You are on page 1of 40

dr. Ajutor Donny T, SpAn.

Keadaan tidak sadar yang reversibel karena obat-obat


anestesi yang disertai dgn hilangnya rasa nyeri di seluruh
tubuh.
Komponen dasar anestesi (Trias Anestesi) :
1. Narkosis
2. Analgesia
3. Relaksasi
Tahapan anestesi :
1. Induksi : masuknya obat anestesi sampai hilangnya
kesadaran. Diberikan secara paranteral atau inhalasi.
2. Maintenance : tahapan anestesi dimana pembedahan
dapat berlangsung dgn baik.
3. Pengakhiran anestesi : diusahakan penderita sadar bila
pembedahan selesai.
Obat anestesi dimasukkan ke dalam tubuh
secara inhalasi atau paranteral adapula secara
rektal tapi sangat jarang dilakukan.
Inhalasi : N2O, halotan, enflurane, ether,
isoflurane, sevoflurane, metoxiflurane, trilene
Paranteral :
IV : penthotal, ketamin, propofol, etomidate &
gol. Benzodiazepine
IM : Ketamin
Rektal : etomidate (untuk induksi anak-anak)
Obat inhalasi dihirup bersama udara inspirasi masuk
ke saluran pernapasan, di alveoli paru akan
berdifusike dalam sirkulasi darah.
Pemberian secara IM juga akan diabsorpsi ke dalam
sirkulasi darah.
Di dalam sirkulasi darah obat akan menyebar ke
jaringan. Jaringan yang kaya pembuluh darah (otak &
organ vital) akan menerima obat lebih banyak.
Di jaringan sebagian mengalami metabolisme (hepar,
ginjal atau jaringan lain). Ekskresi bisa melalui ginjal,
hepar, kulit, atau paru-paru. Bisa dalam bentuk asli
atau hasil metabolisme. N2O diekskresi dalam bentuk
asli di paru-paru.
Faktor yang mempengaruhi anestesi : faktor respirasi
(untuk obat inhalasi), faktor sirkulasi, faktor jaringan,
& faktor obat anestesi.
Sesudah obat anestesi sampai di alveoli, maka
akan mencapai tekanan parsial tertentu. Makin
tinggi konsentrasi zat yang dihirup tekanan
parsialnya makin tinggi.
Perbedaan tekanan parsial zat anestesi di dalam
alveoli dan di dalam darah menyebabkan
terjadinya difusi.
Bila tekanan dalam alveoli tinggi, difusi terjadi
dari alveoli ke sirkulasi dan sebaliknya dari
sirkulasi ke alveoli (terjadi bila pemberian
dihentikan).
Makin tinggi perbedaan tekanan parsial makin
cepat terjadi difusi.
Prose difusi terganggu bila terdapat
penghalang antara alveoli dgn sirkulasi mis.
Edema paru & fibrosis paru.
Bila ventilasi alveolar meningkat (napas
dalam) maka obat berdifusi lebih banyak dan
sebaliknya (pada keadaan ventilasi menurun :
depresi napas atau obstruksi respirasi)
Dalamnya anestesi umum berbanding
langsung dgn tekanan partikel obat anestesi
dalam otak:
1. Tekanan partial gas anestesi yang diinpirasi
2. Ventilasi paru
3. Pemindahan gas anestesi dari dari alveoli ke
dalam aliran darah
4. Pemindahan gas anestesi dari aliran darah
ke seluruh jaringan
Aliran darah paru menentukan pengangkutan gas
anestesi dari paru ke jaringan dan sebaliknya.
Pada gangguan pembuluh darah paru makin sedikit
obat yag diangkut. Hal yg sama juga terjadi pada
cardiac output yg menurun.
Blood gas partition coefisien : rasio konsentrasi zat
anestesi dalam darah dan dalam gas bila keduanya
dalam keadaan seimbang.
Bila lelarutan zat anestesi dalam darah tinggi / BG
koefisien tinggi maka obat yg berdifusi cepat larut di
dalam darah, sebaliknya bila BG keofien rendah maka
cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan
sirkulasi darah, akibatnya penderita mudah tertidur
waktu induksi dan mudah bangun waktu anestesi
terjadi.
Yang menentukan a.l. :
1. Perbedaan tekanan parsial obat anestesi di
dalam sirkulasi darah dan di dalam jaringan.
2. Kecepatan metabolisme obat.
3. Aliran darah dalam jaringan.
4. Tissue/blood partition coefisien
Tiap-tiap zat anestesi mempunyai potensi yang
berbeda. Untuk mengukur potensi obat anestesi
inhalasi dikenal MAC (minimal alveolar
concentration).
MAC : konsentrasi obat anestesi inhalasi minimal
pada tekanan udara 1 atm yg dapat mencegah
gerakan otot skelet sebagai respon rangsang
sakit supra maksimal pada 50% pasien atau dapat
diartikan sebagai konsentrasi obat inhalasi dalam
alveoli yang dapat mencegah respon terhadap
incisi pembedahan pada 50% individu.
Makin rendah MAC makin tinggi potensi obat
anestesi tersebut.
Kedalaman anestesi harus dimonitor terus-
menerus oleh pemberi anestesi agar tidak terlalu
dalm sehingga membahayakan jiwa pasien, tetapi
cukup adekuat untuk melakukan operasi.
Kedalam anestesi dinilai dari tanda klinik yang
didapat.
Guedel membagi kedalaman anestesi menjadi 4
stadium dgn melihat pernapasan, gerakan bola
mata, tanda pada pupil, tonus otot dan refleks
pada penderita yg mendapat anestesi ether.
Stadium I disebut juga stadium analgesia atau stadium
disorientasi. Diberikan anestesi sampai hilangnya
kesadaran. Pada stadium ini operasi kecil bisa dilakukan.
Stadium II disebut juga stadium delirium atau stadium
eksitasi. Dimulai dari hilangnya kesadaran sampai napas
teratur. Dalam stadium ini peasien bisa meronta-ronta,
pernapasn ireguler, pupil melebar, refleks cahaya positif
gerakan bola mata tidak teratur lakrimasi (+), tonus otot
meninggi, refleks fisiologi masih ada, dapat terjadi
batuk atau muntah, kadang-kadang kencing atau
defekasi.
Stadium ini diakhiri dgn hilangnya refleks menelan dan
kelopak mata dan selanjutnya napas menjadi teratur.
Stadium ini membahayakan pasien karena itu harus
diakhiri.
Keadaan ini bisa dikurangi dgn memberikan
premedikasiyang adekuat, persiapan psikologi
penderits, dsn induksi yang halus dan tepat.
Stadium III disebut juga stadium operasi
Dimulai dari napas teratur sampai paralisis otot napas
Dibagi menjadi 4 plane :
Plana I : dari napas teratur sampai berhentinya gerakan
bola mata. Ditandai dgn napas teratur, napas torakal
sama dgn abdominal. Gerakan bola mata berhenti, pupil
mengecil, refleks cahaya (+), lakrimasi meningkat,
refleks faring & muntah menghilang, tonus otot
menurun.
Plana II : Dari berhentinya gerakan bola mata sampai
paralisis otot interkostal. Ditandai dgn pernapasan
teratur, volume tidal menurun & frekuensi napas
meningkat, mulai terjadi depresi napas torakal, bola
mata berhenti, pupil mulai melebar & refleks cahaya
menurun, refleks kornea menghilang dan tonus otot
makin menurun.
Plana III : dari permulaan paralise otot interkostal sampai
seluruh otot interkostal. Ditandai dgn pernapasan
abdominal lebih dominan dari dari torakal karena paralise
otot interkostal, pupil makin melebar dan refleks cahaya
menjadi hilang, lakrimasi negatif, refleks laring &
peritoneal menghilang, tonus otot makin menurun.
Plana IV : dari paralisis semua otot interkostal sampai
paralisa diafragma. Ditandai dgn paralise otot interkostal,
pernapasan lambat, ireguler dan tidak adekuat, terjadi
jerky karena terjadi paralise diafragma. Tonus otot makin
menurun sehingga terjadi flaccid, pupil melebar, refleks
cahaya negatif, refleks spingter ani negatif.
Stadium IV dari paralisis diafragma sampai apnue dan
kematian. Juga disebut stadium over dosis atau stadium
paralisis. Ditandai hilangnya semua refleks, pupil dilatasi,
terjadi respiratory failure dan diikuti dengan circulatory
failure.
Induksi Inhalasi
Diberikan dgn meminta penderita menghirup
campuran gas anestesi dgn udara atau oksigen,
dgn memakai face mask.
Tergantung yang dipakai, gas anestesi bisa
diambil dari tabung gas (N2O) atau dari obat
anestesi cairbyg diuapkan menggunakan alat yg
disebut vaporizer.
Zaman dahulu obat anestesi cair diteteskan
pelan-pelan langsung ke sungkup muka yg
dibuat dari rangka kawat yg dibalut kain kasa
atau alat schimmel busch. Cara ini disebut open
drop. Bila obatnya ether maka disebut open drop
ether.
Induksi inhalasi dgn ether pada saat ini tdk
populer karena menimbulkan stadium II yg
menimbulkan resiko morbiditas & mortilitas
bagi penderita.
Induksi inhalasi lebih baik dgn menggunakan
halotan, enflurane, isoflurane, atau
sevoflurane. Dimana pasien cepat masuk
stadium III.
Umumnya induksi inhalasi dikerjakan pada
bayi & anak.
Induksi Intravena
Pada induksi intravena tdk terjadi stadium II.
Induksi Intramuskuler
Menyuntikkan obat anestesi ke dalam otot
dikerjakan pada anak-anak.
Induksi Rektal
Dikerjakan dgn memasukkan obat ke rektum.
Tergantun ada tidaknya indikasi.
Setelah induksi dilakukan selanjutnya dapat
dipasang pipa EET atau LMA atau cukup dgn face
mask.
Untuk menjaga agar penderita tidak jatuh dalam
hipoksia sebelum induksi diberikan oksigenasi
selama 5 menit yang disebut pre oksigenasi.
Dgn pre oksigenasi , kapasitas residual
fungsional paru akan terisi oleh oksigen.
Selain itu, oksigen yg larut dalam darah akan
meningkat sehingga bila terjadi gangguan
respirasi waktu induksi maka sudah ada
cadangan oksigen yg diharapkan cukup
memenuhi kebutuhan sampai gangguan respirasi
dapat diatasi.
Pd periode ini diberi obat anestesi tertentu,
tergantung jenis operasinya.
Anestesi tdk boleh terlalu dalam karena dpt
membahayakan jiwa pasien, tapi tdk boleh terlalu
dangkal sehingga pasien merasakan sakit yg
menyebabkan trauma psikis.
Anestesi terlalu ringan dpt juga menyebabkan
spasme saluran napas, batuk, muntah, atau
gangguan kardiovaskuler.
Pada fase maintenance dpt dipakai obat inhalasi
atau intravena. Atau gabungan agar dosis
masing-masing obat dpt dikurangi.
Operasi tertentu diperlukan anestesi umum
sampai tingkat kedalamannya mencapai trias
anestesi (pasien tidur, analgesi cukup, & terjadi
relaksasi otot).
Bila analgesi tdk cukup & tdk mendapat pelemas
otot dapat timbul :
o Gerakan lengan atau kaki
o pasien bersuara
o Adanya lakrimasi
o Pernapasan tdk teratur, menahan napas, stridor
laringeal, bronkhospasme
o Tanda-tanda adrenaline release : denyut nadi
bertambah cepat, tekanan darah naik,
berkeringat
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan dgn
mendalamkan anestesi. Operasi yg memerlukan
relaksasi ahli bedah akan mengeluh bila relaksasi
kurang krn tdk bisa bekerja dgn baik.
Pada operasi abdomen usus akan bergerak &
menyembul keluar. Operasi yg memerlukan
penarikan otot juga sukar dilakukan.
Relaksasi dpt dicapai bila anestesi dalam dgn
menambah dosis obat. Bila hanya 1 macam obat
diperlukan dosis tinggi yg dpt menimbulkan
gangguan pd organ vital.
Utk mengatasinya ada teknik tertentu agar
tercapai trias anestesi pd kedalaman ringan :
penderita dibuat tidur dgn obat hipnotik,
analgesik dgn analgetik kuat, & relaksasi dgn
pelumpuh otot. Teknik ini disebut balance
anestesia.
Balance anastesia menggunakan pelumpuh
otot, menyebabkan otot relaksasi
(kelumpuhan) termasuk otot respirasi.
Jadi pasien tidak bisa bernapas sehingga
harus dibantu dgn melakukan napas buatan.
Tanpa napas buatan pasien akan mengalami
kematian akibat hipoksia.
Pernapasan pasien sepenuhnya tergantung
dari pengendalian kita, sehingga balance
anestesia disebut juga teknik respirasi
kontrol (control respiration).
Utk mempermudah respirasi penderita hrs
diintubasi.
Keuntungan balance anestesia :
Dosis obat minimal, gangguan organ vital dpt
dikurangi. Polusi kamar operasi karena obat
anestesi inhalasi dpt dikurangi. Setelah operasi
pasien cepat bangun.
Pengontrolan napas memudahkan kita
melakukan hiperventilasi untuk menurunkan
kadar CO2 dlm darah sampai titik tertentu
misalnya pd operasi otak. Hiperventilasi dpt
menurunkan tekanan darah utk operasi yg
memerlukan hipotensi kendali.
Karena napas lumpuh total mempermudah
tindakan operasi di rongga dada (thoracotomy).
Paru-paru dpt dikembangkan & dikempiskan dgn
mudah.
Berdasarkan respirasinya, anestesi umum
dibagi 3 :
1. Respirasi spontan : pasien napas sendiri
secara spontan.
2. Respirasi kendali/respirasi kontrol/balance
anestesia : pernapasn pasien sepenuhnya
tergantung kita.
3. Assisted respiration : pasien napas sendiri
tetapi masih diberikan sedikit bantuan.
Berdasarkan aliran udara pernapasan
dibedakan 4 sistem :
1. Open system (non-rebreathing system)
2. Semi open system
3. Semi closed system
4. Closed system
Paling sederhana (misalnya sistem open drops
atau sistem insuflasi).
Tdk ada hubungan langsung antara jalan napas
pasien dgn alat anestesi.
Karena itu tidak menimbulkan peningkatan
tahanan respirasi.
Udara ekspirasi bebas keluar menuju udara
bebas.
Pada open drops : zat anastetik diberikan secara
tetes di atas sungkup kawat yg dilapisi kasa.
Dulu merupakan teknik yg populer saat awal
penemuan ether. Tidak dipakai lagi saat ini.
Kekurangan :
Boros obat anestesi
Polusi kamar operasi
Bila menggunakan obat yg mudah terbakar
maka resiko terjadi kebakaran di kamar
operasi.
Hilangnya kelembaban respirasi.
Kedalaman anestesi tdk stabil
Respirasi kendali tdk dapat dilakukan
Dilengkapi dgn reservoir bag ditambah dgn klep
satu arah yg mengarahkan udara ekspirasi
keluar.
Klep ini disebut non-rebreathing valve.
Pada sistem ini terdapat rebreathing dalam
jumlah kecil tetapi blm dilengkapi absorber.
Sirkuitnya searah dimana oksigen dicampur gas
anestesi kemudian diinsuflasikan melalui hidung
atau mulut ke dalam paru-paru pasien.
Contohnya EMO
Tingkat keborosan & polusi kamar operasi lebih
rendah.
Udara ekspirasi yg mengandung gas anestesi &
oksigen lebih sedikit dibandi udara inspirasi tetapi
mengandung CO2 lebih tinggi. Dialirkan menuju
tabung yg berisi sodalime, dimana CO2 akan diikat.
Selanjutnya udara ini digabungkan dgn campuran gas
anestesi & oksigen dari sumber gas (fresh gas flow /
FGF) untuk diinspirasi kembali.
Kelebihan aliran gas dikeluarkan melalui klep over
flow.
Karena udara ekspirasi diinspirasi kembali, maka
oksigen & obat anestesi dpt dihemat dan kurang
menimbulkan polusi kamar operasi.
Merupakan teknik yg populer saat ini.
Sama dgn semi closed tetapi di sini tdk ada udara
yg keluar dari sistem anestesi menuju udara
bebas.
Penambahan oksigen & gas anestesi harus
diperhitungkan agar tidak kurang yg dpt
menyebabkan hipoksia & anestesia kuran
adekuat. Tetapi tdk boleh berlebihan karena akan
meningkatkan tekanan sehingga alveoli dpt
pecah.
Merupakan sistem yg peling hemat obat anestesi
& tidak menimbulkan polusi.
Teknik ini sudah ditinggalkan.
Pada akhir operasi atau setelah operasi selesai,
anestesi diakhiri dgn menghentikan pemberian obat
anestesi.
Pd anestesi inhalasi bersamaan dgn penghentian obat
anestesi aliran oksigen dinaikkan yg disebut
oksigenasi.
Oksigenasi akan menyebabkan oksigen mengisi
tempat yg sebelumnya ditempati obat anestesi
inhalasi di alveoli yg berangsur keluar mengikuti
udara ekspirasi.
Tekanan parsial obat anestesi akan berangsur turun
sehingga lebih rendah dibanding tekanan parsial obat
anestesi dlm darah . Maka terjadilah difusi dari dalam
darah menuju alveoli.
Sementara itu oksigen dalam alveoli akan
berdifusi ke dalam darah.
Semakin tinggi tekanan parsial oksigen di
alveoli (akibat oksigenasi) difusi ke dalam
darah makin cepat, akhirnya kadar oksigen
dalam darah meningkat menggantikan posisi
obat anestesi.
Turunnya kadar obat anestesi inhalasi dalam
darah, selain akibat difusi di alveoli juga
akibat metabolisme & ekskresi lewat hati,
ginjal, & keringat.
Kesadaran pasien juga berangsur pulih dgn
turunnnya kadar obat anestesi dalam darah.
Pasien yg mendapat anestesi intravena maka
kesadarn berangsur pulih dgn turunnya kadar
obat anestesi akibat metabolisme & ekskresi
setelah pemberian dihentikan.
Pasien yg dianestesi dgn respirasi spontan
tanpa ETT maka tingga menunggu kesadarn
pulih.
Pasien yg menggunakan pipa endotrakheal
(ETT) perlu dilakukan ekstubasi.
Ekstubasi dpt dilakukan saat pasien masih
teranestesi dalam atau setelah penderita
sadar.
Ekstubasi pada keadaan setengah sadar
membahayakan pasien karena dpt terjadi spasme
jalan napas, batuk muntah, gangguan
kardiovaskuler, naiknya TIO & TIK.
Ekstubasi dalam keadaan teranestasi dalam
mempunyai resiko tidak terjaganya jalan napas.
Tetapi ada operasi tertentu yg memburhkan
ekstubasi dalam keadaan anestesi dalam..
Pasien yg mendapat pelumpuh otot ekstubasi
dilakukan setelah napas adekuat.
Untuk mempercepat pasien pulih dari pengaruh
pelumpuh otot maka dilakukan reverse yaitu
pemberian obat anti kolinesterase.
Adapula yg tetap memberikan reverse
walaupun napas sudah adekuat pada pasien
yg sebelumnya mendapat pelumpuh ototda
yg melakukan ekstubasi setelah penderita
sadar, bisa diperintah menarik napas dalam,
batuk, menggelengkan kepala &
menggerakkan ekstremitas.
Penilaian yg lebih obyektif ttg seberapa besar
pengaruh pelumpuh otot adalah dgn
menggunakan nerve stimulator.
Untuk menentukan kapan pasien yg
mendapat anestesi umum dipindahkan dari
kamar operasi digunakan Aldrette score.
Aldrette score : penilaian pada respirasi,
kesadaran, sirkulasi, aktifitas, dan warna
kulit.
Masing-masing mempunyai nilai terendah 0
dan tertinggi 2. Hasil penjumlah ke-5 faktor
tersebut mempunyai nilai maksimal 10.
Aldrette score 8 dpt dipindahkan ke
perawatan.
Untuk pasien rawat jalan setelah mencapai
Aldrette score 10 tidak boleh langsung
dipulangkan tetapi harus menunggu minimal
2 jam. Dlm waktu ini pasien dapat dilatih
duduk, turun, jalan dan minum secara
bertahap.
Dalam perjalan pulang, pasien tidak boleh
mengemudikan kendaraan sendiri dan tidak
boleh pulang sendirian tetapi harus ditemani
org dewasa.
Dalam sistem rebreathing udara ekspirasi yg
mengandung CO2 diinspirasi kembali oleh
pasien.
Hiperkarbia terjadi bila udara ekspirasi yg
mengandung CO2 diinspirasi kembali sehingga
diperlukan pengikat CO2.
Proses pengikatan dilakukan dgn reaksi kimia,
agar fungsinya maksimal diperlukan sebanyak
mungkin udara ekspirasi yg bersinggungan dgn
pengikat CO2 sehingga diperlukan permukaaan
pengikat CO2 yg luas.
Oleh karena itu, pengikat CO2 dibuat dalam
bentuk butir-butiran, makin kecil ukuran butiran,
dalam total volume yg sama didapatkan
permukaan butiran yg makin luas sehingga
reaksi dgn CO2 makin banyak terjadi.
Tetapi makin kecil ukuran tahanan aliran udara
juga makin besar.
Butiran pengikat CO2 dilengkapi dgn indikator yg
berubah warna apabila sudah tidak berfungsi.
Pada waktu digunakan butiran pengikat CO2
ditempatkan dalamtabung plastik bening agar
terlihat perubahan warna.
Udara ekspirasi dialirkan dalam tabung tersebut,
dan dari tabung dialirkan keluar untuk untuk
disatukan dgn aliran dari sumber gas.
Butiran pengikat CO2 perlu diganti bila 50-70%
sudah mengalami perubahan warna.
Jumlah maksimal CO2 (dlm liter) yg dapat diikat
oleh 100 gr pengikat CO2 disebut absorptive
capacity.
Saat ini ada 3 macam pengikat : sodalime,
baralyme, & amsorb plus (calcium hydroxide
lime)