You are on page 1of 6

For the baby, complications of uncontrolled

asthma include increased risk of stillbirth, fetal


growth retardation, premature birth, low birth
weight and a low APGAR score at birth.
Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan bisa
mempengaruhi hidung dan sinus. Seperti halnya juga paru-
paru. Peningkatan hormon estrogen berkontribusi terhadap
kongesti dari kapiler di hidung, yang bisa menyebabkan
hidung mampet terutama pada trimester ketiga.
Peningkatan progesteron menyebabkan peningkatan laju
pernafasan dan perasaan nafas yang pendek mungkin
merupakan hasil dari peningkatan hormon.
Event ini mungkin membingungkan dengan atau adanya
tambahan terhadap alergi maupun pemicu lain terjadinya
asthma.
Spirometry dan peak flow merupakan indikator obstruksis
jalan nafas yang bisa membantu physician menentukan
apakah asthma merupakan penyebab dari pemendekan
nafas selama kehamilan
Untuk wanita hamil dengan asma, tipe dan frekuensi dari
evaluasi fetus didasarkan pada usia kehamilan dan faktor resiko
ibu. USG bisa dilakukan sebelum 12 minggu jika terdapat
perhatian tentang akurasi dari tanggal perkiraan dan diulang lagi
jika dicurigi adanya pertumbuhan janin yang terhambat.
Monitoring HR elektronik, yang biasa disebut non-stress testing
atau contracrion stress testing dan ultrasonik determination pada
trimester ketiga bisa digunakan untuk menilai kesejahteraan janin.
Pada trimester ketiga, dengan gejala asma yang signifikan,
frekuensi penilaian janin harus ditingkatkan jika masalah
dicurigai. Pasien asma harus merekam aktivitas janin atau jumlah
tendangan setiap hari untuk membantu memantau bayi mereka
sesuai dengan instruksi dokter mereka.
Pemantauan janin intensif dengan obaserbasi yang cermat
direkomendasikan untuk pasien yang masuk persalinan dengan
asma berat, memiliki tes masuk non-meyakinkan, atau faktor
resiko lain.