 125-140 mm, diameter 3-6 mm, massa 4 g.
Sedangkan untuk wanita panjangnya 50-70 mm dan massanya 2 g (setengah
ukuran laki-laki).
Jika diamati kondisi distribusi bahan obat di dalam sistem, suppositoria dapat
diklasifikasikan sebagai suppositoria emulsi, suppositoria larutan, dan
suppositoria emulsi.
Waktu pemakaian suppositoria adalah :
Sesudah defactio untuk suppositoria analia
Pada waktu malam hari
Cara pakai suppositoria adalah :
* Pertama-tama cucilah tangan terlebih dahulu
* Buka bungkus aluminium foil dan lunakkan suppositoria dengan air
* Berbaring miring dengan tungkai yang di bawah lurus, dan yang di atas ditekuk
* Masukkan suppositoria ke dalam anus dengan menggunakan jari kira-kira 2 cm dan
terus berbaring selama 15 menit
* Cuci tangan setelah memasukkan suppositoria

Jika suppositoria terlalu lunak untuk dimasukkan, dinginkan obat dalam lemari
pendingin selama 30 menit atau direndam dengan air dingin sebelum membuka
bungkus aluminium foil.
a.
Lanjutan
Untuk menghindari masa yang hilang pada saat pembuatan
suppositoria penimbangan bahan baik bahan dasar maupun bahan
obat biasanya dilebihkan 10%.

Agar masa tidak melekat pada cetakan maka cetakan dibasahi


dengan parafin, minyak lemak, atau spiritus saponatus (soft soap
liniment).

Untuk suppositoria yang mengandung garam logam jangan


menggunakan spiritus saponatus karena akan bereaksi dengan
logamnya. Sebagai pengganti dapat digunakan larutan oleum ricini
dalam etanol.

Untuk suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu
bahan pelicin karena pada proses pendinginan suppositoria akan
mengkerut sehingga akan mudah lepas dari cetakan
a. Cara Penuangan
Cara ini yang paling sering digunakan. Setelah masa melebur dan disatukan
dengan bahan obat, dituang ke dalam cetakannya.
Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan suppositoria untuk menjamin
pembekuan obat dengan cepat dan proses sedimentasi bahan obat tidak terjadi
antara lain :
Suhu pemanasan tidak naik terlalu tinggi
Memiliki viskositas setinggi mungkin dengan suhunya, hanya sedikit di atas titik
bekunya
Menggunakan pemanasan yang sangat hati-hati, misalnya dengan penyinar
infra merah
Masa diaduk secara intensif dan kontinyu
Metode ini sering juga disebut dengan cara leburan krim dan cara leburan jernih
yang hanya digunakan dalam skala besar. Dalam skala kecil pencetakan
suppositoria dilakukan dengan cara penuangan tunggal, yaitu setiap lubang dari
suppositoria diisikan secara berturut-turut satu demi satu. Jika pada pembuatan
dalam skala semi industri atau industri dilakukan dengan cara penuangan masal,
yaitu setiap lubang diisikan secara serempak dengan menggunakan alat
berbentuk corong yang cocok.
Pencetak suppositoria terbuat dari material yang berbeda-beda. Jika dahulu
didominasi oleh pencetak kuningan, kini di perdagangan tersedia pencetak dari
logam ringan. Mereka memiliki lubang
b. Cara Pencetakan
Pada cara pencetakan, parutan basis suppositoria dicampurkan
dengan bahan obat yang diserbuk halus, kemudian diisikan dalam
sebuah pencetak suppositoria. Alat cetak dyang digunakan di industri
bekerja dengan tekanan 10 MPz (100 at). Semua basis suppositoria
dapat digunakan dalam pembuatan suppositoria dengan cara
pencetakan. Untuk mengurangi kerapuhan suppositoria dapat
ditambahkan pelumas, seperti parafin liquidum atau adeps lanae.
Umumnya pemulasan dengan parafin atau talk wajib dilakukan di
awal proses pencetakan. Beberapa pencetak supositoria memiliki
koneksi dengan air pendingin untuk meredam panas yang timbul
akibat tekanan pencetak. Mesin dalam skala besar mampu mencetak
beberapa suppositoria sekaligus.
Pada pembuatan suppositoria dengan cara penuangan dan cara
pencetakan terdapat perbedaan antara lain suppositoria pencetakan
tidak memiliki homogenitas yang optimal, tidak seperti hasil yang
diperoleh dari suppositoria penuangan. Kekompakan bahan obat juga
lebih rendah. Untuk bahan obat yang berbentuk cair cara pencetakan
kurang cocok digunakan.
Alat-alat Pembuatan Suppositoria
a. Pot tuang suppositoria
Terdiri dari sebuah wadah dengan mantel ganda yang dilengkapi
dengan termostat dan pengaduk untuk menghindari sedimentasi,
pengaduk dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada udara yang
masuk ke dalam masa dan menyebabkan porositas suppositoria
yang tidak dikehendaki. Pot tuang memiliki kapasitas 1,5 liter, 3
liter, dan 20 liter. Pada skala industri dapat dihasilkan 10000 sampai
12000 suppositoria dengan hanya diawasi oleh 2 orang saja.
b. Otomat tuang
Otomat tuang mampu memproduksi 20000 suppositoria dalam satu
jam hanya dalam satu siklus kerja. Fase kerja otomat tuang seperti
itu tergantung pada jenis alatnya. Fase tersebut dapat berlangsung
secara linier atau rotasi. Operasi kerja berikut berlangsung secara
penuh yaitu penuangan masa, pendinginan cetakan, pengerokan
masa membeku yang berlebih, pendesakan suppositoria yang telah
selesai keluar, serta pembersihan dan pemulasan cetakan.
Metode Pendosisan

a. Penentuan Faktor Tera Cetakan Secara Eksperimental


Daya tampung cetakan (faktor tera) ditentukan dengan mengisi cetakan
dengan masa basis murni, kemudian setelah beku dan kelebihan
penuangan dihilangkan, suppositoria ditimbang satu-satu dan dicari rata-
ratanya tepat dua angka di belakang koma. Penyimpangan yang terjadi
dapat mencapai 5%.
b. Pendosisan Dengan Menggunakan Faktor Pengganti
Faktor pengganti (nilai tukar) menunjukkan berapa gram suatu basis
suppositoria tertentu yang digantikan oleh 1 g bahan obat.
Pembuatan suppositoria dalam skala kecil hendaknya dilebihkan 10%
untuk mencegah kehilangan basis akibat tertinggal pada pinggan
penggerus, alu, dan kartu pengeroknya.
c. Pendosisan Berdasar Volume
Pada skala besar dilakukan dengan faktor pengganti, namun pada skala
kecil, disarankan untuk melakukan pendosisan dengan cara penuangan
menurut muenzel atau dengan cara piala tuang menurut koenig.
Basis / bahan dasar untuk pembuatan suppositoria harus
memenuhi syarat seperti berikut :

Dapat meleleh / melarut dalam suhu tubuh


Dapat melepaskan obatnya
Tidak toksik, tidak menyebabkan iritasi
Stabil dalam penyimpanan
Mudah dituang dan mudah membeku kembali
Tidak melekat pada alat cetakan dan mudah diambil
Dapat bercampur dengan semua obat dan bersifat netral
1. Basis berupa lemak (fatty / oleginous bases)
Contoh basis yang berupa lemak adalah lemak
cokelat. Lemak cokelat merupakan trigliserida,
berwarna kekuningan, bau yang khas. Mencair
pada suhu 30C dan biasanya meleleh pada
suhu 34-35C, tetapi dibawah suhu 30C
merupakan masa semi padat.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN BASIS LEMAK
COKLAT
Keuntungan basis lemak cokelat :
Cepat larut dalam suhu tubuh
Onset cepat

Kerugian basis lemak cokelat :


Tidak dapat disimpan dalam suhu kamar
Mempunyai sifat polimorfi, dengan adanya
panas tinggi akan rusak
Nilai Tukar
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui berat lemak cokelat yang mempunyai besar
volume yang sama dengan 1 g obat bila suppositoria mengandung zat padat dalam jumlah
banyak (>10%). Karena zat padat dalam jumlah banyak akan menyebabkan jumlah obat
melebihi dosis dan massa suppositoria akan berkurang.
Daftar nilai tukar lemak cokelat untuk 1 g obat
Acidum boricum : 0,65
Aethylis aminobenzoas : 0,68
Garam alkaloid : 0,7
Aminophyllinum : 0,86
Bismuthi subgalas : 0,37
Bismuthi subnitras : 0,20
Ichtammolum : 0,72
Sulfonamidum : 0,60
Tanninum : 0,68
Zinci oxydum : 0,25
Nilai tukar beberapa obat adalah 0,7 kecuali untuk garam bismuth dan zinci oxydum. Untuk
larutan nilai tukarnya adalah satu. Untuk membuat suppositoria yang sesuai agar tidak
jumlah obat tidak melebihi dosis dilakukan perhitungan nilai tukar seperti berikut :
PERHITUNGAN
Contoh :
R/ Aminophylinum 0,5 g
m.f.suppos dtd No.XV
Hitungan :
Jumlah aminophylinum yang dibutuhkan : 0,5 g x 15 = 7,5 g
Berat suppositoria : 3 g x 15 = 45 g
Nilai tukar Aminophylin : 0,86 x 7,5 g = 6,45 g
Jumlah lemak cokelat yang diperlukan : 45 g 6,45 g =
38,55 g
Basis yang larut air (water soluble bases)

Pembuatan suppositoria dengan bahan dasar P.E.G. sama


seperti pembuatan suppositoria dengan bahan dasar lemak
cokelat, yaitu dengan melelehkan bahan dasar lalu dituang
dalam cetakan.
Kentungan pemakaian P.E.G. mudah larut dalam cairan
rektum dan tidak ada modifikasi titik lebur, serta tidak
mudah meleleh pada suhu kamar. Berdasarkan percobaan
Hassler dan sperandio bahan dasar lemak cokelat onset of
action (mulai memberikan efek) lebih cepat, sedangkan
dengan bahan dasar P.E.G. menunjukkan duration of action
(lama memberi efek) lebih lama. Ini disebabkan karena
lemak cokelat lebih cepat meleleh sehingga obat juga akan
cepat terlepas dan cepat diabsorpsi, sedangkan
suppositoria dengan bahan dasar P.E.G. harus menunggu
basisnya larut terlebih dahulu baru kemudian obatnya
dapat diabsorpsi
Suppositoria Dengan Bahan
Dasar Gelatin
Formula sesuai dengan Pharmacope Ned V yaitu
2 bagian gelatin + 4 bagian air + 5 bagian gliserin
untuk massa suppositoria 4 g. Obat yang akan
ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan
sedikit air atau gliserin yang disisakan dan
dicampurkan pada masa yang sudah dingin. Bila
jumlah obat sedikit pengurangan dilakukan pada
jumlah air pada basis, dan bila jumlah obatnya
banyak pengurangan dilakukan pada berat masa
bahan dasar yang digunakan.
Waktu lebur
Waktu pada saat suppositoria melebur dinyatakan sebagai waktu
lebur.
Kekompakan dan kekerasan
Kekompakan dapat ditentukan dengan meletakkan anak
timbangan di atas suppositoria yang telah dipotong ujungnya agar
dapat berdiri tegak.
Ukuran partikel atau penghabluran
Penghabluran dikhawatirkan terjadi jika bahan obat melarut dalam
masa basis supositoria yang dipanaskan atau dalam proses
pendinginan dan penyimpanannya terjadi pengurangan kelarutan.
Distribusi bahan obat
Untuk menguji kandungan bahan obat dari suppositoria dalam
satu batch (keseragaman kandungan), diambil sejumlah
suppositoria yang mewakili batch tersebut lalu ditimbang.