You are on page 1of 23

ABSES SEPTUM NASI

DI SUSUN OLEH :
SHINTA JHONEVIA
7112081718

Pembimbing :

dr. Hj. NETTY HERNITA Sp. THT-KL

SMF ILMU KESEHATAN THT


RUMAH SAKIT UMUM Dr. PIRNGADI MEDAN
2017
ANATOMI HIDUNG BAGIAN LUAR
ANATOMI HIDUNG BAGIAN DALAM
ANATOMI SEPTUM NASI
PERDARAHAN HIDUNG
PERSARAFAN HIDUNG
FISIOLOGI HIDUNG

RESPIRASI

REFLEKS
PENGHIDU
NASAL

STATIK FONETIK
ABSES SEPTUM
NASI
ABSES SEPTUM
NASI

Abses septum nasi didefinisikan sebagai


terkumpulnya nanah (pus) diantara tulang rawan
atau tulang pada septum nasi dengan
mukoperikondrium atau mukoperiosteum yang
melapisinya.

Bentuk septum normal ialah lurus di tengah rongga


hidung tetapi pada orang dewasa biasanya septum
nasi tidak lurus sempurna di garis tengah.
EPIDEMIOLOGI

Kasus yang jarang ditemukan.


Di childrens hospital Los Angeles di dapat ada 1 kasus
abses septum nasi dalam waktu 10 tahun terakhir.
Di Rumah Sakit Royal Children, Mealbourne Australia
melaporkan sebanyak 20 pasien abses septum nasi selama
18 tahun.
RS Ciptomangunkusumo didapatkan 9 kasus selama 5
tahun.
Di bagian THT FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan
selama tahun 1999-2004 mendapat 5 kasus.
Jenis
Laki-Laki > Perempuan
Kelamin

< 15 tahun (42%)


Usia < 31 tahun (74%)

Anterior tulang rawan


Lokasi septum
ETIOLOGI

PRIMER TRAUMA (75%)

1. PENYEBARAN DARI INFEKSI GIGI


SEKUNDER
2. KOMPLIKASI OPERASI HIDUNG
3. PENYAKIT SISTEMIK
Staphylococcus Aureus

Organisme Streptococcus
Anaerob Pneumonia

Organisme yang
berperan

Haemophilus Streptococcus
Influenzae Hemolyticus
PATOGENESIS

Pembuluh darah di Darah berkumpul


TRAUMA sekitar tulang rawan diantara tulang
(mukoperitoneum) rawan dan
robek mukoperitoneum

Tulang rawan
destruks Nekrosis Iskemik tertekan
i

Darah akan
mengalir ke sisi Hematoma Infeksi ABSES
kontralateral septum
GEJALA KLINIS
1. Hidung tersumbat progresif (Bilateral)
2. Nyeri hidung yang hebat
3. Gejala sistemik
Demam, Menggigil
Sakit kepala
DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN
Riwayat trauma, Riwayat FISIK Laboratorium
operasi, Riwayat infeksi Radiologi
Inspeksi
intranasal Histopatologi
Palpasi
Tanda dan Gejala
Rhinoskopi Anterior

PEMERIKSAAN
ANAMNESA
PENUNJANG
DIAGNOSIS BANDING
Hematoma
Septum
Septum
Deviasi

Furunkulosis

Vestibulitis
PENATALAKSANAAN

Drainase serta terapi antibiotik

Insisi yang luas dan dibuat drainase


darah atau pus

Pemasangan tampon anterior

Rekontruksi defek septum


KOMPLIKASI
1. Hidung Pelana (Saddle Nose)
2. Retraksi Kolumeela
3. Pelebaran Dasar Hidung
4. Fasial Selulitis Jarang Terjadi
5. Perforasi Septum
Meningitis
Trombosis Sinus Kavernosis
Sepsis
KESIMPULAN
Abses septum relatif jarang ditemukan, sering didahului
oleh trauma hidung. Abses septum biasa terjadi pada
kedua sisi rongga hidung, dan sering merupakan komplikasi
dari hematoma septum yang terinfeksi bakteri piogenik.
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan
rhinoskopi anterior serta pemeriksaan kultur dan
sensitifitas untuk mengetahui jenis kuman serta
menentukan antibiotik yang tepat.
Penatalaksanaan yang dianjurkan saat ini yaitu drainase.
Komplikasi yang berat dihubungkan dengan keterlambatan
diagnosis, terapi, terjadinya abses septum nasi, destruksi
kartilago dan kultur bakteri yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Budiman, BJ. 2010. Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Septum Nasi. 2013 : p.51-56
2. Haryono Y. Abses Septum dan Sinus Maksila. Medan : Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan. Bedah Kepala Leher FK USU. Majalah Kedokteran Nusantara.2006 : 359-362
3. Soejiptoe D, Mangunkusumo E, Wardani SR. Hidung. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J &
Restuti RD, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 6. Jakarta : Balai
Penerbit FK UI. 2010 : p.118-122.
4. Moore LK, Agur RMA. Anatomi Klinis Dasar: Hidun Sinus Paranasales. Jakarta: Hipokrates.2013 : p.397-
401
5. Nizar WN, Mangunkusumo E. Kelainan Septum: Abses Septum. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J & Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 6.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2010: p.126-127
6. Debnam MJ, Gillenwater MA, Ginsberg EL. Spontaneous Nasal Septal Abscess in Patients with
Immunosuppression. Houston: AJNR, 2007; 28: p.1878-1879
7. Ballenger JJ. Hidung dan Sinus Paranasal; Aplikasi Klinis Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Sinus
Paranasal. Dalam: Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid 1. Tanggerang: Binarupa
Aksara Publisher. 2003: p.1-14
8. Vernanda SG. Abses septum. Refarat. Kepanitriaan klinik Senior Baian THT-KL FK-UNRI RSUD ARIFIN
ACHMAD : Pekanbaru 2015;: p.6-7
9. Hilger AP. Hidung; Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam: Adams LG, Boles RL, Higler HP. BOEIS; Buku
Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta:EGC. 2012: p.173-189
10. HuangPH;ChiangYC;YangTH;ChaoPZ;Lee FP. Nasal septal abses.
11. Rikakaya,P.V, Ratnawati, M.L, Wulan, S. Abses Septum Nasi Pada Seorang Anak Usia Sembilan Tahun.
Bagian/Smf Ilmu Kesehatan Tht-Kl Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ Rumah Sakit Umum Pusat
Sanglah Denpasar Bali.
12. Robert, G. Nagel, P. Dasar-dasar ilmu THT. Edisi kedua. Jakarta: EGC, 2012, h 33-35.
13. Ambrus p.s, eavey.r.d,baker.a.n dkk. Management of nasal septal abscess. the laryngoscope . 1981
14. http://www.accesmedicine.com
TERIMA
KASIH