You are on page 1of 53

Tutorial

Tuberkulosis Paru
Nia Nurhayati Z
NurSigit
Reyhan Calabro
Thia Resti

Pembimbing : dr. Cut Yulia, Sp. P

Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Penyakit Dalam


RSIJ Cempaka Putih
IDENTITAS PASIEN
NAMA : TN. P
USIA : 51 TAHUN
JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI
AGAMA : ISLAM
STATUS PERKAWINAN : MENIKAH
PEKERJAAN : GURU
ALAMAT : CEMPAKA PUTIH, JAKARTA PUSAT
TANGGAL DATANG : 19 AGUSTUS 2017
NO. RM : 00582XXXX 2
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Batuk sejak 2 minggu SMRS

Keluhan Tambahan : Lemas, keringat malam, kurang nafsu


makan, sesak, mual, penurunan berat badan, demam.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :


PASIEN DATANG KE POLI PENYAKIT DALAM RSIJ CEMPAKA PUTIH DENGAN
KELUHAN BATUK LEBIH DARI 2 MINGGU SMRS. BATUK TIDAK BERDAHAK, TIDAK
BERDARAH (-). KADANG PASIEN MERASA SESAK SAAT BATUK. KERINGAT MALAM
JUGA DIKELUHKAN PASIEN MESKIPUN PASIEN TIDAK SEDANG BERAKTIVITAS
MAUPUN DI TEMPAT YANG DINGIN. PASIEN MENYANGKAL KELUHAN MUAL. PASIEN
MENGAKU MALAS MAKAN, TIAP MAKAN TIDAK PERNAH HABIS. PASIEN JUGA
MERASAKAN LEMAS BERAKTIVITAS DAN MENYUPIR MOBIL. SELAMA BEBERAPA
MINGGU INI PASIEN MENGELUH MENGALAMI PENURUNAN BERAT BADAN. 1 HARI
SMRS PASIEN SEMPAT DEMAM, DEMAM TURUN NAIK. PASIEN MENGATAKAN TIDAK
ADA KELUHAN PADA BAB DAN BAK 4
Riw. Penyakit Keluarga
:
Riw. Penyakit dahulu : Terdapat anggota
Riwayat Asma (-) keluarga yang
Riwayat TB (-) mengalami keluhan
Riwayat hipertensi (-) FLEK PARU saat kecil
Riwayat diabetes Riwayat asma (-)
Mellitus (+) Riwayat hipertensi (-)
Riwayat diabetes
mellitus (-)

5
Riw. Pengobatan :
Riw. Alergi : Tidak
Pasien sudah berobat ke
terdapat alergi udara,
klinik untuk keluhannya
debu, makanan , maupun
saat ini, namun tidak ada
obat-obatan
perubahan.

6
Riw. Psikososial :
Pasien tinggal disebuah rumah dengan tiga buah kamar,
ruang tamu, dapur dan satu kamar mandi bersama
anak & istrinya.
Keadaan sekitar rumah menurut pasien rapih, antar
rumah jaraknya Cukup di komplek perumahan di bekasi.
Os seorang guru matematika yang biasa kumpul di
ruang guru.
Tidak pernah mengkonsumsi alkohol maupun obat-
obatan terlarang

7
PEMERIKSAA
N FISIK
Keadaan umum : Tampak sakit
sedang
Kesadaran : Composmentis Status Gizi
GCS : 15 ( E4M6V5) BB sebelum sakit : 63 kg
Bb / tb : 58 kg / 160 cm bb setelah sakit: 58 kg
Tanda-tanda Vital : TB: 160 cm
Tekanan darah : 110/70 IMT: 22,6 kg/m2
mmHg normoweight
Frekuensi nadi : 86 kesan: pasien Nampak pada bb
kali/menit ideal
Frekuensi napas : 23
kali/menit
Suhu tubuh : 37,0 C
9
STATUS GENERALIS
KEPALA : NORMOCEPHAL
MATA : KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/-, REFLEK CAHAYA +/+, PUPIL
ISOKOR 3 MM/3MM
HIDUNG : DEVIASI SEPTUM (-), PERDARAHAN -/-, SEKRET -/-
MULUT : MUKOSA BIBIR LEMBAB
TELINGA : NORMOTIA, PERDARAHAN -/-, SERUMEN -/-
LEHER : PEMBESARAN KGB -/-
THORAKS
INSPEKSI : PERGERAKAN DADA SIMETRIS
PERKUSI: SONOR
PALPASI : VOCAL FREMITUS
AUSKULTASI PARU : VESIKULER +/+, RONKHI +/-, WHEEZING -/-
AUSKULTASI JANTUNG : BUNYI JANTUNG I & II REGULER, MURMUR (-), GALLOP
10
(-)
ABDOMEN
INSPEKSI : DATAR
AUSKULTASI : BISING USUS (+) NORMAL
PERKUSI : TIMPANI
PALPASI : NYERI TEKAN EPIGATRIUM (-)
EKSTREMITAS
ATAS
AKRAL : HANGAT
UDEM : -/-
RCT < 2 DETIK: +/+
BAWAH
AKRAL : HANGAT
EDEM : +/+
RCT < 2 DETIK: +/+
11
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN (19/08/2017 pkl 15.30 HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
Darah Perifer
Hemoglobin 15 g/dL 13,2-17,3
Jumlah Leukosit 6,96 ribu/L 3,80-10,60
Hematokrit 41 % 40-52
Trombosit 245 ribu 150-440
Eritrosit 4,89 % 4,4-5,9
MCV 84 Fl 80-100
MCH 31 Pg 26-34
MCHC 37 gr/dL 32-36
Elektrolit
Natrium darah 132 mEq/L 135-147
Kalium Darah 3,8 mEq/L 3,5-5,0
mEq/L
Klorida Darah 93 94 -111
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
Leukosit Hitung Jenis Darah
Basofil 0 % 0-1
Eosinofil 1 % 2-4
Neutrofil batang 3 % 3-5
Neutrofil segmen 66 % 50-70
Limfosit 19 % 25-40
Monosit 11 % 2-8
Gula darah
Sewaktu 480 mg/dL 70-200
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN (19/08/2017 pkl 16.24) HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

Faal Hati

SGPT (ALT) 86 u/L 9-43

Kreatinin Darah 1,5 mg/dL < 1,4

PEMERIKSAAN (19/08/2017 pkl 23.29) HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

Glukosa Jam 17 464 mg/dL 70-200

Glukosa Jam 23 94 mg/dL 70-200

PEMERIKSAAN (20/08/2017 pkl 23.31( HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

Glukosa Jam 5 144 mg/dL 70-200

Glukosa Jam 11 220 mg/dL 70-200

Glukosa Jam 17 286 mg/dL 70-200

Glukosa Jam 23 221 mg/dL 70-200


Lanjutan..
PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI HASIL
Sputum 1 Negatif
Sputum 2 Negatif
Sputum 3
Negatif

MTB Tidak terdektesi


Rifampicin resisten Tidak terdeteksi
HASIL RONTGEN

Cor normal dan aortaThorax


baik.

Pulmo :

Diafragma baik
Tampak kavitas dengan infiltrat
di sekitarnya.

Kesan : TB duplex
aktif
RESUME
Tn. P usia 51 tahun datang ke Poli Penyakit Dalam RSIJ Cempaka Putih
dengan keluhan batuk kering lebih dari 2 minggu SMRS. Kadang pasien
merasa sesak saat batuk. Keringat malam (+). Pasien mengaku malas
makan, tiap makan tidak pernah habis. Pasien juga merasakan lemas
beraktivitas dan menyupir mobil. Selama beberapa minggu ini pasien
mengeluh mengalami penurunan berat badan. 1 hari SMRS pasien sempat
demam, demam turun naik. BAB dan BAK normal. Pasien memiliki riwayat
diabetes mellitus.
Pada pemeriksaan fisik di dapatkan:
Keadaan Umum: Tampak sakit sedang
Kesadaran: Compos mentis
Tanda Vital:
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Pernapasan : 23 x/menit
Suhu : 37O C
Status Gizi: Normoweight
Pemeriksaan hasil satuan

Eosinophil 1 %

Limfosit 19 %

Monosit 11 %

GDS 480 mg/dL

Pada pemeriksaan rontgen paru : tampak


kavitas dengan infiltrate di sekitarnya
Kesan : TB duplex aktif
18
MASALAH

TUSSIS EC. TUBERCULOSIS


FEBRIS EC. INFEKSI M. TUBECULOSIS
HIPERGLIKEMIA EC. DIABETES MELLITUS
ASSESSMENT
TUBERCULOSIS
S: PASIEN MENGELUH BATUK KERING SEJAK 2 MINGGU SEBELUM MASUK RUMAH
SAKIT, SESAK, KERINGAT DINGIN.
O:
PADA AUSKULTASI : RONKHI +/-
PADA FOTO THORAX : TAMPAK KAVITAS DENGAN INFILTRAT DI SEKITARNYA, KESAN : TB
DUPLEKS AKTIF
A: TUSSIS EC TUBERCULOSIS
P: AMBROXOL 3X1
SALBUTAMOL 3X1/2
RIFAMPISIN 1X450 MG
INH 1X300 MG
ASSESSMENT
FEBRIS E.C INFEKSI M. TUBERCULOSIS
S: PASIEN MENGELUHKAN DEMAM 1 HARI SMRS, DEMAM TURUN NAIK.
O: TD : 110/70 MMHG
RR : 23 X/MENIT
HR : 86 X/MENIT
S : 37O C
A: FEBRIS E.C INFEKSI M. TUBERCULOSIS
P: PARACETAMOL 3X500MG
ASSESSMENT
HIPERGLIKEMIA
S: PASIEN JUGA MENGATAKAN MEMILIKI RIWAYAT KENCING MANIS.
O: PADA PEMERIKSAAN LAB, GULA SEWAKTU PASIEN 480 MG/DL
A: HIPERGLIKEMIA E.C DIABETES MELLITUS
P: EDUKASI :
KONTROL GULA
MINUM OBAT TERATUR
MENJAGA POLA HIDUP
DIET MAKANAN YANG SEHAT
TERAPI :
GLIMEPIRIDE 2 X 2 MG
METFORMIN 2 X 500 MG
DIAGNOSIS KERJA
Gangguan pernapasan e.c Tuberculosis
Mycobacterium
RENCANA TERAPI :
A. NON FARMAKOLOGIS
MEMBERIKAN PENJELASAN KEPADA PASIEN DAN KELUARGA PASIEN MENGENAI
PENYAKITNYA
BALANCE CAIRAN HARIAN : 500 ML + URINE 24 JAM
PEMBERIAN OKSIGEN 2-4 L
ISTIRAHAT
B. FARMAKOLOGI
1. OBAT ANTI TB (OAT) KATEGORI 1 (2 RHZE/4 H3R3).
(PENGOBATAN MEDIKAMENTOSA TB ADALAH PEMBERIAN 4-5 MACAM OBAT ANTI-TB
SELAMA 2BULAN PERTAMA, DILANJUTKAN DENGAN ISONIAZID DAN RIFAMPICIN 3X
DALAM SEMINGGU, SELAMA 4 BULAN SESUAI DENGANPERKEMBANGAN KLINIS.)
PARACETAMOL 3X500MG
SALBUTAMOL 3X1/2
AMBROXOL 3X1
TINJAUAN PUSTAKA

24
PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB)

Mycobacterium tuberculosis Complex

Mycobacterium Bovis dan Mycobacterium Africanum

sebagian besar menyerang paru, dapat juga mengenai

organ lain Mycobacterium other than tuberculosis


Secara global pada tahun 2015, diperkirakan ada 10,4 juta
kasus kejadian TB (kisaran, 8,7 juta sampai 12,2 juta),
setara dengan 142 kasus per 100.000 populasi.

Sebagian besar perkiraan jumlah kasus pada tahun 2015 terjadi di Asia (61%)
dan WHO African Region (26%); Proporsi kasus yang lebih kecil terjadi di
Mediterania Timur. Wilayah (7%), Wilayah Eropa (3%) dan Wilayah Benua
Amerika (3%). 30 negara dengan beban TB tinggi menyumbang 87% dari semua
kasus insiden yang diperkirakan terjadi di seluruh dunia.

Keenam negara yang menonjol sebagai


45%
jumlah kasus insiden terbanyak pada
tahun 2015 adalah (dalam urutan
menurun)
India, Indonesia, China, Nigeria, Pakistan
dan Afrika Selatan (gabungan, 60% dari
total keseluruhan).
ETIOLOGI

Mycobacterium tuberculosis
Bentuk batang, ukuran 3 X 0,5 m

Obligat aerob

Sifat khusus : banyak lemak ( + protein + polisakarida )

tahan terhadap asam pada pewarnaan disebut Basil Tahan

Asam (BTA)
Kuman TB :
Hidup beberapa jam tempat yang gelap & lembab
Cepat mati sinar matahari : 5 menit , Pemanasan : 60 o C :
Inhalasi kuman Alveolus Fagositosis oleh
TB makrofag
P
A Basil TB berkembang biak Destruksi kuman
TB
T
Destruksi makrofag
O
G Resolu Pembentukan Kelenjar
si limfe
E tuberkel

N Kalsifika
si
E Kompleks Penyebaran
Perkijua
S Ghon n hematogen

I Pecah

S
Lesi sekunder Lesi di hepar, lien, ginjal
paru tulang, otak dll
DIAGNOSIS TB

ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIS
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM : DARAH, DAHAK (SPUTUM)
FOTO TORAKS
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIS

AWAL PENYAKIT TIDAK DIJUMPAI KELAINAN


RONKI BASAH DIDAERAH KELAINAN TERUTAMA APEKS PARU
STADIUM LEBIH LANJUT PROSES PENYAKIT SEMAKIN LUAS
KELAINAN YANG DITEMUKAN SEMAKIN JELAS
ALUR DIAGNOSIS TB PARU DEWASA

Dikutip dari Pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis. Edisi 2, cetakan 1. Departemen kesehatan republik indonesia. 2007.
Dikutip dari panduan tatalaksana tuberkulosis sesuai ISTC dengan strategi DOTS untuk dokter praktek swasta (DPS). Departemen
kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta 2010
PEMERIKSAAN PENUNJANG

* SPUTUM BTA 3 X (SPS / 3P),KULTUR,RESISTENSI


MEMASTIKAN DIAGNOSIS

* DARAH RUTIN :LED , LIMFOSITOSIS,


GULA DARAH, FUNGSI HATI, DLL

* LAIN-LAIN BILA DIPERLUKAN : UJI


MANTOUX, PCR, SEROLOGIK KURANG BERMAKNA UNTUK MENENTUKAN DIAGNOSIS TB, DLL
RADIOLOGI FOTO TORAKS

TB THE GREAT IMITATOR


* INFILTRAT
* FIBROINFILTRAT
* CAVITI
* MILIER
* ATELEKTASIS
* EFUSI PLEURA
* PNEUMOTORAKS
* DESTROYED LUNG
* MASSA
* DLL
PENGOBATAN TB
DIBERIKAN DALAM 2 TAHAP

1. TAHAP INTENSIF

2. TAHAP LANJUTAN
TAHAP INTENSIF

OBAT SETIAP HARI


DIAWASI LANGSUNG MENCEGAH KEKEBALAN OBAT
PENDERITA MENULAR TIDAK MENULAR DALAM WAKTU
2 MINGGU
PENDERITA BTA POSITIF BTA NEGATIF (KONVERSI)
PADA AKHIR PENGOBATAN INTENSIF
TAHAP LANJUTAN

OBAT DALAM JANGKA WAKTU LEBIH


LAMA

JENIS OBAT LEBIH SEDIKIT

MENCEGAH KEKAMBUHAN
OBAT SISIPAN

BILA PADA AKHIR TAHAP INTENSIF DENGAN OAT


KATEGORI-1 ATAU KATEGORI-2 DENGAN BTA MASIH
(+) MAKA DIBERIKAN RHZE
( 1 BULAN SETIAP HARI )
KATEGORI 1 (2HRZE/ 4H3R3)

1. PASIEN BARU TB PARU BTA POSITIF.


2. PASIEN TB PARU BTA NEGATIF FOTO
TORAKS POSITIF
3. PASIEN TB EKSTRA PARU
KATEGORI 2 (2HRZES/ HRZE/
5H3R3E3)

1. KASUS KAMBUH

2. KASUS GAGAL

3. KASUS PUTUS BEROBAT


DOSIS UNTUK PADUAN OAT KDT UNTUK
KATEGORI 1

Pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis. Edisi 2, cetakan 1. Departemen kesehatan republik indonesia. 2007.
Panduan tatalaksana tuberkulosis sesuai ISTC dengan strategi DOTS untuk dokter praktek swasta (DPS). Departemen kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta
2010
Tuberkulosis Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan dokter paru indonesia. 2011.
DOSIS UNTUK PADUAN OAT KDT KATEGORI
2

Pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis. Edisi 2, cetakan 1. Departemen kesehatan republik indonesia. 2007.
Panduan tatalaksana tuberkulosis sesuai ISTC dengan strategi DOTS untuk dokter praktek swasta (DPS). Departemen kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta
2010
Tuberkulosis Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan dokter paru indonesia. 2011.
EFEK SAMPING BERAT : STOP OAT
EFEK SAMPING RINGAN : TERUSKAN OAT

MASING - MASING OAT MEMPUNYAI


KEMUNGKINAN TERJADI EFEK SAMPING
YANG HARUS DIWASPADAI
Tuberkulosis
Pedoman diagnosis
dan penatalaksanaan
di Indonesia.
Perhimpunan dokter
paru indonesia. 2011.
PENGOBATAN SUPORTIF / SIMTOMATIK
PENDERITA RAWAT JALAN
MAKAN MAKANAN BERGIZI, KECUALI ADA PENYAKIT KOMORBID
JIKA PERLU DIBERI :
- VITAMIN
- ANTIPIRETIK
- MUKOLITIK ATAU EKSPEKTORAN
- BRONKODILATOR
EVALUASI PENGOBATAN
MELIPUTI EVALUASI KLINIK,
BAKTERIOLOGIK, RADIOLOGIK, EFEK
SAMPING OBAT DAN KETERATURAN OBAT
EVALUASI KLINIK
TIAP 2 MINGGU PADA TAHAP INTENSIF,
SELANJUTNYA TIAP BULAN PADA FASE LANJUTAN
RESPON PENGOBATAN, EFEK SAMPING OBAT
DAN KOMPLIKASI PENYAKIT
MELIPUTI : KELUHAN, BB DAN PEMERIKSAAN
FISIK
EVALUASI BAKTERIOLOGIK ( 0,2,6 / 8 )

TUJUAN UNTUK MENGETAHUI KONVERSI DAHAK


PEMERIKSAAN DAN EVALUASI MIKROSKOPIK
SEBELUM PENGOBATAN
AKHIR FASE INTENSIF
AKHIR SISIPAN (BILA ADA)
AKHIR PENGOBATAN
JIKA ADA FASILITAS BIAKAN PADA 0, 2, 6 / 8 BULAN
EVALUASI RADIOLOGIK
DILAKUKAN PADA :
SEBELUM PENGOBATAN
AKHIR FASE INTENSIF
AKHIR PENGOBATAN
EVALUASI PENDERITA YANG TELAH
SEMBUH
ANGKA KEKAMBUHAN PALING TINGGI PADA 1 SAMPAI
2 TAHUN PERTAMA MAKIN LAMA MAKIN KURANG
EVALUASI MIKROSKOPIK BTA DAHAK DAN FOTO
TORAKS
MIKROSKOPIK BTA DAHAK 3, 6, 12 DAN 24 BULAN
FOTO TORAKS 6, 12 DAN 24 BULAN
DAFTAR PUSTAKA
FAUCI, ANTHONY S. KASPER, DENNIS L. LONGO, DAN L. BRAUNWALD, HAUSER, EUGENE STEPHEN L. JAMESON, J. LARRY. LOSCALZO,
JOSEPH. CHAPTER 158 TUBERCULOSIS IN: HARRISON PRINCIPLE OF INTERNAL MEDICINE 17TH EDITION. USA: MC GRAW HILL. 2008
WORLD HEALTH ORGANIZATION. WORLD GLOBAL TUBERCULOSIS CONTROL 2011. GENEVA WORLD HEALTH ORGANIZATION. 2011
WORLD HEALTH ORGANIZATION. MULTI DRUG AND EXTENSIVELY DRUG 2010 GLOBAL REPORT ON SURVEILLANCE AND RESPONSE.
GENEVA: WORLD HEALTH ORGANIZATION 2011
HTTP://WWW.WHO.INT/TB/PUBLICATIONS/GLOBAL_REPORT/GTBR2016_MAIN_TEXT.PDF?UA=1
WORLD HEALTH ORGANIZATION. WORLD GLOBAL TUBERCULOSIS CONTROL 2010. GENEVA WORLD HEALTH ORGANIZATION. 2010
RAO, C. KOSEN, S. BISARA, D. USMAN, Y. ADAIR, T. DJAJA, S. SUHARDI, S. SOEMANTRI, S. LOPEZ, AD. TUBERCULOSIS MORTALITY
DIFFERENTIALS IN INDONESIA DURING 2007-2008: EVIDENCE FOR HEALTH POLICY AND MONITORING. INT J TUBERC LUNG DIS. 2011
DEC;15(12):1608-14.
EASTMAN ET ALL. GETTING STARTED IN CLINICAL RADIOLOGY FROM IMAGE TO DIAGNOSIS. GERMANY:THIEME. 2006
WAITE, STEPHEN. JEUDY, JEAN. WHITE, CHARLES S. CHAPTER 12. ACUTE LUNG INFECTIONS IN NORMAL AND IMMUNOCOMPROMISED
HOSTS IN : MIRVIS, STUART E. SHANMUGANATHAN, KATHIRKAMANATHAN. EMERGENCY CHEST IMAGING. CANADA: ELSEVIER 2006.
GANGULY KC, HIRON MM, MRIDHA ZU, BISWAS M, HASSAN MK, SAHA SC, RAHMAN MM. COMPARISON OF SPUTUM INDUCTION WITH
BRONCHOALVEOLAR LAVAGE IN THE DIAGNOSIS OF SMEAR NEGATIVE PULMONARY TUBERCULOSIS. MYMENSINGH MED J. 2008
JUL;17(2):115-23.
MOHAN A, SHARMA SK. FIBREOPTIC BRONCHOSCOPY IN THE DIAGNOSIS OF SPUTUM SMEAR-NEGATIVE PULMONARY TUBERCULOSIS:
CURRENT STATUS. INDIAN J CHEST DIS ALLIED SCI. 2008 JAN-MAR;50(1):67-78.
TERIMAKASIH