You are on page 1of 28

MANAJEMEN AKUT TRAUMA

TULANG BELAKANG
CERVIKAL TRAUMATIS
OLEH :
Zuhriya Aryati,S. Ked
PEMBIMBING :
DR.dr.Charles Simanjuntak, SpOT,SPINE (K)

ABSTRAK
Trauma medula spinalis dapat menyebabkan defisit motorik dan sensorik
dan juga pada gangguan kardiovaskular dan pernafasan.

Memerlukan tim multidisiplin ( bedah saraf, ortopedi, ahli saraf,
fisioterapis)

meninjau aspek-aspek penting dari diagnosis dan penanganan akut
pasien dengan cedera sumsum tulang belakang traumatis terutama di
bagian cervikal.

kekerasan. Tahun 2010.000. i olahraga SCI pada bagian cervicalselain kemungkinan quadriplegia. setengahnya terjadi pada usia muda ( 16. cardiovaskular dari cedera neurologis di atas C5. sekitar 12 400 kasus SCI di AS Penyebab : Jatuh. terganggunya pernapasan. kecelakaan kendaraan bermotor.30 tahun).epidemiolog Pusat Statistik SCI Nasional AS orang yang tinggal dengan SCI di Amerika Serikat sebanyak 273. .

cedera pada maupun saat awal bagian Cervical penanganan penggunaan collar Imobilisasi neck mencegah dengan collar kerusakan neurologis neck. mengalami saat transportasi. perhatikan komplikasi stabilisasi dan risiko yang bisa manual in. lebih lanjut.line terjadi . Tetap backboard. sandbags. IMOBILISASI PRE-HOSPITAL Pada kasus SCI : Dapat terjadi saat anggap korban setelah trauma.

memiliki kadar otot ≥3. motorik di yang terkena di di bawah level di bawah level bawah tingkat bawah tingkat neurologis. Tidak tidak lengkap. neurologis bawah level memiliki kadar neurologis otot <3. . segmen sakral bawah level otot-otot di S4-S5. Fungsi ada fungsi Hanya fungsi Fungsi motorik Fungsi motorik sensorik dan sensorik atau motoriknya dipertahankan dipertahankan motorik normal. PENILAIAN NEUROLOGI kategori penilaian menurut American Spinal Injury Association (ASIA) : ASIA A ASIA B ASIA C ASIA D ASIA E lengkap. dan cedera atau di neurologis dan lebih dari setidaknya segmen sakral mencakup separuh otot di setengah dari S4-S5. normal. tidak lengkap. tidak lengkap. dan neurologis.

.

Sadar. sadar. 2. Penderita asimptomatik simptomatik mati rasa . penderita penderita 3. PENILAIAN RADIOLOGI • Mengevaluasi kemungkinan patologis pada tulang belakang pasca trauma • The Joint Section on Disorders of the Spine and Peripheral Nerves of the American Association of Neurological Surgeons and the Congress of Neurological Surgeons penilaian radiografi menjadi 3 kelompok yaitu : 1.

Pasien yang sadar tanpa gejala neurologis atau nyeri leher. dapat melakukan rentang gerak leher penuh tanpa rasa sakit TIDAK memerlukan imaging atau immobilisasi tulang belakang tahap lanjut. The National Emergency X-Radiography Utilization Study Group (NEXUS) lima kriteria pasien diklasifikasikan kemungkinan cedera yang rendah tidak perlu dilakukan pencitraan. jika tidak ada luka yang mengganggu. .

yang dapat menyebabkan subluksasi dan gangguan kanal tulang belakang . tetapi pasien masih nyeri leher lakukan pemeriksaan MRI ( menilai cedera ligament) • short T1 inversion recovery (STIR) merupakan metode penekanan lemak yang lebih baik menggambarkan cedera jaringan lunak.Scan • Bila tidak ada. • Bila hasil Ct. Pada pasien yang sudah sadar tapi simptomatik radiograf tiga tampilan tradisional (pandangan anteroposterior.Scan normal. lakukan penilaian awal dengan menggunakan Ct.• Bila ada Ct-Scan. lateral dan open mouth odontoid view). Ligamen yang rusak bisa menandakan kelemahan pada persendian dan tulang belakang.

MANAJEMEN KLINIS DAN FARMAKOLOGI • Bukti kuat pada penelitian fisiologis hewan menunjukkan bahwa hipotensi dan hipoksemia keduanya berkontribusi pada cedera sekunder setelah SCI. menyebabkan hilangnya nada vaskular perifer (antara efek lainnya) dan hipotensifinasi dan hipoperfusi lebih lanjut. • Dapat diperparah secara signifikan oleh syok spinal. .

• Pasien dengan SCI cervical tingkat tinggi memerlukan penanganan jalan nafas dengan hati. .hati dengan melakukan intubasi.• Hal ini dapat menyebabkan kerusakan sekunder yang meningkat pada medulla spinalis di sekitar lokasi cedera pada beberapa jam dan hari setelah trauma.

• Penggunaan kortikosteroid masih kontroversial. Bukti kelas III yang banyak menunjukkan bahwa tekanan arterial rata-rata yang meningkat pada 85 atau 90 mmHg menghasilkan hasil yang membaik.• Masih ada kontroversi mengenai manajemen tekanan darah pada SCI serviks akut. • umumnya pasien dengan SCI servikal diberikan perawatan dengan norepinephrine selama 7 hari setelah cedera untuk mempertahankan tekanan arteri rata-rata antara 85 dan 90 mmHg. pada penelitian ini penggunaan kortikosteroid tidak dianjurkan karena adanya peningkatan komplikasi yang signifikan dan kurangnya manfaat yang jelas. .

Kelas III : fraktur avulsion di tempat pelekatan ligamen alar. ( sindrom Brown-Séquard. Kelas II : melibatkan fraktur tengkorak basilar. sindrom corda pusat. sindrom anterior atau posterior) berdasarkan mekanisme dan lokasi korda yang cedera. KLASIFIKASI CEDERA TULANG BELAKANG CERVIKAL • SCI yang tidak lengkap sering ditemukan dalam beberapa pola. Fraktur Kelas I : fraktur kominuta pada kondilus condilooksipital akibat impaksi dari massa lateral C1. .

Dislokasi Tipe I : subluksasi ventral dari kondilus occipitocervical terhadap massa lateral C1. Tipe II : dislokasi vertikal kondilus oksipital (gambar 1).• Dislokasi occipitocervical  terjadi akibat trauma energi tinggi dan seringkali fatal. . tipe III: jarang terjadi dan melibatkan dislokasi dorsal pada kondilus.

• Fraktur tipe I terbatas pada lengkungan dorsal C1. yang disebut klasik 'Jefferson fractures'. Coronal CT  dislokasi oksipitoserviks tipe II (panah hitam) dengan fraktur bilateral kondilus oksipital yang terkena ( panah putih ) . Kelemahan ligamen ini menghasilkan artikulasi C1-C2 yang tidak stabil. yaitu fraktur tipe- burst dengan tiga atau lebih lokasi fraktur melalui aspek ventral dan dorsal cincin C1. • Cedera tipe II melibatkan cedera massa lateral unilateral. . • Cedera tipe III. Fraktur C1 dapat dikaitkan dengan gangguan ligamentum atlantal transversal.

Lokasi Tipe I : pada ujung yang superior dari dens fraktur Tipe II : pada persimpangan dasar dens dan bodi aksis Tipe III : meluas kedalam badan aksis .• Fraktur C2 terdiri dari 2 jenis. yaitu tipe odontoid atau pars interartikularis • Fraktur odontoid diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi fraktur.

tipe II : translasi >3mm dan angulasi yang signifikan (gambar 3). . Tipe III : melibatkan fraktur parsial ditambah dislokasi facial C2 / 3 bilateral. tidak mengalami angulasi signifikan pada lokasi fraktur. dibagi menjadi 3 kategori : tipe I : translasi <3 mm dari C2 pada C3.• Fraktur interartikularis ( hangman’s fracture).

.Scan CT Sagittal menunjukkan fraktur tipe odontoid (C2) tipe II dengan angulasi ringan pada fraktur (panah).

Fraktur hangman tipe II dari pars (panah) pada (A) aksial dan (B) sagital CT scan (Panah). .

.Scan CT Sagital menunjukkan fraktur fleksi kompresi pada badan vertebra C7 (panah) dengan fraktur elemen posterior terkait.

pengurangan fraktur dan fusi untuk stabilitas tulang belakang jangka panjang. PRINSIP PEMBEDAHAN • Operasi tulang belakang  Kombinasi dekompresi elemen saraf yang cedera dengan koreksi deformitas. • Pastikan pengangkatan tulang dan ligamen yang tepat untuk mengurangi kompresi pada elemen saraf. • Waktu pembedahan baru-baru ini dalam Studi Klinik Spinal Cord Injury akut menunjukkan hasil yang membaik pada 6 bulan dengan awal (<24 jam dari cedera) jika dibandingkan dengan intervensi terlambat (≥24 jam). .

. • Pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi SCI pada akhirnya akan memberikan dasar bagi strategi pengobatan baru dengan tujuan akhir memperbaiki fungsi neurologis seperti sebelum terjadi cedera. • Meskipun kemajuan yang telah dicapai dalam pengelolaan pasien SCI secara akut. klasifikasi dan pengelolaan medis tahap awal pada pasien ini telah meningkat. hasil secara neurologis belum membaik secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. KESIMPULAN • Standar evaluasi.

TELAAH KRITIS JURNAL .

. Karena penelitian ini bermanfaat untuk mempengaruhi hasil di lapangan. Patient of Problem • Spinal cord injury (SCI) bisa menjadi penyakit yang memberikan beberapa kesulitan pada fase akut dan kronis. seperti stimulasi listrik secara langsung. • Penelitian ini berfokus pada peningkatan hasil dengan menggunakan stem cell dan terapi adjuvant lainnya. • Pasien dengan cedera tulang belakang cervical akut akan memberikan tantangan klinis yang kompleks. peneliti meninjau paradigma diagnostik dan perawatan dasar yang tercermin dalam literatur luas di lapangan.

. Penelitian ini merupakan penelitian yang meninjau paradigma dan Interventi perawatan dasar yang tercermin on dalam literatur luas di lapangan (review dari beberapa penelitian) yang di publikasikan pada tanggal 18 Mei 2015. Pada penelitian ini tidak dilakukan intervensi.

Pada penelitian ini pengumpulan data compare mengenai paradigma diagnostik dan perawatan dasar dilihat berdasarkan literatur yang ada dilapangan. Penelitian ini tidak ada perbandingan. .

. Penanganan pada kasus trauma tulang belakang masih menjadi tantangan klinis. hasil secara neurologis Outcome belum membaik secara signifikan. Meskipun ada kemajuan dalam pengelolaan pasien ini. Penggunaan kortikosteroid tidak di anjurkan pada penelitian ini mengingat komplikasi yang signifikan dan manfaat yang kurang jelas.

Valid? ( yes ) Via Important? Applicable? ( yes ) ( yes ) .