You are on page 1of 32

Materi 4

SISTEM PENANGGULANGAN
GAWAT DARURAT TERPADU
(SPGDT)

Pelatihan Emergency Nursing Intermediate Level

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


LATAR BELAKANG
Pelayanan kesehatan kegawat daruratan sehari-
hari maupun dalam keadaan bencana hak
asasi manusia dan kewajiban semua orang
Secara geografis Indonesia merupakan daerah
rawan bencana
Peraturan Pemerintah No 83 Tahun 2005
BAKORNAS PB(Nasional), SATKORLAK PB
( Provinsi), SATLAK PB (Kabupaten/Kota)
Jajaran Kesehatan salah satu anggota
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu
(SPGDT) Safe Community
Pengembangan SPGDT harus sejalan dengan Strategi
Pembangunan Nasional, yaitu :
Paradigma Sehat yaitu menjaga keseimbangan
antara risk management (upaya promotif dan
preventif) dan disease management (kuratif dan
rehabilitatif).
Profesionalisme yaitu pengembangan SPGDT
berdasarkan standar yang disepakati secara
profesional
Desentralisasi yaitu advokasi dan pemberdayaan
daerah untuk pengembangan SPGDT yang sesuai
dengan kebutuhan dan kekhususan daerah (local
specific).
Menata sistem pembiayaan yang efektif dan efisien
SAFE COMMUNITY
Suatu gerakan agar masyarakat merasa
sehat,aman, sejahtera dimanapun mereka
berada yang melibatkan peran serta aktif profesi
maupun masyarakat.
Meliputi 2 (dua) aspek utama
Care Community preparedness, community
preventionand mitigation kerjasama lintas sektor
Cure upaya melakukan penanganan keadaan dan
kasuskasus gawat darurat peran utama sektor
kesehatan dibantu sektorterkait lainnya
Perlu didukung sub sistem komunikasi,
transportasi, pelayanan kesehatan, pelayanan
non kesehatan termasuk pembiayaan
bersinergi
SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT
DARURAT TERPADU( SPGDT )

SEHARI HARI ~ GADAR BENCANA ~ MASSAL


ADALAH

SUATU SISTEM NASIONAL PENANGGULANGAN


GAWAT DARURAT DAN BENCANA
YANG MELIPUTI PELAYANAN KESEHATAN
PRA RUMAH SAKIT, DI RUMAH SAKIT DAN
ANTAR RUMAH SAKIT
DENGAN MELIBATKAN
UNSUR PEMERINTAH DAN MASYARAKAT
TUJUAN
TUJUAN SPGDT
SPGDT
Umum : Mewujudkan Masyarakat Sehat aman dan
sejahtera( Safe Community) melalui Implementasi
SPGDT
Khusus :
Adanya komando kegiatan sesuai peran masing-
masing
Tersedianya SDM kesehatan dengan kualitas dan
kuantitas sesuai kebutuhan
Tersedianya sarana/fasilitas yg standar
Adanya sistem pembiayaan yg jelas
Adanya dasar peraturan yang kondusif
PENDERITA /PASIEN GAWAT DARURAT

Pasien yang perlu pertolongan


tepat,cermat, cepat untuk mencegah
kematian/ kecacatan
DOKTRIN DASAR

Time saving is life and limb saving


UKURAN KEBERHASILAN
RESPONSE TIME
(WAKTU TANGGAP)
FUNGSI VITAL
AIRWAY (jalan nafas) A
BREATHING (pernafasan) B
CIRCULATION (peredaran darah) C
DISABILITY (Kesadaran/Otak/refleks) D

TERGANGGU
Terlambat diketahui,
Terlambat ditolong, diperbaiki, diusahakan seperti semula

DALAM WAKTU SINGKAT


KORBAN MATI/CACAT
PENANGANAN PASIEN GAWAT DARURAT
PELAYANAN MEDIK DASAR UNTUK MENGATASI
KEGAWAT DARURATAN JALAN NAFAS,
PERNAFASAN,PEREDARAN DARAH DAN KESADARAN,

PENTING

JALAN NAFAS TERGANGGU BAGAIMANA


PERNAFASAN TERGANGGU MENOLONG
BAGAIMANA
SIRKULASI TERGANGGU DENGAN
TAHU CEPAT
KESADARAN TERGANGGU
HAKEKAT SPGDT

Rantai Bantuan Hidup (Life Support Chain)

Masyarakat Dokter umum RS Kelas C RS Kelas B/A


Puskesmas

Kekuatan rantai ditentukan oleh mata rantai yang paling lemah


Pembinaan SPGDT harus dilakukan menyeluruh
Mengapa SPGDT penting ???
Gawat darurat dapat terjadi
kapan saja,
dimana saja
pada siapa saja
Di Indonesia pasien gawat darurat cenderung meningkat
Sehari-hari Bencana
- Kecelakaan lalu lintas - Bencana alam
- Kematian ibu - Bencana akibat ulah
- Kematian bayi Manusia
- Penyakit Jantung
- Stroke
- Penyakit infeksi
GAWAT DARURAT SEHARI-HARI
BENCANA TSUNAMI DI NAD
BANJIR DI JAKARTA
LETUSAN GUNUNG MERAPI
BOM BALI
KOMPONEN SPGDT
SUBSISTEM PRA RUMAH SAKIT
KOMPONEN SUB SISTEM INTRA RUMAH SAKIT
UTAMA SUB SISTEM ANTAR RUMAH SAKIT

SUB SISTEM KOMUNIKASI


KOMPONEN
SUB SISTEM TRANSPORTASI
PENUNJANG SUB SISTEM PENDANAAN

KOMPONEN
MULTI DISIPLIN
SUMBERDAYA MULTI PROFESI
MANUSIA MULTI SEKTOR
TERLATIH
Safe Community
SPGDT

Preparedness
Awam
Prevention Umum Petugas Perawat Perawat Mahir/ Spes.
Awam ambulans Dokter
Khusus Dokter Spesialis
Mitigation
Komunikasi
Transportasi
TKP ambulans Pusk RS RS
Klas C Klas A/B
Masyarakat
aman, sehat & Intra RS Intra RS
sejahtera Pra RS
Antar RS
PPGD
PELAYANAN PRA RUMAH SAKIT

Public Safety Center (PSC)


Brigade Siaga Bencana (BSB)
Pelayanan Ambulans (Ambulance
Service)
PUBLIC SAFETY CENTER
Ujung tombak safe community
Sarana publik/masyarakat yang merupakan
perpaduan unsur ambulans gawat darurat,
pengamanan (kepolisian) danunsur penyelamatan
( mispemadam kebakaran)

Penanganan pertama kegawatdaruratan,


menjamin respons cepat dan tepat untuk
menyelamatkan nyawa & mencegah kecacatan
sebelum di rujuk ke RS
PELAYANAN INTRA RS
Hospital Disaster Plan ( intra hospital disaster maupun
extra hospital disaster)
UGD organisasi,pembiayaan, sdm terlatih, mengikuti
perkembangan iptek
BSB di RS
High Care Unit (HCU)
Intensive care unit (ICU)
Pelayanan kamar jenazah
Penunjang diagnostik dan penunjang dalampengobatan
Transport intra hospital (UGD-HCU-ICU-Kamar bedah)
prosedur,peralatan,sdm profesional
Pelatihan, simulasi,koordinasi
Pembiayaan menjamin pelayanan terstandar
PELAYANAN ANTAR RS
Jejaring rujukan
Evakuasi transportasi RS lapangan
RS rujukan; antar RS
Sistem Informasi Manajemen
Koordinasi dalam pelayanan rujukan
( pemberian informasi keadaan pasien
dan pelayanan yang dibutuhkan sebelum
pasien ditransportasi ke RS tujuan)
SIKLUS PENANGANAN BENCANA
KESIAPSIAGAAN

MITIGASI
PRA BENCANA SAAT BENCANA
TANGGAP DARURAT
PENCEGAHAN
PASCA
BENCANA

REKONSTRUKSI REHABILITASI
Tahapan SPGDT Bencana
a. Pra Bencana
Menyusun pedoman, protap dan juknis/juklak
penanganan bencana
Melakukan analisis resiko yang dapat menyebabkan
bencana/krisis
Menyusun rencana penanggulangan yang melibatkan
instansi terkait, pihak swasta, LSM, dan masyarakat
Memfasilitasi dan melaksanakan pertemuan koordinasi
dan kemitraan
Melaksanakan pengembangan pendidikan dan
pelatihan bagi petugas dan masyarakat (termasuk
gladi)
Menyusun dan mengembangkan sistem informasi dan
komunikasi
a. Pra Bencana (lanjutan....)

Menyusun dan mengembangkan sistem manajemen


Melakukan pengembangan media penyebarluasan
informasi
Melakukan sosialisasi dan upaya penanganan
Melakukan advokasi penanganan
Mendorong terbentuknya unit kerja dalam penanganan
Mendorong terbentuknya satuan tugas kesehatan dalam
penanganan pada setiap jenjang administrasi
Mendorong terbentuknya pusat pengendali operasional
dalam penanganan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota
Mengadakan dan mensiapsiagakan sumber daya
Mengembangkan sistem kewaspadaan dini
Menyiapkan pusat-pusat regional penanganan
b. Saat terjadi bencana

Menyusun rencana operasional dan


melaksanakannya secara terpadu dan
terkoordinasi
Melaksanakan pemulihan fasilitas dan
penyediaan tenaga kesehatan dengan
melibatkan pihak terkait lainnya agar dapat
berfungsi kembali
Membantu pelaksanaan dan pencarian korban
Memobilisasi sumber daya termasuk yang ada
di pusat-pusat regional bila diperlukan
b. Saat terjadi bencana (lanjutan ...)

Mengaktifkan pusat pengendali operasional


penanganan
Melakukan penilaian cepat kesehatan
Melakukan pelayanan kesehatan darurat
Melakukan pelayanan kesehatan rujukan
Melakukan surveilans epidemiologi penyakit
potensial wabah dan faktor resiko
Monitoring dan evaluasi
c. Pasca Bencana

Melaksanakan pemulihan kesehatan masyarakat


dengan melibatkan pihak terkait lainnya
Melaksanakan pemulihan fasilitas dan
penyediaan tenaga kesehatan dengan
melibatkan pihak terkait lainnya agar dapat
berfungsi kembali
Memberdayakan masyarakat dalam upaya
pemulihan
Mengendalikan vektor dan penyakit potensial
wabah dan faktor resiko
c. Pasca Bencana (lanjutan ...)

Memantau kualitas air bersih dan sanitasi


Mengendalikan faktor resiko kesehatan
Menanggulangi masalah kesehatan jiwa dan
psikososial
Melakukan analisis dampak kesehatan
Melaksanakan pelayanan kesehatan reproduksi
Melakukan perbaikan gizi masyarakat
Melakukan upaya rekonstruksi sumber daya
kesehatan
Monitoring dan evaluasi
REGIONALISASI PUSAT BANTUAN AKIBAT
KRISIS KESEHATAN
Ditetapkan 9 regional pusat bantuan akibat krisis kesehatan (SK Menteri
Kesehatan No. 783/Menkes/SK/X/2006)
1. Sumatera Utara berkedudukan di Medan ( NAD,Sumut, Sumbar,
Riau)
2. Sumatera Selatan berkedudukan di Palembang (Sumsel,
Bengkulu, Jambi, Babel)
3. DKI Jakarta berkedudukan di Jakarta (DKI Jakarta, Lampung,
Kalbar, Jabar, Banten)
4. Jawa Tengah di Semarang ( Jateng, DIY)
5. Jawa Timur di Surabaya (Jatim)
6. Kalimantan Selatan di Banjarmasin ( Kalsel, Kalteng, Kaltim)
7. Bali di Denpasar ( Bali, NTB, NTT)
8. Sulawesi Utara di Manado (Sulut,Gorantalo, Maluku Utara)
9. Sulawesi Selatan di Makassar ( Sulsel, Sulteng, Sultra, Maluku)
Sub Regional Papua di Jayapura ( Papua, Irian Jaya Barat)
INDIKATOR
INDIKATOR KEBERHASILAN
KEBERHASILAN
Indikator masukan (input) : Standar /Pedoman/SOP
Indikator proses :
Prov disaster Plan di patuhi
District disaster Plan di patuhi
Hospital disaster Plan di patuhi
Indikator luaran (output) :
Angka kematian dikurangi
Angka Kesakitan dikurangi
Angka kecacatan dikurangi
Nosokomial dikurangi
RAPID Respon
Indikator out come: Daerah mampu mandiri dalam
24-48 pertama bencana
TERIMA KASIH