You are on page 1of 27

PEMERIKSAAN PSIKIATRI DAN

PEMBUATAN STATUS PSIKIATRI

Herlian Budiman
030.10.130
Pembimbing: dr Desmiarti, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Jiwa


Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol
PEMERIKSAAN PSIKIATRI
Menurut Buku Ajar Psikiatri
Menurut Buku Ajar Psikiatri UI Kaplan & sadock
Tiga aspek, yaitu: - Riwayat Psikiatri
1. Pemeriksaan tidak langsung (indirect examination) - Pemeriksaan Status Mental
a. Anamnesis
b. Keterangan mengenai pasien dari pihak lain
2. Pemeriksaan langsung (direct examination)
a. Pemeriksaan fisik (terutama status internus dan
neurologis)
b. Pemeriksaan khusus psikis (penampilan umum, bidang
emosi dan afek, bidang pikiran/ ideasi, bidang
motorik/ perilaku)
3. Pemeriksaan tambahan (jika diperlukan)
WAWANCARA PSIKIATRI

Wawancara psikiatri adalah wawancara antara dokter dan pasien.

Tujuan
Mengenal faktor-faktor
- Genetik-biologik-fisik-medik
- Temperamen-psikologik-perkembangan-pendidikan
- Sosial-budaya yang mempengaruhi pasien dan penyakitnya
Menentukan evaluasi (multiaksial) yang tepat
Agar bersama dengan pasien, dapat ditentukan diagnosis serta terapi
yang komprehensif dan efektif
WAWANCARA PSIKIATRI

Data psikiatri diperoleh dari:


- Observasi penampilan dan perilaku pasien
- Pengamatan interaksi antara dokter dan pasien
- Pengamatan interaksi antara pasien dan
lingkungannya
- Pemahaman humanistik dokter mengenai
pasien
ANAMNESIS

III. Riwayat
I. Data II. Keluhan
gangguan
pribadi utama
sekarang

IV. Penyakit
V. Riwayat
/ gangguan
hidup
sebelumnya
III. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG

Gambaran kronologis dan menyeluruh


mengenai kejadian yang sedang terjadi
pada pasien

Awitan
Faktor presipitasi/ pencetus
IV. PENYAKIT/ GANGGUAN SEBELUMNYA
Keterangan mengenai segala kejadian yang pernah dialami
pasien dari lingkungan luar maupun dirinya sendiri, dan
reaksi-reaksinya terhadapnya

Psikiatrik
Episode terdahulu gejala, derajat disfungsi, terapi, lama
gangguan, kepatuhan terapi
Medik
Penyakit medik, bedah, trauma, penyakit neurologis,
tumor, kejang, gangguan kesadaran, HIV
Penggunaan zat
Stimulant, alkohol, morfin, dll
V. RIWAYAT HIDUP
1. Pranatal dan Perinatal 2. Masa kanak awal (0-3 tahun).
- kehamilan direncanakan atau tidak - kualitas interaksi anak - ibu
- bagaimana proses kelahirannya - gangguan perkembangan (pola tidur)
- cedera lahir - sifat masa kanak - kanak
- kesehatan ibu selama kehamilan - pola permainan dengan anak lain
- emosi ibu sewaktu melahirkan - gejala gangguan tingkah laku
- penggunaan obat oleh ibu saat hamil - fantasi berulang

3. Masa Kanak Pertengahan (3-7 tahun)


Identifikasi gender, hukuman , disiplin, perasaan saat perpisahan dengan ibu,
masuk sekolah, partisipasi dalam aktivitas sekolah, taat atau tidak pada
peraturan, perilaku antisosial, perkembangan membaca, intelektual dan motorik,
gangguan belajar, mimpi buruk, fobia, ngompol, main api, kejam pada binatang
4. Masa Kanak Akhir dan Remaja
Tokoh idola (orang tua, orang lain), riwayat sekolah, hubungan dengan guru, minat bidang
pelajaran sekolah dan di luar sekolah, olahraga, hobi, identitas dan citra diri, penggunaan zat,
aktivitas seksual, rasa rendah atau benci diri, pikiran bunuh diri, bolos, penggunaan waktu senggang,
hubungan dengan orang tua, sikap pacaran, problem emosional dan fisik

Seksualitas : sikap terhadap lawan jenis dan sesama jenis, orientasi seksual
5. Masa Dewasa
Riwayat Pekerjaan : jenis pekerjaan, konflik, ambisi perasaan terhadap pekerjaan, sikap
terhadap teman sejawat, atasan, riwayat pekerjaan
Riwayat Perkawinan : lamanya, sifat, konflik, percerian, harapan terhadap pasangan
Agama : latar belakang agama, pendidikan, sikap terhadap agamanya dan agama lain, aktivitas
keagamaan
Riwayat Militer (jika ada)
Aktivitas Sosial
Situasi kehidupan sekarang : rumah tangga, tetangga, siapa yang tinggal serumah,pengaturan
tempat tidur, sumber keuangan, siapa yang menjaga anak
Riwayat hukum : pernah ditangkap, sikap terhadap hukum, riwayat tindak kekerasan
6. Riwayat Psikoseksual
7. Riwayat Keluarga
8. Impian, fantasi, nilai-nilai
1. DESKRIPSI UMUM

Penampilan Sikap terhadap


Perilaku & aktivitas
pemeriksa
Gambaran tampilan dan psikomotor
kesan keseluruhan Kooperatif,
terhadap pasien yang Aspek kualitas dan
bersahabat, penuh
direfleksikan dari kuantitas psikomotor
perhatian, berminat,
postur, sikap, cara (manerisme, tics, gerak
jujur, merayu,
berpakaian dan gerik, kejang, perilaku
defensif,
berdandan stereotipik, ekopraksia,
merendahkan,
hiperaktivitas, agitasi,
bingung, berbelit-
tampak sehat/ sakit, fleksibilitas, rigiditas,
belit, apatis, hostil,
tampak tenang, tampak cara berjalan, kegesitan,
bercanda,
lebih tua/muda, rapi/ kegelisahan, telapak
menyenangkan,
tidak, kekanak- tangan basah,
mengelak, atau
kanakan, bizzare perlambatan)
berhati-hati
2. MOOD DAN AFEK
Mood
Suasana perasaan yang bersifat pervasif dan bertahan lama, yang
mewarnai persepsi seseorang terhadap kehidupannya.

Mood hipotimia Mood hipertimia


Mood eutimia Mood disforia
Secara pervasif diwarnai dengan Secara pervasif menunjukkan
Suasana perasaan dalam rentang Suasana perasaan yg tidak
kesedihan dan kemurungan. Individu semangat dan kegairahan yg
normal, individu mempunyai menyenangkan. Sering
mengeluh tentang kesedihan dan berlebihan thdp berbagai aktivitas
penghayatan perasaan yg luas dan diungkapkan dengan perasaan
kehilangan semangat, sikap murung, kehidupan. Perilaku hiperaktif,
serasi dengan irama hidupnya jenuh, jengkel, atau bosan
perilaku lamban tampak enerjik secara berlebihan

Aleksitimia
Mood ekstasia Anhedonia
Mood eforia Individu tidak mampu menghayati
Suasana perasaan yg diwarnai dgn Suasana perasaan yg diwarnai dengan
Suasana perasaan gembira dan suasana perasaannya. Orangnya
kegairahan yg meluap-luap. Sering kehilangan minat dan kesenangan
sejahtera secara berlebihan lazim sulit mengungkapkan
pada pengguna zat psikostimulansia terhadap berbagai aktivitas kehidupan
perasaannya

Mood kosong Mood labil Mood iritabel


Suasana perasaan yg berubah ubah dari
Kehidupan emosi yg sangat dangkal, tidak Suasana perasaan yg sensitif, mudah
waktu ke waktu. Pergantian perasaan
atau sangat sedikit memiliki penghayatan tersinggung, mudah marah dan seringkali
muncul bergantian dan tak terduga.
suasana perasaan. Dapat dijumpai pada bereaksi berlebihan terhadap situasi yg
Dapat ditemukan pada gangguan psikotik
pasien skizofrenia kronis tidak disenanginya
akut.
Afek
Respon emosional saat sekarang, yang dapat dinilai melalui ekspresi wajah pembicaraan, sikap dan
gerak-gerik tubuh pasien.

Afek luas Afek menyempit


Afek menumpul
Menggambarkan nuansa ekspresi emosi yg
Afek pada rentang normal. Ekspresi emosi yg Penurunan serius dari kemampuan ekspresi
terbatas. Intensitas dan keluasan dari ekspresi
luas dgn sejumlah variasi yg beragam dalam emosi yg tampak dari tatapan mata kosong,
emosinya berkurang, yg dapat dilihat dari
ekspresi wajah, irama suara maupun gerakan irama suara monoton dan bahasa tubuh yg
ekspresi wajah dan bahasa tubuh yg kurang
tubuh, serasi dengan suasana yg dihayatinya. sangat kurang
bervariasi

Afek mendatar
Suatu hendaya afektif lebih parah dari afek menumpul. Afek labil
Individu kehilangan kemampuan ekspresi emosi. Menggambarkan perubahan irama perasaan yg cepat
Ekspresi wajah datar, pandangan mata kosong, sikap dan tiba-tiba, yg tidak berhubungan dengan stimulus
tubuh yg kaku, gerakan sgt minimal, irama suara datar eksternal
seperti robot

Keserasian afek
Mempertimbangkan respon pasien terhadap topik yang sedang didiskusikan dalam wawancara.

Afek serasi Afek tidak serasi


Keserasian antara ekspresi emosi dan suasana yg dihayatinya ekspresi emosi tidak cocok dengan suasana yg dihayatinya
3. PEMBICARAAN

Bicara spontan atau tidak


Kuantitas bicara
Kecepatan produksi
Kualitas bicara
4. PERSEPSI
Persepsi adalah sebuah proses mental yg merupakan pengiriman stimulus fisik
menjadi informasi psikologis sehingga stimulus sensorik dapat diterima secara sadar.

Halusinasi
Persepsi/ tanggapan palsu, Ilusi Depersonalisasi
tidak berhubungan dengan
stimulus eksternal yg nyata;
Derealisasi
menghayati gejala-gejala yg Persepsi atau Kondisi patologis yg
dikhayalkan sebagai hal yg
tanggapan palsu, muncul sebagai akibat Perasaan
nyata. dari perasaan subyektif
tidak berhubungan subyektif bahwa
- Halusinasi hipnagogik dgn gambaran seseorang
- Halusinasi hipnapompik dengan stimulus mengalami atau
lingkungannya
- Halusinasi auditorik eksternal yg nyata merasakan diri sendiri menjadi asing,
- Halusinasi visual (tubuhnya) sebagai tidak tidak nyata
- Halusinasi olfaktorik nyata atau khayali
- Halusinasi gustatorik (asing, tidak dikenali)
- Halusinasi taktil
- Halusinasi liliput
5. PIKIRAN Isi pikir
Gangguan isi pikir:
Proses pikir - Kemiskinan isi pikir
- Waham/ delusi: suatu perasaan keyakinan atau kepercayaan yg
Cara saat seseorang keliru, berdasarkan simpulan yg keliru tentang kenyataan
menyatukan ide-ide dan eksternal, tidak konsisten dgn intelegensia dan latar belakang
asosiasi-asosiasi yang budaya pasien, dan tidak bisa diubah lewat penalaran atau
membentuk pemikiran dengan jalan penyajian fakta.
seseorang. - Preokupasi : pemusatan isi pikir pada ide tertentu.
- Obsesi : ide yg menetap dan sering tdk rasional, yg biasanya
- Produktifitas : cukup, dibarengi suatu kompulsi untuk melakukan suatu perbuatan, tdk
miskin, atau berlebihan ide dapat dihilangkan dgn usaha yg logis, behubungan dgn kecemasan.
- Kontinuitas : koheren, - Kompulsi: kebutuhan dan tindakan patologis untuk melaksanakan
inkoheren, tangensial, suatu impuls, jika ditahankan akan menimbukan kecemasan,
sirkumstansial, flight of perilaku berulang sebagai respons dari obsesi atau timbul untuk
idea, melantur, mengelak, memenuhi suatu aturan tertentu.
dan perseveratif. - Fobia: ketakutan patologis yg persisten, irasional, berlebihan, dan
- Hendaya bahasa : word selalu terjadi berhubungan dgn stimulus atau situasi spesifik yg
salad, clang association, mengakibatkan keinginan yg memaksa untuk menghindari
punning, neologisma stimulus tersebut.
WAHAM
a. Waham bizarre: keyakinan yg keliru, mustahil, dan aneh (cth: makhluk angkasa luar
menanamkan elektroda di otak manusia)
b. Waham sistematik: keyakinan yg keliru atau tergabung dengan satu tema/kejadian (cth: org yg
dikejar-kejar polisi atau mafia)
c. Waham nihilistik: perasaan yg keliru bahwa diri dan lingkungannya atau dunia tidak ada atau
menuju kiamat.
d. Waham somatik: keyakinan yg keliru melibatkan fungsi tubuh (cth: yakin otaknya meleleh)
e. Waham paranoid
- Waham kebesaran: dirinya adalah org yg sangat kuat, sangat berkuasa atau sangat besar.
- Waham kejar (persekutorik): mengira bahwa dirinya adalah korban dari usaha untuk
melukainya, atau yg mendorong agar dia gagal dalam tindakannya. (sering dirupakan dalam
bentuk komplotan, dokter, keluarga yg berkomplot merugikan, merusak, mencederai, atau
menghancurkan dirinya)
- Waham rujukan: tingkah laku orang lain pasti akan memfitnah, membahayakan, atau akan
menjahati dirinya.
- Waham dikendalikan: keinginan, pikiran, atau perasaannya dikendalikan oleh kekuatan dari
luar. (thought withdrawl, thought insertion, thought broadcasting, thought control)
f. Waham cemburu: berasal dari cemburu patologis tentang pasangan yang tidak setia.
g. Eurotomania : biasanya pada perempuan, merasa yakin bahwa seseorang sangat mencintainya.
6. SENSORIUM DAN KOGNISI
Untuk penilaian fungsi otak organik, taraf intelektual, taraf
intelegensi, kapasitas berpikir abstrak, tingkatan tilikan dan
daya nilai.

Kesadaran / sensorium
Kognisi
Perhatian/ konsentrasi
Orientasi
Memori/ daya ingat
Kesadaran atau Sensorium
Suatu kondisi kesigapan seorang individu dalam menanggapi rangsang dari luar
maupun dari dalam diri

Kompos mentis
Apatis Somnolensi
Derajat optimal. Individu
Derajat penurunan kesadaran, Penurunan kesadaran yang
mampu memahami apa yang
individu berespon lambat cenderung tidur
terjadi serta bereaksi secara
memadai terhadap stimulus dari luar

Kesadaran berkabut
Sopor Koma
Perubahan kualitas kesadaran
Derajat penurunan kesadaran Derajat kesadaran paling tidak mampu berpikir jernih &
berat berat berespon secara memadai
terhadap situasi disekitarnya

Delirium Kesadaran seperti mimpi


Twilight state
Perubahan kualitas kesadaran Gangguan kualitas kesadaran
Perubahan kualitas kesadaran
yg disertai ggn fungsi kognitif yg terjadi pada serangan
yang disertai halusinasi
yang luas epilepsi psikomotor
KOGNISI
Kognisi adalah kemampuan untuk mengenal/ mengetahui mengenai benda
atau keadaan atau situasi, yang dikaitkan dengan pengalaman
pembelajaran dan kapasitas intelejensi seseorang.

Fungsi kognitif:
- Memori/ daya ingat - Visuospasial
- Konsentrasi/ perhatian - Fungsi eksekutif
- Orientasi - Abstraksi
- Kemampuan berbahasa - Tajam intelijen
- Berhitung
Perhatian/ konsentrasi
Usaha untuk mengarahkan aktivitas mental pada pengalaman
tertentu

Distraktibilitas Intensi selektif Kewaspadaan berlebih


(hypervigilance)
- Tidak mampu memusatkan
- Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek atau
dan mempertahankan - Pemusatan perhatian yang
situasi tertentu.
berlebihan terhadap
perhatian - Biasanya situasi yg
stimulus eksternal dan
- Konsentrasi sangat mudah membangkitkan kecemasan
internal sehingga penderita
teralih oleh berbagai - Cth: orang dengan fobia
tampak sangat tegang
stimulus disekitarnya simplek tidak mampu
- Biasanya pada ggn cemas memusatkan perhatian
pada objek atau situasi yg
akut dan keadaan maniakal
memicu fobia
Orientasi
Kemampuan individu untuk mengenali objek atau situasi sebagaimana adanya

Orientasi personal/ Orientasi ruang/ Orientasi waktu


orang spatial
Kemampuan mengenali secara
Kemampuan mengenali orang tepat waktu dimana individu
yang sudah dikenalnya Kemampuan mengenali
tempat dimana dia berada berada
Memori/ daya ingat
Proses pengolahan informasi, meliputi: perekaman, penyimpanan, dan
pemanggilan kembali

Jenis gangguan memori:


Berdasarkan rentang waktu individu kehilangan
1.Amnesia (tdk mampu mengingat sebagian atau
daya ingatnya:
seluruh pengalaman masa lalu)
1. Memori segera (immidiate memory): mampu
Berdasarkan waktu kejadian :
mengingat peristiwa yg baru saja terjadi,
-Amnesia anterograd (hilangnya memori
yakni rentang waktu beberapa detik sampai
terhadap informasi setelah titik waktu kejadian)
beberapa menit.
-Amnesia retrogard (hilangnya memori terhadap
2. Memori baru (recent memory): ingatan
informasi sebelum titik waktu kejadian)
terhadap pengalaman/ informasi yg terjadi
2. Paramnesia/ ingatan palsu (distorsi ingatan dari
dalam bebeapa hari terakhir.
informasi/ pengalaman yg sesungguhnya)
3. Memori jangka menengah (recent pas
- Konfabulasi
memory): ingatan terhadap peristiwa yg
- Deja Vu
terjadi selama beberapa bulan yang lalu.
- Jamais Vu
4. Memori jangka panjang : ingatan terhadap
- Hiperamnesia
peristiwa yg sudah lama terjadi (bertahun
- Screen memory
tahun lalu)
- Letologika
7. PENGENDALIAN IMPULS

Menilai kemampuan pasien untuk mengontrol impuls


seksual, agresif, dan impuls lainnya. Penilaian juga untuk
menilai apakah pasien berpotensi membahayakan diri dan
orang lain.
8. DAYA NILAI DAN TILIKAN
Tilikan
Daya nilai
Kemampuan seseorang untuk memahami sebab
Kemampuan untuk meliai situasi secara benar dan sesungguhnya dan arti dari suatu situasi.
bertindak yang sesuai dengan situasi tersebut.
1. Derajat 1: penyangkalan total terhadap
- Daya nilai sosial penyakitnya.
Kemampuan seseorang menilai situasi secara 2. Derajat 2 : ambivalensi terhadap
benar dan bertindak yg sesuai dalam situasi penyakitnya
tersebut dengan memperhatikan kaidah sosial
yang berlaku di dalam kehidupan sosial 3. Derajat 3 : menyalahkan faktor lain sebagai
budayanya. penyebab penyakitnya.

- Uji daya nilai 4. Derajat 4 : menyadari dirinya sakit dan


butuh bantuan namun tidak memahami
Kemampuan untuk menilai situasi secara benar penyebab sakitnya.
dan bertindak yg sesuai dalam situasi imajiner
yg diberikan. 5. Derajat 5 : menyadari penyakitnya dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan
penyakitnya namun tidak menerapkan dalam
perilaku praktisnya.
9. TARAF DAPAT DIPERCAYA
6. Derajat 6 : menyadari sepenuhnya tentang
Kesan pemeriksa terhadap kemampuan pasien untuk situasi dirinya.
dapat dipercaya dan bagaimana ia menyampaikan
peristiwa dan situasi yang terjadi secara adekuat.
REALITY TESTING OF ABILITY (RTA)

Kemampuan seseorang untuk menilai realitas.

- Terganggu
- Tidak terganggu
DIAGNOSIS PSIKIATRI

Menggunakan skema klasifikasi multiaksial, terdiri dari 5


aksis :
Aksis I : gangguan klinis misal gangguan mood,
skizofrenia
kondisi lain yang menjadi perhatian khusus
Aksis II : gangg kepribadian, retardasi mental
Aksis III : kondisi medis umum
Aksis IV : masalah psikologis dan lingkungan
Aksis V : penilaian fungsi secara global
TERIMA KASIH