You are on page 1of 54

REFERAT

Imunisasi

Dokter Pembimbing:
dr. Dyah Kurniati, Sp.A

Disusun oleh:
Theresia Lolita Setiawan
112015168

Pengertian Imunisasi
Imunisasi aktif

IMUNISASI Proses menginduksi
imunitas secara buatan

Imunisasi pasif

Manfaat Imunisasi
 Manfaat utama dari imunisasi menurunkan angka kejadian
penyakit, kecacatan, maupun kematian akibat penyakit-
penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi
(vaccine-preventable disease)

 Mencegah epidemi

 Menghemat biaya kesehatan

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
 KIPI kejadian medis yang berhubungan dengan
imunisasi, baik berupa efek vaksin atau efek samping
toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis atau
kesalahan program, koinsidensi, reaksi suntikan, atau
hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan

Campak  Bakteri : BCG Berasal dari bibit penyakit yang dimatikan (inactivated)  Seluruh partikel diambil: Virus : IPV (injectable/inactivated polio vaccine = polio injeksi). Penggolongan Vaksin Penggolongan berdasarkan asal antigen (Immunization Essential) Berasal dari bibit penyakit yang dilemahkan (live attenuated)  Virus : Polio (OPV). Rabies Bakteri : Pertusis  Sebagian partikel diambil: Murni : Meningococal Gabungan : Hib (Haemofilus Influenza type B) Rekombinan : Hepatitis B .

yaitu golongan vaksin yang akan rusak terhadap suhu dingin dibawah 0oC (beku) seperti:  Hepatitis B  DPT  DPT-HB  DT  TT Vaksin sensitif panas (Heat Sensitive=HS). Penggolongan Vaksin Penggolongan berdasarkan sensitivitas terhadap suhu Vaksin sensitif beku (Freeze Sensitive=FS). yaitu golongan vaksin yang akan rusak terhadap paparan panas yang berlebihan yaitu:  BCG  Polio  Campak .

pembuluh darah maupun persarafan. intramuskular. .Cara dan Tempat Pemberian Vaksin  Vaksin dapat diberikan secara subkutan.  Memberikan respons imun optimal dan memberikan kerusakan minimal terhadap jaringan sekitar. intrakutan (intradermal). dan per-oral sesuai dengan petunjuk yang tertera dalam kemasan.

+8oC atau -15oC .+8oC 2 tahun Hepatitis B +2oC .+8oC 2 tahun DT +2oC .+8oC 2 tahun Pelarut BCG Suhu Kamar 5 tahun Pelarut Campak Suhu Kamar 5 tahun .+8oC 26 bulan TT +2oC .25oC 2 tahun DPT +2oC .+8oC 6 bulan -15oC .+8oC atau -15oC .25oC 1 tahun Polio +2oC .+8oC 2 tahun DPT-HB +2oC .25oC 2 tahun Campak +2oC . Suhu Penyimpanan Vaksin Jenis Vaksin Suhu Penyimpanan Umur Vaksin BCG +2oC .

.

Imunisasi Dasar pada Bayi .

seorang anak membutuhkan imunisasi lanjutan  Imunisasi DPT-HB-Hib dosis ke-4 pada usia 18 bulan  Campak dosis kedua pada usia 18 bulan dan pada saat usia sekolah dasar  Imunisasi campak dan DT pada siswa kelas 1 dan imunisasi Td pada siswa kelas 2 dan 3  Pemberian imunisasi diberikan dalam kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) . Imunisasi Lanjutan Setelah mendapatkan imunisasi dasar lengkap pada saat bayi.

Jenis-Jenis Imunisasi .

Vaksin Hepatitis B .

dan 4 bulan HB kombinasi dengan DTPa 2. Vaksin Hepatitis B  Vaksin HB pertama (monovalen) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir (didahului pemberian suntikan vitamin K)  Jadwal pemberian: vaksin HB monovalen usia 0. kadang-kadang dapat timbul demam ringan untuk 1-2 hari  Indikasi kontra: sampai saat ini tidak ada indikasi kontra absolut .3. dan 6 bulan  Dosis pemberian: 0. intramuskular  KIPI: reaksi lokal yang ringan.5 ml sebanyak 3 kali pemberian. dan 6 bulan HB kombinasi dengan DTPw 2.4.1.

5 ml HBIG dan vaksin rekombinan. . secara bersamaan.5 ml secara intramuskular Bayi lahir dari ibu HBsAg positif 12 jam setelah lahir. diberikan 0. Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negative diberikan vaksin rekombinan 0. dalam waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin Hepatitis B Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status HBsAg ibu pada saat melahirkan Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak diketahui diberikan vaksin rekombinan secara intramuskular.

Vaksin Polio .

 Jadwal pemberian: untuk imunisasi dasar (polio 2.  Vaksin polio inaktif (IPV) berisi virus polio tipe 1. 2.1 ml)  Daerah endemik polio segera setelah lahir . dan 3 yang diinaktivasi (subkutan). 3. 2. dan 3 yang dilemahkan (attenuated). Vaksin Polio  Vaksin polio oral (OPV) virus polio hidup yang tipe 1. 4) 2 tetes per-oral (0.

diare ringan. . vaccine associated polio paralytic (VAPP)  Indikasi kontra: anak dalam keadaan penyakit akut. Vaksin Polio  KIPI: pusing. demam (> 38oC). dan nyeri otot. hipersensitif terhadap antibiotik dalam vaksin. muntah atau diare berat. sedang dalam pengobatan imunosupresi.

Vaksin BCG .

optimal usia 2 bulan  Dosis pemberian: 0. bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas  Indikasi kontra: tidak ada larangan. Vaksin BCG  Mengandung kuman BCG yang masih hidup namun telah dilemahkan  Jadwal pemberian: sebelum usia 3 bulan. kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau uji mantoux positif dan adanya penyakit kulit berat/menahun .05 ml  KIPI: jarang dijumpai.

Vaksin DPT .

> 7 tahun Td atau Tdap booster diberikan setiap 10 tahun  KIPI: demam ringan. DT 6 12 tahun. pembengkakan dan nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari  Indikasi kontra : riwayat anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya . 4 bulan  Ulangan DPT 4 18 bulan. Vaksin DPT  DTwP dan DtaP  Jadwal pemberian: imunisasi DPT dasar diberikan 2. 3. DPT 5 5 tahun.

Vaksin HiB .

diberikan secara intramuskular  KIPI: gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas.5 ml. [MSD]® umur 2 dan 4 bulan  Ulangan 18 bulan  Dosis pemberian: 0. dan 6 bulan. Vaksin HiB Jadwal pemberian:  Vaksin conjungate Hib Act HIB [Pasteur Merieux]® umur 2. demam. 4. kemerahan pada tempat suntikan .  Vaksin (PRP-OMPC Pedvax Hib.

Vaksin Pneumokokus (PCV) .

Vaksin PPV 23 valen mengandung 23 serotipe  Vaksin pneumokokus polisakarida konjugasi (pneumococcal conjugate vaccine = PCV). Vaksin Pneumokokus (PCV) Terdapat 2 macam vaksin pneumokokus:  Vaksin pneumokokus polisakarida (pneumococcal polysaccharide vaccine = PPV). Vaksin PCV pertama berisi 7-valen .

4. Vaksin Pneumokokus (PCV)  Jadwal pemberian: diberikan pada bayi umur 2. bengkak. 6 bulan. demam. diare. dan diulang pada umur 12-15 bulan  Cara pemberian: intramuskular  Reaksi KIPI: eritema. urtikaria . muntah. indurasi dan nyeri di bekas tempat suntikan.

interval 6 .23 bulan 2 dosis. 12 .15 bulan 12 .11 bulan 2 dosis. Usia Dosis dan Interval Ulangan 2 .15 bulan 7 . interval 6 . 12 .6 bulan 3 dosis.8 minggu 1 dosis. interval 6 .8 minggu 1 dosis.8 minggu > 24 bulan 1 dosis .

Vaksin Campak .

atau pembengkakan pada tempat penyuntikan  KI: sakit parah.5 ml. Vaksin Campak  Jadwal pemberian: 9 bulan. kurang gizi dalam derajat berat. subkutan dalam  KIPI: demam ringan dan sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. 18 bulan (booster). diberikan 0. penyakit keganasan . gangguan kekebalan. 6-7 tahun  Dosis: vaksin yang dibeku keringkan setelah dilarutkan.

Vaksin Rotavirus .

dan dosis ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. muntah (8. dan maksimal pada usia 6 bulan. 1. Vaksin rotavirus pentavalen (Rotateq) 3 dosis: pemberian pertama pada usia 6-14 minggu dan pemberian ke-2 setelah 4-10 minggu kemudian. Vaksin Rotavirus Mencegah diare karena rotavirus Vaksin rotavirus yang beredar di Indonesia saat ini ada 2 macam.7%). dan demam (12.1%) . dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu. KIPI: diare (7. 2.5%). Rotarix (monovalen) 2 dosis: dosis pertama diberikan pada usia 6-14 minggu.

Vaksin Influenza .

25ml  36 bulan atau lebih dosis 0. nyeri. demam. eritema dan indurasi pada tempat suntikan . diulang setiap tahun Dosis pemberian:  Untuk anak 6-36 bulan dosis 0.5 ml  Cara pemberian: intramuskular atau subkutan  KIPI: ruam makula/papula. Vaksin Influenza  Jadwal pemberian: diberikan pada usia lebih dari 6 bulan.

Vaksin MMR .

secara subkutan.5 ml.  Sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan vaksin MMR 15 bulan  Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak MMR  Telah mendapat imunisasi MMR pada umur 12-18 bulan imunisasi campak pada umur 5-6 tahun (-) . Vaksin MMR  Jadwal pemberian: 12 bulan. 5 tahun (booster)  Dosis pemberian: 0.

Vaksin Tifoid .

Vaksin Tifoid  Jadwal pemberian: diberikan pada usia > 2 tahun. dengan ulangan setiap 3 tahun  Pemberian secara suntikan intramuskular atau subkutan pada daerah deltoid atau paha  KIPI: demam. nausea. nyeri kepala. nyeri perut jarang dijumpai . nyeri otot. pusing. nyeri sendi.

Vaksin Hepatitis A .

Vaksin Hepatitis A  Jadwal pemberian: diberikan pada usia > 2 tahun  Dosis pemberian: 2 dosis dengan interval 6-12 bulan  Efek samping tersering (21%-54%) reaksi lokal tetapi umumnya ringan  Demam dialami 4% resipien .

Vaksin Varisela .

hitung limfosit kurang dari 1200/μl atau adanya bukti defisiensi imun selular . dosis tunggal  Untuk anak berusia >13 tahun atau pada dewasa diberikan 2 kali dengan interval 4-8 minggu  Reaksi KIPI demam (1%). dan ruam papula-vesikel ringan  KI: demam tinggi. Vaksin Varisela  Jadwal pemberian: diberikan pada usia >1 tahun  Dosis pemberian: 0.5 ml secara subkutan.

Vaksin Human Papilloma Virus (HPV) .

Gardasil®)  Jadwal pemberian: mulai usia 10 tahun (bivalen 0. dan 18. Vaksin HPV Terdapat 2 jenis vaksin HPV:  Vaksin bivalen (tipe 16 dan 18. 11. Cervarix®)  Vaksin quadrivalen (tipe 6. nyeri kepala dan mual . 1. diberikan secara intramuskular  Efek samping: nyeri. 6 bulan)  Dosis pemberian: 0. 2. demam.5 ml. reaksi kemerahan dan bengkak pada tempat suntikan. 16. 6 bulan) (tetravalen 0.

Vaksin Japanese Ensefalitis (JE) .

Vaksin Japanese Ensefalitis (JE)  Jadwal pemberian: usia 9 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis  Untuk perlindungan jangka panjang: booster 1-2 tahun berikutnya  Dosis pemberian: 0.5 ml sebanyak 3 kali. diberikan secara subkutan pada lengan atas .

booster pada usia 18 bulan  KIPI demam ringan timbul (20%) dalam 1-2 hari. 4 bulan. 3. Vaksin DTwP-HB-Hib (Pentabio®)  Vaksin DTwP-HB-Hib (Pentabio® buatan Bio Farma) mengandung antigen pertusis sel utuh (whole cell)  Telah diteliti pada 600 bayi menghasilkan respons imun (imunogenisitas) antara 85 – 100%  Diberikan sebagai imunisasi dasar pada anak usia 2. bengkak ringan sekitar (25%) .

.

vaksin Dengue pertama di dunia tersebut mendapat persetujuan dari BPOM  Berdasarkan hasil penelitian didapatkan vaksin ini memiliki hasil efikasi terbaik pada anak usia 9-16 tahun Diberikan pada anak usia 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan jarak pemberian 6 bulan . Vaksin Dengue  Vaksin Dengue yang beredar saat ini vaksin buatan Sanofi Pasteur  Pada bulan September tahun 2016 lalu.

.

.

Imunisasi BKIA .

Thank You .