You are on page 1of 25

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN


OBESITAS
Pendahuluan

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan


lemak berlebihan dengan ambang batas IMT/U > 2 Standar Deviasi (WHO,
2005).
Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi
daripada energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh
konsumsi makanan sumber energi dan lemak tinggi, sedangkan
pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas
fisik dan sedentary life style.
Pendahuluan

Masalah kegemukan dan obesitas di Indonesia terjadi pada semua


kelompok umur dan pada semua strata sosial ekonomi.
Pada anak sekolah, kejadian kegemukan dan obesitas merupakan
masalah yang serius karena akan berlanjut hingga usia dewasa.
Kegemukan dan obesitas pada anak berisiko berlanjut ke masa dewasa,
dan merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit metabolik dan
degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker,
osteoartritis, dll.
Epidemiologi

Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukkan prevalensi kegemukan dan


obesitas pada anak sekolah (6-12 tahun) sebesar 9,2%. Sebelas propinsi,
seperti D.I. Aceh (11,6%), Sumatera Utara (10,5%), Sumatera Selatan
(11,4%), Riau (10,9%), Lampung (11,6%), Kepulauan Riau (9,7%), DKI Jakarta
(12,8%), Jawa Tengah (10,9%), Jawa Timur (12,4%), Sulawesi Tenggara
(14,7%), Papua Barat (14,4%) berada di atas prevalensi nasional.
Pada tahun 2013 prevalensi gemuk secara nasional di Indonesia adalah
11,9 persen, yang menunjukkan terjadi penurunan dari 14,0 persen pada
tahun 2010. Terdapat 12 provinsi yang memiliki masalah anak gemuk di
atas angka nasional dengan urutan prevalensi tertinggi sampai
terendah,yaitu: (1) Lampung, (2) Sumatera Selatan, (3) Bengkulu, (4)
Papua, (5) Riau, (6) Bangka Belitung, (7) Jambi, (8) Sumatera Utara, (9)
Kalimantan Timur, (10) Bali, (11) Kalimantan Barat, dan (12) Jawa
Tengah.(Gambar 3.14.3
Epidemiologi

Secara nasional masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi
yaitu 18,8 persen, terdiri dari gemuk 10,8 persen dan sangat gemuk (obesitas)
8,8 persen. Prevalensi gemuk terendah di Nusa Tenggara Timur (8,7%) dan
tertinggi di DKI Jakarta (30,1%). Sebanyak 15 provinsi dengan prevalensi
sangat gemuk diatas nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten,
Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau,
Jambi, Papua, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung dan DKI Jakarta.
Faktor penyebab obesitas

Mengkonsumsi makanan porsi besar (melebihi dari kebutuhan)


Makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan
rendah serat
Perilaku makan yang salah adalah tindakan memilih makanan berupa junk
food, makanan dalam kemasan dan minuman ringan (soft drink).
kurangnya aktivitas fisik (video games, playstation, televisi dan komputer
menyebabkan anak malas untuk melakukan aktivitas fisik )
Faktor Genetik
Kemungkinan anak menjadi obesitas disebabkan kedua orang tuanya
obesitas sebesar 80 persen, kemungkinan anak
obesitas dari salah satu ibu atau bapak yang menderita obesitas adalah
40
persen, sedangkan anak yang terlahir dari bapak dan ibu yang tidak
menderita
obesitas mempunyai kemungkinan 20 persen untuk obesitas (Dietz 1995).
Mama + papa obese Mama obese, papa slim

40% anak obese


80% anak obese

Mama + papa slim


20% anak obese
Faktor genetik
Penelitian yang dilakukan Badan Internasional Obesity Task
Force (IOTF) dari badan WHO yang mengurusi masalah
kegemukan pada anak menyebutkan hasil yang
berbeda, bahwa faktor genetik hanya berpengaruh 1%
dari kejadian obesitas pada anak sedangkan 99%
disebabkan faktor lingkungan ( Anonymous 2007).
3. Faktor Sosial

Tingkat pendidikan orangtua


Status social ekonomi : pendapatan
4. Aktivitas fisik

kurangnya aktivitas fisik (video games, playstation, televisi dan komputer


menyebabkan anak malas untuk melakukan aktivitas fisik )
Pengukuran status gizi pada anak

Membandingkan nilai IMT dengan Grafik IMT/U


berdasarkan Standar WHO 2005 :
Kurus : < - 2 SD
Normal : - 2 SD s/d 1 SD
Gemuk : >1 s/d 2 SD
Obesitas : > 2 SD
Tabel IMT/U pada balita
Tabel IMT/U pada anak
Tabel IMT/U
PENGUKURAN UMUM
Dampak OBESITAS

Risiko penyakit kardiovaskuler di usia dewasa pada anak obesitas


sebesar 1,7 - 2,6. IMT mempunyai hubungan yang kuat dengan
kadar insulin.
Anak dengan IMT > persentil ke 99, 40% diantaranya mempunyai
kadar insulin tinggi, 15% mempunyai kadar HDL-kolesterol yang
rendah dan 33% dengan kadar trigliserida tinggi.
Anak obes cenderung mengalami peningkatan tekanan darah
dan denyut jantung, serta 20-30% menderita hipertensi.
2. Diabetes Mellitus Tipe 2

Diabetes mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obes. Prevalensi


.
penurunan glukosa toleran test pada anak obes adalah 25% sedang
diabetes mellitus tipe-2 hanya 4%. Hampir semua anak obesitas dengan
diabetes mellitus tipe-2 mempunyai IMT > + 3SD
3. Obstructive sleep apnea
Obstruktive sleep apnea sering dijumpai pada anak obes dengan kejadian 1:100
Gejala nya mengorok
Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak di daerah dinding dada dan perut
yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi
penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban
kerja otot pernafasan.
Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada yang disertai penurunan
saturasi oksigen dan peningkatan kadar CO2, serta penurunan tonus otot yang
mengatur pergerakan lidah dan menyebabkan lidah jatuh kearah dinding belakang
faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas intermiten dan menyebabkan
tidur gelisah, sehingga keesokan harinya anak cenderung mengantuk dan
kurangnya suplai oksigen ke otak (hipoventilasi). Gejala ini berkurang seiring dengan
penurunan berat badan.
4. Gangguan ortopedik

Anak obes cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang


disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris
yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan
panggul.
5. Pseudotumor serebri

Pseudotumor serebri akibat peningkatan ringan tekanan intrakranial pada


anak obes disebabkan oleh gangguan jantung dan paru-paru yang
enyebabkan peningkatan kadar CO2 dan memberikan gejala sakit kepala
Penatalaksanaan

Pengukuran Antropometri
Health education
Penanganan obesitas di Puskesmas :
Konseling gizi
Pengaturan menu diet rendah energi rendah protein
Latihan fisik yang teratur
Membuat catatan kegiatan harian yang berisi : asupan makan di rumah
atau di luar rumah, aktivitas fisik, aktivitas nonton TV dan sejenisnya,
bermain dan lain-lain
Pencegahan Obesitas
1. Konsumsi buah dan sayur 5 porsi per hari
2. Membatasi menonton TV, bermain komputer, game/
3. playstation < 2 jam/hari
4. Tidak menyediakan TV di kamar anak
5. Mengurangi makanan dan minuman manis
6. Mengurangi makanan berlemak dan gorengan
7. Kurangi makan diluar
8. Biasakan makan pagi dan membawa makanan bekal ke
9. sekolah
10. Biasakan makan bersama keluarga minimal 1 x sehari
11. Makanlah makanan sesuai dengan waktunya
12. Tingkatkan aktivitas fisik minimal 1 jam/hari
13. Melibatkan keluarga untuk perbaikan gaya hidup untuk pencegahan gizi lebih
14. Target penurunan BB yang sehat
Aktivitas Fisik
1. Aktivitas fisik pada anak bermanfaat untuk :
2. Menjaga kesehatan
3. Meningkatkan kebugaran jasmani
4. Menjaga postur tubuh yang baik
5. Meningkatkan keseimbangan tubuh
6. Menjaga berat badan ideal
7. Menjaga agar otot dan tulang yang kuat
8. Meningkatan rasa percaya diri
9. Menurunkan stres
Masalah Keperawatan

1. Perubahan Nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh


2. Kurang pengetahuan oranngtua
3. Resiko keterlambatan perkembangan
4. Resiko cidera
5. Resiko gangguan mobilitas fisik
6. Intoleransi aktifitas
7. Resiko Aspirasi
8. Gangguan pola tidur